NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2 rahasia di balik asap dapur

Cahaya fajar menyelinap melalui celah-celah dinding kayu asrama pelayan yang reyot, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Han Shuo terbangun sebelum lonceng sekte berdentang. Tubuhnya terasa berbeda pagi ini. Jika biasanya setiap persendian terasa kaku dan berat akibat kelelahan bekerja belasan jam, kini ada kehangatan aneh yang mengalir di sepanjang tulang belakangnya. Sensasi itu mirip dengan aliran air hangat yang membasuh sisa-sisa keletihan semalam.

Ia teringat potongan jantung Babi Hutan Berduri yang ia konsumsi secara sembunyi-sembunyi. Energi liar yang seharusnya menyakiti pembuluh darah manusia biasa justru melunak di bawah teknik pengolahan "Kitab Rasa Semesta". Han Shuo bangkit, mengepalkan tangan, lalu merasakan sedikit kekuatan yang lebih padat di bawah kulitnya. Ini kemajuan kecil, sebuah langkah awal yang sangat lambat bagi orang lain, bagi Han Shuo, ini adalah sebuah keajaiban.

"Belum saatnya bersenang-senang," gumamnya pelan sambil mengenakan celemek kainnya yang kasar.

Dapur Sekte Awan Merah sudah mulai mengepulkan asap bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Koki Liu tampak lebih gusar dari biasanya. Wajahnya yang bulat berkilat karena keringat dan minyak, sementara matanya yang sipit terus mengawasi setiap pergerakan pelayan dapur dengan tatapan tajam. Begitu melihat Han Shuo masuk, pria tambun itu mendengus keras, melempar sebuah keranjang anyaman bambu yang besar ke arah dada pemuda itu.

"Jangan hanya berdiri seperti patung kayu! Gara-gara keributanmu dengan Tuan Muda Wang kemarin, stok Jamur Embun Pagi kita ditolak oleh gudang logistik karena dianggap tidak segar. Pergi ke Tebing Kabut sekarang juga. Cari dua puluh kati jamur yang masih basah. Jika kau kembali dengan tangan kosong, jangan harap bisa tidur di dalam ruangan malam ini!" teriak Koki Liu.

Para pelayan lain melirik Han Shuo dengan tatapan kasihan. Tebing Kabut bukanlah tempat yang ramah bagi mereka yang tidak memiliki basis kultivasi. Tempat itu dipenuhi oleh kabut beracun tipis dan beberapa binatang buas tingkat rendah yang seringkali lebih dari cukup untuk mencabik-cabik seorang manusia biasa. Tugas ini jelas merupakan sebuah hukuman mati terselubung atau setidaknya cara bagi Koki Liu untuk membuang sial.

Han Shuo tidak membantah. Ia memungut keranjang tersebut, menyelipkan pisau dapur kecilnya ke pinggang, lalu melangkah keluar. Ia justru merasa lega bisa keluar dari pengawasan Koki Liu. Di hutan, ia memiliki kesempatan untuk bereksperimen dengan isi kitab kunonya tanpa perlu khawatir ada mata yang mengintai.

Perjalanan menuju Tebing Kabut memakan waktu sekitar satu jam mendaki jalan setapak yang terjal. Semakin tinggi ia melangkah, udara semakin lembap dan pepohonan tumbuh semakin rapat, menghalangi cahaya matahari yang mencoba masuk. Han Shuo mulai mengatur napasnya sesuai dengan ritme yang dijelaskan dalam Kitab Rasa Semesta: Napas tungku, detak api.

Setiap tarikan napasnya seolah menarik aroma tanah, dedaunan busuk, dan embun. Dalam pandangan unik yang baru ia dapatkan, aroma-aroma ini bukan sekadar bau. Mereka memiliki warna dan tekstur. Tanah yang subur berwarna cokelat keemasan yang hangat, sementara tanaman beracun memancarkan uap ungu yang tajam dan tidak menyenangkan.

Tiba di pinggiran Tebing Kabut, Han Shuo mulai mencari jamur yang dimaksud. Jamur Embun Pagi biasanya tumbuh di sela-sela akar pohon pinus tua yang sering terkena tetesan air tebing. Saat ia sedang membungkuk untuk memetik sekelompok jamur, indra penciumannya tiba-tiba menangkap sesuatu yang berbeda. Ada aroma manis yang sangat halus, menyerupai madu bercampur dengan bunga melati, namun ada sedikit bau amis yang menyertainya.

Ia mengikuti aroma itu menuju sebuah celah batu yang sempit. Di sana, tumbuh sebatang tanaman kecil dengan satu buah berwarna merah darah yang berkilau.

"Buah Jantung Gagak?" mata Han Shuo membelalak.

