"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jahitan Terakhir Sang Pengantin
Benang-benang merah itu merayap naik ke betis Kiara seperti ribuan ulat bulu yang lapar. Kiara memekik, mencoba mengibaskan kakinya, tapi benang itu lengket seperti lem dan kuat layaknya kawat baja.
"Rey! Tolong! Benang ini... mulai mengikat pinggangku!" teriak Kiara panik.
Reyhan mendengus. Ia mencoba memotong benang itu dengan pisau lipatnya, tapi setiap kali terputus, benang itu menyatu kembali dalam hitungan detik. Ia menoleh ke arah kerangka pengantin paling tengah yang matanya terus berputar mengikuti gerakannya.
"Oke, Nyonya Pengantin," Reyhan menodongkan pisaunya ke arah tengkorak itu dengan wajah masygul. "Aku tahu kamu butuh model baru buat koleksi musim gugurmu, tapi maaf saja, teman saya ini seleranya kasual, bukan gaun mayat yang baunya kayak rendaman formalin lima dekade begini!"
"Reyhan! Berhenti menghina hantu!" Rendy berteriak sambil berusaha menarik benang yang mulai melilit bahu Kiara. "Dia makin marah! Lihat uap merah yang keluar dari matanya!"
"Biar saja dia marah!" balas Reyhan sengit. "Daripada dia merasa kita kagum sama hasil jahitannya yang berantakan ini. Lihat itu, Rendy! Jahitan di bagian dadanya miring! Kalau aku jadi penenunnya, aku sudah pensiun karena malu!"
Mendengar itu, ketujuh kerangka di ruangan itu mendadak bergetar serentak. Suara derak tulang yang beradu menciptakan irama yang mengerikan. Kerangka pengantin utama membuka rahangnya lebar-lebar, mengeluarkan pekikan yang sanggup memecahkan kaca.
"...TUTUP... MULUTMU... PENJAGA... DARAH..."
"Nah, dia bisa bicara juga akhirnya," Reyhan menyeringai tipis, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Sekarang, mending kita negosiasi. Kamu lepaskan Kiara, dan aku janji tidak akan melaporkan tempat ini ke dinas kebersihan karena aromanya yang lebih busuk dari tempat sampah pasar."
Tiba-tiba, benang-benang itu berhenti merambat. Mereka mematung di udara, membentuk pola jaring raksasa yang menyelimuti seluruh ruangan. Rendy menyadari sesuatu; setiap kali Reyhan menyindir, "frekuensi" gaib di ruangan itu berubah.
"Rey... teruskan," bisik Rendy pelan. "Sarkasmemu... itu merusak konsentrasi ritualnya. Dia tidak biasa menghadapi orang yang tidak takut padanya. Hantu ini gila hormat, dan kamu baru saja menginjak-injak harga dirinya."
Reyhan menaikkan alisnya, menatap kerangka itu dengan tatapan paling meremehkan. "Oh, jadi kamu butuh dipuji? Maaf ya, koleksimu ini sampah. Benang emas di matamu itu juga norak sekali. Kamu pikir kamu cantik dengan lubang hitam begitu?"
Kerangka itu meledak dalam kemarahan. Ia meluncur terbang ke arah Reyhan dengan tangan tulang yang siap mencakar wajahnya.
"Kiara, Rendy! Sekarang! Cari celah di bawah gaunnya!" teriak Reyhan sambil berguling menghindari serangan maut itu. "Ada kotak kayu di bawah kaki mayat itu, itu jantungnya!"
Kerangka pengantin utama meluncur cepat, jari-jari tulangnya nyaris menyambar hidung Reyhan. Namun, Reyhan justru merunduk dengan santai sambil berguling di bawah kolong meja formalin yang bau.
"Aduh, Nyonya! Hati-hati dong! Kalau jaketku robek, gajiku sebulan nggak bakal cukup buat bayar binatunya!" Reyhan berteriak dari bawah meja sambil menendang kotak kayu yang ada di bawah kaki mayat itu ke arah Rendy. "Rendy! Tangkap! Itu 'kotak perhiasan' kesayangan si Nenek Lampir ini!"
Rendy menangkap kotak itu dengan susah payah. Kotaknya berat, terasa dingin, dan... berdenyut.
Begitu kotak itu berpindah tangan, seluruh kerangka di ruangan itu berhenti bergerak seolah baterainya dicabut. Wanita tua bermulut dijahit tadi tiba-tiba muncul di belakang Rendy, tangannya gemetar ingin meraih kotak itu, tapi ia tidak berani menyentuhnya.
"Pantas saja kamu gila hormat," Rendy menatap kotak kayu itu. Matanya yang mulai memerah akibat efek jarum melihat sesuatu di balik celah kayu. "Isinya bukan perhiasan emas..."
Rendy mencongkel tutup kotak itu dengan pisau lipat yang dilemparkan Reyhan. Begitu terbuka, Kiara menjerit pelan sambil menutup mulutnya.
Di dalam kotak itu, terendam dalam cairan formalin yang sudah menghitam, ada tujuh lidah manusia yang masih segar, masing-masing dijahit menggunakan benang emas. Di tengahnya, ada sebuah foto tua yang sudah sangat rapuh—foto seorang pria bangsawan yang wajahnya dicakar habis, menyisakan tulisan di belakangnya:
"Suara mereka terlalu bising, maka aku abadikan dalam jahitan. Dan kini, aku butuh satu lidah lagi untuk melengkapi simpul cintaku."
Reyhan bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu di celana jinnya dengan wajah jijik. Ia melirik ke arah kotak itu, lalu menatap si hantu pengantin.
"Jadi... ini semua gara-gara kamu introvert yang nggak kuat dengar orang ngomong?" sindir Reyhan sambil menodongkan pemantik api ke arah cairan formalin di kotak itu. "Maaf ya, Nyonya. Di kantorku, lidah itu buat makan rendang atau interogasi penjahat, bukan buat dikoleksi. Seleramu benar-benar... sampah."
"Rey! Jangan dibakar dulu!" teriak Kiara. "Lihat di bawah foto itu... ada nama pelakunya!"
Reyhan menghentikan jemarinya di pemantik api. Ia melihat selembar kertas kecil yang terselip di bawah tumpukan lidah itu. Nama yang tertulis di sana membuat wajah Reyhan yang tadinya penuh sindiran, mendadak berubah menjadi sangat kaku.
Nama itu adalah... Ayah angkat Reyhan.