Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Canggung
Letisha memukul-mukul kepalanya mencoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.
Krek.
Pintu kamar itu terbuka membuat Letisha melihat ke arah pintu. Rakash seperti biasa di pagi seperti ini sudah terlihat rapi, dengan menggunakan kemeja berwarna putih dan hanya tinggal memakai jas saja untuk pergi ke kantor.
Rakash memasuki kamar dengan membawa nampan berisi minuman dan juga mangkuk kecil.
"Minumlah!" Rakash berdiri di samping ranjang memberikan segelas air putih pada istrinya.
"Dan setelah itu minum, ini jahe dengan campuran air lemon akan menghilangkan rasa pusing dan mabuk kamu," ucap Rakash meletakkan nampan tersebut di atas nakas dan sementara Letisha sedang menunggu air putih.
"Hmmmm, kamu yang mau aku pulang?" tanyanya.
Rakash melihat istrinya dengan tatapan serius, wajar jika Letisha tidak mengingat kejadian terakhir yang mereka lakukan.
"Ini terakhir kalinya aku menjemputmu dalam keadaan seperti itu. Jika kamu melakukannya lagi. Aku kenapa tidak akan mengizinkanmu keluar rumah walau hanya satu jam saja," tegas Rakash terdengar begitu menakutkan saat memberi ancaman.
Letisha sampai terdiam. Rakash tidak banyak bicara dan kemudian berlalu, tetapi tangannya ditahan Letisha membuat Rakash melihat kearah Letisha.
"Aku baru pertama kali meminumnya, aku tidak sengaja dan tidak tahu kenapa aku bisa lengah, aku bukanlah gadis peminum, aku juga tidak senakal itu," Letisha sepertinya menyadari kesalahannya dan mengingat bahwa dia kehilangan kesadaran karena pengaruh alkohol.
Letisha seolah-olah tidak ingin Rakash salah paham kepadanya dan apalagi sampai menerapkan dipikirannya bahwa selama ini dia adalah wanita peminum.
Rakash tidak mengatakan apapun dan menurunkan tangan istrinya dengan lembut. Rakash kemudian langsung pergi dari kamar tersebut.
"Huhhhh, apa yang terjadi sebenarnya? Mungkinkah aku terlalu banyak minum dan sampai kehilangan kesadaran? bagaimana ini? Kenapa adik bisa ada di tempat itu!"
"Winona!"
"Aku harus menghubungi dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya?" Letisha mencari-cari ponselnya dan akhirnya menemukannya.
Letisha mengabari sahabatnya itu yang sekarang sedang berada di salon.
"Perasaanku sudah tidak enak ketika meninggalkan kamu sendirian di tempat seperti itu? Aku tidak punya pilihan lain selain menghubungi suami kamu, daripada aku menghubungi papa kamu dan yang adanya kamu akan mendapatkan masalah besar," jelas Winona.
"Sudahlah Letisha, syukur-syukur kamu masih dijemput dan artinya dia itu peduli kepada kamu. Kamu sih, aku sudah mengatakan jangan salah paham dulu, lihatlah sekarang kamu menyesal bukan ketika dia harus mendapatimu dalam keadaan seperti itu," ucap Winona.
"Isss, aku juga tidak menyangka jika semuanya akan seperti ini. Kenapa begitu menyebalkan sekali," ucap Letisha.
"Sudahlah, jika tidak ingin dicap sebagai wanita buruk oleh suamimu. Jadi lebih baik yakinkan dia bahwa kejadian malam itu benar-benar tidak disengaja, kamu hanya minum karena desakan orang lain dan selama ini kamu tidak pernah melakukan itu," ucap Winona memberi saran.
"Lalu apa dia akan percaya padaku?" tanya Letisha benar-benar takut kehilangan kepercayaan dari suaminya.
"Kamu saja tidak percaya padanya dan kenapa juga kamu harus berharap untuk dapat dipercayai," jawab Winona membuat Letisha terdiam.
"Sudahlah Letisha, kamu berbicara seperti ini kepadaku seakan-akan takut kehilangan dia. Kamu tidak menyadari bahwa sebenarnya pernikahan yang kamu jalani saat ini bukanlah main-main, kamu justru menginginkan lanjutan dari pernikahan kalian. Kamu tidak menyadari bahwa kamu sudah nyaman dengannya dan takut kehilangannya. Jika perasaan seperti itu sudah muncul di lubuk hati kamu yang paling dalam dan seharusnya kamu menanamkan untuk saling percaya,"
"Aku yakin, Rakash memiliki alasan pergi disaat insiden yang terjadi di tempat pameran. Entahlah Napa itu," ucap Winona.
