"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"untungnya ini hari terakhirku, kalau nggak bisa mati aku jadi bulan-bulanan perawat lain"
Gerutuan mahiya yang sengaja diucapkannya keras-keras, nggak membuat kael tersinggung, pria itu tetap melangkah dengan cuek, dengan tangannya yang masih mengenggam jemari mahiya.
Begitu masuk ke dalam ruangan kael, secepat kilat mahiya menarik tangannya. Gadis itu masih cemberut kesal, sebel melihat perlakuan cowok itu seharian ini.
"mau apa kau?"
Mahiya tersentak kaget, dipikirnya kael membentaknya lagi, tapi saat ia memutar tubuhnya, kael sedang membelakanginya, menghadap ke kursi kerjanya.
Mahiya mengerutkan keningnya heran, belum habis keheranan mahiya, kembali terdengar suara dingin kael.
"keluar dari ruanganku, mana rifky?"
"kaelll, sayang!"
Mahiya yang tadinya kepengen mengintip, semakin penasaran, suara lembut seorang wanita memanggil kael manja.
Mahiya menyentuh lengan kael, pria itu berbalik tersentak. Sesaat tadi dia sampai lupa, kalau ada mahiya di ruangan itu.
"maaf clarissa, tolong keluar!, aku sedang sibuk"
Kael meraih jemari mahiya, mengecup punggung tangan itu tanpa ijin.
Mahiya merinding, saat bibir kael menempel ke kulit tangannya, tapi mau tak mau mahiya mengikuti permainan kael. Gadis itu ikut tersenyum dan mengelus lengan kael.
Wanita cantik yang duduk di kursi kael, menatap tak percaya dengan wajah yang masih pucat.
Mahiya terpana, dalam keadaan memakai baju pasien dan pucat saja, wanita di depannya itu terlihat cantik. Kening mahiya berkerut, eh bukannya ini pasien di kamar dahlia tadi.
"siapa dia kael?"tanya wanita itu dengan raut tak suka, ujung matanya melirik sinis.
"bukan urusanmu!" kael menjawab kasar, rahangnya mengeras, wajah pria itu terlihat sangat marah.
Rifki yang tiba-tiba masuk, tersentak kaget. Suara kael lumayan keras membentak wanita pucat itu.
"kael.." belum sempat perempuan itu protes, suara kael kembali menggelegar.
"rifki..bawa clarissa ke kamarnya, aku ingin berdua dengan calon istriku"
Mata perempuan pucat itu, membola kaget. Begitu juga rifki, dia nggak nyangka kalau kael akan mengusir clarissa sedingin itu.
Rifki belum beranjak, kalau matanya kael tak meliriknya tajam, dia nggak yakin kalau kael beneran sedang marah.
"apakah kamu sudah menemukan pekerjaan lain?" tanya kael dingin, rifki sampai mengelus tengkuknya yang mendadak dingin.
"atau kalau kamu sudah bosan, kamu bisa meletakkan surat pengunduran dirimu sekarang juga"
Rifki dengan lincah bergerak, memapah clarissa yang merasa keberatan, kael tak melirik sedikitpun, tubuhnya tak bergeming sama sekali saat tangan clarissa menyentuh lengannya.
Mahiya hanya melongo, menonton drama yang lumayan sadis itu. Dia tahu kalau kael bukanlah pria hangat, tapi melihat pria ini tadi sedingin itu, jujur mahiya sedikit kaget.
Mahiya tetap berdiri dalam diamnya, nggak berani ngapa-ngapain, takut kena sembur. Sebenarnya kesal juga sih di kacangin kek gini, tapi mahiya memilih tetap diam, cari aman.
Berdiri mahiya mulai gelisah, kakinya terasa pegal, sementara kael masih diam berdiri di depan jendela, tak terasa sudah setengah jam mahiya dikacangin.
"heumm, anu..pak kael" panggil mahiya gugup, gadis itu rada takut, tapi juga dia nggak mau di kacangin sampai hampir lumutan begini.
Kael tersentak, menoleh kaget menatap mahiya heran.
"kamu masih di sini?"
Kening mahiya mengerut heran, kenapa nih cowok, sampai segitu nggak menyadari keberadaannya.
Mahiya menarik nafasnya kesal, tahu gitu dari tadi mahiya udah pergi. Gadis itu melangkah menuju pintu, dia hendak meninggalkan pria yang sedang linglung itu.
