Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa? Kakak Perempuan?
Dua hari berlalu sejak kejadian itu. Rhea kembali pada sifat malasnya yang biasa. Karena sudah mendapat izin cuti dengan alasan yang masuk akal, kenapa tidak dimanfaatkan sebaik mungkin?
Rhea menyingkirkan rasa bersalah dan harga dirinya, lalu menikmati satu minggu penuh dengan melanjutkan hobinya.
Kini, dia tengah asyik mondar-mandir di dapur Istana Rosemaline milik putra mahkota.
Rhea duduk di depan dua wadah kaca berisi adonan es krim buatannya. Krim berwarna cokelat muda itu berputar sendiri dengan kecepatan stabil, sementara yang berwarna merah muda sudah membeku dengan tekstur lembut.
John berdiri di sampingnya, tangannya memegang whisk yang belum digunakan. Awalnya, dia berada di sana untuk membujuk Rhea agar tidak marah jika eksperimennya gagal. Namun, melihat hasilnya kembali berhasil, ia pun terdiam.
“Haha, sukses lagi!” seru Rhea sambil menghentikan sihirnya dan menatap es krim buatannya dengan puas.
John membantunya menata es krim ke dalam mangkuk, lalu mengambil beberapa jenis buah beri, daun mint, dan batang cokelat sesuai perintahnya.
Empat mangkuk es krim ini menambah jumlah hidangan penutup manis buatan Rhea. Jika ditotal, jumlahnya sudah lebih dari dua puluh lima jenis.
Itu belum dihitung dengan variasi rasa tiap hidangan.
John merasa ini sudah keterlaluan. Ia akhirnya menghentikan Rhea yang hendak mencoba resep baru.
“Nyonya Celeste, jika Anda membuat lagi, tidak akan ada yang memakannya. Cukup. Ini yang terakhir.”
Rhea menghentikan tangannya yang tengah membolak-balik buku resep dan menatap deretan makanan penutup berwarna-warni di atas meja.
Seperti yang dikatakan John, jumlahnya memang sudah berlebihan—seluruh ruang kosong di meja telah terisi.
“Kamu benar, John. Sudah terlalu banyak,” ucap Rhea setuju.
Dengan enggan, ia meletakkan buku resep itu, lalu berbalik untuk melihat hasil kerja rekan kokinya.
Dapur bagian utara istana kini secara eksklusif digunakan oleh Rhea dan orang-orangnya atas izin putra mahkota. Seluruh dapur yang biasanya ramai oleh para pelayan sekarang hanya diisi oleh tiga orang, membuat suasananya terasa lengang.
Rhea melangkah menuju bagian lain dapur, tempat rekan kokinya memasak. Dalam perjalanan, pandangannya tak sengaja tertuju ke jendela.
Langit sudah gelap.
Dia telah berada di sini hampir setengah hari.
Saat menoleh ke samping, Rhea melihat John dengan wajah kuyu. Dia memang tampak kelelahan. Rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan, sebagian tertaburi tepung.
Merasa sedikit bersalah, Rhea mengangkat tangannya, membersihkan tepung di rambut John, lalu merapal mantra penyembuhan.
“Bagaimana? Merasa lebih segar?” tanyanya. “Ini pertama kalinya aku menggunakan sihir pada orang lain. Kalau ada yang terasa aneh, bilang padaku.”
Rhea menarik tangannya dari rambut merah John dan menatapnya dengan saksama.
Sedikit rona merah muncul di pipi John. Ekspresi lelahnya lenyap, wajahnya tampak segar, seolah baru saja bangun dari tidur nyenyak dan mandi.
“Ti-tidak apa-apa. Terima kasih,” jawab John terbata-bata, malu. Sentuhan di rambutnya masih terasa—dan ini adalah kali pertama rambutnya disentuh selain oleh ibunya.
Rhea menyadari rasa malu John dan menatap tangannya sendiri. Dia memiliki kebiasaan menyentuh rambut orang yang sudah dianggapnya dekat. Hal ini pernah membuatnya bertengkar dengan sahabat laki-lakinya semasa sekolah dulu.
