NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 10

Namun, di balik kegelapan hutan perbatasan, Laras tidak menemukan tentara bayaran dengan senjata laras panjang. Ia justru menemukan sesuatu yang jauh lebih membingungkan.

Sepuluh kendaraan listrik hitam berhenti dalam formasi melingkar sempurna. Pintu-pintu terbuka serentak, dan dari sana keluar orang-orang berpakaian putih bersih dengan logo "Proyek Arca" di dada mereka. Mereka tidak membawa senjata, melainkan alat pemindai tanah frekuensi tinggi.

Penemuan yang Mengubah Segalanya

"Berhenti di situ!" Laras melompat dari motornya, tangannya siaga di panel kontrol drone. Di belakangnya, tim elit generasi baru telah mengepung area dengan senapan gelombang elektromagnetik.

Seorang pria tua dengan janggut putih rapi keluar dari kendaraan utama. Ia tidak tampak takut. Ia justru menatap Laras dengan tatapan yang sangat dalam, hampir seperti seorang kakek yang melihat cucunya.

"Laras Baskoro," suara pria itu lembut namun bergetar. "Kami tidak datang untuk chip-mu. Kami datang karena chip itulah yang akhirnya membangunkan sinyal di bawah tanah ini."

Laras mengernyit. "Sinyal apa?"

Pria itu menunjuk ke arah bukit tempat plakat tua Aryo berdiri. "Desa ini bukan sekadar jalur strategis atau tambang mineral. Di bawah akar pohon-pohon tua itu, tertimbun Arca Kuno yang terbuat dari material yang tidak berasal dari bumi ini. Selama puluhan tahun, energi dari material itu telah melindungi desa ini secara tidak sadar—memberikan insting yang tajam pada ayahmu, kecerdasan pada ibumu, dan kini, kekuatan padamu."

Rahasia di Balik Kekuatan Aryo

Di markas, Aan tiba-tiba berteriak di depan monitornya. "Yo! Lihat ini! Sensor gravitasi di bukit selatan mendadak gila! Ada struktur masif yang muncul di radar... ukurannya sebesar satu kota!"

Aryo dan Sinta langsung memacu motor tua mereka menuju perbatasan. Saat mereka sampai, tanah mulai bergetar pelan. Bukan gempa bumi, melainkan seperti jantung yang berdetak kembali setelah tidur ribuan tahun.

Pria tua dari Proyek Arca itu berlutut, menyentuh tanah. "Keluarga Baskoro bukan sekadar pemilik lahan. Kalian adalah penjaga yang dipilih secara genetik oleh teknologi kuno ini. Panti asuhan itu, Grup Hitam, Konsorsium... mereka semua hanya bidak yang digerakkan oleh frekuensi Arca ini agar kalian tetap waspada."

Benturan Dua Peradaban

"Jadi semua perjuangan kami... hanya bagian dari eksperimen teknologi kuno ini?" tanya Aryo, suaranya parau menahan emosi. Seluruh hidupnya, rasa sakitnya di panti asuhan, perang jalanannya, semuanya terasa seperti skenario yang diatur.

"Bukan eksperimen, Aryo," sahut Sinta, sambil menggenggam tangan suaminya. Ia melihat ke arah Laras yang kini berdiri di tengah lingkaran cahaya biru yang keluar dari sela-sela tanah. "Ini adalah persiapan. Dunia di luar sana sedang hancur karena krisis energi, dan Arca ini adalah satu-satunya harapan untuk memulai peradaban baru yang bersih."

Tiba-tiba, langit malam terbelah oleh cahaya perak. Bukan helikopter, tapi objek-objek melayang yang jauh lebih canggih milik pemerintah pusat yang telah memantau Proyek Arca secara rahasia selama bertahun-tahun. Mereka datang untuk mengambil alih aset terbesar umat manusia ini secara paksa.

