NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13.5 : Abu si Serigala.

[PoV Abu]

[Di Hutan, Sebelum Jerat]

Aku ingat aroma itu.

Hujan malam sebelumnya membasahi bulu, menyisakan bau tanah yang basah dan segar. Kakiku mencengkeram lumut di tepi sungai, air mengalir dingin menyapu pergelangan. Aku minum. Lidahku mengecap rasa besi samar yang selalu ada di sungai ini, tapi tenggorokanku tak peduli. Haus adalah haus.

Di balik pohon, kelinci itu bergerak.

Aku menciumnya lebih dulu sebelum mataku menangkap gerakannya. Keringat takutnya, samar tapi nyata, bercampur aroma bulu dan tumbuhan yang baru dimakan. Perutnya kosong. Aku bisa mengejarnya, mencabiknya, mengunyah daging hangat yang masih berdenyut.

Tapi kakiku tidak bergerak.

Ada yang lain di udara.

Bukan kelinci. Bukan mangsa.

Aroma asing. Manusia. Tapi bukan manusia yang kukenal. Bukan pemburu dengan bau besi dan keringat tegang. Ini berbeda. Lembab. Seperti sesuatu yang membusuk dari dalam.

Aku mengangkat kepala. Hidungku mengembang, menangkap arahnya. Dari timur. Banyak. Mungkin sepuluh, mungkin lebih. Mereka bergerak seperti kawanan serigala, tapi bukan serigala. Serigala tidak meninggalkan bau seperti itu.

Kelinci itu lari. Aku tidak peduli.

Perutku masih kosong. Tapi sesuatu yang lebih tua dari lapar bangkit di dadaku. Naluri. Yang mengatakan: jangan di sini. Pergi.

Aku berbalik, berlari ke utara, menjauhi aroma busuk itu.

Tapi angin berkhianat.

Ia berputar, membawa bau itu lagi, kali ini lebih dekat. Dan di baliknya, ada yang lain. Samar. Hampir tak tercium. Bau tanah dan daun. Bau yang hampir sama denganku.

Mangsa?

Atau ... sesuatu yang lain?

Aku tak punya waktu memikirkan. Jerat itu sudah menanti di bawah kakiku.

***

[Saat Jerat Menggigit]

Sakit.

Bukan sakit biasa.

Ini sakit yang merambat, seperti akar yang tumbuh salah di dalam daging. Besi itu menggigit kakiku, menembus bulu, merobek kulit. Aku menjerit. Suaraku pecah di udara malam.

Graaaahh!

Aku menarik. Besi itu menarik lebih keras. Darah mengalir, hangat di bulu, lalu dingin oleh angin. Aku menggigit besi itu, tapi gigiku tumpul di logam. Aku mencakar tanah, mencoba mencabut akar yang menahanku, tapi semuanya sia-sia.

Langkah kaki. Banyak. Bau busuk itu semakin dekat.

Ayo lari. Ayo lari. Tapi kakiku tidak bergerak. Besi itu masih di sana, mengajariku arti tak berdaya.

Tangan-tangan kasar meraih tubuhku. Aku menggigit satu. Darah asin pecah di lidahku. Jeritan. Tapi tinju membalas, menghantam kepalaku, membuat pandangan bergoyang.

Ayo lari.

Aku tak bisa.

Kandang kayu menelanku. Bau manusia pengap di sekelilingku, keringat, alkohol, dan yang paling menusuk. Bau abu-abu itu. Bau yang sama dengan jerat. Bau yang menyedot, menguras, membuat tubuhku terasa semakin ringan setiap kali mereka mendekat.

Malam pertama, aku masih melawan. Menggeram. Membenturkan tubuh ke jeruji.

Malam kedua, kepalaku mulai berat.

Malam ketiga, aku berhenti bergerak.

Dan di malam-malam berikutnya, aku hanya berbaring, menatap langit yang sama setiap saat, berharap mati datang lebih cepat.

***

[Malam Sebelum Kedatangan Ling Feng]

Api unggun di luar kandang berderak. Aroma daging terbakar menusuk hidungku, membuat perutku mual. Aku tak bisa makan. Tak mau. Mereka memberi daging mentah, tapi setiap suap terasa seperti debu.

Laki-laki dengan cambuk datang. Setiap malam. Matanya abu-abu, seperti asap yang tak pernah padam. Ia menjulurkan tangan, dan dari ujung jarinya, kabut abu-abu mengalir, memasuki tubuhku.

Sakitnya bukan di daging.

Di dalam.

Di tempat yang tak bernama.