Dia benar-benar lupa bahwa sebagian laki-laki hanya suka disentuh oleh pacarnya. Di sini, ketidakpedulian putra mahkota saat dia menyentuh rambutnya membuatnya lupa bahwa tidak semua orang memiliki toleransi setinggi itu.
Rhea mengelak, seolah tak terjadi apa-apa, lalu melanjutkan langkahnya.
“Kenley, kamu sudah selesai memasak? Bagaimana rasa nasi goreng dan mi goreng yang mengikuti resep modifikasiku?” Rhea mencium aroma gurih dan pedas yang menyengat, membuatnya bersemangat.
“Baunya enak, pasti rasanya juga enak, benar kan—”
Ucapan Rhea terhenti.
John di belakangnya juga mencium aroma makanan yang lezat. Perutnya keroncongan, dan dia ikut bersemangat. Karena itu, saat Rhea tiba-tiba terdiam, dia menjadi bingung.
Ia mengikuti arah pandangan Rhea dan mendapati sosok koki yang mereka cari meringkuk di balik selimut berwarna kuning.
Di bawah cahaya bulan, siluet wajahnya terlihat jelas. Rambut hitam, kulit kecokelatan, serta luka sayatan yang membentang dari alis hingga kelopak mata. Dia pria dewasa yang tampan dan berwajah garang.
Hanya saja, posturnya yang meringkuk dalam gumpalan selimut membuat siapa pun yang melihatnya merasa jengkel.
John menghampirinya dan menggoyangkan tubuhnya dengan tergesa, berusaha membuatnya bangun. Namun, sang koki tetap tidak membuka mata, malah menarik selimut kuning itu lebih erat membungkus tubuhnya.
“Hei… bangun! Cepat bangun! Nyonya Celeste ada di sini!”
“Kenley! Kepala Koki! Tuan Kenley! Hei!”
Sekeras apa pun John berteriak dan mengguncangnya, Kenley tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Melihat hal itu, Rhea menarik John agar menghentikan usahanya.
“Biarkan saja. Mungkin dia tipe orang yang susah bangun saat tidur.”
Rhea mengamati wajah rekan kokinya yang biasanya memasang raut marah seperti preman yang ingin memukuli siapa pun yang lewat. Ia tak kuasa mendecak kagum.
“Bagaimana bisa seseorang tetap tidur setelah diguncang dan diteriaki seperti ini? Kalau disiram air, apakah dia masih akan tidur dengan tubuh basah kuyup?”
Rhea menatapnya lagi. Karena Kenley tak bergerak sedikit pun, ia pun menghentikan provokasinya.
“Lily juga bilang begitu,” tambah John. “Setiap pagi di Istana White Lotus, Lily harus membangunkannya. Kalau tidak, orang ini akan terus tidur dan tidak pergi ke dapur.”
“Bahkan belum seminggu bekerja, Kepala Pelayan Istana White Lotus sudah menulis surat pemecatan karena kebiasaannya. Kalau bukan karena Lily, dia pasti sudah diusir.”
Sebagai koki berbakat dengan hobi berkeliling dunia, Kenley tampaknya memang tidak suka dikekang oleh aturan waktu.
Rhea berpikir betapa anehnya orang-orang yang berhasil direkrut Kerajaan Romanov—termasuk Rhea Celeste yang asli dan Kenley. Orang yang menemukan mereka pantas diacungi jempol.
Karena sang koki sudah tertidur, Rhea tidak berniat membangunkannya. Lagi pula, pesanan makanannya memang sudah selesai dimasak.
Rhea melirik nasi goreng yang masih berada di penggorengan, lalu mi goreng berbumbu pedas di piring yang isinya sudah setengah habis. Tampak jelas Kenley melahapnya sendiri. Selera pedasnya sama dengan Rhea.
Setelah membantu John memindahkan nasi ke piring, Rhea membawa dua piring besar itu ke meja makan di ujung dapur.
Sambil menyeruput smoothie buatannya, Rhea menangkap jelas ekspresi John yang kelaparan, seolah air liurnya hampir menetes.
Rhea mengambil semangkuk es krim stroberi dan meletakkannya di depan John. Dia khawatir dengan perut dan lidah John—karena rasa pedas bukan sesuatu yang bisa ditoleransi semua orang.