Perang untuk Masa Depan Manusia

Aryo memakai kembali sarung tangan kulitnya yang sudah tua. Ia menatap Laras, lalu menatap Dio dan Aan yang sudah bersiaga.

"Laras, kau punya teknologi digital. Dio, kau punya keberanian jalanan. Aan, kau punya mata di langit," perintah Aryo, suaranya kembali menggelegar seperti pemimpin ksatria dulu.

"Ayah, apa yang harus kita lakukan?" tanya Laras.

Aryo menatap ke arah struktur Arca yang mulai muncul dari balik tanah bukit—sebuah piramida logam hitam yang megah. "Kita tidak akan membiarkan pemerintah atau korporasi mana pun memiliki ini. Jika Arca ini adalah jantung desa kita, maka kita adalah pelindungnya. Bukan sebagai pemilik, tapi sebagai pelayan masa depan."

Malam itu, "Lembah Mawar" tidak lagi berperang melawan preman atau politikus. Mereka berperang melawan ambisi dunia yang ingin menguasai sumber daya alien di bawah kaki mereka.

"Mawar Hitam, aktifkan protokol kedaulatan penuh!" teriak Aryo.

Ratusan motor elektrik senyap melesat menuju langit, menggunakan teknologi gravitasi yang baru saja dipancarkan oleh Arca tersebut. Desa itu kini terbang, terangkat dari tanah, menjadi sebuah kota melayang—sebuah benteng terakhir kemanusiaan yang mandiri dan tak tertembus.

Negara Kota Melayang "Astra Mawar" kini mengambang di ketinggian 30.000 kaki, tersembunyi di balik awan buatan yang diciptakan oleh frekuensi Arca. Di bawah mereka, dunia lama tampak seperti hamparan lampu yang penuh dengan keserakahan dan perebutan sisa-sisa energi fosil.

Namun, kedamaian di atas awan itu tidak bertahan lama.

Blokade Langit

"Ayah, radar pasif kita mendeteksi pergerakan di stratosfer," suara Laras terdengar melalui sistem komunikasi saraf pusat kota. "Bukan pesawat komersial. Ini adalah Skuadron Vultur—unit pencegat ruang angkasa milik aliansi global. Mereka menggunakan satelit laser untuk mengunci koordinat Arca kita."

Aryo berdiri di anjungan utama Astra Mawar. Di sampingnya, Sinta sedang mengelola distribusi energi Arca agar tetap stabil untuk menghidupi ribuan warga desa yang ikut terangkat bersama tanah mereka.

"Mereka ingin menjatuhkan kita," gumam Aryo. "Jika kita jatuh, Arca ini akan meledak dan menghancurkan setengah dari benua ini."

"Mereka tidak peduli pada kehancuran itu, Yo," sahut Sinta dingin. "Bagi mereka, lebih baik Arca ini hancur daripada dimiliki oleh 'rakyat jelata' seperti kita."

Perang Frekuensi

Tiba-tiba, langit di sekeliling Astra Mawar menyala merah. Satelit laser dari luar angkasa mulai menembakkan denyut energi tinggi ke arah kubah pelindung mereka. Guncangan hebat melanda kota. Warga di pemukiman mulai panik, namun tim Dio segera bergerak menenangkan mereka dengan protokol evakuasi yang sudah terlatih sejak era geng motor dulu.

"Laras! Gunakan chip enkripsimu untuk membalikkan polaritas laser mereka!" perintah Aryo.

Laras duduk di kursi kendali, jari-jemarinya menari di atas antarmuka cahaya. "Paman Aan, aku butuh akses ke satelit komunikasi mereka. Kita akan melakukan hijack massal!"

Aan, yang kini tubuhnya sebagian sudah terintegrasi dengan sistem komputer kota (bio-mekanik), memejamkan mata. "Akses terbuka. Laras, kunci target pada satelit induk mereka di orbit rendah!"

