NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Komedi / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Office Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 — MAKAN MALAM MODE ERROR

Mobil Arsenio berhenti tepat di depan gerbang megah yang memancarkan aura kemewahan yang angkuh.

Alinea menatap pagar tinggi itu dengan tangan dingin. Perasaannya kacau,ia merasa seolah akan melangkah masuk ke ruang sidang untuk menjalani penghakiman, bukan menghadiri sebuah makan malam keluarga.

Di sampingnya, Arsenio masih mematikan mesin, namun matanya menatap tajam ke arah rumah itu. Seolah ia pun tahu, di balik pintu besar sana, serigala-serigala berbulu domba sudah menanti mereka.

“Pak,” katanya pelan, “kalau saya tiba-tiba keseleo mental, boleh langsung kabur nggak?”

Arsenio tetap menatap lurus ke depan. “Tidak.”

Jawabannya cepet banget.

“Karena itu bukan opsi.”

Alinea menghela napas panjang. “Ini makan malam atau tes kelayakan hidup?”

Arsenio akhirnya menoleh. Tatapannya tenang seperti biasa. Terlalu tenang.

“Aturannya sederhana,” katanya. “Jangan impulsif. Jangan terlalu banyak bicara. Jangan reaktif.”

Alinea melotot. “Pak. Saya lahir impulsif.”

Sunyi dua detik.

Arsenio menatap wajahnya sedikit lebih lama dari biasanya. Sebuah tatapan yang sulit dibaca.

Lalu, tanpa aba-aba, tangannya terangkat. Dengan gerakan kecil yang sangat halus, ia merapikan sehelai rambut Alinea yang jatuh ke pipinya.

Itu hanya refleks. Hanya satu detik.

Namun, gerakan sesingkat itu cukup untuk membuat seluruh sistem pertahanan Alinea crash. Logikanya mendadak mati. Di dalam kabin mobil yang mewah itu, udara mendadak terasa begitu tipis, seolah oksigennya baru saja dicuri oleh jemari Arsenio.

“Sudah,” kata Arsenio datar.

Alinea membeku. “Bapak barusan…?”

“Kamu terlihat berantakan.”

“OH. Oke. Berantakan. Siap.”

Arsenio membuka pintu mobil lebih dulu. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Alinea tetap terpaku di kursinya, membiarkan beberapa detik berlalu hanya untuk mengumpulkan kembali serpihan kesadarannya. Ia butuh waktu untuk bernapas, namun jantungnya sudah resmi overclock—berdegup terlalu kencang, terlalu panas, hingga rasanya hampir meledak di balik rusuknya.

Dengan sisa kekuatan yang ada, ia akhirnya turun dari mobil.

Alinea melangkah keluar bukan lagi sebagai asisten yang patuh, melainkan sebagai seseorang yang harus bertahan hidup di tengah sirkuit yang siap membakarnya kapan saja.

Rumah keluarga Arsenio terasa seperti museum yang memiliki pendingin ruangan khusus untuk membekukan harga diri orang lain.

Langit-langitnya begitu tinggi, seolah dirancang untuk membuat siapa pun yang masuk merasa kecil. Lampu gantung kristal di atas mereka berpendar angkuh, memantul di atas lantai marmer yang begitu mengilap hingga Alinea bisa melihat pantulan wajahnya yang tegang.

Alinea berjalan di samping Arsenio dengan dagu terangkat, berusaha keras agar langkah kakinya tidak terdengar seperti langkah orang yang baru pertama kali melihat rumah yang dibangun tanpa bantuan cicilan KPR.

“Kalau saya kesandung di sini, jatuhnya elegan nggak ya?” bisiknya pelan.

“Fokus,” jawab Arsenio.

Begitu mereka masuk ruang utama, beberapa pasang mata langsung menoleh.

Scanning mode aktif.

Alinea bisa merasakan mata-mata di ruangan itu mulai bekerja—berhenti di tasnya, menilai sepatunya, lalu menguliti tatanan rambutnya. Mereka tidak hanya melihat, mereka sedang menghitung nilai nominal dirinya.

Dan tanpa ia sadari, Arsenio mengubah ritme langkahnya.