Melarangnya makan juga bukan pilihan yang baik. Rhea tidak ingin dipandang sebagai orang yang terlalu pelit. Biarlah John merasakannya sendiri—kalaupun nanti sakit perut, Rhea masih bisa menyembuhkannya.
Ia menyendok nasi goreng dari piringnya. Rasa pedas dan gurih yang familiar langsung merangsang indra perasanya yang sempat tumpul akibat makanan hambar beberapa hari terakhir.
“Tidak ada yang lebih lezat daripada makanan pedas,” gumam Rhea pada dirinya sendiri.
Kemampuan memasak Kenley memang tidak diragukan lagi. Dengan bimbingan singkat mengenai rasa yang ia sukai, pria itu mampu mengeksekusi bahan-bahan sederhana dengan cepat dan tepat.
Lagipula, meskipun tanpa daging, selama rasanya pedas dan lezat, untuk apa mencari masalah dengan memakan sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa ia konsumsi?
Seandainya ia mengetahui semua ini lebih awal, Rhea tidak akan memaksa John menyajikan steak daging malam itu. Sekarang, ia benar-benar harus ekstra hati-hati dengan apa pun yang masuk ke dalam mulutnya.
Satu kali lagi daging masuk ke perutnya, dan ia bisa berubah menjadi makhluk kelaparan yang tak pernah merasa kenyang.
Itu adalah neraka yang sesungguhnya bagi Rhea—seseorang yang menetapkan kebahagiaan hidupnya pada makan sampai kenyang dan tidur dengan nyenyak.
Mungkin… dia bahkan akan memilih bunuh diri jika hal itu benar-benar terjadi.
Tanpa disadari, ia telah menghabiskan seluruh porsi nasi goreng yang ia bagi bersama John, serta separuh mi goreng yang ditinggalkan Kenley.
Rhea merasa sedikit malu. Hanya sedikit.
Lagipula, ini bukan karena dia rakus, melainkan karena efek racun di dalam tubuhnya. Meskipun tidak separah yang diceritakan putra mahkota, nafsu makannya sekarang terasa seperti habis menenggak jamu penambah nafsu makan.
Ketika Rhea melihat John masih terus menyuapkan makanan meski hidungnya sudah berair, ia tertawa, merasa geli.
“John, tidak apa-apa kalau tidak dihabiskan. Jangan memaksakan diri,” ujarnya.
John menggeleng, menjawab dengan mata berkaca-kaca. “Pedas, tapi… membuat ketagihan.”
Rhea tidak mengatakan apa-apa lagi, membiarkan John menikmati makanannya sepuasnya. Jika nanti ia sakit perut, Rhea masih bisa menyembuhkannya dengan sihir penyembuhan.
Setelah mengemas hidangan penutup yang tersisa ke dalam kotak khusus, Rhea membawanya ke kamarnya. Ia membawa dua kotak, sementara dua kotak lainnya ia titipkan untuk putra mahkota dan Putri Stella melalui bantuan Lily.
Malam yang tenang lagi, sendirian di kamarnya.
Rasanya seperti kembali ke kos kecilnya di bumi, Rhea sangat nyaman hingga tidak ingin malam ini berlalu begitu cepat.
Ketukan pelan terdengar di jendela saat Rhea tengah asyik berguling-guling di ranjang sambil membaca buku.
Rhea bangkit, menutup bukunya, lalu menghampiri jendela yang terhubung dengan balkon kecil.
Dengan hati-hati, ia menarik tirai. Matanya menangkap siluet seseorang. Sosok itu membelakangi jendela sehingga wajahnya tak terlihat, tetapi warna rambut pirang yang kontras dengan kegelapan malam langsung menarik perhatiannya.
“Komandan Louise?” panggil Rhea ragu.
Ia membuka pintu balkon dan akhirnya bisa melihat wajah orang itu dengan jelas. Rambut pirang terang dan mata hijau zamrud yang berkilau, menyembunyikan kenakalan khas.
“Selamat malam! Terkejut?” Louise melambaikan tangan dengan ceria.
“Kenapa kamu di sini, Komandan Louise?” tanya Rhea ragu.
