Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH KEBENARAN
Sinta pulang ketika hari sudah larut. Lampu ruang tengah masih menyala redup.
Begitu membuka pintu, langkahnya terhenti. Leo duduk di kursi ruang tengah dengan kepala tertunduk. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.
“Astaghfirullah… Nak, kenapa belum tidur? Ini jam berapa?” tanya Sinta panik.
Leo tidak menjawab. Keheningan itu justru membuat Sinta gugup.
Anak sulungnya memang pendiam. Tidak pernah membantah. Tidak pernah membuat masalah. Justru karena itu… diamnya terasa menakutkan.
“Bunda…” panggil Leo lirih.
Sinta segera mendekat dan bersimpuh di depannya.
Leo mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam. Terlalu dewasa untuk remaja seusianya.
“Apa Bunda masih ingat kalau kami ada di sini?”
Pertanyaan itu menghantam dada Sinta tanpa ampun.
“Tentu saja, Nak. Bunda bekerja begini demi masa depan kalian. Bunda harus sukses supaya—”
“Ayah sudah melunasi semuanya sampai kami lulus kuliah, Bunda.” potong Leo dalam.
Sunyi.
Leo tetap menatap lurus.
“Bahkan Ayah sudah merancang masa depan kami… kemanapun kami mau.”
Sinta membeku.
“Nak… Bunda—”
“Aku dapat ini dari tukang paket.”
Leo menyerahkan amplop cokelat besar bertuliskan SECRET & URGENT.
Tangan Sinta gemetar saat membukanya. Dokumen pelunasan. Biaya sekolah. Tabungan pendidikan. Asuransi masa depan.
Semua… atas nama Farhan.
Air matanya langsung jatuh.
“Kenapa Bunda bohong?” tanya Leo lirih.
Tak ada nada marah. Justru itu yang paling menyakitkan.
Sinta akhirnya menangis.
“Maafkan Bunda… maafkan Bunda…” isaknya.
Leo menghela napas panjang.
“Baiklah… aku maafkan.”
Sinta langsung memeluknya erat, seolah takut anaknya akan menjauh.
“Bunda janji nggak akan ulangi lagi…”
Leo diam beberapa detik.
“Berarti… besok kami dijemput pulang kan?” Sinta mengangguk cepat.
“Iya. Bunda sendiri yang antar jemput kalian.” Leo menatapnya lama.
“Baiklah… aku coba percaya sama Bunda.”
Pelukan kembali terjadi.
Tetapi Leo memilih diam tentang kejadian siang tadi — tentang hampir terjadinya penyerangan di sekolah. Ia tidak ingin ibunya merasa lebih bersalah lagi.
Malam itu… untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sinta pulang bukan sebagai pemilik toko. Melainkan sebagai seorang ibu.
Pagi itu, kediaman Farhan dan Rani tampak seperti potongan gambar dari majalah gaya hidup kelas atas.
Balon-balon berwarna pastel biru dan pink menghiasi setiap sudut pilar, sementara katering dengan menu-menu pilihan mulai menata meja panjang di halaman belakang.
Acara Gender Reveal ini bukan hanya sekadar seremoni bagi Rani, melainkan sebuah proklamasi kemenangan.
Rani duduk di kursi rotan terasnya, mengusap perutnya yang kini terasa jauh lebih berat. Dalam diam, ia melantunkan mantra yang sama berulang kali: Anak ini harus laki-laki.
Baginya, bayi laki-laki adalah kunci mutlak untuk mengunci warisan Farhan dan menyingkirkan bayang-bayang Leo serta Adrian dari posisi utama di hati suaminya.
Perlahan, jemarinya naik ke leher. Di sana seuntai kalung berlian cantik menghias dan berkilau ditempa cahaya. Sebuah hadiah kecil dari Farhan. Ia menatap punggung suaminya yang sibuk mengatur para petugas katering yang menata tempat.
Lalu ia menatap putrinya yang berjalan dengan dress cantik warna pink. Bergaya centil di depan Farhan hingga membuat pria itu tertawa. Rani ikut tertawa melihatnya. Lalu keduanya mendekat.
"Sama Mama dulu ya," suruhnya lembut.
"Sini sayang," Rani menarik pelan lengan putrinya.
Rani menyambut tangan Claudia, namun matanya tetap tertuju pada Farhan yang kembali sibuk memastikan detail dekorasi. Di mata Rani, Farhan adalah sosok pria sempurna yang harus ia miliki seutuhnya.
