Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dirumah Tanteku
Indira sama sekali mengatakan bahwa Wisma adalah cowoknya, namun dirinya sendiri pun langsung duduk diruang tamu seperti biasanya ketika dia datang. Indira sudah menganggap bahwa rumah dari Tante nya itu sama seperti rumahnya sendiri, sehingga sama sekali tidak ada rasa sungkan diantaranya.
Indira lalu menyuruh Wisma untuk duduk didekatnya, melihat tingkah Indira yang seperti itu terlihat Wisma seperti sedikit tidak menyukainya. Indira sendiri seolah olah berkuasa ditempat itu, oleh karena Wisma seperti malu dengan apa yang dilakukan oleh Indira saat ini, bahkan rasanya ia lah yang bertanggung jawab dengan tindakan Indira.
Tante nya pun masuk kedalam rumah untuk mengambil hidangan buat keduanya, keduanya adalah tamu dari jauh sehingga ia ingin menyiapkan minuman untuk keduanya karena telah melakukan perjalanan jauh. Kini diruang tamu itu hanya tersisa Indira dan Wisma saja, karena yang lainnya masuk kedalam rumah.
"Kenapa? Kayak tidak suka begitu, aku disini juga sudah biasa seperti ini, lagian ini juga Tante ku sendiri," Ucap Indira sambil bertanya kepada Wisma.
"Ya setidaknya jangan begitulah, orang tuan rumah aja belum menyuruh untuk masuk masak main nyelonong aja kayak gitu, kan nggak sopan. Lain kali jangan begitu," Ucap Wisma yang mengutarakan hal yang tidak ia sukai.
"Aku kesini juga bukan sekali dua kali, aku sama Tante ku juga biasanya begini kok,"
Baru saja bertemu sudah langsung bertengkar keduanya, Wisma hanya bisa berdiam diri tanpa melawan ucapan Indira karena ia akan merasa malu sendiri apabila sampai didengar oleh orang orang yang ada disana. Indira sendiri juga tetap mempertahankan prinsipnya itu, sudah sering dirinya datang ketempat itu, dan Tante nya juga menyuruhnya untuk menganggap rumah sendiri.
Sejak kecil Indira diasuh oleh Tantenya tersebut hingga Tantenya menikah jauh, sehingga hubungan keduanya bisa dibilang sangat dekat, dan tidak ada rasa sungkan diantara keduanya. Ketika berkunjung dirumah Indira juga, Tantenya seperti biasa biasa saja tanpa adanya rasa sungkan diantara mereka, begitupun sebaliknya.
"Terus kenapa tadi waktu Tante bertanya tentang aku nggak kamu jawab?" Tanya Wisma lagi untuk mengalihkan pembicaraan sebelumnya.
"Ya nggak papa, emang hubungan kita apa? Toh kita kan hanya teman biasa," Jawab Indira.
"Jadi kamu benar benar nggak nganggep aku sebagai pacar gitu? Kan kita pacaran sudah lama,"
"Entahlah, aku rasa kita bukan pacar kok, waktu kamu nembak juga aku belum menerimanya. Malah kamu yang merajuk terus katanya malu gara gara nembak aku tapi nggak aku terima," Jawab Indira.
Baru juga bertemu namun timbul masalah baru diantara mereka, keduanya sama sama kerasnya sehingga jika ribut maka tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Indira sendiri yang sudah terbiasa menghadapi apapun dengan sendiri pun merasa bahwa apa yang dia lakukan itu benar, apalagi selama ini tidak ada yang membimbingnya dalam bersikap baik kepada orang lain.
Kedua orang tuanya sibuk dengan dunianya sendiri sendiri meninggalkan dia yang berjuang melawan kerasnya dunia sendiri, bahkan ketika Ayahnya meninggal pun dirinya merasa seperti tidak kehilangan apapun dalam hidupnya. Karena sebelumnya ia telah kehilangan sosok Ayahnya ketika masa kecilnya, sehingga dirinya sudah terbiasa tanpa sosok tersebut meskipun sosok itu telah diambil oleh Yang Maha Kuasa sendiri.
Tak beberapa lama kemudian, Mahmudah pun datang sambil membawakan beberapa makanan untuk mereka, mereka pun dipersilahkan untuk memakan makanan yang telah disediakan. Wisma nampak malu malu untuk memakannya sementara Indira langsung memakannya tanpa ada rasa malu, ia bahkan terlihat seperti biasa saja didepan saudaranya itu.
"Tante, jambu mente nya ada nggak? Pengen banget dibuatin sambal jambu mente," Tanya Indira.
"Ada banyak, tapi di sawah belom dipanen. Kalo mau nanti Tante ajak buat manen," Ucap Mahmudah.
"Siap, nanti ngambilnya nggak usah banyak banyak, cukup buat aku aja,"
"Kamu nginep ta disini? Atau pulang nanti sore?"
