Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Jam dinding di ruang dosen menunjukkan pukul empat sore.
Akhsan menghela napas panjang sembari menutup laptopnya.
"Mas, ayo. Nanti toko perhiasannya tutup," ajak Gea lembut yang sudah berdiri di ambang pintu.
Akhsan menatap calon istrinya itu, lalu memaksakan sebuah senyum tipis.
Gea adalah wanita sempurna, lembut, pengertian, dan yang terpenting, dia adalah 'obat' yang Akhsan pilih untuk menjauhkan Gea.
"Iya, Gea. Ayo."
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Sepanjang koridor, beberapa mahasiswa menyapa mereka dengan ucapan selamat.
Akhsan hanya mengangguk formal. Di dalam mobil, keheningan sempat menyelimuti sebelum Gea membuka suara.
"Zahra tadi kelihatan sedih ya, Mas? Apa dia keberatan aku sering ke kampus?" tanya Gea pelan, menunjukkan gurat kekhawatiran di wajah cantiknya.
Akhsan mencengkeram kemudi sedikit lebih erat. "Jangan dipikirkan. Dia hanya sedang manja. Dia harus belajar bahwa kakaknya tidak akan selamanya bisa ia miliki."
Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai padat.
Tujuan mereka adalah sebuah toko perhiasan ternama untuk mengambil cincin pernikahan yang telah dipesan khusus dengan inisial nama mereka.
Bagi Gea, ini adalah momen mendebarkan. Bagi Akhsan, ini adalah segel komitmen untuk menjaga martabat keluarganya.
Jalan raya sore itu tampak lebih kacau dari biasanya.
Langit mulai mendung, menambah kesan suram pada aspal yang mulai basah oleh rintik hujan tipis.
Akhsan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, mencoba mengejar waktu sebelum acara makan malam keluarga dimulai.
"Mas, lihat! Cincinnya pasti cantik sekali kalau sudah jadi," ucap Gea sembari menunjukkan foto desain cincin di ponselnya.
Akhsan menoleh sekilas, memberikan perhatian kecil pada antusiasme calon istrinya.
"Iya, Gea. Cocok untukmu."
Lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau untuk jalur Akhsan.
Ia melajukan mobilnya dengan tenang. Namun tiba-tiba, dari arah samping kanan, sebuah truk kontainer besar melaju kencang, melanggar lampu merah dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Klakson panjang yang memekakkan telinga terdengar, tapi semuanya sudah terlambat.
"MAS AKHSAN, AWAS!!" teriak Gea histeris.
BRAKK!!
Suara hantaman logam yang beradu terdengar sangat memilukan.
Mobil sedan perak itu terseret beberapa meter setelah dihantam tepat di bagian samping sisi di mana Gea duduk.
Kaca-kaca pecah berkeping-keping, beterbangan seperti kristal maut di udara.
Akhsan merasakan guncangan hebat, rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh, dan aroma besi berkarat dari darah yang mulai mengalir.
Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia sempat menoleh ke arah samping.
"Ge... Gea..." bisiknya parau.
Wajah Gea yang biasanya berseri kini tertutup debu dan darah.
Wanita itu tak bergerak, terjepit di antara pintu mobil yang ringsek.
Di tangan Gea yang terkulai lemas, ponselnya masih menyala, menampilkan foto cincin pernikahan yang tak akan pernah melingkar di jarinya.
Kegelapan kemudian merenggut kesadaran Akhsan.
Sementara itu di kediaman Papa Hermawan, sebuah gelas kristal jatuh dari tangan Zahra dan hancur berkeping-keping di lantai dapur.
"Astaga, Zahra! Kamu melamun apa?" tegur Mama terkejut.
Zahra merasakan jantungnya tiba-tiba berdegup dengan frekuensi yang menyakitkan.
Perasaan sesak yang tak bisa dijelaskan mendadak menghimpit dadanya.
Ia menatap pecahan kaca di bawah kakinya dengan tatapan kosong.
"Perasaan Gea, tiba-tiba nggak enak, Ma," bisik Zahra gemetar.
Belum sempat Mama menenangkan Zahra, ponsel di atas meja makan berdering nyaring.
Mama segera mengangkatnya saat melihat nomor asing yang menghubunginya.
Mama jatuh terkulai, pingsan seketika dalam dekapan Zahra sebelum sempat mengeluarkan satu kata pun.
Ponsel yang masih menyala itu terlepas dari genggamannya, menciptakan suara benturan kecil di lantai yang sunyi.
"Mama! Mama, bangun!" teriak Zahra histeris. Ia berusaha menahan tubuh ibunya yang sudah tak berdaya.
"Papa! Papa!"
Papa Hermawan berlari dari ruang tengah dengan wajah pucat pasi.
Ia segera mengambil ponsel yang masih tergeletak di lantai, sementara beberapa kerabat membantu mengangkat Mama ke sofa.
Dengan tangan gemetar, Papa Hermawan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo? Ya, saya ayahnya. Apa?!" Mata Papa Hermawan membelalak lebar.
Wajahnya yang biasanya tegas seketika berubah pasi.
"Rumah sakit mana? Baik, kami segera ke sana."
Papa mematikan sambungan telepon dengan napas memburu.