Kabut itu merayap, mencari, menemukan sesuatu yang berkilau di dadaku. Inti kecil yang selama ini menjadi sumber hidupku. Kabut itu membelitnya, menariknya, setetes demi setetes.

Setiap tarikan, aku kehilangan sesuatu yang tak bisa kujelaskan.

Bukan kekuatan.

Bukan tenaga.

Tapi aku.

Ingatan tentang hutan mulai kabur. Aroma sungai, bulu kelinci, dinginnya lumut, semuanya pudar, seperti gambar yang luntur terkena hujan.

Aku berusaha mengingat. Tapi kabut itu terus menarik.

Malam itu, saat laki-laki abu-abu pergi, aku berbaring, hampir tak bisa menggerakkan ekor. Mata kuningku menatap langit yang gelap.

Bintang-bintang berkelip. Dulu aku bisa membedakannya, tahu mana yang bergerak, mana yang diam. Sekarang semuanya kabur.

Mungkin besok, pikirku. Besok aku sudah tak perlu mengingat apa pun.

***

[Fajar, Saat Ia Datang]

Aroma itu yang pertama kali menyadarkanku.

Di tengah kabut pagi, di antara bau busuk perkemahan, tercium sesuatu yang berbeda. Samar. Hampir hilang tertiup angin.

Tapi aku menciumnya.

Tanah. Bukan tanah biasa. Tanah yang basah oleh embun, yang hangat oleh mentari pagi. Tanah yang ... hidup.

Aku mengangkat kepala. Berat. Tapi aku paksa.

Di kejauhan, di lereng bukit, sesosok bayangan berdiri. Manusia. Tapi bukan manusia biasa. Bau tanah itu datang darinya. Bukan dari tubuhnya, tapi dari sesuatu di sekelilingnya. Seperti ia baru saja keluar dari hutan, membawa serta aroma dedaunan, sungai, dan lumpur.

Mata kami bertemu.

Jarak jauh. Tapi aku tahu ia melihatku.

Ada sesuatu di tatapannya yang tak kukenal. Bukan rasa iba, manusia tak pernah iba pada serigala. Bukan rasa takut, ia terlalu tenang untuk takut.

Ini ... pengakuan.

Seolah ia berkata. Aku melihatmu. Kau ada.

Untuk pertama kalinya sejak jerat menggigit kakiku, sesuatu hangat merayap di dadaku. Bukan harapan, aku sudah lupa apa itu harapan. Tapi ... kehadiran.

Seseorang tahu aku ada di sini.

Dan ia tidak berpaling.

***

[Saat Ia Melangkah Mendekat]

Perkemahan kacau. Teriakan. Api. Laki-laki abu-abu itu berlari ke suatu tempat, meninggalkan aku dalam sangkar.

Aku mencoba berdiri. Kakiku sakit, tapi aku paksa. Jeruji kayu di depanku. Kalau aku bisa mendobraknya, mungkin ...

Jeruji itu terbuka.

Sendirian.

Gemboknya jatuh ke tanah dengan bunyi nyaring.

Aku ragu. Ini jebakan? Tapi tak ada yang mendekat. Hanya suara gaduh di kejauhan.

Aku melangkah keluar. Tanah di bawah kakiku terasa asing, tapi nyata. Udara bebas memenuhi hidungku, tajam dan dingin.

Lalu aku melihatnya.

Ling Feng.

Ia berdiri di pinggir sungai, tubuhnya berlumuran darah, pakaiannya robek. Napasnya tersengal. Tapi matanya ... masih sama. Melihatku. Mengakuiku.

Di belakangnya, asap hitam membubung. Laki-laki abu-abu itu mungkin akan kembali.

Aku berlari ke arahnya, tertatih. Kaki kiriku hampir tak mampu menahan berat. Tapi aku tetap berlari.

Sesampainya di sisinya, aku jatuh. Lututku menyentuh tanah. Aku mendongak.

Ia menatapku. Lalu, tanpa suara, tangannya terulur. Menyentuh kepalaku. Hangat. Seperti matahari yang berhasil menembus kabut.

“Kita harus pergi,” bisiknya. “Sekarang.”

Aku tak tahu apa arti semua ini. Tak tahu ke mana kami akan pergi. Tapi saat ia berbalik dan mulai berlari, aku mengikutinya. Tanpa ragu. Tanpa bertanya.

Untuk pertama kalinya sejak lama, aku punya alasan untuk bergerak.

***

[Di Gua, Malam Pertama]

Dinding gua dingin. Lantainya keras. Tapi aku tak peduli.