Itu adalah bahan medis tingkat rendah yang biasanya digunakan para Alkemis untuk memurnikan darah. Masalahnya, buah ini selalu dijaga oleh pemilik aslinya. Baru saja pikiran itu melintas, sebuah desisan tajam terdengar dari balik bebatuan. Seekor Ular Sisik Perak, sepanjang dua meter dengan lebar sebesar lengan orang dewasa, muncul dari kegelapan. Matanya yang vertikal menatap Han Shuo dengan haus darah.

Ular ini bukan binatang biasa. Sisiknya sekeras tembaga dan taringnya mengandung racun yang bisa melumpuhkan seekor sapi dalam hitungan detik. Han Shuo merasakan jantungnya berdegup kencang. Naluri pertamanya adalah lari, secepat mungkin. Akan tetapi, otaknya teringat pada bab "Teknik Pemotongan Bahan Hidup" dalam kitabnya.

Setiap mahluk hidup adalah komposisi dari titik-titik lemah. Tidak ada daging yang tidak bisa dipotong, tidak ada tulang yang tidak bisa dipisahkan, selama kau mengerti jalannya aliran energi.

Han Shuo mencabut pisau dapurnya. Pisau itu tampak menyedihkan dibandingkan dengan pedang-pedang indah milik para murid sekte, berkarat di beberapa bagian dan sangat pendek. Namun, di tangan Han Shuo, pisau itu terasa seperti perpanjangan dari jarinya sendiri.

Ular itu menyerang dengan kecepatan kilat, meluncur seperti anak panah perak. Han Shuo tidak menghindar secara membabi buta. Ia merendahkan tubuhnya, matanya terpaku pada leher ular yang memancarkan cahaya biru redup—titik di mana kelenjar racun dan aliran darah utama bertemu.

Sret!

Bukan benturan keras yang terdengar, melainkan suara gesekan halus. Han Shuo bergeser ke samping dengan langkah kaki yang ia pelajari dari mengamati gerakan asap di dapur. Pisau kecilnya hanya menyentuh sisik ular itu sekilas, namun dengan sudut yang sangat spesifik. Ia memanfaatkan momentum kecepatan ular itu sendiri untuk membuat pisaunya mengiris tepat di antara celah sisik yang paling tipis.

Ular Sisik Perak itu terhempas ke tanah, tubuhnya menggeliat hebat. Darah segar berwarna merah terang menyembur dari lehernya. Serangan Han Shuo tidak memutus kepalanya, melainkan merusak saraf pusatnya. Ini adalah teknik "Membedah Tanpa Menghancurkan".

Napas Han Shuo terengah-engah. Tangannya bergetar hebat. Ini adalah pertama kalinya ia membunuh binatang yang benar-benar berbahaya. Rasa takut sempat menyelimutinya, namun segera digantikan oleh rasa lapar yang aneh. Bukan lapar perut, melainkan lapar energi.

Ia segera mendekati bangkai ular tersebut. Mengikuti instruksi kitab, ia tidak membuang dagingnya. Ia mengambil sepotong kecil empedu ular dan memetik Buah Jantung Gagak tadi. Menggunakan kuali kecil yang selalu ia bawa di dalam keranjang, ia menyalakan api kecil menggunakan kayu pinus kering.

"Empedu pahit untuk menekan racun, buah manis untuk mengikat energi," bisiknya.

Ia mulai memasak di tengah hutan yang sunyi itu. Ia tidak memiliki bumbu mewah, hanya sedikit garam kasar yang ia bawa dari dapur. Namun, teknik pengendalian apinya sudah jauh melampaui koki biasa. Ia menggerakkan kuali sedemikian rupa sehingga suhu di dalamnya tetap stabil, mencegah energi spiritual dalam bahan-bahan tersebut menguap ke udara.

Setelah beberapa saat, cairan di dalam kuali berubah menjadi sup kental berwarna merah muda dengan aroma yang sangat harum. Han Shuo meminumnya selagi panas.

Seketika, sensasi seperti ribuan jarum panas menusuk-nusuk pembuluh darahnya. Han Shuo mengerang, tubuhnya tersungkur ke tanah, memegangi dadanya. Ini jauh lebih kuat daripada energi jantung babi semalam. Buah Jantung Gagak melepaskan energi yang sangat masif untuk ukuran tubuhnya yang belum memiliki fondasi kultivasi.

"Tahan... aku harus menahannya..."

Ia mulai memvisualisasikan dirinya sebagai sebuah panci besar yang sedang direbus. Ia mengarahkan panas itu, memaksanya melewati saluran-saluran energi yang tersumbat dalam tubuhnya. Keringat hitam yang berbau busuk mulai keluar dari pori-pori kulitnya—ini adalah proses pembersihan sumsum tulang yang sangat mendasar.

