NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. AMBANG KEMATIAN

Malam telah turun sepenuhnya di atas ibu kota Aurelius.

Api obor menyala di sepanjang tembok kota, memantulkan cahaya keemasan pada batu-batu yang retak akibat pertempuran sore tadi. Bau debu, asap, dan sisa sihir masih menggantung di udara, seperti bayangan yang belum mau pergi.

Evan Ravens berdiri di tengah alun-alun yang kini setengah hancur.

Tubuh monster raksasa itu telah dipisahkan menjadi beberapa bagian agar mudah diangkut. Para kesatria Ravens bekerja tanpa henti; mengevakuasi korban, memadamkan api kecil yang tersisa, dan memastikan tidak ada makhluk lain yang muncul dari kegelapan.

"Pastikan sisa tubuhnya dibakar sampai habis," perintah Evan tegas. "Jangan ada bagian yang tersisa. Aku tidak mau mengambil risiko."

"Baik, Yang Mulia!" jawab para kesatria serentak.

Evan menatap potongan kepala monster yang kini tergeletak tak bernyawa. Retakan hangus di kulitnya masih terlihat jelas, bekas ledakan energi Elara.

Tangannya mengepal.

Bayangan kembarannya berdiri di pusat cahaya itu terus terulang di benaknya.

Mata yang menyala.

Rambut yang terangkat oleh pusaran sihir.

Dan tubuh yang akhirnya terkulai di pelukan ayah mereka.

Evan menelan ludah.

"Laporkan semua kerusakan ke markas utama," lanjut Evan, memaksa suaranya tetap stabil. “l"Pasang penjagaan dua kali lipat malam ini. Tidak ada yang tahu apakah serangan ini kebetulan atau bagian dari sesuatu yang lebih besar."

Para kesatria mengangguk.

Salah satu kapten mendekat. "Yang Mulia, Anda sebaiknya kembali ke kediaman. Duke terlihat sangat ... khawatir."

Evan mengangguk pelan. "Aku tahu."

Evan menatap sekali lagi ke arah tempat Elara tadi berdiri.

Lingkaran retakan di tanah masih jelas terlihat.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Evan berbalik dan berjalan menuju kudanya.

Begitu ia menaiki pelana, ia tidak menunggu.

Kuda itu melesat cepat menyusuri jalanan malam.

Angin dingin menerpa wajahnya, namun tak mampu mengusir kecemasan yang mencengkeram dada Evan.

Elara.

Kembarannya.

Separuh dirinya.

Sejak kecil mereka tak pernah terpisah lama. Bahkan ketika pelatihan kesatria memisahkan jadwal mereka, Evan selalu memastikan pulang tepat waktu untuk makan malam bersama.

Elara selalu ada.

Dan kini ia tidak tahu dalam kondisi apa Elara berada.

Kediaman Duke Ravens tampak sunyi ketika Evan tiba. Gerbang terbuka untuknya tanpa perlu perintah.

Para penjaga menunduk hormat, namun wajah mereka tegang. Mereka tahu sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Evan turun dari kuda bahkan sebelum hewan itu berhenti sepenuhnya.

Ia melangkah cepat masuk ke dalam.

Lorong-lorong besar yang biasanya terasa hangat kini seperti terasa asing.

Evan berhenti di depan kamar Elara.

Pintu itu tertutup. Namun cahaya lampu masih menyala dari dalam.

Evan menarik napas dalam, lalu membuka pintu.

Ruangan itu sunyi. Hanya suara napas pelan yang hampir tak terdengar.

Elara terbaring di ranjangnya. Rambut hitamnya terurai di atas bantal putih. Kulitnya pucat ... terlalu pucat.

Ibu mereka duduk di sisi ranjang, memegang tangannya.

Sang ayah berdiri di dekat jendela, menatap keluar seolah menunggu sesuatu ... atau seseorang.

Ketika mendengar pintu terbuka, keduanya menoleh.

"Evan?" Liora berbisik.

Evan tidak menjawab..Ia langsung berjalan ke sisi ranjang..Melihat wajah kembarannya sedekat ini membuat dadanya sesak.

"Lala?" gumam Evan pelan. Ia menggenggam tangan Elara.

Dan tubuh Evan langsung membeku.

Dingin. Tangan Elara sangat dingin. Sedigin es musim dingin.

"Kenapa dia sedingin ini?" Suara Evan bergetar. "Apa dia terkena serangan monster? Apa dia terkena racun?"

Matanya menatap Alaric, mencari jawaban.

Alaric menatap balik.

Ada sesuatu di mata ayah Evan itu yang jarang ia lihat; Keraguan.

"Kau tidak terluka?" tanya Alaric lebih dulu.

"Aku baik-baik saja!" Evan hampir membentak. "Tapi Elara tidak! Katakan padaku apa yang terjadi!"

Hening sejenak.

Lalu Alaric berkata pelan. "Segel dalam dirinya telah lepas."

Evan mengerutkan kening. "Segel? Segel apa?"

Alaric memejamkan mata sesaat, lalu berjalan mendekat.

"Mungkin kau tidak ingat," kata Alaric pelan. "Kalian masih sangat kecil waktu itu."

