NovelToon NovelToon
WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KELUARGA CEMARA

Pagi itu matahari merayap pelan dari balik jendela kamar. Tirai putih berayun lembut terkena angin, menyelipkan cahaya hangat yang menimpa wajahku. Udara Semarang masih sejuk, aroma tanah basah semalam hujan belum sepenuhnya hilang. Dari luar, kudengar kokok ayam bersahut-sahutan dan deru motor tetangga yang bersiap berangkat kerja.

Tok… tok… tok.

“Aluna… bangun, Nak. Kalau terus molor, nanti keburu siang.” suara berat Ayah mengetuk pintu kamar, disusul alunan pelan lagu Ebiet G. Ade yang selalu jadi favoritnya. Ayah punya kebiasaan aneh, membangunkan anak-anaknya dengan nyanyian. Kadang suara itu sumbang, tapi justru membuat pagi terasa hidup.

Aku meringis, menutup telinga dengan bantal, lalu menyerah. Tak ada seorang pun di rumah ini yang bisa menolak suara Ayah. Dengan rambut berantakan, aku menyeret langkah keluar kamar. Aroma nasi goreng buatan Ibu menyeruak dari dapur, membuat perutku keroncongan.

Di ruang makan, Sultan sudah duduk rapi dengan kemeja kerja, wajah serius menunduk pada koran pagi. Kakakku itu memang selalu ingin terlihat dewasa, meski sebenarnya tak jarang ia lebih kekanak-kanakan dariku, meskipun sudah menikah dan punya dua anak. Di seberang meja, Alika menunduk pada buku catatan, pensil di tangan terus bergerak.

“Pagi-pagi sudah belajar, Dik? Nanti kepalamu meledak.” godaku sambil mencubit pipinya.

Alika mendongak, manyun. “Nggak apa-apa, Kak. Besok ada ulangan matematika. Kalau nggak belajar sekarang, nanti malah keteteran.”

Matanya berbinar, penuh semangat. Begitulah Alika, si bungsu yang rajin dan selalu membanggakan.

Ayah masuk tak lama kemudian, dengan setelan PNS yang sudah licin tersetrika. Ia mengacak rambutku, lalu meraih piring nasi goreng buatan Ibu. “Lihat tuh adikmu, sudah rajin belajar dari pagi. Kamu kapan?” candanya.

Aku mendengus. “Aku kan sudah kerja, Yah. Belajar gini mah buat anak sekolahan.”

Semua tertawa, termasuk Ibu yang sibuk menata nasi goreng di meja. Suara tawa itu memenuhi ruang makan, menciptakan kehangatan yang selalu kurindukan hingga kini.

“ Istri dan anak-anakmu kapan pulang Nak?” tanya Ayah kepada Kak Sultan

“ Lusa yah…”. Jawab Kak Sultan.

“ Nanti kalau mereka sudah balik dari Sukabumi, kalian nginap di rumah aja dulu, sebelum kembali ke rumah kalian. Ibu kangen sama cucu-cucu ibu.” Kata ibuku pagi itu.

“ Baiklah bu.”

**

Hidup kami saat itu seperti potret keluarga ideal. Ayah bekerja sebagai pegawai negeri yang disegani, wibawa dan humoris sekaligus. Ibu mengelola usaha jahit di rumah, dengan pelanggan yang hampir tak pernah sepi. Sehari-hari, suara mesin jahit berdentum dari ruang kerja, diselingi obrolan riang pelanggan yang datang menunggu pesanan. Rumah kami seperti pasar kecil yang penuh warna.

Aku, anak kedua, sudah bekerja sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar. Meski gajinya tak besar, aku bahagia bisa berinteraksi dengan anak-anak setiap hari. Sultan, kakakku, sudah bekerja di instansi yang sama dengan Ayah. Hidupnya adem ayem, apalagi Ayah selalu menyelipkan amplop kecil berisi uang tambahan di akhir bulan untuk cucu-cucunya.

Dan Alika, si bungsu, sibuk dengan sekolah menengahnya. Ia tipe anak rajin yang selalu berusaha jadi terbaik. Setiap kali raport dibagikan, Ayah akan memberi hadiah kecil, buku cerita, sepatu baru atau sekadar makan bakso sekeluarga di Simpang Lima.

Semua serba cukup. Semua terasa damai.

**

Aku pun hidup penuh tawa bersama teman-temanku. Lingkunganku hangat, aku sering diajak nongkrong setelah pulang kerja atau sekadar berkumpul belajar bersama. Banyak yang iri karena aku terlihat begitu bahagia, punya keluarga harmonis, pekerjaan, teman dan bahkan seorang kekasih yang selalu ada.

Marwan.

