NovelToon NovelToon
Randy Sang Tabib Tampan

Randy Sang Tabib Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Harem / Dokter Ajaib
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.

Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.

Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Urut Kaki Tatia dan Menyelamatkan Hidup

“Tatia, kenapa nggak hati-hati?” hardik Randy sambil membantu membersihkan celana dan baju Helen dari tumpahan air kelapa muda itu.

“Ma… maaf, aku tak sengaja,” kata Tatia lalu meletakkan gelas air kelapa mudanya ke meja dan membantu membersihkan celana dan baju Helen dengan tissue.

“Bajunya terlalu basah, lepas aja di toilet kampus,” kata Randy. “Sementara kau bisa pakai jaketku ini.”

“Lho kok malah jadi gini?” tanya Tatia dalam hati. “Aku sengaja pura-pura jatuh biar Helen basah kuyup, kok malah kasih angin Randy minjemin jaketnya ke Helen?”

Helen menuruti kata Randy, dia mengambil jaket Randy yang diberikan kepadanya dan pergi ke kamar mandi. Kemudian Tatia mencoba berdiri.

“Aduh, aduh,” teriak Tatia kesakitan.

Randy lalu coba mengurut kaki Tatia dan mengangkat sedikit tangannya agar sensasi hangat dan setrum itu timbul. Tapi beberapa menit dicobanya, tetap tidak terjadi.

“Apa yang terjadi?” pikir Randy. “Ilmuku sudah hilang?”

Kemudian Tatia mengeluarkan minyak kayu putih yang selalu dibawanya. “Coba gosok pakai ini, Ran.”

Dengan hati-hati Randy menggosok mata kaki Tatia yang dipikirnya keseleo itu.

“Iya, aku sudah hati-hati tapi kakiku nabrak kaki meja,” kata Tatia.

“Makanya mata kaki juga dipakai buat ngelihat, neng geulis!” canda Randy sambil terus mengurut.

“Kena kau, kakiku sebenarnya nggak apa-apa, biar diurut sama si ganteng ini,” kata Tatia dalam hati sambil pura-pura mengaduh.

Kemudian Helen kembali dari toilet, sudah mengenakan jaket motor warna hitam milik Randy.

“Apa yang sakit, Tat?” tanya Helen. “Terkilir? Sini aku bantu.”

“Nggak usah, sudah enakan kok, tadi diurut Randy,” kata Tatia genit.

Ponsel Randy tiba-tiba bergetar pelan, ada pesan dari Hartawan, teman sekelasnya:

“Enak banget luh Ran, bisa minjemin jaket ke cewek cakep, sekalian ngurut kaki Tatia yang nggak kalah cakepnya. Kasih gue ke bagian ngurutnya.”

Lalu mata Randy mencari-cari Hartawan, ketemu. Dia ada di ujung sedang pura-pura minum es teh sambil tersenyum ke arah Randy, tapi pura-pura nggak melihat.

Lalu Randy menjawab: “Kampret lu. Itu kaki meja nganggur, diurut aja kalau mau” dan diakhiri dengan emoticon menjulurkan lidah.

Hartawan membalas lagi hanya dengan emoticon orang mengedipkan mata sebelah.

“Udah enakan, Tat?” tanya Randy.

“Udah sih,” jawab Tatia. “Tapi maunya diurut terus.”

“Udah, udah,” kata Helen yang kelihatan bete. “Apa perlu disemprot pakai semprotan anti sakit yang kayak para pemain bola itu?”

Tatia kemudian berdiri dan pura-pura jalan sambil terpincang-pincang, lalu duduk lagi di kursi di dekat Randy. Lalu Helen pamitan, “Sorry ya, aku tinggal dulu, udah jam kuliah. Ada yang perlu dibantu, Tat?”

Tatia menggeleng. “Nggak Len, thanks.”

“Silakan duluan, Len,” kata Randy, “Jam kuliah aku yang berikut masih sejam.”

“Aku sudah nggak ada kuliah,” Tatia ikutan nyamber tanpa ada yang nanya.

Jauh dari gemerlap kampus, di Tanah Abang tempat biasa Randy mencari spot menarik, di sebuah gubug, seorang bapak dengan jalan terpincang dan tangan kanan terus menggenggam karena stroke, berkeras berkeliling dengan sepedanya menjadi tukang permak Levi’s keliling.

“Bapak barusan keluar dari rumah sakit, jangan dulu dong,” kata istrinya. “Kalau tidak keliling kita makan pakai apa, bu?”

“Aku akan mulung dulu sementara ini,” jawab istrinya. “Bapak istirahat aja dulu.”

“Nggak akan cukup, bu,” kata si bapak berkeras naik sepedanya. Dengan kondisi seperti itu dia pun sebenarnya berpikir apakah dia masih mampu melakukan pekerjaan menjahit sebagai tukang permak Levi’s keliling. Tapi tak ada pilihan lain. Sambil menangis dia bulatkan tekad mengarungi kota Jakarta yang ganas ini demi mencari sesuap nasi.

“Pak Jo, sudah sembuh kah?” kata Bu Icha langganannya. “Ini ada celana, tolong dipendekkin 2 cm aja.”

“Baru keluar rumah sakit kemarin, bu,” jawab Pak Jo, lalu dia mencoba menggunting dengan tangan kanannya. Tangan kanannya yang bengkok karena efek stroke, dan terus menggenggam, dan tidak bisa menggunting celana itu. Dicobanya menggunting celana itu dengan tangan kiri yang masih normal, tapi ternyata potongannya miring dan merusak celana langganannya itu.