Ling Feng duduk di sampingku. Napasnya berat, tubuhnya penuh luka. Tapi ia masih bergerak, merobek bajunya, membersihkan darahku, lukaku.

Tangannya gemetar saat menyentuh kakiku. Sakit. Aku menggeram, tapi ia tak mundur.

“Tenang,” bisiknya. “Aku coba bantu.”

Aku tak mengerti kata-katanya. Tapi nada suaranya ... seperti lolongan lembut di malam sunyi. Menenangkan. Membuat otot-ototku perlahan lepas.

Lalu kehangatan itu datang.

Dari tangannya, mengalir sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Bukan panas seperti api, bukan dingin seperti kabut abu-abu itu. Ini hangat yang merayap pelan, masuk ke dalam, mencari tempat-tempat yang sakit.

Di dadaku, inti kecil yang hampir padam berdenyut. Samar. Tapi hidup.

Aku menatapnya.

Ia memejamkan mata. Keringat membasahi wajahnya. Tangannya tetap di tubuhku, mengirimkan kehangatan itu terus-menerus, meskipun tubuhnya sendiri semakin lemas.

Kenapa?

Pertanyaan itu muncul di suatu tempat yang tak pernah kugunakan untuk berpikir. Manusia tak pernah melakukan ini. Manusia mengambil. Manusia merampas. Tapi ia memberi. Memberi sesuatu yang tak bisa diambil kembali.

Kenapa?

Aku tak mendapat jawaban. Tapi saat tangannya akhirnya jatuh dan tubuhnya roboh ke sampingku, aku tahu satu hal: aku tak akan meninggalkannya.

Aku menjilat pipinya yang pucat. Ia tak bergerak. Tapi napasnya masih ada. Masih hidup.

Aku meringkuk di sampingnya, menghangatkannya dengan tubuhku. Menjaganya. Seperti ia menjagaku.

Di luar, malam terus berjalan.

Tapi di dalam gua ini, kami berdua bernapas bersama.

***

[Keesokan Paginya]

Aku bangun lebih dulu.

Ling Feng masih tidur, wajahnya pucat tapi napasnya lebih stabil. Aku menjilat lengannya. Garam. Keringat. Rasa hidup.

Kakiku masih sakit. Tapi pagi ini, sakitnya berbeda. Bukan sakit yang menguras, tapi sakit yang mengingatkan bahwa aku masih punya kaki untuk sembuh.

Aku berdiri. Goyang. Tapi aku berdiri.

Aku berjalan ke mulut gua, mencium udara. Bau hutan, tanah, dan ... sesuatu yang lain. Dari kejauhan, aroma asing terbawa angin. Manusia. Tapi berbeda dari laki-laki abu-abu itu. Bersih. Tertib. Seperti hutan yang rapi.

Aku kembali ke sisi Ling Feng. Duduk. Menunggu.

Ia butuh waktu untuk pulih. Aku akan memberinya waktu. Aku akan menjaganya dari apa pun yang datang, sampai ia bisa berdiri sendiri.

Seperti ia menjagaku tadi malam.

***

[Saat Xiao Lu Datang]

Aroma itu sampai sebelum tubuhnya terlihat.

Perempuan. Manusia. Bau yang berbeda dari yang lain, tidak seperti laki-laki abu-abu, tidak seperti Ling Feng. Ada sesuatu yang tersembunyi di baunya, seperti buah yang manis di luar tapi pahit di dalam.

Aku bangkit. Buluku berdiri.

Ia muncul dari balik pohon. Langkahnya pelan, terkendali. Matanya, aku tahu mata seperti itu. Mata yang menghitung, menimbang, memutuskan sebelum bertindak.

Ia memandangku. Lalu Ling Feng.

Tak ada rasa takut di matanya. Hanya kalkulasi.

Berbahaya.

Naluriku menjerit. Tapi aku tak menyerang. Karena Ling Feng. Ia mempercayainya, atau setidaknya, ia tak menganggapnya ancaman. Aku harus menghormati itu. Untuk sekarang.

Tapi aku tak akan lengah.

Aku duduk di antara mereka. Memisahkan. Menjaga jarak.

Perempuan itu tersenyum. Senyum yang tak sampai ke mata.

“Kau menjaganya,” katanya. “Bahkan dari sesuatu yang belum tentu berbahaya.”

Aku diam. Tapi mataku tak lepas darinya.

Kau, aku akan awasi.

***

[Dalam Perjalanan]

Berlari di samping kuda terasa aneh. Kakiku masih sakit, tapi aku tak mau tertinggal. Ling Feng di atas kuda itu, tubuhnya kaku, tangannya mencengkeram tali kekang seperti memegang cangkul.

