Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6 Ikhlas & Rida
Happy reading
Hari ini berbeda dengan hari-hari yang telah terlewati. Hawa berangkat ke kampus tanpa menunggu jemputan Damar--sahabat yang kini menyandang status 'calon kakak ipar'.
Ia juga menolak tawaran Hasan--sopir pribadi ayahnya yang berniat untuk mengantar, dan lebih memilih memesan taxi online.
Saat ini yang diinginkannya hanya menepi, menyendiri. Menata kepingan hati yang hancur berantakan. Membasuh jiwa yang terluka.
Benaknya mendengungkan kata; mulai detik ini, ia harus membiasakan diri tanpa Damar--sahabat yang dulu selalu ada untuknya.
Ikhlas dan rida, dua kata yang begitu ringan di lidah. Namun ternyata... terasa begitu berat dan luas saat ia mencoba memeluknya dalam kenyataan.
Di sepanjang perjalanan, Hawa berulang kali menarik napas panjang, mencoba meredam riuh yang berkecamuk di dalam kepalanya. Berusaha keras menenangkan hati dan pikiran yang gaduh, mencari sedikit saja ruang damai di tengah sesak yang menghimpit.
Keheningan yang sedari tadi menyelimuti seisi mobil tiba-tiba terpecahkan oleh suara notif pesan.
Atensi Hawa yang semula tertuju pada pemandangan di luar jendela, seketika beralih pada gawai di genggaman tangan.
Ibu jarinya bergerak refleks--menggeser layar gawai.
Sepasang mata indahnya mengejap pelan saat membaca nama yang tertera di sana.
New message from: Rama.
Hawa, kamu baik-baik saja?
Hawa berusaha membalas pesan Rama dengan jemari yang bergetar hebat. Pertahanannya runtuh, luruh bersama air mata yang jatuh.
Aku... baik. Maaf, tadi aku terpaksa meminta tolong
Send
Pesan terkirim dan langsung dibaca oleh Rama.
Gawai bergetar, mengiringi nada dering panggilan telepon.
Sesaat, Hawa dihinggapi ragu. Matanya terpaku menatap layar yang berpijar. Namun sebelum panggilan itu terputus, jarinya bergerak pelan menggeser ikon hijau.
"Assalamu'alaikum, Hawa." Sapa Rama. Suaranya terdengar rendah dan tenang.
"Wa'alaikumsalam, Rama..."
Kalimat itu meluncur lirih, sarat akan beban yang tak terucap.
Sambil menggigit bibir, Hawa menyapu bulir bening di pipinya, berusaha mengubur isak yang nyaris lolos.
"Kamu di mana?" tanya Rama.
Ia tidak berkeinginan untuk meminta penjelasan mengenai dusta yang tadi dilontarkan oleh Hawa.
Rama yakin, Hawa terpaksa melakukan itu. Ia paham, menerima, dan tidak menghakimi.
"Aku... di perjalanan, menuju kampus."
"Bisa ketemu di Masjid At Taqwa?"
Hawa bergeming. Berpikir dan menimbang. Ada perasaan bimbang, namun ada juga keinginan yang mendorongnya untuk bertemu. Menjadikan Rama sebagai teman atau mungkin sahabat yang bisa mendengar kesah.
"Bisa," ucapnya pelan.
"Aku tunggu di halaman masjid ya."
"Iya."
Sambungan telepon terputus seusai Hawa dan Rama berbalas salam.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, mobil yang membawa Hawa tiba di halaman Masjid At Taqwa--titik temu yang dijanjikan oleh Rama.
Di sana, Rama sudah duduk menunggu. Menyambut Hawa dengan senyum khas yang tulus.
"Duduk, Non," ujarnya sambil menarik kursi rotan, mempersilakan Hawa untuk duduk di hadapan. Ia sengaja menyematkan panggilan 'Non' untuk mencairkan suasana.
Hawa mengangguk pelan, membawa tubuhnya duduk di atas kursi itu.
"Maaf," katanya lirih sembari menunduk, menyembunyikan sepasang matanya yang sembab.
"Aku maafkan." Rama membalas. Nada suaranya terjaga, tetap rendah dan tenang. Ada senyum tipis yang tersemat sebagai pengiring.
"Tadi, aku terpaksa berdusta. Aku nggak kuat. Aku ingin segera lari..."
Rama terdiam. Membiarkan Hawa menguras kata yang masih ingin terucap.
"Aku kira... aku udah ikhlas dan ridho, nyatanya hatiku masih sakit."
Setetes air mata jatuh mengiringi kalimat yang terucap dari bibir Hawa. Suaranya serak dan bergetar.
Rama menarik napas panjang, lalu menatap Hawa sekilas.
"Ikhlas dan rida... memang sangat mudah diucap, namun berat di rasa, Hawa. Prosesnya nggak bisa instant. Seperti studi tanpa akhir. Kita mempelajarinya setiap hari, mempraktikkannya setiap saat, dan menempuh ujiannya secara mendadak. Hasilnya bukan ijazah, tapi ketenangan batin dan kebahagiaan hakiki," tuturnya bijak.
Hawa terdiam, menelaah setiap kata yang diucapkan oleh Rama.
Hening
Sunyi
Hawa menuntun jemarinya menyeka jejak air mata.
"Yuk, Sholat Dhuha," ujar Rama sambil membawa tubuhnya beranjak.
Hawa mengangkat wajahnya perlahan. Menatap lelaki yang dua hari ini memberi pencerahan dan menuntunnya menuju jalan cahaya.
Tidak ada alasan untuk menolak.
Hawa mengindahkan ajakan itu.
Memaksa tubuhnya untuk turut beranjak, kemudian melangkah bersama Rama.
Jarak mereka tidak dekat, juga tak terlalu jauh.
Ada sekat yang masih harus dijaga, sebelum kata 'halal' disandang. Itu prinsip yang dipegang oleh Rama.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengintai dari kejauhan, menyaksikan keakraban itu dengan rahang terkatup rapat dan gemuruh cemburu yang nyaris meledak di dalam dada.
🍁🍁🍁
Bersambung
Up nya segini dulu ya, Kak. Authornya ngantuk berat. 😉
Jangan lupa tinggalkan jejak like di setiap bab.
Tampol vote.
Beri komentar & ⭐⭐⭐⭐⭐
Terima kasih.
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen