Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Malam telah jatuh sepenuhnya di langit Seoul, menutupi kota dengan selimut kegelapan yang dalam dan menyisakan hawa dingin yang merayap masuk melalui celah-celah jendela kayu tua rumah Bahng. Udara malam yang dingin menusuk kulit bahkan melalui lapisan jas tebal yang dikenakan Samuel, membuatnya menggigil sedikit sambil menatap bentuk tubuh Axel yang berdiri tegas di depannya. Di dalam kediaman keluarga yang kini sunyi sepenuhnya—ayah Axel sudah tidur lelap di kamar atas—Axel berdiri tepat di depan sebuah pintu lemari kayu besar yang terletak di sudut paling dalam gudang belakang, bersisian langsung dengan dinding belakang dapur yang sering digunakan ayahnya untuk memasak.
Lemari itu terlihat biasa saja dari luar—berbahan kayu jati tua yang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu keperakan, dengan dua pintu yang dihiasi ukiran bunga mawar yang sudah mulai pudar akibat usia dan debu yang menumpuk selama bertahun-tahun. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik tampilan yang sepele itu menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar tempat penyimpanan barang lama.
Samuel berdiri di belakang Axel dengan sikap yang rileks namun penuh rasa ingin tahu, menyilangkan tangan di dada dengan dahi yang sedikit berkerut menandakan keheranan yang mendalam. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, kemudian mengeluarkan suara gerutu yang bercampur dengan seloroh khasnya yang selalu muncul saat merasa tidak nyaman.
"Xel, aku tahu kamu dokter yang cukup eksentrik—bahkan bisa dibilang unik di antara rekan-rekan kita di rumah sakit." Ia mengusap lengannya dengan cepat karena rasa dingin yang mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. "Tapi membawaku ke gudang keluargamu tengah malam begini hanya untuk melihat koleksi debu dan barang lama yang sudah tidak terpakai bukanlah ide kencan yang menarik lho. Aku setidaknya berharap kau akan membawaku ke restoran makan malam mewah atau setidaknya kedai kopi yang buka sampai larut malam."
Axel tidak menjawab sama sekali. Matanya yang fokus menatap permukaan lemari kayu besar itu tidak menunjukkan sedikit pun reaksi terhadap godaan sahabatnya. Jemarinya yang ramping merayap perlahan di sepanjang tepian bingkai kayu yang licin akibat sering disentuh, mencari sesuatu yang tidak terlihat oleh mata orang lain. Setelah beberapa saat, jarinya menemukan sebuah lekukan kecil yang tersembunyi di balik ukiran bunga mawar—sebuah tuas rahasia yang hanya bisa dioperasikan oleh mereka yang tahu keberadaannya. Ia menekannya dengan lembut namun pasti, membuat suara klik kecil yang terdengar jelas di tengah kesunyian gudang malam itu.
Suara gerendel magnetik yang terdengar dari dalam lemari memberikan sinyal bahwa mekanisme pengamannya sudah terbuka. Dengan satu tarikan halus namun kuat, Axel menarik bagian belakang pintu lemari itu ke samping, menampakkan sebuah lorong sempit yang mengarah ke bawah dengan tangga baja yang terlihat kokoh namun sudah mulai berkarat di beberapa bagian. Lampu sensor otomatis yang terpasang di dinding lorong segera menyala dengan cahaya kuning pucat saat mendeteksi gerakan, menerangi jalan menuju kedalaman yang tidak terbayangkan.
"Ikut aku. Dan tolong, tutup mulutmu setelah ini. Yang akan kau lihat tidak boleh diketahui oleh siapapun selain kita berdua."
