Caramel Willem, cucu mafia terbesar di dunia mengalami transmigrasi ke dalam buku novel.
Ding!
"Selamat datang di dunia paralel, saya sistem 014 akan menemani perjalanan anda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekutu
Erlangga jadi penakut, dia takut di tinggal sendiri dan merasa was-was. Dia selalu membuntuti kemana pun Caramel dan Arga pergi, dia takut jika sendirian akan muncul orang asing membawa pistol yang akan membunuhnya.
Arga dan Caramel mengetahui ketakutan itu, jika di biarkan maka Erlangga akan jadi pecundang penakut yang tidak layak jadi antagonis ataupun main character.
"Aku akan bicara dan berusaha menenangkan nya." Ucap Arga, berdiskusi dengan Caramel.
"Jika terlalu di paksa aku takut dia akan semakin ketakutan dan tertekan." Ucap Caramel.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku, kau fokus saja memeriksa kondisi anak tadi. Dia kuat dan masih bisa berguna untuk dijadikan sekutu." Ucap Arga.
"Tapi dia kan musuh." Ucap Caramel.
"Seperti yang pernah aku katakan, orang kompeten di cerita asli adalah musuh Erlangga. Jika ingin memiliki sekutu kuat, maka dia adalah kandidat yang cukup bagus. Dia sudah di khianati dan di buang, seharusnya dia tidak akan berani macam-macam karena Erlangga sudah menyelamatkan nyawa nya." Ucap Arga menjelaskan.
"Aku memang bergantung pada mu tapi bukan berarti aku akan percaya begitu saja. Arga, kau tidak menyembunyikan sesuatu dari ku bukan?." Caramel menatap tajam.
"Kenapa kau berpikir begitu?." Arga terlihat tenang.
"Kau tau firasatku tidak pernah meleset. Entah kenapa aku seperti pernah bertemu dengan mu, aku merasa banyak hal familiar yang terjadi akhir-akhir ini." Jujur Caramel.
"Anggap saja kita memang pernah bertemu, jika waktunya tepat kau pasti akan mengetahui semuanya." Jawab Arga, tidak menutupi.
"Jawaban mu selalu menyebalkan." Kesal Caramel.
"Daripada aku berbohong, jawaban ini jauh lebih baik bukan?." Arga mencolek hidung mancung Caramel.
Caramel hanya berdecak kesal, Arga tersenyum dan pergi menuju kamar Erlangga. Dia harus segera membuat Erlangga keluar dari trauma nya, terdengar kejam tapi kenyataan memang selalu terasa pahit.
klakk
"Erlan."
Arga masuk kamar tanpa mengetuk, di atas ranjang Erlangga sedang duduk meringkuk dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Terlihat jelas jika anak itu sedang ketakutan, Arga merasa sedih melihat nya.
"Erlan." Panggil Arga lagi, dirinya duduk di tepi ranjang.
"Ya?." Erlangga menoleh, kantung matanya hitam sekali.
"Menakutkan bukan? begini lah dunia yang sesungguhnya. Berhadapan dengan pistol memang menakutkan, apa lagi jika tidak memiliki pengalaman. Tapi, bukankah kemarin kau sudah melakukan hal yang sangat luar biasa?." Ucap Arga, mengajak bicara.
"Aku tidak melakukan apa-apa." Lirih Erlangga.
"Kau sudah dengan berani melawan dan berusaha kabur, itu sudah sangat luar biasa dengan kemampuan mu yang sekarang. Kau harus tau jika Kevin saat ini pasti juga sedang melewati fase ini, dia sedang berkembang di sana. Apa sekarang kau akan tetap murung begini? kau akan tertinggal jauh jika mengulur waktu lebih lama lagi." Ucap Arga.
"Apa yang harus aku lakukan? aku... tidak bisa berpikir." Jujur Erlangga.
"Kenapa bertanya? menurut mu apa yang kau perlukan saat ini?." Arga tersenyum menatap Erlangga.
"Saat ini? kekuatan?." Jawab Erlangga.
"Benar, sudah saatnya kau belajar bela diri sungguhan." Ucap Arga mengangguk.
Erlangga mendongak terkejut, berlatih bela diri? selama ini Erlangga merasa itu tidak diperlukan selagi dia bisa bergerak bebas dan memiliki otot. Tapi setelah bertarung dengan atlet pro kemarin, dia menyadari berapa jauh perbedaan kemampuan diantara mereka.
"Apa... apa aku bisa menjadi kuat seperti atlet pro?." Tanya Erlangga, dia berharap.
"Tidak ada yang mustahil, ayo berdiri dan cuci wajahmu. Kita hilangkan ketakutan itu dengan kekuatan, bahaya akan selalu datang karena itu kuatkan lagi hati dan fisik mu. Jadi lah pemberani layaknya laki-laki sejati." Ucap Arga, memberikan dukungan.
Erlangga menemukan jalan keluar, dia merasa Arga adalah malaikat yang menuntun jalannya. Arga berdiri dan langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu dia akan berlatih bela diri bersama Arga di ruang gym.