Aku bisa mencium ketegangannya. Bau keringat dingin yang samar. Ia tak nyaman. Tapi ia bertahan.

Perempuan itu—Xiao Lu—memimpin di depan. Aku tak suka caranya menatap Ling Feng. Seperti menghitung harga.

Tapi aku juga mencium yang lain. Saat ia berbicara tentang kucing, baunya berubah. Hanya sekejap. Seperti celah di dinding batu. Di balik topengnya, ada sesuatu yang ... rapuh.

Aku tak mengerti manusia. Tapi aku mengerti aroma. Dan aroma perempuan itu penuh lapisan, seperti hutan yang terbakar lalu tumbuh lagi.

***

[Malam di Tepi Api]

Api berderak. Kehangatannya merayap ke buluku. Ling Feng duduk di seberang, berbicara dengan Xiao Lu. Aku berbaring di antara mereka, setengah tidur, setengah waspada.

Perempuan itu mengeluarkan botol kecil. Aku mencium isinya dari sini. Tanaman. Tapi dicampur sesuatu, alkohol, dan yang lain. Sesuatu yang tak alami.

Ia menawarkannya? Tidak. Ia hanya menunjukkan. Menguji.

Ling Feng menatap botol itu dengan mata polos. Tak curiga. Tak takut.

Bodoh, pikirku. Tapi di saat yang sama, sesuatu di dadaku hangat. Ia polos karena ia tak tahu cara menipu. Karena ia tak menyimpan racun di balik lidahnya.

Perempuan itu menyimpan botol itu kembali.

Napasnya berubah. Hanya sedikit. Tapi aku menangkapnya.

Ia menahan sesuatu.

Kemudian malam semakin larut. Ling Feng tidur. Napasnya dalam. Aku meringkuk di sampingnya, menghangatkannya.

Tapi mataku tak benar-benar terpejam.

Di seberang api, perempuan itu duduk. Memandang kami. Pandangannya lama, terlalu lama. Lalu ia meraba botol itu lagi.

Tangannya berhenti.

Lama.

Lalu botol itu masuk kembali ke balik jubahnya.

Aroma tubuhnya berubah. Sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Seperti hujan yang akan turun tapi tertahan di langit.

Kau juga bingung, pikirku. Kau juga tak tahu harus jadi apa.

***

[Sekarang, Menjelang Fajar]

Ling Feng masih tidur. Aku terjaga.

Di timur, langit mulai memucat. Fajar sebentar lagi.

Perempuan itu telah tertidur, atau berpura-pura tidur, dengan punggung bersandar pada pohon. Tapi napasnya tak sepenuhnya dalam. Ia masih waspada. Seperti aku.

Aku menatap Ling Feng.

Dalam tidurnya, wajahnya tenang. Tak ada topeng. Tak ada siasat. Hanya seorang anak manusia yang terlalu percaya pada dunia.

Tapi di lehernya, batu biru itu berkilau samar. Dan setiap kali cahaya fajar menyentuhnya, aku mencium sesuatu yang tak kukenal.

Aroma yang sama dengan tanah tempatku dilahirkan. Tapi juga berbeda. Lebih tua. Lebih dalam.

Siapa kau sebenarnya?

Pertanyaan itu tak berarti bagi serigala. Tapi entah mengapa, ia terus berputar di kepalaku.

Aku mendekat, menjilat tangannya yang lemas. Asin. Hangat.

Ia bergerak sedikit, tapi tak bangun.

Aku kembali ke posisiku, memutar tubuh, menghadap ke arah hutan. Menjaganya. Seperti janji yang tak pernah kuucapkan.

Di luar, dunia menunggu dengan bau-bau asing. Laki-laki abu-abu itu mungkin masih di luar sana. Perempuan ini masih misteri. Dan Ling Feng ... Ling Feng adalah sesuatu yang belum bisa kupahami.

Tapi satu hal yang kutahu.

Selama aku masih bisa bernapas, tak akan ada yang menyentuhnya.

Aku meringkuk lebih dekat, merasakan detak jantungnya yang lambat dan stabil. Irama yang sama dengan irama tubuhku sendiri.

Aku tak tahu apa kau cari, Ling Feng. Tapi ke mana pun kau pergi, aku akan ikut.

Matahari mulai naik. Cahaya pertama menyentuh mulut gua.

Aku memejamkan mata, tapi telingaku tetap tegak. Mendengar. Menunggu.

Siap untuk apa pun yang datang.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!