Ia menatap Zahra dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara duka mendalam dan keterkejutan yang luar biasa.
"Papa, ada apa? Mas Akhsan kenapa?" tanya Zahra dengan suara serak, air mata sudah mulai membanjiri pipinya.
"Mas-mu kecelakaan, Zahra. Gea meninggal di tempat. Dan Akhsan, dia sedang kritis. Kita harus ke rumah sakit sekarang."
Dunia Zahra seolah runtuh saat mendengar perkataan dari Papanya.
Mama yang setengah sadar, memaksa untuk ikut ke rumah sakit.
Segera Papa melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Jalanan yang sepi membuat mereka lekas sampai.
Lorong rumah sakit yang dingin menjadi saksi bisu kehancuran keluarga Hermawan.
Papa Hermawan duduk dengan punggung membungkuk, menanti kabar dari ruang operasi.
Sementara itu, Mama masih dirawat di ruang lain karena syok berat.
Zahra hanya bisa berdiri mematung di depan jendela kaca, menatap rintik hujan yang kini turun semakin deras.
Pikirannya kalut. Ia teringat kalimat terakhirnya di mobil tadi siang.
'Jahat kamu, Mas.'
Kini rasa bersalah itu mencekik lehernya hingga sesak.
Dua jam berlalu seperti neraka. Seorang dokter keluar dari ruang operasi dengan gurat kelelahan.
"Keluarga Pak Akhsan?"
Papa Hermawan segera berdiri. "Bagaimana keadaan anak saya, Dok?"
"Operasi berjalan lancar, namun Pak Akhsan kehilangan banyak darah. Golongan darahnya cukup langka, AB negatif. Stok kami sangat terbatas," jelas Dokter tersebut.
Papa Hermawan langsung terkejut ketika mendengar perkataan dari dokter.
"AB negatif? Tapi golongan darah saya O, dan istri saya B. Bagaimana mungkin Akhsan..."
Zahra yang mendengar hal itu menoleh cepat, jantungnya berdegup kencang.
Ia tahu betul hukum genetika; tidak mungkin anak kandung dari orang tua bergolongan darah O dan B memiliki golongan darah AB.
Dokter itu tampak ragu, namun ia harus bicara jujur.
"Kami butuh donor segera. Apakah ada kerabat lain? Karena secara biologis, Bapak tidak bisa mendonorkan darah untuknya."
Papa Hermawan terduduk kembali di kursi tunggu.
Tangannya menutupi wajahnya yang mendadak penuh dengan gurat kepedihan yang berbeda.
Bukan hanya duka karena kecelakaan, tapi duka dimana Akhsan bukan anak kandungnya.
Zahra mendekati Papanya dengan tubuh gemetar.
"Pa, maksud Dokter tadi apa? Mas Akhsan bukan..."
"Diam, Zahra," potong Papa dengan nada rendah yang bergetar.
"Jangan bahas itu sekarang. Fokus kita adalah menyelamatkan Mas-mu."
Tak berselang lama perawat sudah berhasil mendapatkan bantuan donor dari bank darah pusat, kondisi Akhsan akhirnya stabil meski ia belum sadarkan diri. Namun, masalah baru muncul dimana berita tentang kecelakaan itu menyebar cepat.
Para undangan pernikahan yang berjumlah ribuan sudah mulai bertanya-tanya.
Karangan bunga dukacita untuk Gea dan doa untuk Akhsan memenuhi media sosial.
Papa Hermawan berdiri di koridor rumah sakit, menatap Zahra yang duduk lesu.
Pria tua itu tahu, pembatalan pernikahan besok bukan hanya akan menghancurkan nama baik keluarganya di hadapan rekan bisnis dan kolega, tapi juga bisa memicu skandal mengenai asal-usul Akhsan jika orang-orang mulai menggali lebih dalam.
"Zahra," panggil Papa dengan suara berat.
Zahra mendongak, matanya sembap. "Ya, Pa?"
"Besok pernikahan harus tetap berjalan."
Zahra mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan dari Papanya.
"Tapi, Kak Gea sudah tidak ada, Pa! Mas Akhsan juga sedang koma!"
Papa Hermawan menatap putrinya dengan tatapan dingin yang tak pernah Zahra lihat sebelumnya.
"Undangan sudah tersebar. Rekan bisnis Papa dari luar negeri sudah mendarat. Nama keluarga kita taruhannya. Dan yang paling penting, Akhsan butuh alasan untuk tetap hidup saat dia bangun nanti."
"Maksud Papa?"
"Kamu akan menggantikan Gea. Kamu akan menikah dengan Akhsan besok pagi, di depan penghulu, di rumah sakit ini jika perlu."
Zahra terkesiap, dunianya benar-benar berhenti berputar.
Menikah dengan Akhsan adalah mimpinya, tapi bukan dengan cara tragis seperti ini.
Bukan di atas darah Gea dan rahasia kelam yang baru saja terungkap.
"Tapi kami kakak adik, Pa! Itu haram!" teriak Zahra tertahan.
Papa Hermawan mencengkeram bahu Zahra kuat.
"Dia bukan kakak kandungmu, Zahra! Kamu sudah dengar sendiri tadi. Sekarang, lakukan ini demi Papa, demi Mama, dan demi Mas-mu."