Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk
"Pergi kamu dari sini!" Usir Tamara tegas pada Senja yang duduk bersimpuh memohon.
"Kamu bikin malu saja! Sudah syukur saya mau menampung kamu di sini, karena kamu keponakan mbok Siroh." lanjutnya emosi.
"Tapi Tante.. Aku.. Aku hamil anaknya Sean." Senja memohon dengan air mata membasahi pipinya .
"Buk de.." rengek Senja pada mbok Siroh.
"Buk de kecewa sama kamu, Senja." Mbok Siroh membuang muka tak mau melihat Senja lagi.
"Lalu bagaimana dengan anak ini?" Lirih Senja terbata sambil meraba perutnya.
"Gugurkan! Saya akan berikan kamu uang!" Tamara meletakkan uang di atas meja lalu berlalu ke kamarnya.
"Buk de.." Senja masih memohon.
"Untuk kali ini Buk de, tak bisa membantu kamu. Kamu tau sendiri, hidup buk de juga susah. Nyonya Tamara sudah sangat baik sama buk De."
"Dengan langkah gontai, Senja keluar dari rumah besar dan mewah itu sambil membawa beberapa pakaiannya di dalam tas ransel yang berada di pundaknya. Sementara uang yang diberikan Tamara tak dia ambil sepersen pun.
" Buk..Ibuk...Ibuk mimpi buruk lagi ya?" Seorang bocah laki-laki berusia enam tahun mengguncang tubuh Senja yang sedang mimpi buruk. Bahkan mimpi tersebut membuat dia meneteskan air mata.
Senja terbangun dan terperangah. Dia menatap bocah laki-laki itu dan langsung memeluknya.Dia adalah Angkasa, anaknya Senja.
"Ibuk mimpi buruk lagi ya?" Ucap Angkasa dengan polosnya sambil mengusap lembut punggung ibunya.
"Iya nak.." Senja berusaha tersenyum meski bayang-bayang rasa sakit di masa lalu masih jelas di pelupuk matanya.
"Jika ayah masih ada,pasti ayah tak akan membiarkan ibuk menangis kayak gini." Ucap Angkasa.
Bocah berusia enam tahun itu, terpaksa dewasa sebelum umurnya. Hidup berdua dengan ibunya,membuat dia harus berjuang merasa pahitnya kehidupan saat ini.
"Jangan bicara seperti itu,Ayah kamu sudah bahagia di sana nak. Kamu saja sudah mampu membuat ibu tenang dan bahagia." Lirih Senja berusaha tersenyum lagi.
***
" Gimana kabar kamu Sean? Pulang dari London semakin tampan dan gagah saja!" Goda Andrew teman satu SMA nya dulu.
Saat ini,Sean sedang mengikuti reuni dengan teman-temannya waktu sekolah SMA dulu.
" Sehat kok." Sean tersenyum ke arah teman-temannya.
" Siapa nih gadis cantik di sebelah kamu?" Rania menatap gadis cantik berambut sebahu di sebelah Sean.
Sean menggenggam tangan sang gadis sambil tersenyum.
"Calon bini!" jawab Sean terlihat bahagia membuat gadis di sampingnya tersipu malu.
" Kenalin,Namanya Rea. Dia calon tunangan ku dan rencananya Minggu depan kami mau tunangan." Lanjut Sean.
" Sekalian aku hadir di sini,mengundang kalian semua!"
" Wah..kabar bahagia nih. Most Wanted sekolah kita akhirnya nikah juga." sambung Riana lagi merasa senang.
"Kamu undang Senja gak?" tanya Deri tiba-tiba membuat semua yang ada terdiam,termasuk Sean.
" Gimana kabar Senja sekarang ya?"
"Setelah hari penerimaan ijazah,tak pernah nampak dia lagi. Bahkan kabar dan beritanya tak ada. Seolah dia benar-benar menghilang dari dunia ini!' lanjut Riana
" Kata siapa,kemaren lusa dia daftarin anaknya sekolah TK di tempat aku ngajar kok!" Potong Dina yang sibuk mengunyah makanan di depannya Riana.
" Anak?" lirih Sean.
Siapa sangka enam tahun tanpa kabar,Senja sudah punya anak. Sean tertawa getir mengingat betapa bodohnya dia dulu, bahkan seperti orang gila setiap pulang dari London mencarinya.
" Beb..aku ke toilet dulu ya!" Ucap Rea dan Sean mengangguk.
" Yang anehnya pas aku lihat akte lahir anak tersebut,gak ada bapaknya. Aku gak berani tanya,namun Senja paham kebingungan ku dan mengatakan kalau ayah anaknya sudah meninggal." Lanjut Dina membuat Sean jadi penasaran.
