Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Pagi itu, suasana ruang praktik Dokter Eros terasa lebih tenang dari biasanya. Aroma antiseptik samar bercampur dengan cahaya matahari yang menembus tirai tipis. Tama duduk tegak di kursi pasien, jemarinya saling terkait, wajahnya serius.
“Bagaimana kondisi Mama saya, Dok?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
Dokter Eros membuka berkas rekam medis Bu Diana, lalu tersenyum tipis. “Secara umum stabil, Tama. Tekanan darah terkendali. Respons sarafnya juga membaik.”
Tama menghela napas lega. “Jadi… tidak ada penurunan?”
“Tidak ada. Justru ada peluang yang bisa kita kejar.”
Tama mengangkat wajahnya. “Peluang?”
“Terapi intensif,” jawab dokter itu mantap. “Beberapa hari lalu, Andita datang menemui saya. Dia berkonsultasi panjang tentang kemungkinan terapi lanjutan untuk ibumu.”
Tama terdiam. “Dita?”
“Iya.” Dokter Eros tersenyum kecil. “Dia cukup detail. Menanyakan progres otot, refleks, bahkan kemungkinan stimulasi saraf tambahan. Saya jarang lihat caregiver seproaktif itu.”
Ada sesuatu yang menghangat di dada Tama—bangga, tapi juga terkejut. “Dia tidak cerita ke saya.”
“Mungkin ingin memastikan dulu,” ujar dokter itu santai. “Kalau kamu setuju, kita mulai minggu ini. Ada kemungkinan—saya tekankan kemungkinan—ibumu bisa berdiri lagi dengan bantuan.”
“Berdiri?” suara Tama nyaris bergetar.
“Dengan terapi rutin dan disiplin. Tapi harus sabar.”
Tama mengangguk cepat. “Saya setuju, Dok.”
***
Di rumah, kabar itu disampaikan langsung.
“Ma,” ucap Tama pelan sambil duduk berhadapan dengan kursi roda ibunya. “Dokter bilang Mama bisa mulai terapi. Ada kemungkinan… Mama bisa berjalan lagi.”
Bu Diana terdiam. Tangannya yang kurus mencengkeram sandaran kursi roda. “Benarkah?”
Dita berdiri di samping, matanya ikut berbinar.
“Kalau Mama mau berjuang,” lanjut Tama.
Air mata tipis menggenang di sudut mata Bu Diana. “Mama mau. Tentu Mama mau.”
Hari itu juga, sesi pertama dimulai. Dokter Eros datang untuk memberi pengarahan langsung pada Dita.
“Perhatikan sudut lututnya,” katanya sambil menunjuk kaki Bu Diana. “Jangan dipaksa. Tahan lima detik, lepaskan perlahan.”
Dita menyimak serius, bahkan mencatat di buku kecilnya. “Kalau ada kejang ringan, apakah langsung dihentikan, Dok?”
“Tidak selalu. Lihat intensitasnya dulu. Kamu bisa kompres hangat setelahnya.”
Tama berdiri sedikit menjauh, memperhatikan keduanya. Cara Dita menunduk, fokus, tidak tergesa. Tangannya lembut saat membantu mengangkat kaki ibunya.
“Baik, Dok. Saya ulang setiap pagi dan sore.”
“Bagus,” ujar dokter itu. “Konsistensi kunci utamanya.”
Setelah dokter pulang, Bu Diana tersenyum kecil pada Dita. “Kamu repot-repot mikirin aku, Dit.”
Dita tersenyum sopan. “Sudah tugas saya, Bu.”
“Bukan cuma tugas,” gumam Bu Diana pelan.
Tama mendengarnya. Dan entah kenapa, dadanya terasa penuh.
****
Keesokan harinya, bel rumah berbunyi siang-siang.
Dita yang membuka pintu sedikit terkejut melihat Selina berdiri sendiri, mengenakan dress biru lembut dan kacamata hitam besar.
“Tama tidak ada?” tanya Selina manis.
“Tuan sedang di kantor, Mbak,” jawab Dita sopan.