Evan menatap ayahnya. "Apa yang tidak kuingat?"

Alaric menarik napas panjang. "Saat kalian berusia tiga tahun. Kita pergi ke festival musim panas di ibu kota."

Sesuatu samar bergetar di sudut ingatan Evan.

Lampion.

Musik.

Tawa.

"Festival itu diserang monster, cukup banyak," lanjut Alaric.

Liora menunduk, jemarinya mengencang di tangan Elara.

"Elara yang melihat Rowan terluka karena monster dan melihat semua orang ketakutan," suara Alaric sedikit parau. "Dia meledakkan energi sihir dari tubuhnya."

Evan membeku. "Apa?"

"Energi itu terlalu besar untuk tubuhnya yang kecil," kata Liora lirih. “l"Terlalu besar untuk siapa pun."

Alaric melanjutkan, "Sihirnya hampir menghancurkan setengah ibu kota. Arram, Duke Arram dari Oberyn yang ada di sini saat itu yang membantu. Dia memasang segel pada kekuatan Elara agar tidak meledak lagi."

Evan terdiam. Ia menatap wajah kembarannya. Seolah mencoba melihat sesuatu yang selama ini tersembunyi.

"Segel itu rusak?" tanya Evan pelan.

"Iya," jawab Alaric. "Dan kemungkinan karena emosi yang sangat tinggi."

"Lalu ... apa yang akan terjadi padanya kalau segelnya rusak?" tanya Evan.

Kali ini Alaric tidak langsung menjawab. Ia menunduk.

Liora menggenggam tangan Elara lebih erat, bibirnya bergetar.

Evan menatap mereka bergantian.

Dan tanpa perlu jawaban ... Evan mengerti.

Jika segel itu rusak ....

Jika energi sebesar itu bebas tanpa kendali ....

Tubuh Elara tidak akan mampu menahannya.

Akibatnya hanya satu; Kematian.

Dunia terasa berhenti berputar.

Evan memucat. Napasnya terasa berat.

Tidak.

Tidak mungkin.

Elara adalah bagian dari diri Evan.

Mereka lahir bersama.

Tumbuh bersama.

Bertengkar bersama.

Tertawa bersama.

Bagaimana mungkin Evan harus kehilangan separuh jiwanya?

Tangan Evan semakin erat menggenggam tangan dingin kembarannya.

"Tidak," bisik Evan.

Alaric menatap putranya.

"Elara akan baik-baik saja," kata Alaric tegas. "Dia pasti akan baik-baik saja."

Suaranya terdengar lebih seperti perintah pada takdir daripada keyakinan.

Dan tepat saat itu ...

Terdengar langkah kaki terburu-buru di lorong.

Cepat.

Tergesa.

Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.

Seorang pria tinggi berjubah biru tua masuk dengan wajah panik.

Rambut pirangnya sedikit berantakan. Mata biru menyapu ruangan dengan cepat.

"Di mana Elara?!"

Duke Arram Oberyn. Sahabat lama Alaric. Dan penyihir terkuat dari Oberyn kini datang.

"Di sini," jawab Alaric langsung, berdiri memberi jalan.

Arram tidak membuang waktu. Ia mendekati ranjang. Begitu melihat kondisi Elara ... wajahnya berubah drastis.

"Astaga, ini lebih buruk dari yang kukira," ucap Arram.

Arram mengangkat tangan cepat ke atas tubuh Elara.

Lingkaran sihir biru keperakan muncul di udara..Simbol-simbol kuno berputar perlahan.

Cahaya lembut menyelimuti tubuh Elara.

Arram memejamkan mata, merasakan aliran sihir di dalamnya.

Beberapa detik. Lalu ekspresinya menegang.

"Segelnya retak," kata Arram pelan. "Bukan sepenuhnya hancur, tapi retaknya dalam."

"Bisa diperbaiki?" tanya Liora cepat.

Arram tidak langsung menjawab..Ia memusatkan sihirnya lebih dalam.

Cahaya biru menembus kulit Elara.

Urat-urat hitam kemerahan itu berpendar samar.

"Energinya mencoba keluar lagi," gumam Arram. "Tubuhnya menahannya mati-matian."

Evan menahan napas.

Arram membuka mata. "Jika aku memperbaiki segelnya seperti dulu, tubuhnya mungkin tidak akan sanggup menahan tekanan kedua kalinya," katanya.

"Apa maksudmu?" Alaric menggeram.

"Waktu itu dia masih kecil. Tubuhnya bisa dipaksa beradaptasi dari awal. Sekarang energi itu telah tumbuh bersamanya," beritahu Arram.

Hening.

Liora menatap Arram dengan mata berkaca-kaca. "Kalau tidak diperbaiki?"

Arram menatap Elara. "Segel akan pecah sepenuhnya."

Dan jika itu terjadi ....

Tak perlu dijelaskan lagi.

Evan menunduk.

Pikirannya berputar cepat.

"Kalau begitu jangan segel lagi," kata Evan tiba-tiba.

Semua menoleh padanya.

"Apa?" Alaric mengerutkan kening.