Alinea berjalan setengah langkah lebih depan. Posisi tubuhnya sedikit condong, menciptakan perisai tak kasat mata di depan Alinea. Seolah-olah dengan gerakan minimalis itu, Arsenio sedang menarik garis batas yang tegas,siapa pun yang ingin menyerangnya, harus melewati aku lebih dulu.

Alinea sadar.

Arsenio? Tidak.

“Sen.”

Suara itu halus. Terlatih.

Mama Arsenio berdiri dari sofa, elegan dalam balutan gaun yang bahkan tidak perlu memamerkan merek untuk menunjukkan nilainya.

“Akhirnya kamu datang.”

“Iya, Ma.”

Tatapan Mama berpindah ke Alinea.

Diam.

Mengukur.

“Kamu Alinea.”

“Iya, Bu,” jawab Alinea sopan, berusaha tidak salah nada.

Mama tersenyum tipis. “Menarik.”

Menarik itu pujian atau audit, Alinea tidak tahu.

Sebelum suasana menjadi terlalu hening dan canggung, suara heels terdengar bergema dari sisi lain ruangan.

Ketukannya tegas, ritmis, dan memancarkan rasa percaya diri yang mutlak.

Nadia muncul dengan gaun simpel yang potongannya justru mempertegas harganya yang selangit. Ia berjalan seolah lantai marmer itu memang diciptakan hanya untuk dipijaknya. Senyumnya terukir sempurna—tipe senyum yang tidak pernah goyah meski di bawah tekanan sekalipun.

Alinea segera mengenali wajah itu. Wajah yang sama dengan yang ada di foto. Wajah yang berdiri di samping Arsenio di bawah lampu kristal.

“Sen,” sapanya lembut.

Arsenio mengangguk. “Nadia.”

Satu detik.

Cukup bagi Alinea untuk merasa seperti aplikasi yang belum di-update.

Nadia menoleh padanya. “Kita ketemu lagi.”

“Sepertinya iya,” jawab Alinea dengan senyum yang dia paksa stabil.

Mereka duduk di meja makan panjang.

Alinea refleks mengambil kursi agak di ujung.

Sampai Arsenio berkata singkat, “Di sini.”

Menunjuk kursi di sebelahnya.

Semua mata ikut menoleh.

Nadia tersenyum tipis—jenis senyum yang tidak sampai ke mata—dan makan malam pun dimulai.

Denting alat makan perak bertemu porselen mahal menjadi latar belakang simfoni percakapan yang melelahkan. Bisnis. Pergerakan saham. Proyek prestisius di ibu kota. Topik-topik itu dilemparkan ke meja seperti taruhan kasino.

Alinea duduk tegak, memegang garpunya dengan presisi. Ia berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya agar tidak terlihat seperti orang yang sedang sibuk menerjemahkan bahasa asing di dalam kepala. Baginya, angka-angka yang mereka bicarakan bukan sekadar statistik, tapi angka yang bisa membeli seluruh hidupnya berkali-kali lipat.

“Jadi, Alinea bekerja di divisi mana?” tanya salah satu paman.

“Riset dan pengembangan, Om.”

“Oh. Cukup teknis.”

“Lumayan, Om. Tapi saya masih bisa masak mi instan tanpa gagal.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Arsenio meliriknya.

Itu tadi impulsif.

Tapi entah kenapa sudut bibirnya naik sedikit.

Nadia memperhatikan.

“Sen,” katanya santai, “kamu masih simpan foto lama itu?”

Suasana berubah tipis.

Alinea langsung tegang.

Foto.

Arsenio tidak terlihat terpengaruh.

“Foto yang mana?”

“Yang di villa waktu ulang tahunmu. Yang kita ambil di taman belakang.”

Hening sepersekian detik.

Alinea berusaha menatap piringnya.

Arsenio menjawab tenang, “Saya simpan yang penting saja.”

Jawaban aman.

Di atas meja, segalanya tampak sempurna dan dingin. Namun di bawah sana—di balik taplak linen mahal yang menjuntai—lutut mereka bersentuhan.