Letisha tidak merespon apapun, saat ini benar-benar pemikirannya kurang tenang.
*****
Letisha keluar dari kamar dan masih memakai pakaiannya kemarin, Letisha terlihat kesulitan menelan ludah dan ketika melihat suaminya sudah hendak pergi ke kantor.
"Kenapa aku bisa-bisanya bermimpi, bahwa kami berciuman romantis?" batin Letisha.
Ternyata dia bisa merasakan ciuman malam itu, tetapi menganggap semua itu adalah mimpi.
"Astaga Letisha? Otakmu kenapa mesum sekali, seharusnya laki-laki yang memiliki pikiran seperti itu dan bukan wanita. Kau benar-benar keterlaluan," Letisha memukul-mukul kepalanya sampai pandangan matanya tertuju pada Rakash yang ternyata saat ini sedang melihat dirinya.
Letisha terlihat malu dengan tingkahnya sendiri.
"Hmmm, aku hanya merasa kepalaku sakit saja," ucapnya.
"Istirahatlah, Saya harus ke kantor!" ucap Rakash membuat Letisha menganggukkan kepala dan kemudian Rakash langsung pergi.
"Astaga Letisha, apalagi yang ada di otak kamu saat ini? Kamu benar-benar keterlaluan dan bisa-bisanya berpikiran seperti itu!" lagi-lagi Letisha frustasi sendiri dengan apa yang sudah terjadi padanya.
******
Kediaman Ricard.
Vanila terlihat begitu anggun duduk di ruang tamu yang didampingi kedua orang tuanya. Richard saat ini memiliki tamu seorang pria tampak terlihat adem juga didampingi kedua orang tuanya.
"Masyallah, tidak menyangka jika pertemuan hari ini terasa begitu diringankan. Saya sama sekali menyangka jika tuan Adam bisa membawa putra Anda yang tampan ini untuk bersilaturahmi ke rumah kami," ucap Liana.
Pria yang sejak tadi duduk di tengah itu hanya menunduk, benar-benar menjaga pandangannya dari Vanila yang juga menjaga pandangannya.
"Silaturrahmi ini untuk mengeratkan dua keluarga kita, anak-anak kita sudah dewasa dan menyetujui untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang pernikahan. Kita akan menyiapkan pernikahan Zidan dengan Vanila dan Insya Allah pernikahannya akan disiarkan di seluruh penjuru publik," ucap Adam.
"Wau, itu artinya berita pernikahanku akan selalu diingat oleh publik. Siapa sangka aku bisa menjadi bagian keluarga dari tokoh agama terkenal, ternyata aku jauh lebih beruntung dibandingkan Letisha," batin Vanila yang sudah tidak sabaran ingin melanjutkan hubungan dalam pernikahan itu.
"Inshaallah kita akan membicarakan pernikahannya, semoga saja pernikahan ini menjadi pernikahan yang ditunggu-tunggu seluruh umat muslim," sahut Richard membuat keluarga tamunya itu menganggukkan kepala.
"Aku sudah tidak sabar untuk menjadi istrinya, akhirnya aku bisa juga menikah dengan laki-laki yang setara denganku dan bahkan laki-laki di hadapanku ini jauh lebih baik dari semua Letisha. Letisha sampai kapanpun Kamu tidak akan bisa sama denganku, derajat kita benar-benar berbeda," batin Vanila.
Saat ini Letisha sedang berada di cafe dan bukan bersama Wilona dan melainkan bersama dengan Digo. Keduanya duduk saling berhadapan dengan makanan dan minuman berada di atas meja bulat itu.
"Maksudnya perhiasan yang saya lelang akan tetap tuan beli?" tanyanya tidak percaya.
"Benar! Saya menyukai perhiasan dari karya Pramuka dan makanya saya tidak berhenti untuk memberi penawaran yang mahal," jawab Digo.
"Tetapi bukankah perhiasan itu menjadi masalah dan saya juga sudah dilaporkan ke polisi atas jiplakan dan kode etik, jadi perhiasan itu juga ilegal," jawab Letisha.
"Bukankah saya mengatakan kepada kamu bahwa saya percaya sepenuhnya dengan kamu. Saya yakin kamu tidak melakukan hal seperti yang dituduhkan," ucap Digo.
"Kamu tenang saja Letisha! seperti apa yang saya katakan bahwa saya akan membantu kamu untuk menyelesaikan masalah ini dan perhiasan itu akan tetap saya bayar," ucap Digo.
"Benarkah. Syukurlah jika saat ini masih ada yang percaya dengan saya dan berusaha untuk membantu saya," ucap Letisha merasa bersyukur.
Bersambung....