"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Ternyata dia selingkuh.
Bu Nora akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap pagi harinya. Keadaan Bu Nora sudah lebih baik setelah mendapat perawatan dokter.
Ketika waktu sarapan, Bu Nora menolak menu dari rumah sakit. Bu Nora tidak mau mencicipi bubur dari rumah sakit.
"Ayolah, Bu, makan sedikit saja. Biar cepat pulih." bujuk Ribka menyuapi ibu mertuanya.
"Huek! Ibu mual dengan menu rumah sakit ini." gerutu Bu Nora.
"Trus Ibu maunya apa. Bakso?" sindir Ribka kesal karena mertuanya yang pilih-pilih makanan. Bu Nora melotot. Ribka acuh saja.
"Kamu kok kasar banget sama Ibu, Rib! Ibu kan sedang sakit?" tegur Raymond tidak suka dengan sikap istrinya.
"Yang cari penyakit siapa? Yang repot siapa?" dengus Ribka yang masih menyimpan kesal kepada suaminya. Akibat perkataannya tadi malam.
"Sudah, sudah. Masalah itu terus yang kau ungkit." tegur Raymond kesal.
"Tidak suka ya, Bang? Apa bedanya dengan yang kamu lakukan padaku tadi malam." sahut Ribka enteng. Dia berdiri menyimpan bubur yang ditolak Bu Nora.
"Ibu kan belum makan? Masak sudah kamu simpan buburnya."
"Abang lihat sendiri kan, Ibu nolak? Apa harus aku paksa?" ucap Ribka tidak mau kalah. Membuat Raymond lagi-lagi kaget dengan perubahan istrinya.
"Kamu ini. Kok jadi aneh sejak kemarin. Kesambet jin ya!"
"Sudah, sudah! Ibu pusing melihat kalian jadi ribut." teriak Bu Nora kesal melihat ulah menantunya. "Kamu Rib, kok tidak sopan begitu sama suami kamu?"
"Tergantung perlakuan anak Ibu juga. Aku bereaksi karena sikapnya juga." sahut Ribka membuat Raymond sedikit shock. Istrinya benar-benar berubah sejak kemarin.
"Kamu cemburu karena Khaty ya? Yah, kamu memang pantas cemburu padanya. Karena dia lebih baik segalanya dari kamu. Dia itu cantik. Baik! Wanita karir dan mandiri. Beda kelas dengan kamu!" ucap Raymond tanpa perasaan.
"Kalau begitu suruh saja dia yang merawat Ibu. Aku ingin lihat sehebat apa perempuan itu merawat Ibu." tantang Ribka. "Aku bisa merasakan perempuan itu bukan sekedar teman kantormu. Tapi selingkuhanmu, iya kan? Sekalipun aku tidak punya bukti. Tapi bahasa tubuh kalian sudah menjelaskan semuanya!" sentak Ribka tajam.
Bu Nora tiba-tiba terbatuk mendengar ucapan Ribka. Raymond juga wajahnya mendadak berubah mendengarnya. Tapi cuma beberapa detik. Wajahnya kembali berubah normal.
"Kamu memang sudah gila! Asal menuduh saja!" Raymond mengangkat lengannya. Hendak menampar Ribka.
"Reaksimu terlalu berlebihan. Apa karena perkataanku benar. Sehingga kamu hendak mengendalikan diriku?" tatap Ribka tajam penuh kebencian.
Raymond menurunkan tangannya. Istrinya benar, sikapnya terlalu berlebihan.
"Maaf! Kamu selalu saja membuatku emosi." Raymond menurunkan emosinya. Dia tidak boleh membuat Ribka curiga lebih jauh lagi. Apalagi Khaty mau datang menjenguk ibunya.
"Ribka, Ibu minta maaf ya. Karena Ibu telah merepotkanmu. Semua ini salah Ibu." Bu Nora berusaha mendinginkan suasana yang memanas. Dia tidak ingin anaknya keceplosan karena emosi. Sehingga merusak semua rahasia yang baru diketahuinya semalam.
Ribka mendelik curiga. Tumben ibu mertuanya mau meminta maaf. Apakah Ibu mertuanya mengetahui sesuatu. Atau merasa kalau ucapan anaknya benar-benar salah. Selama ini ibu mertuanya tidak pernah membelanya. Sebaliknya malah mengkompori anaknya.
"Ibu memang tidak selera melihat bubur yang dari rumah sakit. Ibu pengen bubur masakanmu. Kamu pulanglah dulu. Biar Ray yang menjaga Ibu." bujuk Bu Nora lembut. Ribka mendengus kesal. Ibunya berubah lembut hanya karena ada keinginannya.
