Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: KEMBALINYA SANG ULAR
Perjalanan pulang dari markas Magyo terasa berbeda.
Bukan karena jalannya yang berubah, tapi karena cara Heuksim memandangnya. Pria itu sekarang berjalan dua langkah di belakang Namgung Jin, sikapnya lebih hormat, hampir seperti pengawal. Sesekali ia melirik dengan ekspresi rumit—campuran antara takut, kagum, dan tidak percaya.
"Ada yang ingin kau tanyakan?" Namgung Jin bertanya tanpa menoleh.
Heuksim terkejut. "A-Apa?"
"Kau terus melirikku sejak kita meninggalkan Geumseong. Tanyalah."
Heuksim diam sejenak, lalu memberanikan diri. "Tuan Muda... apa yang sebenarnya terjadi di ruangan itu? Dengan Tiga Roh?"
"Kau tidak dengar?"
"Ruangan itu kedap suara. Hanya mereka yang tahu."
Namgung Jin tersenyum tipis. "Aku bilang pada mereka apa yang ingin mereka dengar."
"Tapi... mereka percaya?"
"Orang selalu percaya pada apa yang ingin mereka percayai. Cheon Wu-gun ingin percaya bahwa gurunya akan kembali. Aku memberinya harapan."
"Dan ramalan itu?"
"Ramalan hanya alat. Seperti pedang. Bisa digunakan untuk membunuh atau melindungi, tergantung siapa yang memegang."
Heuksim mengerutkan kening. "Tuan Muda, kau bicara seperti... seperti orang yang sudah hidup ratusan tahun."
"Mungkin aku memang begitu."
Heuksim tidak berani bertanya lebih lanjut.
---
Empat hari kemudian, mereka tiba di wilayah Klan Namgung.
Namgung Jin berhenti di batas desa terluar, menatap ke arah kompleks klan yang mulai terlihat di kejauhan. Sesuatu terasa berbeda. Udara di sini... tegang.
"Ada apa, Tuan Muda?"
"Penjaga." Ia menunjuk ke arah gerbang utama. "Biasanya hanya dua. Sekarang ada enam."
Heuksim mengamati. "Kau benar. Dan mereka berjaga seperti... seperti sedang menunggu sesuatu."
"Atau seseorang."
Namgung Jin mempercepat langkah.
---
Di gerbang utama, para pengawal terkejut melihatnya.
"T-Tuan Muda Jin!" salah satu dari mereka berseru. "Kau kembali!"
"Ada apa?"
Pengawal itu ragu. "Sebaiknya... sebaiknya Tuan Muda langsung menemui Kepala Klan."
Namgung Jin tidak bertanya lagi. Ia langsung menuju paviliun utama.
Di dalam, suasana kacau. Para pelayan berlarian dengan wajah tegang. Beberapa tetua berkumpul di ruang tamu, berbisik-bisik. Begitu melihat Namgung Jin, mereka semua terdiam.
"Di mana Kepala Klan?"
"Di ruang kerjanya," jawab salah satu tetua. "Dia menunggumu."
---
Namgung Cheon duduk di kursinya dengan wajah lelah. Di depannya, segunung dokumen dan laporan. Begitu melihat putranya masuk, ia menghela napas panjang.
"Kau kembali."
"Ada apa, Ayah?"
"Duduk."
Namgung Jin duduk.
"Selama kau pergi, banyak terjadi." Namgung Cheon membuka salah satu laporan. "Delapan Sekte Besar mengirim penyelidik. Mereka menanyakan tentang serangan terhadap Sekte Macan Hitam dan Serikat Bayangan Malam."
"Apa hubungannya dengan kita?"
"Serangan itu terjadi di dekat wilayah kita. Terlalu dekat." Namgung Cheon menatapnya. "Dan mereka curiga ada yang tidak beres."
"Curiga pada kita?"
"Bukan secara langsung. Tapi mereka bertanya tentang aktivitas klan akhir-akhir ini. Tentang... tentangmu."
Namgung Jin diam.
"Kau tahu sesuatu tentang serangan itu, Jin-ah?"
Pertanyaan itu langsung. Namgung Cheon menatap putranya dengan mata tajam—mata seorang pemimpin yang terbiasa mendeteksi kebohongan.
Namgung Jin memilih untuk tidak berbohong sepenuhnya.
"Aku tahu."
"Kau terlibat?"
"Tidak langsung."