" Kasihan juga Senja,ya!"
" Tapi ada sesuatu yang aneh, wajah anaknya mirip siapa tebak." Dina semakin membuat penasaran teman-temannya.
"Mirip Sean!"
"Hah?" Mereka semua kompak menatap Sean.
Sementara Sean,masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. Apalagi ini berkaitan dengan mantan kekasihnya meski tak ada kata putus diantara mereka.Jika benar wajah anaknya Senja mirip dengan wajahnya,apa jangan-jangan anak itu memang anaknya?
Ingatannya saat ini yaitu,saat dia sebelum berangkat ke London. Malam itu dia lupa pakai pengaman saat memadu kasih dengan Senja. Dia memang sudah sering melakukan itu dengan Senja. Apalagi semenjak mereka pacaran dari masuk SMA.
Jelas teringat di benaknya pertama kali bertemu Senja, ketika hari itu Senja datang ke rumahnya bersama buk de nya yang sudah lama bekerja di rumah Sean. Saat itu Sean langsung merasa jatuh hati sama Senja. Apalagi Senja anaknya polos,baik,ramah dan pintar.
Dia tinggal di rumah Sean mengikuti buk de-nya,karena kedua orangtuanya yang sudah meninggal kala itu.
Mereka menjadi semakin dekat,karena mereka disekolahkan di sekolah yang sama. Bahkan setiap hari dan setiap detik dimana ada Sean dan di situ ada Senja.
Namun hubungan mereka harus LDR karena Sean harus melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Sementara Senja yang tak punya biaya hanya akan kuliah di Indonesia saja,karena dia mendapatkan beasiswa kala itu.
Seminggu setelah Sean tiba di London,dia tak bisa lagi menghubungi Senja. Bahkan dia menanyakan keberadaan Senja pada mamanya. Jawab mamanya kala itu,Senja pulang kampung.
Bahkan setahun dia di London,di kembali ke tanah air mencari Senja,namun tak menemukannya. Bahkan Sean bolak balik ke kampungnya,namun gadis itu tetap tak ketemu.
Akhirnya Sean menyerah dan merelakan Senja kala itu. Pada akhirnya setahun terakhir dia dekat dengan Rea, teman satu universitas di London. Dari dekat mereka pun akhirnya berkomitmen menjalin hubungan. Rencananya Minggu depan mereka akan tunangan,karena kedua orang tua sudah saling setuju.
"Itu Senja datang!" Ucap Dina.
Sean langsung terbangun dari lamunannya.Tatapan matanya langsung menuju ke arah Senja. Senja masih seperti dulu. Wajahnya cantik,lembut dan senyumnya selalu menawan.
Senja kemudian menyalami para teman-temannya dan saat akan berjabat tangan dengan Sean,Senja terdiam sesaat. Ada rasa sesak menyeruak di dalam dadanya.
"Apa kabar Senja?" Ucapan itu pun keluar dari mulutnya Sean.
"Baik!" Jawab Senja dingin dan langsung duduk di samping Dina.
"Beb..sorry aku kelamaan ya?" Rea baru datang dan langsung duduk di samping Sean.
Melihat Sean sudah punya wanita lain,Senja hanya tersenyum tipis. Antara dia dan Sean hanyalah masa lalu,yang ingin dia kubur sedalam mungkin.
"Senja..apa kegiatan kamu saat ini?" Riana terlihat antusias dan sesekali melirik Sean. Karena satu sekolah dulu tau,betapa bucinnya Sean terhadap Senja.
"Gak ada..Hanya kerja di warung makan dan sibuk mengurus anak ." Jawab Senja tak nyaman dengan pertanyaan Riana.
"Oh ya,kenapa kamu gak bawa anak kamu ke sini? Kita ingin kenalan,mana kamu gak ngundang-ngundang kita lagi saat kamu nikah ." Lanjut Deri namun buru-buru diam melihat tatapan tajam Dina sambil menggeleng.
"Maaf Senja .aku gak tau..itu.." Deri menjadi gugup
"Gak apa-apa..Dia sudah lama meninggal,bahkan sebelum anakku lahir." Jawab Senja membuat suasana hening seketika.
"Permisi..aku ke toilet sebentar ." Senja semakin tak nyaman dengan obrolan mereka. Sebenarnya Senja tak begitu akrab dengan siapapun selama SMA. Hanya Sean selama ini ada di sampingnya dan apapun itu dia akan selalu bersama Sean kala itu.