“Oh… tidak apa-apa. Aku cuma mau jenguk Tante.”
Selina masuk dengan senyum yang dibuat sehangat mungkin.
“Selamat siang, Tante,” sapanya lembut.
“Siang,” jawab Bu Diana singkat.
Selina duduk di kursi dekatnya. “Tante sudah mulai terapi ya? Wah, hebat sekali.”
“Baru mulai,” jawab Bu Diana datar.
Selina mencoba lagi. “Aku bisa bantu apa-apa, Tante? Pijat mungkin?”
“Tidak perlu.”
Hening.
Dita yang berdiri tak jauh dari sana bisa merasakan ketegangan tipis itu.
Selina tersenyum, tapi matanya mulai kehilangan cahaya. “Aku cuma ingin dekat sama Tante.”
Bu Diana menatapnya lama. “Dekat itu tidak bisa dipaksa.”
Kalimat itu menusuk halus.
Tak lama, Selina pamit. Senyumnya masih terpasang, tapi langkahnya cepat.
***
Alih-alih pulang ke apartemen, Selina langsung menghubungi Tama.
"Tam, ayo ketemu."
"Oke, skalian makan siang ya. Aku tunggu di resto tempat biasa."
Selina menuju restoran tempat Tama biasa makan siang.
“Tama,” panggilnya begitu melihat pria itu duduk sendirian.
Tama melambaikan tangannya. "sini!"
Selina duduk tanpa diminta. “Aku tadi ke rumah.”
“Kamu sendiri?”
“Iya.” Wajahnya mulai berubah muram. “Mamamu… tetap tidak suka aku.”
Tama mengernyit. “Dia bilang apa?”
“Tidak bilang langsung. Tapi tatapannya, sikapnya. Seolah aku ini… tidak pantas.”
Tama menghela napas. “Mama memang butuh waktu.”
“Waktu?” Selina mendengus pelan. “Atau dia sudah punya pilihan lain?”
Tama menatapnya tajam. “Maksud kamu?”
“Perawat itu.” Nada Selina meninggi sedikit. “Dia muda. Cantik. Tiap hari di rumahmu.”
Tama tertawa kecil, berusaha mencairkan. “Kamu cemburu lagi.”
“Aku serius, Tama!” Selina membungkuk sedikit. “Ganti saja perawatnya. Aku tidak suka ada perempuan muda berkeliaran di sekitarmu.”
Tama menggeleng. “Tidak segampang itu. Mama cocok sama Dita. Susah cari caregiver yang sabar dan telaten.”
Selina terdiam, lalu tersenyum sinis tipis. “Kalau begitu nikah saja sama dia.”
Tama menghela napas panjang. “Kamu tahu kamu lagi kesal.”
“Jawab saja.”
“Aku tidak tertarik sama Dita,” ucap Tama tegas. “Dia profesional.”
“Benarkah?”
“Iya.” Nada Tama melembut. “Yang aku mau itu kamu. Tapi kalau kamu ingin Mama merestui kita, kamu harus lebih sabar. Lebih dekat sama Mama. Lihat Dita… dia diterima karena dia hadir tanpa memaksa.”
Kalimat itu membuat Selina terdiam cukup lama.
“Jadi aku harus meniru dia?”
“Bukan meniru. Tulus saja.”
Selina menunduk. “Baiklah. Demi kamu.”
Tama tersenyum lega, menggenggam tangannya. “Terima kasih.”
****
Setelah makan siang, Tama mengantar Selina ke apartemennya.
“Jangan dipikirkan terlalu berat,” ucapnya sebelum pintu mobil tertutup.
Selina mengangguk, memaksakan senyum.
Lift apartemen bergerak naik perlahan. Pintu terbuka di lantainya.
Dan di sana—bersandar santai di dekat pintu unitnya—Brian.
Pria itu tersenyum miring. “Hai, Selin.”
Jantung Selina berdegup keras. “Ngapain kamu di sini?”
“Menunggu.” Brian mendekat satu langkah.