Erlangga memakai kaos dan kolor pendek, dia menatap Arga yang masih menggunakan pakaian formal. Meskipun tidak tau apa yang akan di ajarkan oleh Arga padanya, tapi dia sangat berharap bisa menjadi lebih kuat.
"Mama mu sangat jago bertarung jarak dekat maupun jarak jauh. Menguasai taekwondo dan tinju, lalu bisa memakai senjata pisau dan senapan. Tapi, di situasi terdesak Mama mu bisa menggunakan apapun sebagai senjata." Ucap Arga memberitahu.
"Hebat, lalu Papa?." Erlangga berbinar-binar.
"Papa tidak jauh berbeda, tapi papa tidak terfokus dengan senjata karena apapun yang Papa pegang bisa menjadi senjata.." Jawab Arga.
"Maksudnya?." Bingung Arga.
"Apapun bisa menjadi senjata. Jika pengalaman bertarung mu semakin banyak, maka kau akan mengerti jika apapun bisa menjadi senjata selagi badan mu masih bisa bergerak. Ketenangan adalah kunci utama, saat kau tidak memiliki senjata tapi bertemu musuh yang membawa pistol. Maka kau bisa berlari mencari meja atau apapun yang bisa menjadi tameng sampai peluru musuh habis. Jika di ruangan itu tidak ada apapun maka gunakan insting mu untuk menghindari peluru bagaimana pun caranya." Ucap Arga memberi nasihat jika sewaktu-waktu Erlangga bertemu musuh serupa.
"Artinya siap mati kapan saja." Erlangga tau jika itu dirinya, pasti sudah mati sebelum bisa menghindari peluru.
"Hahaha itu memang masih sangat jauh, sekarang lebih baik kau belajar tinju dengan benar. Kekuatan otot dan damage pukulan mu kuat, jika di latih kau akan tau perbedaan nya." Ucap Arga, memberikan sarung tinju.
"Hanya itu saja?." Erlangga merasa kurang.
"Kau akan mengerti nanti." Arga hanya tersenyum.
Erlangga berlatih hingga sore hari, saat makan malam Caramel memberitahu jika pemuda yang terluka kemarin sudah sadar.
Erlangga datang menemui pemuda tadi, sebenarnya dia tidak tau alasan kenapa menyelematkan musuh. Itu hanya reflek, tapi syukurlah dia bisa menyelamatkan nyawa orang.
"Nama lo siapa?." Tanya Erlangga.
"Yohan." Jawabnya lirih.
"Yohan, gue sendiri ngga tau kenapa nyelamatin lo yang notabenya musuh gue. Tapi karena lo udah di depak dari RUDE, artinya lo sekarang jadi tawanan gue." Ucap Erlangga.
"Ngga minat." Tolak Yohan.
"Harusnya lo berterimakasih karena ngga mati." Kesal Erlangga.
"Sial, sebenernya gue malu mau ngomong ini. Tapi, gue sempet lihat orang yang datang nolong lo kemarin. Dia siapa? kelihatan kuat dan berpengalaman banget, kalo lo bisa bawa gue nemuin dia tawaran lo tadi gue terima." Ucap Yohan tiba-tiba.
"Hmm, itu bokap gue dan yang rawat lo itu nyokap gue." Jawab Erlangga datar.
"Gue serius." Kesal Yohan.
"Gue juga serius." Erlangga ikut kesal.
"Lo mau gue percaya?! mereka masih kelihatan muda, mana mungkin punya anak se gede lo__ uhukk." Terlalu semangat membuat lukanya sakit.
"MA!! PA!!." Teriak Erlangga keras.
Arga dan Caramel datang buru-buru, mereka berpikir terjadi sesuatu yang genting. Tapi melihat tidak ada apa-apa mereka jadi heran, kenapa Erlangga memanggil mereka sekeras itu.
"Ada apa?." Tanya Caramel.
"Dia ngga percaya kalo aku anak kalian." Cepu Erlangga.
"Ah salam kenal, kami orangtua kandung Erlangga. Nama ku Caramel dan ini suamiku Arga." Ucap Caramel tersenyum ramah.
Caramel tidak berbohong karena Erlangga kini sudah menjadi anak kandung Caramel dan Arga, DNA sudah di ubah secara permanen.
Yohan hanya bisa melongo dengan bodoh, dia jadi iri karena Erlangga memiliki orangtua yang sangat perfect. Setelah hari itu Yohan mau tidak mau menjadi sekutu Erlangga, karena dia membutuhkan perlindungan dari kejaran RUDE.
Selama empat bulan, Erlangga dan Yohan berangkat sekolah di antar jemput oleh Arga. Setelah pulang sekolah mereka akan lanjutkan latihan fisik, dan mengasah kemampuan tinju milik Erlangga, yang sudah semakin berkembang.
Yohan sering sparing dengan Erlangga dan berkembang dalam pertarungan. Anehnya perkembangan Erlangga terlalu cepat, dia bahkan kini sudah bisa mengalahkan Yohan dengan cepat.
aneh ga sih 🤔🤔🤔