NovelToon NovelToon
Hotnews: I Love You

Hotnews: I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Kantor / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.

Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.

Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi Kunci

Pagi yang cerah untuk Januari yang biasanya kelabu. Andrean sudah bersiap berangkat ketika ponselnya berdering. Sebuah panggilan telepon mendarat dengan berisik di ponsel Andrean.

"Halo, Buk?"

"Kamu gimana kabarnya? Kok nggak pernah telepon?" suara lembut di seberang terdengar serak.

"Baik, Buk. Andrean sibuk banget akhir-akhir ini. Maaf ya, Buk," kata Andrean.

"Syukur kalo sehat. Mau berangkat kerja?"

"Iya, Buk. Ini udah mau berangkat. Ibuk sehat kan? Rutin check kan?" tanya Andrean. Terdengar suara batuk-batuk kecil di seberang.

"Alhamdulillah, sehat. Kemarin abis dianter Ardi check up,"

"Kalo Andrean dapet libur, Andrean pulang, Buk," kata Andrean.

"Nggak apa-apa. Selonggarnya saja. Yang penting sering-sering kasih kabar," kata Bu Ayu, ibu Andrean.

"Ya, Buk,"

"Ya udah. Kamu ati-ati kerjanya," pesan Bu Ayu.

"Ya, Buk,"

Andrean masih menatap layar ponselnya saat panggilan dari ibunya berakhir. Tak seperti Alena, Andrean berasal dari keluarga menengah yang biasa-biasa saja. Andrean dapat menyelesaikan kuliah berkat gaji bulanan ibunya yang seorang PNS golongan 4A dan uang pensiun janda peninggalan almarhum ayahnya.

Meski kesehatan ibunya menurun setelah pensiun, ibunya tetap meminta Andrean —yang sempat ragu— untuk mengejar mimpinya dan meninggalkan ibunya di kampung halaman bersama adiknya. Ardi, adik Andrean, seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas negeri di kota sebelah. Berkat otaknya yang encer, Ardi mendapat beasiswa penuh selama empat tahun kuliahnya. Andrean bersyukur memiliki adik yang bisa diandalkan untuk menjaga ibunya.

"Oke. Kita selesaikan ini segera dan pulang," gumam Andrean sambil memasukkan ponsel ke dalam tasnya.

Mobil Andrean sudah melaju membelah jalanan yang cukup sibuk. Andrean melirik jam tangannya. 07.14. Sepanjang perjalanan menuju kantor redaksi, Andrean memikirkan bagaimana cara mendapatkan bukti dari PDX selain dari Renald.

"Cuma pake hacker," gumam Andrean.

"Terlalu beresiko juga. PDX pasti udah memasang keamanan berlapis," gumam Andrean. Andrean berpikir, liputan investigasi kali ini adalah liputan paling berbahaya yang dia jalani selama lima tahun masa kerjanya sebagai jurnalis.

'Semoga keberuntungan berpihak pada gue,⁹

***

Suasana kantor redaksi Hotnews.com terasa berat dan menegangkan pagi ini. Andrean menatap sekeliling ruang kantor yang menatap lurus ke arahnya begitu Andrean memasuki ruangan.

"Gawat!" bisik Roni yang berlari ke arah Andrean.

"Kenapa?" tanya Andrean pada Roni.

"Lo ditunggu Pak Indra di ruang rapat," kata Roni. Andrean melihat jam tangannya. Belum ada jam delapan.

"Sekarang?" tanya Andrean.

"Lusa," jawab Roni gemas lalu meninggalkan Andrean. Andrean menghela nafas panjang, lalu berjalan menuju ruang rapat.

Saat Andrean membuka pintu ruang rapat, Pak Indra dan Alena terlihat sedang serius membicarakan sesuatu.

"Bapak manggil saya?" tanya Andrean pada Pak Indra yang melihat ke arahnya. Pak Indra mengangguk. Andrean duduk di kursi sebelah Alena.

"Pergerakan kita udah mulai tercium oleh PDX," kata Alena.

"Serius?" tanya Andrean sambil menatap Alena dan Pak Indra bergantian. Pak Indra menyodorkan selembar kertas. Sebuah faksimile berupa undangan tertuju untuk Alena Maharani sebagai jurnalis dari Hotnews.com untuk mendatangi konferensi pers yang diselenggarakan oleh PDX terkait peluncuran aplikasi terbaru mereka, P.O.A (Public Opinion Analytic).

"P.O.A.?" gumam Andrean sambil membaca undangan itu.

"Sebuah platform analitik opini publik berbasis AI yang diklaim mampu membaca tren percakapan masyarakat secara real-time," Andrean membaca detail singkat terkait aplikasi terbaru PDX tersebut.

"Mereka secara khusus mengundang Alena untuk hadir. Menurut Alena, mereka sedang menabuh genderang perang dengan kita," kata Pak Indra. Andrean menatap Alena. Alena mengangguk serius.

