Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ketegangan di ruang rapat tadi ternyata hanya sumbu pendek yang menunggu ledakan. Sore itu, saat kantor mulai sepi, aku sedang merapikan berkas di meja kerjaku ketika sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya lampu meja.
Aku mendongak. Baskara berdiri di sana dengan rahang yang mengeras dan tatapan yang seolah ingin membakarku hidup-hidup.
"Ikut aku ke rooftop. Sekarang," desisnya rendah. Suaranya tidak meninggalkan ruang untuk bantahan.
Aku mengikutinya dalam diam. Langkah kakinya yang lebar mencerminkan kemarahan yang ia tahan sejak rapat tadi. Begitu pintu besi rooftop tertutup dengan dentuman keras, ia langsung berbalik menghadapku. Angin malam Jakarta bertiup kencang, menerbangkan rambutku, tapi suasana di antara kami jauh lebih badai.
"Apa maksudmu bersikap seperti itu tadi, Aruna?" suaranya meninggi. "Kamu menyerang Rasya secara personal di depan semua orang!"
Aku melipat tangan di dada, memasang topeng dinginku yang paling kokoh. "Itu disebut profesionalitas, Bas. Aku hanya mengkritik hasil kerjanya yang memang kurang maksimal. Kalau dia terlalu lembek untuk menerima kritik—"
"Jangan panggil dia lembek!" potong Baskara dengan bentakan yang membuatku tersentak. "Aku tahu persis apa yang sedang kamu lakukan. Kamu sedang menggunakan sikap cuek dan dinginmu itu untuk menyakiti orang lain, sama seperti yang kamu lakukan padaku selama dua tahun!"
Jantungku berdenyut nyeri mendengar namanya diseret dalam perbandingan ini. "Ini tidak ada hubungannya dengan masa lalu, Baskara. Ini soal pekerjaan."
"Bohong!" Baskara melangkah maju, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang maskulin—aroma yang dulu selalu kuremehkan. "Kamu sengaja menekan Rasya karena kamu tahu dia adalah orang yang menyembuhkanku dari luka yang kamu buat! Kamu merasa bersalah, tapi egomu terlalu tinggi untuk mengakuinya, jadi kamu memilih untuk menjadi jahat lagi, kan?"
Aku tertawa sinis, meski mataku mulai terasa panas. "Kamu terlalu percaya diri, Bas. Aku bahkan tidak memikirkanmu lagi."
"Benarkah? Lalu kenapa kamu pergi setahun lalu tanpa kata-kata tepat saat melihatku dengannya? Kenapa kamu menghindar sampai takdir menyeretmu kembali ke sini?" Baskara menatapku dengan benci yang nyata. "Dengar, Aruna. Dulu aku diam saat kamu abaikan. Aku diam saat kamu selingkuh dengan teman sekelasmu. Aku diam saat kamu memperlakukanku seperti sampah pengisi waktu luang. Tapi aku tidak akan diam kalau kamu mencoba menyentuh kebahagiaan Rasya."
Kalimat itu telak menghancurkan pertahananku. Gema penyesalan yang kusembunyikan di balik sikap cuekku kini meledak.
"Lalu aku harus bagaimana, Bas?!" teriakku akhirnya, suaraku pecah. "Aku harus melihatmu setiap hari tersenyum padanya dengan cara yang dulu kamu berikan padaku? Aku harus bersikap manis seolah aku tidak ingin mati rasa setiap kali melihat kalian berdua?"
Baskara terdiam sejenak, namun sorot matanya tidak melembut. "Kamu tidak berhak merasa sakit hati, Aruna. Kamu yang memilih untuk tidak mencintaiku selama dua tahun itu. Kamu yang membuangku. Jadi jangan bersikap seolah kamu adalah korban di sini."
Ia membuang muka, lalu berujar dingin sebelum melangkah pergi. "Mulai besok, bersikaplah sewajarnya. Jangan bawa-bawa tabiat burukmu dari masa lalu ke proyek ini. Karena bagiku, kamu yang sekarang tidak lebih dari sekadar rekan kerja yang menyebalkan. Tidak kurang, tidak lebih."
Baskara melangkah pergi, meninggalkanku sendirian di bawah langit Jakarta yang kelabu. Aku jatuh terduduk di lantai semen yang kasar. Topeng dingin yang kubangun seharian hancur total. Ternyata, menjadi cuek bukan lagi senjataku untuk menyakitinya, melainkan hukuman mati bagi perasaanku sendiri.