Namgung Cheon mengerutkan kening. "Jelaskan."
"Ada pihak yang ingin membantu kita. Mereka yang menyerang musuh-musuh kita. Tapi mereka tidak terafiliasi dengan klan."
"Siapa mereka?"
"Aku tidak bisa bilang sekarang. Tapi mereka bukan musuh."
Namgung Cheon menatapnya lama. Lalu ia menghela napas.
"Kau tahu, sebagai kepala klan, aku harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Jika Delapan Sekte menemukan hubungan antara kita dan serangan itu..."
"Mereka tidak akan menemukan."
"Kau yakin?"
"Aku yakin."
Namgung Cheon ingin membantah, tapi ada sesuatu di mata putranya yang membuatnya percaya.
"Baiklah. Aku percaya padamu. Tapi hati-hati, Jin-ah. Permainan ini berbahaya."
"Aku tahu, Ayah."
---
Dari paviliun utama, Namgung Jin menuju ke paviliun reot. Ibunya pasti sudah cemas.
Dan benar saja. Begitu melihatnya, Nyonya Yoon langsung berlari memeluk.
"Jin-ah! Jin-ah! Ibu khawatir sekali! Lima hari! Kau bilang tiga hari!"
"Maaf, Ibu. Ada urusan."
"Urusan apa? Kau masih kecil! Tidak seharusnya—"
"Ibu." Namgung Jin memegang pundaknya. "Aku baik-baik saja."
Nyonya Yoon menatapnya, air mata mengalir. "Kau kurus. Pasti tidak makan enak."
"Ibu, aku—"
"Duduk! Ibu masakkan sesuatu!"
Namgung Jin tersenyum—senyum hangat yang hanya muncul di depan ibu ini. "Baik, Ibu."
---
Malam harinya, setelah makan malam, Namgung Jin duduk di atap paviliun.
Bulan hampir purnama lagi. Udara dingin, tapi tidak sedingin hatinya saat merencanakan langkah selanjutnya.
Dari bayangan, sesosok muncul.
Pemburu Kwon.
"Laporan, Tuan Muda."
"Bicara."
"Penyelidik Delapan Sekte masih di daerah ini. Mereka menginap di penginapan desa sebelah. Dua orang—dari Sekte Wudang dan Sekte Shaolin."
"Apa yang mereka lakukan?"
"Bertanya pada penduduk. Mencari siapa pun yang melihat keanehan akhir-akhir ini." Pemburu Kwon ragu. "Dan... mereka bertanya tentang Tuan Muda."
"Tentangku?"
"Tentang bocah ajaib yang mengalahkan pendekar Sekte Pedang Langit. Cerita itu sudah menyebar."
Namgung Jin tersenyum. "Biarkan."
"Tapi Tuan Muda, jika mereka menyelidiki lebih dalam—"
"Biarkan mereka menyelidiki. Semakin dalam mereka menyelidiki, semakin banyak yang mereka temukan. Dan yang mereka temukan akan mengarah pada... utusan iblis."
Pemburu Kwon mengerutkan kening. "Utusan iblis?"
"Cerita yang akan segera menyebar. Tentang seorang utusan misterius yang membawa pesan dari Iblis Murim. Tentang ramalan yang akan terpenuhi."
"Tuan Muda sengaja menciptakan pengalihan?"
"Pintar."
Pemburu Kwon menggeleng, setengah kagum. "Tuan Muda benar-benar... tidak seperti bocah biasa."
"Kau sudah bilang itu."
"Maaf."
"Tidak apa. Lakukan tugasku selanjutnya: sebar cerita itu. Di pasar, di kedai, di tempat-tempat umum. Gunakan jaringanmu. Dalam seminggu, seluruh Murim harus tahu tentang 'utusan iblis'."
Pemburu Kwon membungkuk. "Akan kulakukan."
Ia pergi, meninggalkan Namgung Jin sendirian di atap.
---
Dua hari kemudian, dua penyelidik Delapan Sekte datang ke Klan Namgung.
Mereka diterima di aula utama oleh Namgung Cheon dan para tetua. Namgung Jin, sebagai "anak biasa", tidak diundang. Tapi ia mengamati dari balik tirai.
Pertama, seorang biksu tua dari Shaolin—Biksu Myeongjin. Wajahnya ramah, tapi matanya tajam. Ia bicara pelan, sopan, tapi setiap pertanyaannya menusuk.