Indira pun diam mendengar pertanyaan itu, biasanya menang Indira kalau kesana selalu menginap dua hari semalam, sehingga ketika Indira datang bersama dengan Wisma ia pun menjadi bingung. Indira ingin menginap disana, namun ia juga merasa tidak enak dengan kehadiran Wisma yang ada disebelahnya itu.
"Nginap aja nggak papa, aku juga punya saudara dekat sini kok, nanti aku nginep dirumah saudaraku," Ucap Wisma.
"Nggak tau, lihat aja nanti gimana enaknya. Kalo pulang juga butuh waktu yang lama buat perjalanannya,"
"Nginep disini aja, lagi pula nanti subuh subuh kita ke desa kelahiranmu Dira, kan bisa langsung berangkat nantinya tanpa harus nunggu nunggu lagi,"
Mahmudah belum sempat untuk datang menemui kedua orang tuanya di lebaran ini yakni Kakek dan Nenek Indira dari Ayah Indira, sehingga inginnya ia datang bersama dengan Indira agar Indira bisa membonceng anaknya. Oleh karena itu, biasanya Indira akan menginap disana untuk pulang bersama sama di esok harinya, namun kali ini ia datang bersama dengan Wisma.
Mereka pun mengobrol santai disaat itu untuk mengisi kekosongan, tanpa terasa bahwa malam pun telah tiba. Mau tidak mau Indira dan Wisma harus menginap disana, karena Tantenya Indira terus memaksa untuk mereka menginap disana agar esok harinya tidak kalang kabut harus menunggu kedatangan dari Wisma.
Indira tidur bersama dengan Tantenya sementara Wisma tidur diruang tamu sendirian, Indira sendiri pun tidak mempedulikan hal itu, Indira sendiri juga jengkel dengan Wisma karena ia mengambil ponsel milik Indira untuk digunakan ngegame. Indira sendiri tidak bisa tidur jika tidak memainkan ponselnya terlebih dahulu, namun Wisma sama sekali tidak peduli dengannya.
******
Alarm waktu mendekati subuh pun berbunyi, biasanya Indira menyalakan alarm itu untuk membangunkannya sebelum subuh, agar dirinya bisa bersiap siap memasak makanan dan sarapan sebelum berangkat kerja. Jika alarm itu tidak dibunyikan maka bisa dipastikan bahwa ia akan terlambat untuk masuk kerja, dan ia akan sering tidak masuk kerja karena terlambat.
Indira pun bangun dari tidurnya sebelum semua orang yang ada didalam rumah itu bangun, dirinya pun lalu mendekat kearah ponselnya untuk mematikan alarm itu agar dia bisa tidur kembali. Setelah mencari ponselnya itu, akhirnya ia menemukan ponselnya dengan keadaan batrai yang tinggal belasan persen lagi.
"Ck... Batrai segini nggak di cas," Indira pun berdecak kesal, ia sangat tidak menyukai apabila batrai ponselnya habis.
Ponsel adalah benda paling penting baginya untuk mengubungi siapapun, bahkan ponsel miliknya sama sekali tidak pernah kehabisan paketan karena takut jika sewaktu waktu ada kebutuhan mendesak. Sehingga ketika batrainya tinggal sedikit, hal itu langsung membuat Indira tidak suka karenanya, dan akan menyalahkan siapapun yang sebelumnya memakainya.
Indira dengan kesalnya langsung meninggalkan Wisma yang tengah tertidur pulas itu, dirinya pun langsung segera mengisi daya baterai ponselnya tersebut agar tidak sampai mati. Indira pun memainkan ponselnya untuk melihat apa saja yang di cek oleh Wisma, namun ia sama sekali tidak melihat apapun hanya ada file game yang tertinggal diberkas.
"Dira kok sudah bangun," Ucap Mahmudah ketika mengetahui bahwa Indira sudah duduk sambil bermain ponselnya.
"Biasanya bangun jam segini soalnya, Tan. Habis itu nggak bisa tidur lagi," Jawab Indira.
"Oalah, bentar ya Tante belom masak, habis ini beli aja biar nggak lama lama, kan kita mau ke Jombang." Ucap Mahmudah.
Jombang adalah tanah kelahiran dari Indira, disanalah terdapat begitu banyak perjuangan Yanti dan luka terdalam yang dimiliki oleh Indira. Indira tidak ikut pulang bersama Yanti, dirinya hanya mengantarkan anaknya saja digang rumah Indira, tanpa Indira ikut pulang bersamanya karena Indira sendiri masih terluka.
"Halah Tan, gampang lah soal itu," Ucap Indira.
"Yaudah Tante ke kamar mandi dulu, kalo butuh apa apa cari aja sendiri. Di kulkas ada jajan, kamu makan,"
"Iya Tan."