Samuel tertegun mendengar kata-kata itu, wajahnya yang tadinya penuh candaan kini berubah menjadi ekspresi yang serius dan sedikit takut. Ia melihat bagaimana bentuk tubuh Axel yang kurus namun berotot perlahan menghilang ke dalam kegelapan yang diterangi oleh cahaya lampu sensor itu. Tanpa banyak berpikir lagi—meskipun nalurinya bilang bahwa ini adalah ide yang sangat buruk—ia mengikuti langkah Axel menuruni anak tangga satu per satu, tangannya menahan gagang besi yang dingin di sisi kanan lorong untuk menjaga keseimbangannya.
Semakin dalam mereka melangkah ke bawah, suhu udara yang tadinya dingin dan lembap di gudang mulai berubah menjadi semakin stabil dan sejuk. Aroma kayu basah dan rempah-rempah perlahan tergantikan oleh aroma bahan kimia yang steril dan sedikit menyengat—aroma yang sangat akrab bagi mereka sebagai dokter, namun dalam konteks ini terasa jauh lebih mengancam. Saat kaki mereka akhirnya menapak di lantai beton halus yang sangat rata dan bersih seperti permukaan meja laboratorium, Axel menginjak saklar utama yang terletak di dinding dekat tangga, membuat seluruh ruangan itu tiba-tiba bermandikan cahaya putih benderang yang terang sekali.
Cahaya itu memantul dengan kilat pada permukaan kaca dan logam yang ada di mana-mana—deretan lemari pendingin medis tingkat tinggi dengan pintu kaca yang kedap udara, inkubator canggih yang tampak masih dalam kondisi baru, mesin sekuensing DNA yang bentuknya sangat kompleks, serta berbagai macam peralatan laboratorium canggih lainnya yang biasanya hanya bisa ditemukan di pusat riset internasional kelas atas. Rak-rak baja yang tinggi sampai ke langit-langit penuh dengan tabung reaksi berukuran berbagai macam, botol-botol kaca berisi zat kimia dengan warna-warni yang menarik, serta jurnal-jurnal ilmiah yang ditumpuk rapi. Meja sentral yang terbuat dari stainless steel besar dan lebar penuh dengan alat-alat analisis mikroskopis, komputer dengan spesifikasi tinggi, dan tumpukan data cetak yang tebal.
Samuel menarik napas tajam. Matanya membelalak lebar, bola matanya bergerak dengan cepat menyapu setiap sudut ruangan yang tampak seperti jantung dari sebuah fasilitas riset rahasia. Ia merasa seperti telah memasuki dunia yang sama sekali berbeda dari apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Demi Tuhan, Axel... ini... ini benar-benar gila." Ia melangkah perlahan ke arah salah satu lemari pendingin, tangannya terangkat seolah ingin menyentuhnya namun kemudian berhenti di tengah jalan. "Dari mana kau mendapatkan semua peralatan laboratorium tingkat empat ini? Ini bukan laboratorium rumahan yang biasa dibuat oleh ilmuwan amatir—ini tempat praktik ilegal yang bisa membuat kita berdua masuk penjara."
"Aku mengumpulkannya sedikit demi sedikit selama tiga tahun terakhir." Axel menjelaskan dengan suara yang tenang dan penuh kebanggaan. Ia berjalan menuju meja sentral yang dipenuhi tabung reaksi berisi cairan berwarna keunguan yang indah, tangannya dengan lembut menyentuh salah satu tabung itu seolah menyapa teman lama.
"Beberapa adalah barang lelang dari rumah sakit yang sedang melakukan renovasi atau mengganti peralatan lama. Sisanya aku impor secara pribadi melalui jalur yang tidak resmi—dengan biaya yang tidak sedikit tentunya. Tapi uang bukanlah masalah yang utama di sini."
Ia berbalik untuk menatap Samuel. "Di sini, aku tidak dibatasi oleh birokrasi rumah sakit yang penuh dengan prosedur dan aturan tidak masuk akal. Aku juga tidak perlu menunggu keputusan dari komite etik yang lamban dan selalu khawatir akan risiko yang mungkin terjadi. Di sini, aku bebas melakukan apa saja yang diperlukan untuk menemukan apa yang dunia butuhkan—sesuatu yang bisa menyelamatkan jutaan nyawa."