"Kalau segel itu yang membuatnya hampir mati, mungkin masalahnya bukan energinya," lanjut Evan. "Mungkin tubuhnya yang belum belajar mengendalikannya."

Arram menyipitkan mata. "Kau menyarankan ... membiarkannya bangun tanpa segel?"

Evan menatap Elara. "Dia bukan anak kecil lagi. Dia gadis yang kuat."

Alaric menggeleng keras. "Itu terlalu berbahaya."

"Lebih berbahaya mana?" Evan menatap ayahnya. "Menyegel kekuatan yang terus tumbuh sampai menghancurkannya dari dalam atau mengajarinya mengendalikannya?"

Kata-kata itu menggantung di udara.

Arram memandang Evan lama. Lalu kembali pada Elara.

"Masalahnya bukan hanya mengendalikannya," kata Arram pelan. "Energi dalam dirinya bukan sihir biasa."

Semua terdiam.

"Lalu apa itu?" tanya Liora.

Arram menatap mereka satu per satu.

"Energi itu ... lebih tua dari sistem sihir yang kita kenal sekarang. Sihir kuno yang pengendaliannya sudah tidak pernah terdengar lagi," jawab Arram.

Angin malam berhembus melalui jendela yang sedikit terbuka.

Lampu minyak bergetar.

"Jika segel ini benar-benar pecah," lanjut Arram pelan, "maka yang bangun bukan hanya seorang gadis dengan kekuatan besar."

Ia menatap wajah pucat Elara.

"Tapi sesuatu yang bahkan aku belum sepenuhnya pahami. Dan aku tidak yakin bisa membantu nantinya," kata Arram jujur.

Sunyi menyelimuti kamar.

Evan menggenggam tangan kembarannya lebih erat.

Waktu hampir habis.

Dan keputusan yang mereka ambil malam ini, akan menentukan apakah Elara Ravens akan tetap menjadi dirinya sendiri.

Atau berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

1
Miss Typo
main nyium aja tuh Aaron pinter bgt cari kesempatan 😁
Jelita S
Aron kesempatan dalam kesempitan lo🤣🤣🤣🤣
Jelita S
sama dong akan merindukan Lala kecil😍😍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐡 𝐜𝐢𝐮𝐦𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐩𝐢𝐩𝐢 𝐛𝐤𝐧 𝐛𝐚𝐤𝐩𝐚𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐠 🤣🤣🤣

𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
Miss Typo
saat dah berubah dewasa lagi, Lala inget gak ya? pasti malu kalau inget semua 😁
Archiemorarty: bisa diliat di bab update jam 5 ini 🤣
total 1 replies
mimief
yah begitulah...ketika kita masih kecil semua akan terasa menyenangkan,ga ada beban dan hidup mengalir begitu aja.
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
Archiemorarty: Bener banget ini...😭
total 3 replies
Ir
kek nya penyihir hitam emang udah ngincer elara deh, karena pasti mereka punya ramalan masa depan bahwa akan ada anak perempuan yang membinasakan para penyihir hitam, nah makanya dia tau elara di Akademi Oberyn jadi mereka ngawasin terus monster itu cuma pancingan aja, mimpi elara pun cuma manipulasi biar elara gagal fokus mempelajari sihir nya
Archiemorarty: noooo
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
lala 😘😘😘
Selinah Albaid
setiap novel yang d tulis oleh Thor ini membuat kan kita ternanti2 bab demi bab dengan hati yang berdebar 2 n semangat..pokoknya the best
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak
total 1 replies
Anisa Muliana
thor,,aku baca sambil bayangin lucu bnget smpek ketawa" 🤣 gemes banget😬
Archiemorarty: Asli bocil paling hyper aktif perempuan tuh gemes banget 🤭
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Archiemorarty: otw 🤭
total 1 replies
mimief
kirain... keluarganya miara naga buat mainan
panik donk😜🤣🤣
mimief: lah iya🤣🤣🤣...
penyihir si penyihir ya
tapi ga Ampe miara naga juga 😜🤣
total 2 replies
Miss Typo
Elara yg cadel menggemaskan sekali 😍
Miss Typo: Aamiin 🤲
terimakasih 🙏🥰
total 9 replies
tqotqo
bagus banget ceritanya kayak ngehipnotis baca teruss
Archiemorarty: Wahh... terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
tqotqo
semangat Thor, aku juga kegemesan bacanya🤭
Archiemorarty: Gx kuat othor juga sama kegemasan Elara 😭
total 1 replies
Jelita S
jdi ingat mereka waktu kecil ( Rowan,epan,Lala dan Alon) 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Kan kan ... tengil banget mereka itu 🤣
total 1 replies
Jelita S
lucu banget Elara balik jdi bayik lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Banget 😭
total 1 replies
Jelita S
uh terharu
mimief
imutnya si ok...
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜
mimief: heran ya..
mestinya dimana mana kaleman perempuan yaaa😜
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐰𝐚𝐡 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢 𝐛𝐚𝐫𝐛𝐢𝐞?? 😘😘😘
Archiemorarty: Cantikan Lala ya 😎
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!