NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Skakmat di Ruang Rektorat

Beberapa hari berlalu, namun Hana masih harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Kondisi psikosomatis-nya belum stabil. Setiap kali teringat komentar jahat itu, dadanya kembali nyeri dan napasnya memburu. Dokter Sarah menyarankan agar Hana diisolasi dari dunia luar, terutama media sosial, sampai jiwanya benar-benar siap.

Arlan membagi waktunya antara kampus, kantor, dan rumah sakit. Wajahnya tampak semakin tirus, namun sorot matanya semakin tajam dan dingin.

Puncaknya adalah pagi ini. Arlan mendapatkan panggilan darurat dari pihak rektorat. Berita tentang "Skandal Dosen Populer dan Mahasiswinya sendiri" sudah menjadi konsumsi publik, bahkan mulai mengganggu stabilitas kampus. Di mata rektorat dan rekan dosen, Arlan adalah tersangka utama yang mencoreng nama baik institusi.

Arlan melangkah masuk ke ruang rapat rektorat dengan langkah tegap. Di dalam sana, sudah duduk Rektor, Dekan Fakultas, dan beberapa perwakilan dosen senior. Suasana terasa tegang, seolah-olah Arlan sedang menghadiri sidang putusan akhir.

"Pak Arlan," buka Rektor dengan nada suara yang berat dan kecewa.

"Berita yang beredar di luar sana sudah sangat meresahkan. Sebagai dosen senior yang menjadi panutan, tindakan Anda dengan mahasiswi bernama Hana ini..."

"Tindakan apa yang Anda maksud, Pak Rektor?" potong Arlan langsung. Suaranya datar, dingin, namun penuh penekanan.

"Foto-foto yang beredar, Pak Arlan! Anda berduaan di mobil, berpegangan tangan di restoran... Ini adalah pelanggaran kode etik berat!" seru Dekan Fakultas, wajahnya memerah menahan geram.

"Apa yang Anda pikirkan? Hana itu mahasiswi Anda sendiri!"

Arlan diam sejenak. Ia menatap satu per satu wajah di ruangan itu dengan tatapan yang membuat nyali beberapa dosen senior menciut. Aura dingin dari Arlan terpancar jelas, memenuhi ruangan yang tertutup itu.

Tanpa bersuara, Arlan membuka tas kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah benda tipis bersampul cokelat tua dengan lambang Garuda emas di depannya.

Brak.

Arlan meletakkan buku nikah itu di atas meja rapat dengan pelan namun bertenaga, menciptakan suara dentuman yang mengejutkan semua orang.

"Itu adalah jawabannya," ucap Arlan.

Suaranya terdengar sangat mengerikan di tengah keheningan yang mendadak mencekam.

"Hana bukan sekadar mahasiswi bimbingan saya. Dia adalah istri sah saya secara hukum dan agama."

Semua orang di ruangan itu membelalak kaget. Rektor bahkan sampai memperbaiki posisi kacamata, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"A-apa? Istri?" Dekan gagap.

Arlan mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto yang tersimpan rapi. Ia menunjukkan foto-foto akad nikah mereka yang sederhana di sebuah Masjid waktu itu. Ada foto Arlan menjabat tangan ayah Hana, dan foto Hana mencium tangan Arlan setelah ijab kabul.

"Kami menikah dua bulan lalu, atas permintaan mendiang istri saya, Inggit," jelas Arlan, matanya menatap tajam ke arah Dekan yang tadi menyudutkannya.

"Foto yang diunggah di media sosial itu diambil kemarin siang saat saya sedang bersama Hana di sebuah restoran. Dan, apakah berjalan bersama istri sendiri merupakan sebuah aib di kampus ini?"

Keheningan di ruangan itu semakin pekat. Para dosen yang tadinya bersiap menghujat Arlan, kini hanya bisa menunduk malu.

"Apakah mengajak istri makan adalah sebuah kesalahan yang harus disidang seperti ini?" Arlan kembali bertanya, suaranya meninggi satu oktav, menuntut jawaban.

Rektor berdehem canggung.

"Pak Arlan, kami... kami benar-benar tidak tahu kalau status kalian..."

"Karena kami memilih untuk merahasiakannya demi kenyamanan Hana belajar, Pak!" potong Arlan lagi.

"Tapi ternyata, kerahasiaan kami justru menjadi senjata bagi orang-orang licik untuk menghancurkan mental istri saya. Sekarang istri saya terbaring di rumah sakit karena Acute Stress Disorder akibat fitnah ini. Saya harap, pihak kampus bisa bersikap adil dan membersihkan nama Hana secepatnya."

Tanpa menunggu balasan dari siapa pun, Arlan menyambar buku nikahnya kembali, memasukkannya ke dalam tas, dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan emosi yang tidak lagi bisa ia kendalikan. Amarahnya memuncak, bukan pada pihak rektorat, melainkan pada takdir yang begitu kejam mempermainkan hidup Hana.

Arlan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak menuju rumah sakit, juga tidak ke kantor. Ia butuh tempat untuk bernapas, tempat di mana ia bisa meluapkan seluruh sesak di dadanya tanpa harus terlihat kuat.

Mobil SUV hitam itu berhenti di depan gerbang taman pemakaman umum. Arlan melangkah masuk, menyusuri jalan setapak di antara nisan-nisan yang bisu. Ia berhenti di depan sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan nama Inggit.

Arlan terduduk di samping makam, jemarinya mengusap tanah yang masih basah. Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya luruh juga.

"Nggit..." bisik Arlan pilu.

"Aku sudah lakukan apa yang kamu minta. Aku sudah menikahinya. Tapi kenapa... kenapa justru keputusanku ini yang membuatnya hancur, Nggit? Aku gagal menjaganya..."

Arlan menangis tergugu di samping makam Inggit. Di sinilah, di depan cintanya yang telah pergi, Arlan melepaskan seluruh topeng "Pak Dosen Dingin" dan menunjukkan kerapuhannya sebagai seorang suami yang takut kehilangan pelindung hatinya untuk kedua kalinya.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!