"Aku telepon Alisya saja. Supaya dia masak bubur untuk Ibu." tolak Ribka. Selain karena kesal Ribka juga malas karena merasa dimanfaatkan. Sesekali menolak keinginan mereka apa salahnya. Semalam ibu mertuanya tanpa sunkan memuji Khaty di depannya.
"Hem, aku punya ide. Ibu minta tolong saja pada Khaty supaya datang menjenguk Ibu. Sekalian biar dibawakan bubur. Ribka yakin dia gak bakalan menolak Bu. Malah senang bisa punya alasan menjenguk Ibu." ucap Ribka enteng. "Aku akan pulang, nanti sore aku balik lagi kemari."
"Hei, ngomong apaan kamu. Kenapa malah Khaty yang kau suruh bawa bubur? Kamu kan menantu Ibu?" tatap Raymond bingung. Istrinya benar-benar telah kesambet jin. Omongannya ngelantur sejak tadi.
"Hem aku yakin Khaty akan melakukannya dengan senang hati. Bukankah dia baik, lembut dan penuh perhatian?" ucap Ribka datar. Ribka benar-benar bersiap hendak pulang. Tapi suara dering ponsel Raymond membuat gerakannya terhenti.
"Kenapa gak diangkat, Bang. Siapa tau itu Khaty. Sekalian saja ngomong ke dia. Atau aku yang akan bilang." Ribka hendak meraih ponsel suaminya dari tangan. Tapi dielakkan oleh Raymond.
"Apaan sih?" sentaknya. Ribka tersenyum sinis. Raymond melihat nama kontak di layar ponselnya. Memang benar Khaty yang menelpon.
"Ayo angkat Bang! Itu pasti Khaty ya kan?" Raymond menekan tombol terima. Terdengar samar oleh Ribka suara Khaty di seberang. Sementara Raymond merasa risih karena ada Ribka.
"Iya ada apa?" sahut Raymond datar. Khaty mengerutkan keningnya di seberang. Karena jawaban Raymond berbeda dengan yang ditanyakannya.
"Ibu tidak mau sarapan bubur dari rumah sakit. Bisakah kamu bawakan sekalian nanti?" lanjut Raymond. Berharap Khaty tidak banyak bicara lagi. Dan mengerti maksud ucapannya.
Tentu saja Khaty semakin bingung. Raymond menyuruhnya membawakan bubur ke rumah sakit? Apakah istrinya sedang mencurigai mereka.
"Baik, saya bawakan nanti." akhirnya Khaty mengiyakan permintaan Raymond.
"Dia menolak?" ucap Ribka. Curiga karena durasi telepon yang singkat. Juga nada bicara Raymond yang datar.
"Tidak, dia akan bawakan bubur nanti buat Ibu." sahut Raymond sinis.
"Wah, hebat! Aku bilang juga apa. Dia pasti tidak akan menolak." ucap Ribka tersenyum penuh misteri. Membuat Raymond dan Bu Nora semakin gerah. Entah apa yang akan direncanakan Ribka.
"Aku pulang sekarang. Setidaknya aku sedikit lega karena ada yang menggantikanku sementara. Aku pulang Bu." Ribka menarik napas lega. Seolah-olah bebannya terlepas begitu saja.
"Huh! Ada apa dengan Ribka, Ray. Sikapnya sangat mencurigakan Ibu. Apa dia sudah tau sesuatu tentang Khaty?" bisik Bu Nora, setelah memastikan menantunya sudah pergi.
Tanpa mereka ketahui kalau Ribka balik lagi karena ada yang tertinggal. Sehingga dia mendengar dengan jelas percakapan suami dan ibu mertuanya.
"Tau tentang apa, Bu?"
"Tentang Khaty lah. Kok kamu nekad sekali mengundangnya di ultah Ibu. Tanpa bilang apa-apa sebelumnya. Apa benar kalau kamu selama ini telah menyembunyikannya dalam rumah tangga kamu. Sejak kapan kamu menikahinya diam-diam?"
Apa? Seru hati Ribka tidak menduga kenyataan kalau suaminya sudah menikahi Khaty. Dia baru curiga kalau mereka selingkuh tetapi mereka malah sudah menikah.
"Baru dua tahun ini, Bu. Setelah dia bercerai dengan suaminya. Selama ini kami terpaksa berpisah. Karena dia dipaksa menikah dengan paribannya. Setelah papanya meninggal dunia, dia mengajukan cerai dari suaminya.***