"Dan lo bakal dateng? Siapa tau ini jebakan?" tanya Andrean pada Alena.

"Gue udah pastiin. Media besar lain juga menerima undangan yang sama," kata Alena. Andrean menggelengkan kepalanya.

"Musuh udah tau kita ngincer mereka. Kita mau pura-pura nggak nyari tau tentang mereka juga percuma, An," lanjut Alena seperti tahu kalau Andrean merasa tak mungkin untuk melanjutkan penyelidikan ini.

"Too risky, Al! Bukan gue takut. Tapi, kita nggak punya cukup bukti," kata Andrean.

"Kalo kita nggak gerak, kita nggak bisa dapet bukti," kata Alena.

"Dengan menyusup tepat di depan mata musuh? Impossible!"

"Nothing is impossible, An! Mungkin dengan mereka terlalu fokus dengan kita, mereka jadi nggak melihat hal lain sebagai ancaman," kata Alena. Andrean mengerutkan kedua alisnya.

"Hal lain? Ancaman? Maksud lo?" tanya Andrean, bingung.

"Darrel Bramastya," jawab Alena. Alia Andrean semakin mengerut, tanda bahwa dia belum memahami situasi.

"Renald chat gue semalem. Dia bilang mustahil dapet memo strategi krisis karena hard file maupun soft file ada di tangan Aji," Alena mulai menjelaskan rencananya dari awal.

"Lo inget HighTech?" tanya Alena memastikan Andrean tidak melupakan perusahaan startup milik CEO eksentrik yang pernah dia wawancarai.

"Nah, Darrel dulunya pernah jadi programmer PDX," kata Alena. Kedua mata Andrean membulat.

"Jadi, karena itu lo udah kenal sama Darrel waktu itu?" tanya Andrean. Alena menggeleng.

"Gue baru tau sehari sebelum kita wawancara dia. Gue dateng ke acara gathering para startup muda. Gue banyak ngobrol sama dia dan tau kalo dia resign dari PDX pas pandemi," cerita Alena.

"Setelah itu dia ngembangin aplikasi anti-distraksi untuk memulai HighTech," lanjut Alena.

"Jadi, patah hati yang dia bilang waktu itu... bukan karena cewek?" tanya Andrean. Alena mengangguk.

"Karena dia nemuin sesuatu dalam PDX yang membuat dia patah hati," kata Alena dengan senyum yang tak bisa diartikan oleh Andrean.

"Sesuatu?" tanya Andrean sambil menatap Alena dan Pak Indra bergantian. Alena dan Pak Indra mengangguk pasti.

"Apa?"

Hening.

"Itu yang gue belum tau," kata Alena. Andrean menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi seperti melepaskan ketegangan yang baru saja dia rasakan.

"Gue mau ketemu sama Darrel lagi nanti siang buat bahas ini dengan kedok wawancara," lanjut Alena.

"Lo yakin PDX nggak mata-matai pergerakan lo?" tanya Andrean cemas.

"Misalkan mereka mata-matai kita, mereka bakal liat kita cuma melakukan wawancara biasa," kata Alena. Andrean kembali mengerutkan kedua alisnya.

"Caranya?" tanya Andrean penasaran.

"Lo kan tau keahlian Darrel," kata Alena sambil menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum.

Andrean teringat sesi wawancaranya dengan Darrel waktu itu lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Gila!"

"Tepat!"

Andrean masih tak percaya dengan apa yang Alena pikirkan. Sesi wawancara absurd yang tak pernah Andrean pahami akan menjadi jalan untuk mendapatkan bukti bisnis kotor PDX.

"Agar rencana ini berjalan lancar, Andrean yang akan melakukan wawancara dengan Darrel. Kita akan menggunakan aplikasi yang tengah dikembangkan oleh HighTech sebagai topik wawancara kali ini," kata Pak Indra.

"Naskahnya biar gue yang garap," kata Alena.

"Lo cukup baca sesuai apa yang gue tulis," lanjut Alena. Andrean mengangguk, paham.

"Baik. Kalian siapkan semuanya. Semoga wawancara kali ini membuahkan hasil," kata Pak Indra lalu meninggalkan ruang rapat.

"Siap, Pak!" jawab Andrean dan Alena bersamaan.

Andrean dan Alena saling tatap. Andrean melihat secercah harapan di mata Alena yang berbinar.

'Kali ini, dia pake strategi,'

***

1
Nanaiko
Aaaa bersambung😅
Nanaiko
Bisa tidak yaa sehari updatenya 5 bab sekalian, Thor? hehehe
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤
Purnamanisa: kapasitas author sehari nulis cuma 3 bab kak 😅😅😅 2 bab disini, 1 bab di I Love You, Miss!!!🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!