Meski sudah membuka pintu, ia masih bimbang apakah harus mempersilakannya masuk. Tidak pantas seorang pria berada di kamar wanita pada malam hari.
Louise meregangkan lehernya yang kaku, lalu menjawab tanpa basa-basi, “Menagih janji. Untuk apa lagi?”
“Biarkan aku masuk, cantik!” katanya sambil mendorong tubuh kekarnya masuk dengan mudah.
Rhea bahkan tak sempat memprotes panggilan itu karena tubuhnya sudah terdorong mundur, sementara pintu balkon tertutup kembali dengan suara pelan.
“Permisi,” ucap Rhea sinis sambil melangkah mundur, “sopan kah seorang pria lajang menyelinap ke kamar wanita?”
Louise melangkah masuk tanpa rasa bersalah, menelusuri kamar itu seolah-olah miliknya sendiri. Rhea menatapnya dengan mata membelalak, tak percaya.
“Ini jauh lebih baik daripada kamarmu di Istana White Lotus,” komentar Louise sambil menjatuhkan diri ke ranjang. “Empuk, halus, lebih lebar…”
Rhea mendekati sisi ranjang dan menatapnya dengan tajam, menimbang-nimbang dalam hati.
Sihir apa yang sebaiknya ia gunakan untuk mengusirnya? Ia harus benar-benar berhati-hati—salah memilih mantra bisa berakibat fatal bagi Louise.
Setelah beberapa saat berguling di ranjang, Louise melirik Rhea yang berdiri dengan tangan terkepal. Mata hijau itu berpindah-pindah antara wajahnya dan telapak tangan Rhea.
“Ada apa, cantik?” ucap Louise ringan. “Kenapa malu-malu? Kita sudah sering tidur bersama sebelumnya.”
Rhea yang sudah menemukan mantra yang tepat hampir saja menggunakannya, hingga kalimat itu sampai ke telinganya.
“Se-sebelumnya?” Rhea terbata-bata, mundur selangkah sambil menatap wajah Louise, mencari tanda kebohongan.
Namun tak ada kebohongan di mata hijau itu. Rhea justru menemukan kejujuran di balik lengkungan matanya dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kalah.
“Kamu tahu aku kehilangan ingatanku,” ujar Rhea cepat. “Bisakah ini jadi rahasia saja? Tolong ... lupakan.”
Ini sangat memalukan bagi Rhea yang seorang perawan seumur hidup. Ia tak pernah menyangka bahwa, meski pemilik tubuh ini sudah memiliki kekasih di kampung halamannya, ternyata ia juga berselingkuh di sini.
Walau status tubuh ini tidak akan memengaruhi masa depan yang ia impikan, Rhea tetap kebingungan menghadapi Komandan Louise.
“Bagaimana mungkin ini menjadi rahasia?” Louise mengusap matanya seolah menghapus air mata, lalu berbisik lirih, “Aku sudah menyerahkan segalanya padamu... perasaanku, hartaku, dan… status perjakaku.”
Nada suaranya terdengar sedih, rendah, dan putus asa. Rhea kehilangan momentumnya sesaat. Ia merasa kasihan—namun juga harus mengasihani dirinya sendiri karena terjebak dalam situasi ini.
“Kalau begitu … bagaimana kalau aku membuatmu lupa dengan sihirku?” tawar Rhea. Ia merasa idenya sangat masuk akal. Kakinya melangkah mendekat, siap mengeksekusinya saat itu juga.
“Bagaimana?” tanyanya sambil duduk di sisi lain ranjang.
Namun, Louise tiba-tiba tersenyum cerah. Dalam sekejap, ia bergerak mendekat dan mendorong tubuh Rhea ke belakang.
“Kau ceroboh lagi,” bisiknya rendah. Salah satu tangannya yang besar mengunci kedua lengan Rhea yang terkejut.
“Kalau begini,” lanjutnya pelan, “kakak perempuanmu ini jadi khawatir seseorang akan menindasmu.”
Rhea yang ingin menendangnya berhenti, menatapnya tak percaya.
“Kakak perempuan?”
Omong kosong apa yang dibicarakan komandan Louise?