Mahmudah langsung pergi meninggalkan Indira yang ada didalam kamar itu, Indira juga mendengar bahwa Mahmudah tengah membangunkan anaknya agar anaknya bisa bersiap siap sebelum pulang kampung. Indira sendiri juga langsung bangkit dari duduknya untuk membangunkan Wisma, dan cukup lama akhirnya Wisma pun bisa ia bangunkan.
"Habis ini pulang loh," Ucap Indira.
"Laki mah cepet kalo siap siap, nggak kayak perempuan," Ucap Wisma.
"Iya tapi ya jangan molor molor begitu."
"Kamu chat apa aja sama Nia? Curhat tentang apa aja ke Nia? Aku kemarin baca chatmu dengan Nia sampek malem."
"Itu urusan pribadiku sama Nia. Udah tau batrainya habis kenapa nggak di cas? Kamu ngegame ya, tuh paketan aja habis 5 GB semalaman,"
"Emang kenapa kalo ngegame? Ini hp ku juga kok,"
Wisma mengaku ngaku bahwa itu adalah ponsel miliknya, namun itu adalah hasil kerja keras Indira yang telah ia kumpulkan selama ini buat membeli ponselnya. Hasil dari jerih payahnya kerja di pabrik dengan hasilnya bekerja menulis novel selama ini, entah kenapa bisa di klaim menjadi ponsel miliknya.
"Dulu hp ku bagus sayang sekali, harganya 24 juta melayang begitu saja," Selalu saja kata kata itu yang diucapkan.
Indira selalu merasa bersalah apabila Wisma membahas mengenai ponselnya itu, sebelum keduanya berhenti berhubungan sebelumnya ada sebuah kejadian yang membuat Wisma membanting ponselnya sendiri. Kejadian waktu itu adalah Indira yang terus mengotot untuk pergi ke organisasinya menjalankan tugasnya, namun tidak diperbolehkan oleh Wisma biar bagaimanapun juga.
Indira yang tidak bisa meninggalkan kewajiban itu pun akhirnya bertengkar dengan Wisma, namun Wisma selalu mengatakan dalil bahwa dia adalah istrinya dan harus menurut sama suami. Padahal diantara keduanya sama sekali tidak ada hubungan suami istri, namun Wisma selalu menekannya dengan kalimat tersebut.
Indira tetap memaksa untuk pergi karena menjalankan kewajibannya, ia selalu menomorsatukan organisasinya karena disana dirinya bisa merasakan kenyamanan, dan organisasinya lah yang menjadi satu satunya sandaran hidupnya agar tidak salah melangkah. Oleh karenanya dia sampai berdebat hebat dengan Wisma, hingga akhirnya Wisma jengkel dan langsung membanting ponselnya hingga pecah dan mati.
Indira yang orangnya tidak enakan pun terus merasa bersalah akan hal itu, meskipun Wisma sudah memaafkan kesalahannya itu namun tetap saja Indira merasa tidak enak dengan lelaki itu. Sehingga bagaimana pun juga ia tidak bisa untuk tidak memaafkan apa yang dilakukan oleh Wisma, setiap kali Wisma mengungkit hal itu selalu menciptakan luka tersendiri bagi Indira.
Indira hanya bisa diam mendengar ucapan dari Wisma, Indira sendiri juga haus kasih sayang dari Ayahnya sehingga ia pun menjadi perhatian dari Wisma. Namun Wisma sendiri tidak memperdulikan hal itu, sikap manjain Indira selama ini hanya menjadi beban baginya dan terus memaksa Indira untuk bisa bersikap dewasa.
Setelah semuanya selesai, akhirnya mereka pun berangkat bersama sama menuju ke Jombang kota. Cukup lama perjalanan akhirnya mereka telah tiba juga disana namun Indira memerintahkan untuk berhenti di gapura sebuah desa, dan hal itu langsung diikuti oleh mereka.
"Sampai sini saja ya, Tan. Aku nggak ikut masuk kedalam." Ucap Indira.
"Lah kenapa? Nggak saliman dulu sama Kakek dan Nenek apa?" Tanya Mahmudah.
"Nggak usah," Ucap Indira.
"Baiklah kalo begitu, hati hati ya, dan terima kasih juga."
Indira pun menyerahkan barang bawaan dari Mahmudah kepadanya, karena sebelumnya barang itu dititipkan di motor Indira sehingga diperjalanan Indira yang membawa barang barang itu. Indira dan Wisma pun berpamitan kepada Mahmudah, sebagai salam perpisahan karena sebentar lagi mereka akan berpisah dan entah kapan mereka bisa bertemu kembali.
masih jd pacar ae di Peres mau saja 🤣. pa lagi dah di nikahi di jadi kan BABU gratisan pun mau di indira ini.
cewek kok bego mau di manfaat kan laki.
Aku ae orang kampung kurang kasih sayang Dr ortu pun gk sebego itu kok, gk bucin ma laki.
bikin indira nya jd perempuan yg kuat, tegas dan pintar jd gak mudah diperalat oleh laki2 sperti wisnu
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.