Alinea tersentak, hampir menarik diri karena refleks. Namun, Arsenio tidak bergerak. Pria itu tidak menjauh sedikit pun, seolah kontak fisik itu adalah posisi paling natural di dunia. Seolah ia sedang mengirimkan sinyal melalui sentuhan singkat itu: Tetap di sini. Aku ada.

Arsenio tetap tenang menjawab pertanyaan tentang proyek terbaru, sementara di sisi lain, jantung Alinea mulai mengetuk tidak sopan. Ritmenya kacau, memberontak melawan ketenangan palsu yang sedang ia bangun di depan keluarga Arsenio.

Nadia mengangkat alis tipis. “Berarti tidak penting lagi?”

Arsenio menatapnya lurus. “Saya tidak menyimpan hal yang tidak relevan.”

Kalimat itu seperti garis tegas.

Nadia tersenyum, tapi kali ini lebih kaku.

Alinea menelan ludah.

Kenapa jawabannya terasa… membela?

Mama meletakkan sendoknya pelan.

“Arsenio,” katanya lembut, “keluarga ini tidak memilih sembarangan.”

Semua menoleh.

Tatapannya ke Alinea tidak kasar.

Tapi tidak ringan.

“Kalau kamu serius,” lanjutnya,

“buktikan.”

Ruangan hening.

Alinea merasa seperti baru saja ditunjuk maju ke papan tulis.

“Buktikan bagaimana, Ma?” tanya Arsenio datar.

“Datang ke gala amal bulan depan. Resmi. Sebagai pasangan.”

Alinea hampir tersedak air.

Resmi ?

Publik ?

Ini sudah naik level.

Arsenio tidak butuh waktu lama.

“Baik.”

Alinea menoleh cepat. “Pak?!”

Semua orang tersenyum tipis.

Keputusan dibuat.

Makan malam berlanjut, tapi napas Alinea terasa lebih berat.

Beberapa menit kemudian Alinea berdiri.

“Permisi, saya ke taman sebentar.”

Udara luar lebih dingin. Lebih jujur.

Alinea mengembuskan napas panjang.

“Ini bukan latihan biasa,” gumamnya.

Langkah terdengar di belakangnya.

Arsenio.

“Kamu kewalahan,” katanya tanpa basa-basi.

“Sedikit,” jawab Alinea jujur. “Saya bukan hardware premium, Pak. Saya bisa overheat.”

Sunyi.

Angin menggerakkan ujung rambutnya.

Arsenio berdiri di sampingnya, jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

“Saya tidak memilih kamu karena kamu elit,” katanya pelan.

Alinea menoleh.

“Saya memilih kamu karena kamu nyata.”

Satu kalimat.

Tidak dramatis.

Tidak puitis.

Tapi cukup untuk membuat dada Alinea terasa aneh.

“Ini masih kontrak, kan?” tanyanya cepat, seolah perlu memastikan.

“Tentu.”

Jawabannya stabil.

Namun jarak mereka tetap dekat.

Terlalu dekat untuk disebut profesional. Terlalu dekat hingga napas mereka seolah saling memburu.

Dari dalam rumah, suara tawa terdengar bersahut-sahutan. Dunia di dalam sana sedang merayakan sandiwara, sementara di sini, di bawah remang lampu taman, kenyataan justru terasa begitu menyesakkan.

Arsenio mengulurkan tangannya.

“Masuk lagi.”

Alinea menatap tangan itu.

Hangat. Tegas. Familiar.

Dia menggenggamnya.

Dan kali ini—

Arsenio tidak langsung melepas.

Saat mereka melangkah masuk kembali ke dalam rumah, mata Nadia langsung tertuju pada satu titik yaitu posisi tangan mereka.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum Nadia benar-benar hilang—terhapus bersih seolah tidak pernah ada. Di sudut lain, Mama mengamati segalanya dalam diam, mencatat setiap detail tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Permainan baru saja dimulai. Di depan keluarga besar yang menanti, di depan publik yang mulai berbisik, segalanya tampak masih terkendali. Namun, jauh di dalam sistem hubungan mereka, glitch mulai muncul lebih sering, merusak logika yang selama ini mereka agungkan.

Tapi tentu saja... di atas kertas, ini semua masih sekadar kontrak.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!