Setelah satu jam penderitaan, rasa sakit itu mereda, digantikan oleh kesegaran yang luar biasa. Han Shuo berdiri, merasa tubuhnya menjadi jauh lebih ringan. Penglihatannya menjadi lebih tajam, dan ia bisa mendengar suara serangga di kejauhan dengan jelas. Ia telah berhasil mencapai tahap pertama "Pembersihan Tubuh", langkah paling awal dalam dunia kultivasi.

Meskipun masih jauh dari kata kuat, setidaknya sekarang ia bukan lagi manusia biasa yang bisa ditindas begitu saja.

Han Shuo segera menyelesaikan tugas mencari jamurnya. Dengan kekuatannya yang baru, ia bergerak jauh lebih cepat. Sebelum matahari mencapai puncaknya, keranjangnya sudah penuh dengan Jamur Embun Pagi kualitas terbaik.

Namun, saat ia hendak turun kembali ke sekte, ia mendengar suara percakapan dari balik semak-semak.

"Aku yakin melihat Buah Jantung Gagak di sekitar sini tadi pagi," suara itu terdengar familiar. "Jika kita membawanya ke Penatua Lin, kita pasti akan mendapatkan pil penguat tulang sebagai imbalan."

Han Shuo membeku. Itu adalah suara Wang Lin dan dua orang pengikutnya. Tampaknya mereka sengaja datang ke Tebing Kabut untuk mencari bahan medis berharga tersebut.

"Tapi Tuan Muda Wang, tempat ini adalah wilayah Ular Sisik Perak. Kita harus berhati-hati," sahut suara lainnya yang terdengar cemas.

"Cih, ular itu hanya binatang bodoh. Dengan pedangku, aku akan menjadikannya sup," sombong Wang Lin.

Han Shuo melirik ke arah tempat ia membunuh ular tadi. Jejak darah masih terlihat jelas. Jika mereka menemukan bangkai ular itu dan melihat cara ular itu dibunuh—dengan potongan presisi yang tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa—mereka akan curiga. Lebih buruk lagi, buah yang mereka cari sudah ada di dalam perut Han Shuo.

Konflik tidak bisa dihindari. Han Shuo tahu jika ia tertangkap di sini dengan keranjang penuh jamur dan sisa-sisa perburuan, Wang Lin akan memiliki alasan untuk menuduhnya mencuri milik sekte.

Han Shuo dengan cepat melumuri pisau dapurnya dengan tanah agar tidak berkilat, lalu ia menyembunyikan diri di balik pohon besar yang rimbun. Ia harus memutuskan: lari dan mengambil risiko ketahuan, atau menghadapi mereka dengan cara yang tidak akan meninggalkan jejak keterlibatannya.

Wang Lin dan kelompoknya muncul di area terbuka itu. Mata Wang Lin segera tertuju pada bangkai ular yang tergeletak.

"Apa?! Ularnya sudah mati?" Wang Lin berlari mendekat, wajahnya berubah dari kaget menjadi marah. Ia melihat tangkai tanaman yang buahnya sudah dipetik. "Sialan! Siapa yang berani mendahuluiku?"

Ia memeriksa luka di leher ular tersebut. Alisnya berkerut. "Luka ini... sangat tipis. Tidak tampak seperti bekas pedang besar atau serangan mantra. Hampir seperti... sayatan pisau dapur?"

Wang Lin tertegun sejenak, lalu teringat kejadian di dapur kemarin. Wajahnya menjadi merah padam karena amarah. "Han Shuo! Budak sialan itu pasti ada di sekitar sini! Cari dia! Aku tahu dia dikirim ke sini oleh Koki Liu!"

Han Shuo menghela napas panjang di balik pohon. Tampaknya, nasib memang menginginkannya untuk menyelesaikan masalah ini sekarang juga. Ia tidak lagi gemetar. Dengan tenang, ia mengambil segenggam jamur beracun yang sempat ia kumpulkan tadi—Jamur Bayangan Hitam yang aromanya bisa memicu halusinasi jika dibakar.

Ia menyulut sedikit api di tumpukan daun kering dekat tempat persembunyiannya, lalu melemparkan jamur itu ke dalamnya. Angin hutan bertiup pelan, membawa asap tipis yang nyaris tak terlihat menuju ke arah Wang Lin dan teman-temannya.

"Ini bukan tentang seberapa kuat pukulanmu," bisik Han Shuo pada dirinya sendiri, "tapi tentang bagaimana kau meracik keadaan agar lawanmu menelan kekalahannya sendiri."

Pertarungan yang sesungguhnya di dunia persilatan ini, bagi Han Shuo, baru saja dimulai dari meja dapur alam liar.

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!