Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — Hal Kecil yang Berubah
Beberapa minggu lalu, Kim Ae Ra masih merasa asing setiap kali memasuki gedung Aegis Corp.
Sekarang, langkahnya sudah otomatis.
Pintu kaca terbuka, satpam menyapanya lebih dulu, dan lift menuju lantai eksekutif tidak lagi terasa menakutkan. Ia bahkan mulai hafal suara mesin kopi di pantry dan kebiasaan staf yang datang paling pagi.
Namun ada satu hal yang belum berubah.
Tatapan orang-orang.
Bukan lagi terang-terangan meremehkan, tapi cukup lama untuk membuatnya sadar bahwa dirinya masih dianggap berbeda.
Ae Ra menarik napas pelan dan duduk di mejanya.
Hari itu jadwal terlihat padat sejak pagi.
Ia baru saja menyalakan komputer ketika pintu ruang CEO terbuka.
Hyun Jae Hyuk keluar sambil membaca dokumen.
“Pagi.”
“Selamat pagi, Tuan.”
Ia berhenti sebentar di depan meja Ae Ra.
“Kita berangkat sepuluh menit lagi.”
Ae Ra berkedip.
“Keluar kantor?”
“Kunjungan proyek.”
Ia langsung berdiri panik kecil, mengambil tablet dan tas kerja.
Ini pertama kalinya ia ikut kegiatan luar kantor.
Perjalanan berlangsung dalam mobil perusahaan.
Ae Ra duduk tegak di kursi belakang, berusaha terlihat profesional meski sebenarnya gugup. Kota Seoul bergerak cepat di luar jendela.
Jae Hyuk menutup laptopnya lalu meliriknya sekilas.
“Kau tegang.”
“Sedikit.”
“Itu hanya lokasi proyek, bukan medan perang.”
Ae Ra hampir tertawa.
“Hari-hari di kantor sudah terasa seperti perang.”
Sudut bibir Jae Hyuk terangkat tipis.
Itu mungkin pertama kalinya mereka bercanda tanpa canggung.
Lokasi proyek berada di area pembangunan baru di pinggir kota.
Helm keselamatan diberikan begitu mereka turun dari mobil. Ae Ra sedikit kesulitan menyesuaikannya hingga Jae Hyuk tanpa sadar membantu merapikan tali di bawah dagunya.
Gerakannya dekat.
Terlalu dekat.
Ae Ra langsung menahan napas.
“Terima kasih…”
Jae Hyuk mundur cepat, seolah baru sadar apa yang ia lakukan.
“Kau harus terbiasa.”
Ia berbalik lebih dulu.
Namun telinganya sedikit memerah.
Kunjungan berlangsung hampir dua jam.
Ae Ra mencatat, mengambil foto, dan beberapa kali harus berjalan cepat mengikuti diskusi teknis yang sulit ia pahami.
Saat kembali ke mobil, kakinya terasa pegal.
“Kau baik-baik saja?” tanya Jae Hyuk.
“Iya… hanya belum terbiasa memakai sepatu formal seharian.”
Jae Hyuk mengangguk.
Beberapa menit kemudian mobil berhenti di minimarket kecil pinggir jalan.
“Aku beli minum sebentar,” katanya singkat.
Ia kembali membawa dua botol minuman dingin.
Ae Ra menerimanya dengan terkejut.
“Terima kasih…”
Ia mulai sadar perhatian kecil itu bukan kebetulan lagi.
Malam hari, seperti biasa, langkah Ae Ra berakhir di toserba.
*Klining…*
Bo Ram langsung melambaikan tangan.
“Orang sibuk datang!”
Ae Ra tertawa.
Seo Jun berdiri di dekat rak mie instan.
“Kau terlihat lelah.”
“Aku ikut kunjungan proyek hari ini.”
Bo Ram langsung kagum. “Keren sekali!”
Ae Ra menggeleng. “Lebih melelahkan daripada keren.”
Seo Jun menyerahkan minuman hangat.
Ia selalu tahu waktu yang tepat tanpa perlu ditanya.
Ae Ra duduk di kursi kecil, bahunya akhirnya rileks.
Di sini, ia tidak perlu menjaga sikap.
Di luar toko, malam terasa tenang.
Namun sebuah mobil hitam kembali berhenti tidak jauh dari sana.
Hyun Jae Hyuk memandangi jendela toserba.
Ia melihat Ae Ra tertawa lagi.
Kali ini bersama pria yang sama.
Seo Jun.
Perasaan aneh kembali muncul.
Ia tidak marah.
Tapi juga tidak nyaman.
Seolah ada wilayah yang tidak bisa ia masuki.
Ia menghela napas pelan sebelum mobil kembali bergerak.
Di dalam toko, Seo Jun tanpa sadar menoleh ke arah jalan.
Tatapannya mengikuti mobil yang menjauh.
Beberapa detik ia diam.
Lalu kembali bekerja seperti biasa.
Namun kali ini pikirannya tidak setenang sebelumnya.
Ia tahu pria itu.
Bahkan tanpa perlu diperkenalkan.
Dan untuk pertama kalinya, Seo Jun menyadari sesuatu yang selama ini ia hindari.
Waktu yang ia miliki mungkin tidak sebanyak yang ia kira.
Sementara Ae Ra masih tertawa bersama Bo Ram, tanpa mengetahui bahwa hal-hal kecil di sekitarnya perlahan berubah… dan perubahan itu tidak lagi bisa dihentikan.