Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran di Balik Mahkota Pinjaman
Malam itu, di ruang baca pribadi Grand Duchess Sophie, suasana terasa sangat sunyi. Hanya suara detak jam dinding kuno yang mengisi ruangan. Sophie duduk di kursi mahoninya, menatap sebuah dokumen lama yang baru saja ia dapatkan—catatan sejarah yang selama ini sengaja dikaburkan oleh pihak istana.
Di hadapannya, Matthias berdiri dengan tenang. Ia baru saja tiba dari istana, namun auranya sangat stabil. Ia datang untuk satu tujuan, meluruskan pandangan keluarganya.
Suasana ruang tamu utama kediaman Falkenhayn terasa sangat tegang. Nenek Matthias, Grand Duchess Sophie, duduk dengan tangan gemetar memegang cangkir tehnya, sementara Elyse, ibu Matthias, hanya bisa terdiam menatap putranya yang baru saja pulang dengan pengumuman mengejutkan.
"Matthias... Kau serius akan menikahi gadis Asturia itu?" Tanya Elyse pelan. "Nenekmu sangat syok melihat Lord Maximillian muncul di istana hari ini. Beliau bukan hanya marah, beliau tampak seperti ingin meratakan istana karena cucunya dipermalukan."
Grand Duchess Sophie meletakkan cangkirnya dengan bunyi berdenting. "Matthias, jelaskan pada Nenek. Aku mengenal Lord Maximillian sejak muda, tapi aku tidak pernah tahu dia punya putra, apalagi cucu seperti Shaneen. Kenapa keluarga mereka dianggap pemberontak oleh Raja Valerius?"
Matthias kemudian duduk dengan tegak, wajahnya tenang namun matanya tajam. "Karena sejak awal, Lord Maximillian mem-privasi keberadaan ayahnya Shaneen. Beliau sengaja menyembunyikan identitas putranya sebelum naik takhta untuk melindunginya dari intrik istana. Namun, takdir berkata lain."
Matthias menarik napas panjang. "Marquess Asturia—ayah Shaneen—memilih meninggalkan istana tiga puluh enam tahun yang lalu. Dia melepaskan hak mahkotanya demi cintanya pada Madam Han-seol, wanita Korea yang kita kenal sekarang. Dia bukan sekadar pensiun, Nek. Dia terjun ke dunia bawah tanah (mafia) untuk membangun kekuatannya sendiri agar bisa melindungi Madam Han-seol tanpa bayang-bayang militer kerajaan."
"Mafia?!" Elyse menutup mulutnya karena terkejut.
"Ya. Dia penguasa di sana. Itu sebabnya keluarga Asturia punya kekayaan dan jaringan yang tidak masuk akal meski mereka terlihat 'biasa saja'," lanjut Matthias.
"Lalu bagaimana dengan Raja Valerius?" Tanya Grand Duchess Sophie penuh selidik.
"Saat ayah Shaneen menghilang, Raja Valerius—yang saat itu hanya bangsawan lain yang memanfaatkan keadaan saat mengetahui kekosongan takhta ini. Dia memohon pada Lord Maximillian untuk memberikan singgasana padanya 'untuk sementara' sampai ayah Shaneen kembali," Matthias tersenyum sinis.
"Ternyata tiga puluh enam tahun berlalu, dan ayah Shaneen tidak pernah mau kembali karena dia sudah bahagia dengan hidup bebasnya. Lord Maximillian akhirnya menyerah, menarik istrinya ke Paris, dan bersumpah tidak akan pernah memaafkan putranya. Selama puluhan tahun, beliau menutup diri dari keluarga putranya sendiri."
"Bahkan saat Stellan dan Samuel lahir, Lord Maximillian tetap tidak bergeming," Matthias melanjutkan ceritanya dengan nada yang lebih lembut. "Namun, semuanya berubah saat Shaneen lahir. Entah kenapa, saat Lord Maximillian melihat bayi perempuan itu, hatinya luluh. Beliau melihat potensi dan kecerdasan murni Asturia di mata Shaneen. Shaneen adalah 'keberuntungan' yang menyatukan kembali hubungan mereka secara rahasia."
"Itulah sebabnya kakeknya sangat murka kemarin di istana. Bagi Lord Maximillian, Shaneen adalah permata yang paling berharga, jauh lebih berharga dari takhta yang dipinjamkan pada Valerius."
Grand Duchess Sophie menghela napas. "Lalu kenapa Raja Valerius menyebut mereka keluarga pemberontak?"
"Itu adalah cara Raja Valerius untuk bertahan hidup, Nek," jawab Matthias tegas. "Dia tahu posisi takhtanya hanya berdasarkan 'titah' Lord Maximillian yang bisa dicabut kapan saja. Dia membuat narasi bahwa keluarga Shaneen adalah musuh negara agar rakyat membenci mereka, padahal dialah yang pengkhianat. Dia lupa bahwa tanpa izin kakek Shaneen, dia bukan siapa-siapa."
Matthias berdiri, menatap ibu dan neneknya dengan mantap. "Aku sudah tahu ini sejak awal. Aku tidak menikahi 'pemberontak'. Aku menikahi pewaris sah kerajaan ini yang sah secara darah dan mandat. Jadi, tolong jangan ragukan pilihanku lagi."
Duchess Elyse dan Grand Duchess Sophie saling berpandangan. Mereka baru menyadari bahwa Matthias tidak hanya membawa calon istri, tapi dia membawa kembali kejayaan murni kerajaan ke dalam rumah mereka.