Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bidak Catur Sang Ratu
Tepat saat anak buah Januar hendak turun ke sungai, sebuah truk tua tiba-tiba berhenti di tengah jalan, memblokade jalur. Dari balik lorong-lorong gelap, segerombolan preman dengan wajah tertutup kain muncul membawa balok kayu dan pipa besi.
Tanpa peringatan, mereka mulai menghujani mobil-mobil mewah milik Januar dengan hantaman keras. Kaca-kaca hancur berkeping-keping. Salah satu preman sengaja menyiramkan bensin ke kap mobil Januar dan menyulutnya.
"Siapa kalian?!" raung Januar sambil berlindung di balik pintu mobil yang ringsek.
Para preman itu tidak menjawab. Mereka bekerja dengan sangat efisien, seolah sudah dilatih untuk satu tujuan: memastikan Januar kehilangan fokus dan kehilangan mangsanya. Ini bukan perampokan biasa. Ini adalah kekacauan yang terorganisir.
****
Tak jauh dari lokasi kekacauan tersebut, sebuah mobil Mercedes hitam terparkir di bawah bayangan pohon besar. Di dalamnya, Rini Susilowati menyaksikan pemandangan itu melalui teropong malam yang mahal.
Begitu ia melihat Nirmala hilang ditelan arus sungai dan mobil Januar mulai dilalap api, tubuh Rini mulai bergetar hebat. Ia menurunkan teropongnya, wajahnya yang dibalut sisa riasan pesta tampak mengerikan di bawah cahaya remang-remang lampu kabin.
"Hilang... dia hilang..." bisik Rini pelan.
Lalu, sebuah suara tawa kecil keluar dari tenggorokannya. Tawa itu tumbuh, mengeras, hingga menjadi ledakan histeris yang memenuhi seluruh ruang mobil. Rini tertawa sampai tubuhnya melengkung, kepalanya menghantam sandaran kursi berkali-kali.
"Hahahaha! Rasakan itu, Januar! Kau pikir kau bisa memiliki Dizan Holding? Sekarang calon istrimu sudah jadi santapan ikan di sungai!"
Rini menangis, tapi itu bukan tangis duka. Air matanya mengalir deras, melunturkan maskara hitamnya hingga membentuk garis-garis gelap di pipinya yang keriput. Ingusnya tumpah ruah, ia sesenggukan di sela-sela tawanya yang gila. Ia menyeka hidungnya dengan selendang sutra hitam yang kini tampak menjijikkan karena bercampur cairan wajahnya.
"Marwan... Rina... lihatlah putri kesayangan kalian!" seru Rini sambil memukul-mukul dasbor mobil. "Dia hanyut! Dia mati dalam kehinaan! Dan kau, Januar, kau akan jatuh miskin karena tidak punya bidak lagi!"
Elias yang duduk di kursi pengemudi hanya bisa terdiam dengan wajah pucat, menatap istrinya yang tampak benar-benar telah kehilangan kewarasan. Rini mengambil botol sampanye yang sudah disiapkan, meminumnya langsung dari botol hingga cairannya tumpah membasahi dadanya.
"Rayakan, Elias! Rayakan!" Rini berteriak dengan suara parau, lalu kembali tertawa histeris sampai suaranya habis dan hanya menyisakan bunyi cegukan yang mengerikan. "Dunia ini milikku sekarang... tidak ada lagi Dizan yang tersisa..."
****
Sementara itu, jauh di hilir sungai, seorang pemuda dengan napas tersengal-sengal muncul dari permukaan air yang ganas. Itu Ale. Ia tidak memedulikan motornya atau luka di kakinya. Ia telah melompat ke sungai sesaat setelah Nirmala jatuh.
Ale menarik sebuah tubuh yang lemas menuju tepian yang dangkal. Nirmala tidak sadarkan diri, wajahnya pucat pasi seputih kapas. Ale menepuk-nepuk pipi wanita itu dengan cemas.
"Nona! Bangun! Jangan mati dulu!" seru Ale sambil menekan dada Nirmala untuk mengeluarkan air yang tertelan.
Setelah beberapa saat yang menegangkan, Nirmala terbatuk hebat, memuntahkan air sungai yang kotor. Matanya terbuka sedikit, menatap langit malam yang masih menurunkan hujan.
"Kita... di mana?" tanya Nirmala lemah.
Ale menghela napas lega, ia menyandarkan kepalanya di tanah yang basah. "Di tempat yang nggak ada Januar, dan nggak ada bibi lo yang gila itu. Tapi kita harus pergi sekarang. Mereka nggak bakal berhenti cari lo."