Kedua, seorang pendekar muda dari Wudang—Pendekar Seo Jin-ho. Usianya sekitar tiga puluhan, postur tegap, wajah dingin. Ia lebih banyak diam, mengamati.
"Kepala Klan Namgung," Biksu Myeongjin memulai. "Kami datang atas nama Delapan Sekte Besar untuk menyelidiki serangan terhadap Sekte Macan Hitam dan Serikat Bayangan Malam."
"Silakan." Namgung Cheon tenang. "Apa yang ingin kalian ketahui?"
"Apakah Klan Namgung memiliki musuh dengan kedua sekte itu?"
"Tidak secara langsung. Tapi mereka sering mengganggu perbatasan kami."
"Jadi, ada motif?"
"Motif? Maksud Biksu?"
Biksu Myeongjin tersenyum tipis. "Motif untuk menyerang mereka."
Namgung Cheon mengerutkan kening. "Kau menuduh kami?"
"Bukan tuduhan. Hanya pertanyaan."
Pendekar Seo Jin-ho angkat bicara. "Kami juga mendengar tentang seorang bocah di klan ini—Namgung Jin. Yang mengalahkan Pendekar Seok Cheon-myung dalam duel."
"Itu hanya kebetulan."
"Kebetulan?" Seo Jin-ho tersenyum sinis. "Bocah enam belas tahun tanpa kekuatan mengalahkan master level menengah. Itu bukan kebetulan."
"Dia menggunakan kecerdasan, bukan kekuatan."
"Kecerdasan yang luar biasa." Seo Jin-ho berdiri. "Bisa kami bertemu dengannya?"
Keheningan.
Namgung Cheon menatap mereka. "Untuk apa?"
"Hanya ingin melihat. Penasaran."
Di balik tirai, Namgung Jin tersenyum. Ini saatnya.
Ia melangkah keluar.
"Tidak perlu dicari. Aku di sini."
Semua mata tertuju padanya.
Biksu Myeongjin mengamatinya dengan teliti. Pendekar Seo Jin-ho menyipitkan mata.
"Jadi, kau Namgung Jin?"
"Ya."
"Aku dengar kau menggunakan teknik Samgyeolhyeol. Dari mana kau belajar?"
"Dari buku."
"Buku apa?"
"Buku catatan medis kuno di perpustakaan klan."
Seo Jin-ho mendekat. "Kau tahu, teknik itu hilang ratusan tahun lalu. Tidak ada buku catatan medis yang memuatnya."
"Mungkin buku di perpustakaanku berbeda."
"Atau mungkin kau berbohong."
Udara di ruangan itu tegang.
Namgung Jin menatap Seo Jin-ho tepat di mata. "Pendekar Seo, kau datang ke sini dengan tuduhan. Tapi apa buktimu bahwa aku berbohong?"
"Aku—"
"Atau mungkin," potong Namgung Jin, "...mungkin kau hanya iri? Bahwa bocah tanpa kekuatan bisa melakukan apa yang tidak bisa kau lakukan?"
Wajah Seo Jin-ho memerah. "Kurang ajar!"
Ia melayangkan serangan—bukan serangan sungguhan, tapi gerakan cepat untuk menguji.
Namgung Jin tidak bergerak.
Telapak tangan Seo Jin-ho berhenti satu inci dari wajahnya.
"Kenapa kau tidak menghindar?"
"Karena kau tidak akan memukul." Suara Namgung Jin tenang. "Di depan kepala klan dan biksu suci, kau tidak akan menyerang bocah tanpa alasan. Itu akan mempermalukan sekte."
Seo Jin-ho terdiam. Bocah ini membaca pikirannya.
Biksu Myeongjin tertawa kecil. "Luar biasa. Benar-benar luar biasa."
Ia berdiri, mendekati Namgung Jin.
"Anak muda, kau punya bakat besar. Tapi ingat, bakat tanpa bimbingan bisa menjadi bencana."
"Terima kasih nasihatnya, Biksu."
Biksu Myeongjin menatapnya lama. Lalu ia berkata, "Ada yang aneh denganmu. Tapi aku tidak bisa menunjukkannya."
Ia berbalik ke arah Namgung Cheon.
"Kepala Klan, maaf mengganggu. Kami akan melanjutkan penyelidikan di tempat lain."
"Silakan."
Kedua penyelidik itu pergi. Tapi sebelum keluar, Seo Jin-ho menoleh ke Namgung Jin.
