Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Menerobos
Pagar tinggi itu bukan penghalang bagi Ge. Tatapannya tajam, napasnya masih sedikit berat setelah perjalanan ugal-ugalan tadi. Para penjaga di depan langsung berdiri menghadang.
“Hei! Mau ke mana lu?!” bentak salah satu dari mereka.
Ge tidak menjawab. Dia hanya melangkah maju.
“WOY! Berhenti!”
Salah satu penjaga mencoba menahan bahunya.
BUGH!
Ge langsung menepis tangan itu kasar. “Minggir!” katanya dingin.
Penjaga itu kaget. Belum sempat bereaksi, Ge sudah mendorong pagar hingga terbuka dan masuk begitu saja.
“Hei! Berhenti lu!”
Beberapa penjaga langsung mengejar. Tapi Ge sudah berjalan cepat masuk ke halaman rumah. Langkahnya lebar, penuh emosi. Pintu rumah terbuka. Ge langsung menerobos masuk tanpa izin.
“PAK!” panggil Ge.
Suara Ge menggema di dalam rumah besar itu. Semua orang yang ada di ruang tengah langsung menoleh. Di sana, beberapa anak muda sedang berkumpul santai. Mereka tak lain adalah geng Bintang. Suasana seperti tongkrongan elite. Tawa sempat terdengar, lalu langsung berhenti begitu melihat Ge.
Kevin yang duduk di sofa langsung berdiri. “Lu?!” katanya kaget.
Di sampingnya, Tantri juga ikut membelalak. “Ge?!”
Beberapa anggota geng lainnya ikut berdiri, suasana langsung berubah tegang.
Ge tidak peduli. Tatapannya menyapu ruangan. “Bapak gue mana?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
Kevin mengernyit. “Apaan sih?”
Ge melangkah mendekat. “Jangan pura-pura bego. Bapak gue, Tarno. Dia ke sini!”
Tantri melirik Kevin, lalu kembali ke Ge. “Dari pagi nggak ada siapa-siapa ke sini…”
Ge menatap tajam. “Jangan bohong!”
Kevin mendecak kesal. “Ngapain gue bohong? Lu kira ini rumah umum apa?!”
Ge mengepalkan tangan. “Dia bilang ke sini…”
Kevin menyilangkan tangan. “Ya berarti dia salah tempat.”
Ge terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Emosinya masih memuncak.
“Lu bikin ribut di sini cuma gara-gara itu?” tambah Kevin, nada suaranya mulai naik.
Ge melirik tajam. “Lu anaknya Johan, kan?”
Kevin mengangkat alis. “Kenapa?”
Ge melangkah lebih dekat. Jarak mereka tinggal beberapa langkah. “Kalau bapak gue kenapa-kenapa…”
Kevin menyeringai tipis. “Kenapa? Mau ngapain lu?”
Suasana langsung panas. Beberapa anggota geng mulai mendekat, siap kalau terjadi sesuatu.
Tantri tampak tegang. “Ge… santai dulu…”
Tapi Ge tidak mendengar. “Gue cuma mau satu hal,” katanya pelan, tapi penuh tekanan. “Di mana bapak gue.”
Kevin menggeleng. “Gue udah bilang, nggak ada!”
Hening sesaat. Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Semua langsung menoleh. Seorang pria turun dengan langkah tenang. Wajahnya tegas, aura dinginnya langsung terasa memenuhi ruangan. Dialah Johan. Tatapannya langsung tertuju ke Ge.
“Ini siapa,” katanya pelan, tapi nadanya jelas tidak suka, “yang berani masuk tanpa izin ke rumahku?”
Suasana makin mencekam.
Kevin langsung menoleh. “Pa, ini anak yang—”
“Diam,” potong Johan singkat.
Matanya tidak lepas dari Ge.
Ge juga menatap balik. Tidak ada rasa takut sedikit pun.
“Namaku Ge,” katanya.
Johan turun beberapa anak tangga lagi. “Dan?”
Ge menjawab tanpa ragu, “Aku nyari bapakku.”
Johan menyipitkan mata. “Dan itu alasan kamu masuk ke rumah orang tanpa izin?”
Ge tidak menjawab itu. Dia justru maju satu langkah.
“Bapakku ke sini, namanya Tarno. Anak buahmu udah bikin anak buahnya babak belur,” katanya tegas.
Nama itu membuat beberapa orang saling melirik. Kevin juga sedikit mengernyit.
Johan berhenti di anak tangga terakhir. “Tarno…” ulangnya pelan.
Ge memperhatikan reaksinya. “Katanya Bapakku ke sini. Makanya aku di sini sekarang!"
Johan menghela napas pelan. Lalu tersenyum tipis, senyum yang tidak ramah.
“Banyak orang datang kepadaku setiap hari,” katanya santai. “Aku tidak ingat semuanya.”
Ge mengepalkan tangan lagi. “Jangan muter-muter!"
Kevin mulai kesal. “Eh! Jaga mulut lu—”
“Kevin.” Johan kembali memotong, kali ini lebih tegas.
Kevin langsung diam.
Johan menatap Ge lagi. “Kamu anaknya Tarno?”
Ge mengangguk. “Iya!"
Johan menatapnya dari atas sampai bawah. Menilai. “Berani juga kau..."
Ge menyeringai tipis. “Turunan!"
Beberapa anak geng sampai menahan napas mendengar itu. Suasana makin panas.
Johan justru tertawa kecil. “Menarik sekali..."
Ge tidak ikut tertawa. “Gue ke sini nggak buat lucu-lucuan," balasnya berani.
Johan mendekat beberapa langkah. Sekarang jarak mereka cukup dekat. Saat itulah dia berucap, "Kevin... Anak ini sepertinya butuh pelajaran. Kau bisa bantu papah?" ujarnya sambil menyeringai.
Mata Ge terbelalak tak percaya. Dia merasa kalimat dari Johan itu adalah bahaya. Apalagi saat melihat Kevin ikut tersenyum smirk.