Nirmala memejamkan mata, merasakan dingin yang menusuk tulang. Di kejauhan, ia bisa melihat rona merah api dari mobil Januar yang terbakar. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa hidupnya bukan lagi tentang butik atau gaun mewah. Hidupnya sekarang adalah tentang bertahan dari serangan iblis-iblis yang mengenakan pakaian sutra.
****
Gedung Dizan Holding yang menjulang tinggi di pusat finansial Jakarta kini tak ubahnya seperti sebuah kastil angker yang dikuasai oleh ratu kegelapan. Di lantai paling atas, di ruang kerja yang dulu milik Marwan Dizan, suasana telah berubah total. Foto-foto keluarga yang hangat telah raib, digantikan oleh lukisan-lukisan abstrak berwarna merah darah yang mencolok.
Rini Susilowati berdiri di balik jendela kaca besar, menatap hiruk-pikuk kota di bawahnya dengan tatapan lapar. Ia memang tidak duduk di kursi Direktur Utama secara administratif—kursi itu kini ditempati oleh Elias Dizan yang duduk kaku seperti robot—namun semua orang tahu siapa pemegang kendali yang sebenarnya. Elias hanyalah bidak catur, sebuah boneka yang benang-benangnya ditarik dengan kencang oleh jemari Rini yang dingin.
"Tuan Surya," suara Rini memecah keheningan, memanggil seorang direktur operasional veteran yang sudah mengabdi selama dua puluh tahun pada keluarga Dizan.
Surya berdiri gemetar di tengah ruangan. Di atas meja di hadapannya, tergeletak sebuah map merah berisi dokumen palsu mengenai penggelapan dana perusahaan yang sudah disiapkan oleh tim hukum sewaan Rini.
"Kau punya dua pilihan, Surya," lanjut Rini, berbalik perlahan. Selendang sutra hitamnya tersampir di leher, berkibar pelan terkena hembusan AC. "Tanda tangani surat pernyataan setia pada kepemimpinan Elias, atau... besok pagi polisi akan menjemputmu di depan anak dan istrimu atas tuduhan korupsi sepuluh miliar rupiah. Dan kita berdua tahu, di penjara nanti, kecelakaan bisa terjadi kapan saja."
Wajah Surya pucat pasi. "Nyonya Rini, ini fitnah! Tuan Marwan tidak akan pernah..."
"Marwan sudah jadi tanah!" bentak Rini, wajahnya mendadak bengis. Ia mendekat, mencengkeram kerah kemeja Surya. "Sekarang aku yang menjadi hukum di sini. Kau mau kehormatanmu hancur di tangan media, atau kau mau hidup nyaman sebagai anjingku?"
Dengan tangan gemetar dan air mata yang hampir jatuh, Surya meraih pulpen dan menandatangani dokumen tersebut. Ia keluar dari ruangan dengan bahu yang luruh, kehilangan harga dirinya dalam sekejap.
Begitu pintu tertutup, Rini kembali terjerembab di kursi kebesaran itu. Ia menarik selendang sutranya, melilitkannya ke mulut untuk meredam suara yang mulai mendidih di tenggorokannya.
"Hmph... Mmph... Hahahaha!"
Tawa itu meledak di balik kain sutra. Tubuh Rini berguncang hebat, air matanya tumpah membasahi kain mahal itu. Ia merasa begitu berkuasa, begitu tak terkalahkan. Ia telah menyingkirkan orang-orang lama satu per satu—ada yang dipaksa pensiun, ada yang dijebloskan ke penjara dengan bukti rekayasa, dan ada yang menghilang tanpa jejak. Dizan Holding kini menjadi kerajaan pribadinya, tempat di mana ia bisa melampiaskan seluruh dendam masa lalunya.
****
Di kantor Suteja Group, Januar Suteja mengamuk. Ia melempar sebuah asbak kristal ke arah dinding hingga hancur berkeping-keping. Berita mengenai perombakan besar-besaran di Dizan Holding dan penyerangan mobilnya tempo hari telah sampai ke telinganya sebagai sebuah pesan yang jelas dari Rini.
"Wanita gila itu!" desis Januar. "Dia berani menyentuhku? Dia pikir dia siapa?!"
"Tuan, Nyonya Rini telah menutup seluruh akses kredit kita di bank yang berafiliasi dengan Dizan Holding. Dia benar-benar ingin mematikan aliran dana Suteja Group," lapor Malkom, asistennya, dengan wajah tegang.