"Ini belum selesai, bocah."
"Aku tahu."
---
Setelah mereka pergi, Namgung Cheon menghela napas lega.
"Kau berhasil."
"Mereka akan kembali."
"Aku tahu. Tapi setidaknya hari ini selamat."
Namgung Jin tidak menjawab. Ia memikirkan langkah selanjutnya.
Penyelidik akan menyebar cerita tentangnya. Tapi di saat yang sama, cerita tentang "utusan iblis" juga akan menyebar. Kedua cerita ini akan bercampur, menciptakan kebingungan.
Dan dalam kebingungan, ia bisa bergerak bebas.
"Ayah, aku pamit."
"Kau mau ke mana?"
"Beristirahat."
Namgung Cheon menatapnya. "Jin-ah... kau menyimpan banyak rahasia."
"Ayah juga."
Mereka saling pandang. Lalu Namgung Cheon tersenyum getir.
"Pergilah. Besok kita bicara lagi."
---
Malam itu, di kamarnya, Namgung Jin duduk bersila.
Meridian kelima terbuka. Kini ia memiliki naegong setara lima tahun kultivasi normal. Masih kecil, tapi cukup untuk jurus dasar Kitab Sembilan Jurang.
Ia mencoba jurus pertama—Mageukdan, Telapak Tangan Iblis.
Telapak tangannya bersinar hitam samar. Ia menekannya ke dinding. Bekas telapak tangan muncul di kayu—dalam, seperti terbakar.
"Cukup."
Ia tersenyum. Kekuatan mulai kembali.
Tiba-tiba, suara dari luar.
Pintu diketuk—ketukan kode Pemburu Kwon.
"Masuk."
Pemburu Kwon masuk dengan ekspresi tegang. "Tuan Muda, ada kabar buruk."
"Apa?"
"Utusan dari Magyo datang. Mereka minta bertemu dengan Tuan Muda. Sekarang."
"Di mana?"
"Di gudang belakang."
Namgung Jin berdiri. "Awas."
---
Di gudang belakang, dua sosok berjubah hitam menunggu. Bukan Heuksim. Dua orang baru—dengan aura lebih kuat.
Salah satu dari mereka membuka topi. Wajahnya dingin, tajam, dengan bekas luka di dahi.
"Namgung Jin?"
"Aku."
"Aku Roh Perang."
Namgung Jin tidak terkejut. Tiga Roh Magyo—yang satunya datang sendiri.
"Apa yang kau inginkan?"
Roh Perang tersenyum—senyum yang tidak ramah. "Atasan ingin ujian lagi."
"Ujian?"
"Kau bilang kau mendapat mimpi dari Iblis. Tapi mimpi bisa bohong. Kami butuh bukti nyata."
"Bukti apa?"
Roh Perang mengeluarkan sesuatu—sebuah gulungan kuno. "Ini adalah salinan Kitab Sembilan Jurang. Hanya separuh. Kau bilang kau tahu isinya. Tunjukkan."
Namgung Jin mengambil gulungan itu, membacanya sekilas.
"Ini palsu."
Roh Perang terkejut. "Apa?"
"Ini palsu. Bukan kitab asli."
"Kau bohong!"
"Lihat halaman tiga, baris kelima. Seharusnya 'Energi hitam mengalir dari dantian ke sembilan meridian', tapi di sini tertulis 'tujuh meridian'. Kesalahan fatal."
Roh Perang membuka gulungan itu, membaca. Wajahnya berubah.
"Kau... kau benar."
"Sekarang percaya?"
Roh Perang menatapnya dengan campuran takut dan kagum.
"Aku... aku harus lapor pada atasan."
"Laporlah. Tapi ingat, waktu semakin sempit. Delapan Sekte mulai curiga. Jika mereka tahu Magyo aktif, mereka akan menyerang."
"Apa saranmu?"
"Serang lebih dulu. Tapi jangan target besar. Target kecil—sekutu Delapan Sekte. Buat mereka sibuk memadamkan api di mana-mana."
Roh Perang mengangguk. "Akan kusampaikan."
Ia pergi, meninggalkan Namgung Jin sendirian.
Pemburu Kwon muncul dari bayangan. "Tuan Muda, kau memberi mereka strategi perang?"
"Ya."
"Tapi itu akan membuat Murim kacau!"
"Tepat." Namgung Jin tersenyum. "Kekacauan adalah tangga. Dan aku akan menaikinya."
---