“Waduh, kok jadi nggak karuan gini?” tanya Bu Icha. “Kalau belum sehat jangan kerja dulu pak. Ini celana saya malah jadi nggak karuan.”

Bu Icha kemudian mengambil celana yang akan dipermak itu dari tangan Pak Jo, langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Pak Jo yang hanya bisa terduduk sambil menangis meratapi nasibnya.

Seusai jam kuliah, Randy memacu motornya ke Tanah Abang, ke daerah Bongkaran, yang terkenal sebagai tempat prostitusi kelas bawah di Tanah Abang. Dan segera memarkirkan motornya di depan sebuah warteg langganannya di area tersebut. Dia membeli beberapa gorengan di warung tersebut, lalu berjalan pelan mencari spot yang menarik di situ.

Dilihatnya ada sebuah bangunan kumuh tapi terlihat sangat unik di antara deretan rumah lain sekitar situ.

“Money shot!” gumamnya pelan, dan terbayang foto rumah kumuh nan unik itu akan terjual ratusan dollar di Shutterstock. Dia membidik dari beberapa sudut dan mengabadikannya dalam beberapa jepretan.

“Seandainya aku punya drone, sudut pengambilan gambarnya akan lebih out of the box,” pikirnya.

Lalu dia meneruskan petualangannya dengan berjalan kaki. Dilihatnya kambing kurus milik warga setempat berkeliaran di tepi jalan dan mengais-ngais sampah yang ada di situ. Nalurinya sebagai fotografer juga mengatakan adegan itu adalah adegan yang layak jual di Shutterstock. Dibidiknya dari beberapa sudut kambing kurus yang tengah mencari makan itu.

Setelah puas mengambil foto kambing itu dia meneruskan langkahnya dan tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing memanggil-manggil namanya.

“Bang, bang Randy!” Tampak Mat Pelor dari kejauhan mendekatinya lalu menjabat tangan Randy.

“Kok abang sampai di daerah ini?” kata Mat Pelor. “Di area ini lebih rawan lho, Bang.”

“Kan ada backingnya Mat Pelor,” tawa Randy sambil mengeluarkan satu pak rokok dari dalam tasnya. “Kok Mat Pelor ada di daerah sini juga?”

“Semua preman daerah sini kan nggak kenal sama abang,” jawab Mat Pelor. “Kalau aku mah memang operasinya sampai daerah sini. Tikus-tikus di sinipun kenal sama yang namanya Mat Pelor. Mau jalan ke mana Bang? Aku temenin aja, biar nggak diganggu.”

“Oh ya, ini masih ada tahu sedikit, tadi beli di warteg di atas sana,” kata Randy sambil menyodorkan bungkusan gorengan di kantong plastik yang ada di tangannya.

Tiba-tiba pandangan Randy melihat Pak Jo yang duduk menangis di pinggir jalan dan sepedanya terstandar di pinggir jalan. Randy segera mendekati Pak Jo dan berbicara dengan lembut.

“Ada apa, pak? Kenapa menangis?” tanya Randy.

“Nggak apa-apa nak,” kata Pak Jo sambil menyeka air matanya. “Nasib bapak memang jelek.”

Randy melihat tangan kanan bapak itu yang bengkok dan menggenggam terus. “Kenapa ini tangannya pak? Stroke kayaknya?”

“Iya nak. Bapak kemarin kena stroke, baru kemarin keluar dari rumah sakit,” jawab Pak Jo.

“Kenapa dipaksain keliling pak?” tukas Randy penuh perhatian. “Harusnya istirahat dulu, dan latihan dulu.”

“Terpaksa nak, bagaimana mau makan kalau bapak tidak keliling?” kata Pak Jo dengan berlinang air mata. “Tapi tadi ada pelanggan mau memendekkan celananya, menggunting saja bapak sudah tidak bisa. Harus bagaimana ini?”

“Coba saya lihat pak,” kata Randy pelan sambil memegang tangan bapak itu sambil jongkok. “Barangkali saya bisa bantu.”

Kemudian tangan kiri Randy memegang tangan Pak Jo, dan tangan kanannya didekatkan ke pergelangan tangan Pak Jo yang bengkok dan menggenggam karena efek stroke itu. Dan keajaiban pun terjadi. Sensasi hangat dan ribuan setrum kecil menjalar di telapak kanan Randy yang berubah kemerah-merahan. Dan selama beberapa detik, tahu-tahu tangan kanan Pak Jo berangsur normal kembali.

“Hah? Apa ini? Alhamdulillah!” jerit Pak Jo tidak paham yang terjadi padanya. “Nak, kau mungkin malaikat yang berwujud manusia?”

“Bukan pak,” senyum Randy. “Saya cuma manusia biasa, sekarang coba tangan Bapak dicoba untuk menggunting dan memasukkan benang ke jarum.”

Dengan lancar dan cepat Pak Jo berhasil menggunting kain dan memasukkan benang ke dalam jarum seperti masih semasa sehat.

Mat Pelor hanya bisa terbelalak menyaksikan keajaiban itu dan tidak percaya apa yang dilihatnya.

“Jangan bilang siapa-siapa ya Pak, dan Mat Pelor, kalau aku punya kemampuan ini,” kata Randy pelan.

“Tadi ilmu ini tidak berfungsi ketika aku akan mengobati kaki Tatia yang keseleo,” pikir Randy sambil tersenyum. “Aku paham sekarang, mungkin dia berbohong soal keseleonya. Hum, akan kukerjain balik dia.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!