Serangan Balik "Duri Mawar"

Laras tidak menembakkan senjata fisik. Ia mengirimkan virus frekuensi melalui jalur laser yang sedang menyerang mereka. Dalam hitungan detik, seluruh sistem persenjataan Skuadron Vultur di bawah sana mengalami gangguan massal. Pesawat-pesawat mereka kehilangan kendali, mesinnya mati mendadak, dan mereka terpaksa melakukan pendaratan darurat.

Namun, ancaman sebenarnya muncul dari atas. Sebuah kapal induk raksasa—sebuah kota besi yang dibangun oleh konsorsium global—muncul dari balik bayangan bulan.

"Itu The Leviathan," bisik Aan. "Mereka membawa jangkar magnetik. Mereka berniat menarik kita keluar dari atmosfer bumi menuju ruang hampa, di mana kita akan kehabisan oksigen."

Pengorbanan Sang Ksatria Tua

Aryo menatap Sinta, lalu menatap Laras. Ia tahu teknologi mereka belum cukup kuat untuk melawan Leviathan dalam duel energi murni.

"Laras, ambil alih kendali penuh Astra Mawar. Bawa kota ini menuju titik koordinat yang dikirim oleh sinyal Arca... ke sisi gelap bulan," perintah Aryo pelan.

"Lalu Ayah bagaimana?" Laras menoleh dengan mata berkaca-kaca.

Aryo tersenyum, senyum yang sama saat ia pertama kali menjabat tangan Ayah Sinta puluhan tahun lalu. "Aku akan membawa motor lamaku. Ada satu fungsi di Arca ini yang belum kalian tahu. Protokol 'Gugur Mawar'."

Aryo menaiki motor kustomnya yang kini telah dimodifikasi dengan pendorong plasma. Di punggungnya, ia membawa inti energi kecil dari Arca. Ia melesat keluar dari lubang peluncuran Astra Mawar, menembus ruang hampa udara dengan kecepatan cahaya.

Cahaya di Kegelapan

Aryo bukan menuju Leviathan untuk menghancurkannya. Ia menuju ke pusat satelit komunikasi global yang menjadi otak dari seluruh armada musuh.

"Yo! Jangan lakukan itu!" teriak Sinta melalui radio.

"Sinta... jaga Laras. Jaga desa kita," suara Aryo terdengar tenang di tengah deru angin ruang hampa. "Dulu aku menjaga aspal, sekarang aku menjaga langit kalian."

Aryo menabrakkan motornya tepat di jantung pusat kendali musuh, melepaskan seluruh energi inti Arca dalam satu ledakan EMP (elektromagnetik) raksasa yang mematikan seluruh teknologi perang di bumi selama 24 jam.

Dalam kegelapan teknologi itu, Astra Mawar berhasil menghilang, melesat menuju koordinat rahasia di bulan, meninggalkan bumi yang kini terpaksa belajar kembali apa artinya hidup tanpa dominasi mesin.

Epilog: Legenda di Balik Bintang

Beberapa bulan kemudian, di sebuah pemukiman indah di kawah bulan yang telah di-terraform oleh energi Arca, Laras berdiri menatap bumi yang tampak biru di kejauhan.

Di sampingnya, sebuah patung perunggu seorang pria di atas motor besarnya berdiri tegak. Warga Astra Mawar tidak menangisi Aryo. Bagi mereka, Aryo tidak mati. Ia telah menjadi frekuensi yang melindungi mereka setiap kali angin bintang berhembus.

"Ayah benar," bisik Laras sambil memegang chip di lehernya. "Mawar tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berpindah taman."

Sinta berdiri di belakangnya, memegang jaket kulit hitam milik Aryo yang tertinggal. "Dan sekarang, Laras... tugasmu adalah memastikan taman baru ini tidak mengulangi kesalahan bumi."

Di langit hitam bulan, ribuan motor elektrik baru mulai berpatroli, menjaga peradaban baru kemanusiaan yang dibangun dari keringat seorang ksatria jalanan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!