Samuel melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, kaki kirinya secara tidak sadar terpeleset sedikit di atas lantai beton yang licin akibat kelembapan yang terkontrol. Ia mendekati salah satu kotak kaca kedap udara yang menyimpan tabung-tabung besar berisi zat kimia dengan label yang sangat kompleks. Ia melihat segel-segel pada setiap botol yang menunjukkan bahwa bahan kimia tersebut seharusnya hanya bisa dimiliki oleh lembaga militer atau institusi riset pemerintah yang memiliki izin khusus. Rasa ngeri mulai menjalar perlahan dari tengkuknya ke seluruh tubuhnya, membuat kulitnya merinding.
"Kau tahu kan, kalau kementerian kesehatan atau kepolisian tahu tentang tempat ini?" Ia menoleh ke arah Axel dengan wajah yang penuh kekhawatiran. "Izin praktikmu tidak hanya akan dicabut secara permanen—kau bisa mendekam di penjara seumur hidup. Bahkan aku yang hanya tahu dan membantumu bisa terkena sanksi yang sama beratnya. Ini berbahaya sekali. Sangat berbahaya."
"Yang berbahaya adalah membiarkan ribuan orang mati setiap tahunnya hanya karena kita terlalu takut untuk melanggar aturan kertas yang dibuat oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu bagaimana rasanya melihat nyawa seseorang melayang di depan mata kita!" potong Axel dengan cepat, suaranya meningkat tajam menunjukkan bahwa ia sudah mulai merasa terganggu oleh kekhawatiran Samuel.
Ia berjalan cepat ke arah sahabatnya, menatapnya dengan intensitas yang nyaris menakutkan. "Aku sedang mengerjakan sesuatu yang bisa mengubah dunia medis selamanya. Aku sedang mengembangkan serum universal—sebuah antidotum yang bisa menyelamatkan nyawa orang yang terkena gigitan ular tanpa harus menunggu proses identifikasi jenis bisa yang memakan waktu berjam-jam."
Ia mengambil salah satu tabung reaksi berisi cairan keunguan dari meja sentral dan menunjukkan ke arah Samuel. Cahaya lampu neon yang terang membuat cairan itu tampak seperti memiliki nyawa sendiri. "Aku sudah hampir sampai pada tahap final pengembangan. Semua uji coba awal menunjukkan hasil yang luar biasa. Aku hanya butuh seseorang yang aku percaya sepenuhnya untuk memvalidasi data ini—seseorang yang tidak hanya mengerti tentang ilmu medis, tapi juga tahu betapa berharganya setiap nyawa manusia lebih dari sekadar prosedur dan aturan yang kaku."
Samuel terdiam sepenuhnya mendengar kata-kata itu. Ia memandangi wajah sahabatnya yang tampak kuyu dan lelah namun bercahaya oleh api ambisi yang membara di dalam dirinya. Ia melihat dedikasi yang sudah jelas melampaui batas kewarasan—bahkan mungkin sudah memasuki ranah kegilaan yang terkontrol. Namun di balik semua itu, ia juga melihat seorang dokter dengan hati yang murni, seseorang yang sungguh-sungguh ingin menyelamatkan manusia dari penderitaan yang tidak perlu. Ada konflik besar yang berkecamuk hebat di dalam dirinya—antara logikanya sebagai dokter yang taat hukum dan selalu mengutamakan keselamatan pasien serta kesetiaannya yang mendalam pada sahabat yang jenius namun sedang berjalan di jalan yang sangat berbahaya.
Ia menghela napas dalam-dalam, kemudian mengusap wajahnya dengan gerakan kasar menggunakan kedua tangan, seolah ingin menghilangkan rasa kebingungan yang melanda dirinya. Ia berjalan perlahan mengelilingi meja sentral yang besar itu, matanya dengan cermat mengamati setiap peralatan dan data yang ada di atasnya. Tangannya dengan ragu menyentuh tepian mikroskop elektron yang tampak sangat mahal dan canggih, merasakan getaran lembut yang masih ada di dalamnya seolah mesin itu baru saja digunakan.
"Kau benar-benar gila. Benar-benar gila." Ia menutup matanya sejenak, mencoba mengatur emosinya yang sedang sangat tidak stabil. "Tapi aku juga tahu betul kalau aku membiarkanmu sendirian bekerja di bawah tanah ini sendirian—tanpa ada orang yang memantau kondisimu atau memastikanmu tidak melakukan sesuatu yang terlalu berbahaya—kau mungkin akan meledakkan diri sendiri dengan salah mengatur bahan kimia atau bahkan menyuntikkan sesuatu yang salah ke tubuhmu sendiri dalam upaya melakukan uji coba mandiri."
Axel menahan napas sepenuhnya saat mendengar kata-kata itu, matanya yang penuh harapan menatap setiap gerakan dan ekspresi wajah Samuel. Detak jantungnya yang sudah berdebar cepat semakin memacu irama kehidupannya, membuatnya merasa seperti sedang menunggu vonis akhir yang akan menentukan masa depan risetnya yang sudah ia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun.
Samuel menghela napas panjang sekali lagi, kepalanya tertunduk sejenak seolah sedang berdoa atau hanya membutuhkan waktu untuk menerima keputusan yang sudah ia buat dalam hati. Kemudian, ia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Axel dengan tatapan yang penuh kesediaan namun juga menyerah pada takdir yang sudah ditentukan.
"Baiklah." Ia mengangguk perlahan ke arah Axel, kemudian mengambil kursi kecil yang terletak di dekat meja sentral dan duduk di atasnya. "Aku akan membantumu. Aku akan membantumu memvalidasi data dan melakukan tes yang diperlukan untuk menyempurnakan serum itu. Tapi ingat ya—jika ada suara sirine polisi yang terdengar di depan rumahmu atau ada orang yang mencurigai keberadaan tempat ini—aku adalah orang pertama yang akan melompati pagar belakang dan menghilang tanpa jejak. Jangan harap aku akan ikut kamu ke penjara."
Senyum tipis namun hangat muncul di wajah Axel yang sudah lama tidak menunjukkan ekspresi bahagia. Ia berjalan cepat ke arah Samuel, kemudian menjabat tangan sahabatnya dengan erat dan kuat. Rasa lega yang luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa seperti beban yang sudah menekannya selama bertahun-tahun akhirnya sedikit terangkat.
"Terima kasih, Sam. Aku tahu kau tidak akan pernah membiarkanku berjalan sendirian di jalan yang gelap ini."
"Jangan terburu-buru untuk berterima kasih dulu." Sahut Samuel dengan suara yang mulai kembali santai meskipun hatinya masih berdegup kencang karena rasa takut yang belum hilang sepenuhnya.
Ia berdiri dari kursinya, kemudian mulai melihat sekeliling meja sentral dengan ekspresi yang sudah mulai beralih menjadi rasa ingin tahu seorang ilmuwan. "Sekarang tunjukkan padaku data molekuler yang membuatmu rela menjadi buronan negara ini. Aku ingin tahu seberapa jenius kegilaanmu kali ini—dan juga seberapa besar risiko yang kita akan hadapi bersama."
Di bawah cahaya lampu neon yang dingin dan terang, di ruang bawah tanah yang tidak tercatat dalam peta mana pun di dunia ini, dua dokter muda itu mulai menenggelamkan diri dalam tumpukan data hasil riset yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun. Jari-jari mereka bergerak dengan cepat di atas keyboard komputer atau mengambil tabung reaksi dengan hati-hati, membahas setiap detail dengan penuh fokus dan profesionalisme yang tinggi.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