NovelToon NovelToon
Bayangkan Di Rumah Sendiri

Bayangkan Di Rumah Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Meja Makan yang Dingin

Lampu gantung kristal di ruang makan kediaman Omerly memancarkan cahaya yang begitu terang, namun entah kenapa, Zerya Clarissa Omerly selalu merasa ruangan itu gelap. Harum masakan kelas atas—truffle oil dan daging panggang premium—memenuhi udara, tetapi lidah Zerya seolah sudah mati rasa.

Di meja makan panjang itu, hanya ada denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal. Tak ada suara tawa, tak ada pertanyaan, “Bagaimana harimu?”

"Zerya," suara berat itu memecah keheningan.

Zerya refleks menegakkan punggungnya. Ia meletakkan sendok dengan pelan, tanpa suara. "Iya, Papih?"

Aldric Fernando Omerly, pria yang wajahnya selalu menghiasi majalah bisnis, bahkan tidak menoleh ke arah putrinya. Ia tetap fokus memotong daging di piringnya.

"Papih dengar IPK-mu keluar kemarin. Kenapa hanya 3.8? Mana janji kamu untuk dapat skor sempurna?"

Zerya meremas serbet di pangkuannya. "Maaf, Pih. Ada satu mata kuliah yang memang standarnya sangat tinggi, tapi Zerya akan perbaiki di semester depan."

"Jangan hanya janji," timpal Marisella, sang Mamih, sambil menyesap wine-nya anggun. "Kamu tahu sendiri, sepupumu dari keluarga Wijaya baru saja diterima magang di firma hukum di London. Kalau kamu begini terus, Mamih mau pamer apa di arisan minggu depan? Kamu itu satu-satunya putri Omerly, Zerya. Jangan jadi titik lemah keluarga."

Titik lemah.

Kata-kata itu menghantam dada Zerya seperti godam besar. Padahal, sepanjang semester ia hampir tidak tidur, belajar hingga mimisan, hanya agar bisa mendengar satu kalimat: "Pekerjaan bagus, Zerya."

Tapi di rumah ini, prestasi adalah kewajiban, dan kegagalan adalah dosa besar.

"Baik, Mih. Zerya akan belajar lebih keras lagi," jawab Zerya dengan suara tetap tenang dan sopan. Senyum tipis yang tulus tak sampai ke mata itu terukir di wajah cantiknya. Itulah topeng terbaiknya.

---

Setelah makan malam yang menyesakkan itu, Zerya memilih untuk keluar sebentar. Ia butuh oksigen yang tidak terkontaminasi oleh ekspektasi orang tuanya. Ia mengendarai mobilnya tanpa tujuan, hingga berhenti di depan sebuah kafe yang masih buka di area perkantoran elit.

Di sana, di sudut kafe yang tenang, ia melihat seorang pria.

Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat tangan yang kuat namun rapi. Wajahnya tegas—rahang kokoh, hidung bangir, dan mata tajam yang seolah bisa membaca isi kepala orang lain.

Javian Arka Talandra.

Zerya mengenalinya. Siapa yang tidak kenal CEO Talandra Group itu? Namun, yang membuat Zerya terpaku bukan ketampanannya, melainkan apa yang sedang ia lakukan.

Javian sedang memegang ponsel dengan senyum lembut. Sangat kontras dengan rumor "Iblis Korporat" yang melekat padanya.

"Iya, Mom. Javian sudah makan. Mommy masak apa? Oh, seafood? Sisakan untuk Javian, ya. Sebentar lagi Javian pulang. Love you too, Mom."

Zerya mematung di pintu masuk. Sengatan iri menusuk ulu hatinya. Bagaimana bisa pria seberkuasa itu terdengar begitu hangat saat berbicara dengan orang tuanya?

Tanpa sadar, mata Zerya berkaca-kaca. Ia segera menunduk, mencoba mencari tempat duduk yang jauh dari jangkauan pandangan pria itu. Namun, ujung tasnya menyenggol vas bunga kecil di meja dekat Javian.

PRANG!

Vas itu pecah. Suasana kafe seketika tegang.

Zerya tersentak. Jantungnya berpacu cepat. Di kepalanya, suara Mamih terngiang: "Jangan buat malu keluarga!"

"Maaf... saya minta maaf," bisik Zerya gemetar. Ia refleks berjongkok untuk memunguti pecahan kaca itu.

"Jangan disentuh. Kamu bisa terluka."

Sebuah tangan besar dan hangat menahan pergelangan tangannya. Zerya mendongak dan bertatapan dengan mata kelam milik Javian. Pria itu berdiri di depannya, menatap dengan kening berkerut.

"Biarkan pelayan yang membersihkannya," ucap Javian pelan, namun penuh penekanan.

Zerya menarik tangannya dengan canggung. "Saya... saya hanya tidak ingin merepotkan. Saya akan ganti ruginya."

Javian memperhatikan gadis di depannya. Gaun mahal, jam tangan mewah—tapi matanya terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.

"Ini hanya vas murah. Tidak perlu gemetar seperti itu," gumam Javian. Suaranya dingin, khas CEO, tapi ada nada penasaran terselip.

Zerya segera berdiri, merapikan rambut, dan kembali memasang topeng “Gadis Omerly” yang sempurna. Ia tersenyum sopan—senyum yang paling ia benci.

"Terima kasih atas sarannya, Tuan. Saya permisi."

Zerya berbalik dan berjalan cepat keluar kafe sebelum air matanya jatuh. Ia tidak ingin orang asing, apalagi saingan bisnis ayahnya, melihat kerapuhannya.

Javian berdiri diam, menatap punggung Zerya yang menjauh. Ia melihat gadis itu masuk ke mobil mewah dengan plat nomor khusus keluarga Omerly.

"Omerly?" gumam Javian.

"Kenapa matanya tidak tersenyum?"

Ia teringat tawa hangat Mommy-nya di telepon tadi. Kontras itu begitu nyata. Di dunia Javian, rumah adalah pelukan. Tapi bagi gadis itu… rumah tampaknya adalah tempat yang ingin ia hindari.

"Zerya Omerly..." gumam Javian pelan. Nama itu terasa berat di lidahnya.

Ia tidak tahu siapa gadis itu sebenarnya. Tapi untuk pertama kalinya, ia ingin tahu kenapa seseorang dengan nama sebesar Omerly memiliki mata yang seolah meminta diselamatkan.

1
Iqlima Al Jazira
next thor, kopi & vote untukmu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!