"tunggu mahi!"
Mahiya menoleh, pria itu mendekatinya.
"mari kita bicara tentang rencana pernikahan kita"
Lagi, mahiya menarik nafasnya kesal. Terdengar sedikit suara dengusan dari hidungnya.
"bapak berencana mau membatalkan?"
Kael memicing, alisnya naik sebelah.
"kenapa kamu ngomong begitu?, kamu mau mundur?"
Mahiya mengedikkan bahunya, wajahnya masih kesal.
"mungkin bapak mau mempertimbangkan karena perempuan tadi!"
Mahiya memalingkan wajahnya, karena kael mengamatinya dengan sorot mata tajamnya yang berwarna coklat kehijauan itu.
"saya nggak masalah pak kael, usia saya juga baru 19 tahun, masih ada pria-pria lain di luar sana yang bakalan memilih saya untuk jadi istri"
Kael semakin mengerutkan keningnya, suara gadis ini berubah, sedikit tegas. Dan mahiya juga menarik batasan lagi, gadis itu memanggil dirinya dengan 'saya', seperti awal mereka berjumpa.
"kamu ngomong apaan sih?" kael mendengus kesal, menarik tangan mahiya, supaya duduk di sisinya.
"aku mau nanya, apa makanan kesukaan orangtuamu, karena aku nggak mungkin datang dengan tangan kosong nanti malam"
Mahiya tertegun sesaat, ternyata pria ini masih ingin meneruskan niatnya.
"pak kael.." panggil mahiya hati-hati.
"kakak, mahi" kael mengingatkan lagi, mahiya mengangguk-angguk kesal.
"boleh aku bertanya?"
Kael mengangguk, walau matanya terlihat ragu.
"hubungan bapak dengan perempuan tadi apa?"
Kael diam, tak bersuara sepertinya tak ada niatan di hatinya untuk menjawab. Wajah pria itu kelihatan enggan dan malas.
"bukankah aku harus tahu jika emang benaran aku akan jadi istri kamu"
Kael melengos, mata tajam mahiya menatap menuntut jawaban.
"aku tidak akan mencari tahu masa lalumu mahi, jadi kuharap kamu juga jangan terlalu kepo dengan masa laluku, kita menikah bukan karena cinta by the way, jadi tidak ada kewajiban di antara kita untuk saling jujur, akan masa lalu yang kita miliki"
Mahiya terdiam cengo, tak tahu mau jawab apa. Yang dikatakan kael benar, tapi kenapa yah hati mahiya sakit mendengarnya.
"aku akan membayar konsekuensi dengan menikahimu, aku akan menjamin hidupmu aman, tapi kuharap untuk urusan hati, mari untuk tidak saling mencampuri, karena..., mahi, aku juga tidak akan melarangmu untuk jatuh cinta pada siapapun nanti, begitu kamu ingin cerai dari aku, aku akan menceraikanmu secara syar'i"
Mahiya speechless, asli dia kehabisan kata. Untuk apa juga coba dia harus menikahi pria ini, jika hubungan mereka sebatas hubungan open relationship.
Seandainya abinya tahu, mahiya pasti sudah dibacakan hadist tentang haramnya ikatan pernikahan seperti itu.
Tapi dia juga diuntungkan dari pernikahan ini, biaya kuliahnya 4 semester lagi, tentu akan menjadi tanggungan kael, dan beban itu lumayan meringankan abinya yang hanya seorang guru itu.
Apakah dirinya bisa mengikuti permainan kael, apakah dia sanggup hidup dengan pria itu tanpa hatinya terlibat.
Mahiya mendesah, tarikan nafasnya yang terdengar berat, menarik perhatian kael.
"aku juga tidak akan menyentuhmu, mahi. Jangan takut, sampai kamu menemukan pria yang tepat, aku akan jamin kamu tetap suci. Yang aku butuh dari kamu cuman status"
Mahiya terhenyak kaget, tubuhnya sampai bersandar di sandaran sofa tanpa sadar. Benaknya berisik pengen protes, tapi dia tahu protesnya juga nggak akan ada gunanya. Mahiya semakin yakin, pria di depannya ini bukan pria normal.
"hhhhhhhh..." mahiya menghembuskan nafasnya yang terasa menyesakkan.
'pernikahan apa ini?' pikirnya, menatap kael lekat, tanpa berkedip.
Bersambung..