Hingga detik ini, Rani masih bertanya-tanya dalam hati. Ia tak tau kenapa suaminya itu tak mengenalkan kedua putra dari pernikahan sebelumnya.
"Kenapa ya. Kalaupun Mas Farhan ambil alih mereka. Aku juga nggak masalah mengurusnya," gumamnya dalam hati.
"Walau anak-anakku yang tetap kumanjakan," lanjutnya pelan.
"Mama bilang apa?" tanya Claudia menatapnya polos.
"Nggak ada sayang," jawab Rani cepat.
Farhan tampak puas, ia pun masuk ke kamar dan membersihkan diri. Tak lama tamu-tamu berdatangan. Rani berdiri dan menyambut mereka.
"Assalamualaikum!" sahut seorang kolega .memberi salam.
"Waalaikumsalam, selamat datang. Mari-mari, masuk!" Rani mempersilahkan para tamu masuk.
Ruangan depan disulap indah. Sebuah tenda berdiri untuk memenuhi kepentingan pesta. Para petugas katering mulai menghidangkan minuman dan makanan ringan.
Farhan selesai membersihkan diri, ia langsung berdiri di sisi istrinya. Senyum terus terukir di bibir keduanya.
Pesta berlangsung meriah, terlebih saat kotak berisi balon-balon yang menandakan jenis kelamin janin yang dikandung Rani.
"Saya yakin jika ini anak laki!" ujar salah satu kolega Farhan.
"Iya ih, keliatan ya. Lancip bentuk perutnya!" sahut salah satu menimpali.
"Apa saja yang penting ibu dan bayinya sehat," ujar Farhan menatap istrinya penuh cinta.
Sementara itu, di rumah Sinta, suasana pagi terasa jauh lebih berat meski matahari bersinar terik. Sinta menepati janjinya. Ia bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan dengan tangannya sendiri—sesuatu yang sudah jarang ia lakukan karena ambisinya di toko. Namun, suasana di meja makan terasa canggung.
Leo mengunyah rotinya dalam diam. Amplop cokelat berisi bukti pelunasan sekolah dari Farhan masih tergeletak di atas bufet, seolah menjadi saksi bisu atas kebohongan Sinta selama bertahun-tahun.
Hanya Adrian yang nampak biasa saja. Hari ini hari libur, jadi Sinta memilih tetap di rumah saja.
"Loh, tumben Bunda masih di rumah?" ujar Adrian menatap ibunya yang memakai baju rumahan.
Pertanyaan biasa sebenarnya, tapi bagi Sinta itu seperti ledekan. Ia tersenyum kecut.
"Lagi bosan," jawabnya pelan.
Kembali ke pesta di rumah Rani, pasangan itu tampak tertawa bahagia ketika kotak dibuka dan berterbangan balon-balon warna biru ke udara. Semua bertepuk tangan.
"Wah ... selamat ya!"
Farhan dan Rani mengangguk sambil tersenyum lebar, mengucap banyak terimakasih atas doa-doa yang dipanjatkan.
Akhirnya acara selesai, para tamu pulang membawa souvenir cantik. Claudia dapat banyak hadiah dari para tamu. Gadis kecil itu bersorak kecil saat membuka kertas hadiahnya.
Rani memilih langsung masuk kamar, ia beristirahat. Beberapa petugas katering membersihkan semuanya. Farhan memilih memanggil jasa cleaning service untuk membersihkan sisa-sisa pesta.
Ia membawa putrinya ke kamar, di sana Rani sudah tertidur akibat kelelahan. Farhan tersenyum lembut. Claudia langsung naik ke ranjang dan memeluk ibunya.
Farhan menunduk dan mencium kening keduanya. Mengusap peluh yang ada di pelipis Rani.
"Sehat-sehat ya sayang," ujarnya lembut.
Sementara di rumah Sinta, ia menatap kembali ponselnya. Entah ke berapa kali mendesah kecewa. Tokonya tetap berjalan baik-baik saja Baik Ninda dan Riani melaporkan jika toko berjalan lancar.
Tidak ada lonjakan pesanan atau customer datang bertubi-tubi.
"Jadi semua lancar?" tanyanya ketika menelpon untuk memastikan.
"Iya Bu ...semua lancar!' jawab Riani di seberang telepon.
Bersambung.
Huhuhu.
Next?