Namanya Marwan, lelaki yang kucintai sejak kuliah. Kami pertama kali bertemu di perpustakaan kampus, saat aku ceroboh menjatuhkan buku tebal. Ia lebih cepat memungutnya dan tersenyum ramah. “Kayaknya buku ini memang jodohmu." katanya. Dari senyum itulah, percakapan kami bermula.

Hubungan kami tidak penuh drama. Justru sederhana, tapi indah. Marwan bukan tipe pria yang pandai berkata-kata manis. Ia tidak pernah menuliskan puisi atau rayuan panjang. Namun ia selalu tahu cara membuatku merasa istimewa.

Meski ia berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya, bahkan jauh lebih berada dibanding keluargaku, Marwan tak pernah meninggikan diri. Ia bisa saja mengajakku makan di restoran mewah atau berlibur ke luar negeri, tapi ia memilih kebersahajaan. Sepulang kuliah atau kerja, ia menjemput dengan mobilnya, lalu mengajakku singgah di angkringan pinggir jalan. Kami duduk berdampingan, tertawa sambil berbagi sate usus dan teh panas. “Kalau makan di restoran mahal, nanti kamu malah enggak bisa ketawa lepas.” ujarnya. Aku terkekeh. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena ia ingin kami merasa setara. Dan justru di situlah letak ketulusannya.

Setelah aku bekerja sebagai guru, Marwan tetap setia menemaniku. Kadang ia mampir ke rumah, tak segan membantu Ayah memperbaiki pagar atau sekadar mengobrol dengan Ibu di ruang tamu. Keluargaku menyukainya. Ayah bilang, meski ia anak orang kaya, sikapnya membumi. Ibu bilang, wajahnya teduh seperti orang yang siap memikul tanggung jawab.

Malam-malam tertentu, setelah salat Maghrib, kami duduk di teras rumah. Bintang bertaburan, angin malam menyusup lembut. Marwan menoleh padaku, suaranya pelan tapi mantap.

“Luna, aku tahu keluargaku bisa memberi banyak. Tapi aku enggak janji hidupmu akan selalu mewah. Yang bisa aku pastikan, aku enggak akan pergi selama kamu butuh aku.”

Aku terdiam, menatapnya. Tidak ada janji muluk, hanya kesungguhan. Senyumku mengembang, hatiku hangat. Rasanya aku sudah menemukan sosok yang bisa kugenggam selamanya.

**

Hari-hari kami dipenuhi kebiasaan kecil yang sederhana. Setiap akhir pekan, Ayah mengajak kami jalan-jalan ke Simpang Lima, sekadar menikmati hiruk pikuk kota. Kadang kami mampir ke warung bakso langganan. Ayah selalu memesankan porsi jumbo untuk Sultan, lalu tertawa ketika kakakku itu kepayahan menghabiskannya. Memanjankan para cucu-cucunya dengan membelikan ice cream atau mainan kesukaan mereka. Ibu juga memanjakan iparku dengan mengajaknya untuk shopping.

Malam Minggu sering kami isi dengan menonton televisi bersama. Kadang sinetron, kadang film lawas favorit Ayah. Sultan akan sibuk berkomentar sok kritis, Alika cekikikan sambil ngemil keripik, sementara aku, iparku dan Ibu larut dalam cerita. Ayah, tentu sajaMtak pernah kehabisan bahan bercanda hingga semua terpingkal.

Rumah kami benar-benar seperti Cemara. Teduh, rimbun dan menyejukkan siapa saja yang singgah. Tidak ada kekurangan, tidak ada kesedihan. Hanya tawa, kasih sayang dan rasa cukup.

Aku sering berpikir, jika hidup terus begini, aku tak akan meminta lebih. Aku punya keluarga yang utuh, seorang ayah yang penuh cinta, ibu yang hangat, kakak yang melindungi, adik yang membanggakan, ipar yang baik, keponakan yang ganteng dan cantik, serta seorang kekasih yang setia. Segalanya sempurna.

Namun, tak ada yang benar-benar abadi.

Aku tidak pernah menyangka, kebahagiaan yang begitu indah itu suatu hari akan hancur. Seperti pohon besar yang tiba-tiba tumbang di tengah musim cerah. Sebuah kehilangan yang merenggut cahaya dari rumah Cemara kami.

Dan hari itu datang lebih cepat daripada yang pernah kubayangkan.

1
Ariany Sudjana
Aluna itu adik kamu sultan, dan Aluna itu keluarga inti, yang bukan keluarga itu si pelacur murahan Anisa, kamu bodoh percaya semua omongan si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
sabar yah Aluna, sultan ini bodoh,punya istri tapi pelacur murahan, dan masih percaya dengan semua omongan pelacur murahan itu
Boa
nama karakternya kok beda ya sama yg di sinopsis, apa aku yg salah baca? 🙏
Boa: semangat Thor, mana udah 14 episode 💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!