NovelToon NovelToon
My Little Lily

My Little Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Cintapertama
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Nanawf_98

Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.

Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 25

Pemandangan jalan pagi ini terasa menyegarkan. Aspal hitam mulus menyambut. Berbagai jenis kendaraan melaju dengan kecepatan stabil, menciptakan alur yang tertib dan lancar. Rambut berkibar terbawa angin. Tanpa penghalang. Jepit rambut Lily entah jatuh dimana. Terlepas tanpa disadari. Sementara helm yang harusnya bisa melindungi kepala, lupa ia bawa. Tak ada yang mengingatkannya.

Di belakangnya, motor Andra mengikuti dengan kecepatan lebih lambat. Tanaman di balik punggungnya bergoyang-goyang. Sangat ringkih dan hampir jatuh. Seolah tali yang terikat di setiap sisinya tak memiliki fungsi. Sesekali tangan sang kakak akan terpelintir kebelakang, berusaha memperbaiki letaknya supaya tak miring, terkadang memegangi lama hingga pegal.

Senyum Lily mengembang, terlihat mengejek. Membuat Andra yang melihatnya dari kejauhan melotot tajam. Tangannya terangkat, terkepal erat. Seolah akan memukulnya dengan kekuatan penuh.

Lily tak gentar. Bahkan semakin gencar meledek. Lidahnya terjulur panjang. Sementara matanya memutar. Bersama Jeffrey, tak ada yang bisa sang kakak lakukan. Ia aman.

Sejujurnya, ada satu hal yang membuat Lily penasaran sejak tadi. Tangan yang melingkar di perut, menarik-narik baju bagian depan Jeffrey. Meminta perhatian pria itu.

Jeffrey menoleh sebentar, lalu kembali fokus ke depan. Jalanan semakin ramai, tak aman. Tak boleh lengah. Ia melihat Lily melalui pantulan spion. Melihat dari sana dengan alis berkerut. Kemudian bertanya dengan lembut.

"Kenapa?"

Suara itu begitu lirih, teredam ruang sempit di dalam helm, juga terurai bersama angin. Namun Lily yang sejak awal menempel pada punggung pria itu masih bisa mendengarnya dengan jelas.

"Mas Jeffrey kok nggak bawa pohon kayak Mas Andra? Emang kalau nggak ngerjain tugas nggak dihukum?"

Dibalik kaca hitam yang menutupi seluruh wajahnya, Jeffrey mengerut. "Tugas apa?"

"Itu loh, yang disuruh bawa pohon kayak Mas Andra. Tugas IPA kan? Tentang pertumbuhan?" Jelas Lily. Itulah yang ia dengar dari percakapan sang kakak bersama ibunya semalam. Kalau tidak salah. Karena ia juga sedikit lupa.

Mendengar itu, Jeffrey tertawa terbahak-bahak. Tawa yang jarang sekali terlihat. Bahu tegapnya berguncang hebat. Seperti terkena badai topan. Membuat tubuh Lily juga ikut bergetar.

Rasanya tak ada yang salah dengan apa yang ia tanyakan. Juga tak ada yang lucu dari semua itu. Karena tak ada lawakan yang sedang coba ia bangun. Itu hanya pertanyaan normal karena ia merasa penasaran akan suatu hal.

"Mas!!" Tangan Lily terangkat untuk memukul perut Jeffrey. Berharap pria itu segera sadar. Tetapi rasa sakit lah yang justru ia rasakan. Sementara Jeffrey seolah tak merasakan apa-apa.

"Jadi kamu pikir pohon itu buat tugas sekolah?" Tanyanya disela tawa yang masih tersisa.

Lily mengangguk. "Emang gitu kan?"

"Sebenarnya pohon itu hukuman buat anak yang bolos kelas." Jelas Jeffrey.

Mata Lily melotot sempurna. Tak percaya. Kakaknya yang selalu terlihat seperti anak baik dan penurut, bolos kelas? Ini seperti... akhirnya ia menemukan senjata mematikan untuk menyerang sang kakak. Rasanya sangat sulit dipercaya.

"Yang bener Mas?" Tanya Lily lagi untuk memastikan.

Jeffrey mengangguk. "Dia nggak masuk waktu pelajaran IPA. Katanya takut dihukum karena nggak ngerjain tugas. Akhirnya malah ketahuan lagi tidur di UKS."

Kalau seperti ini sudah tidak diragukan lagi. Jelas informasi ini valid, tanpa dibuat-buat. Apalagi sumbernya terpercaya. Dari orang yang selalu bisa dipegang kata-katanya. Dengan bukti yang nyata juga tentunya. Pohon itu...

Bibir Lily tertarik panjang. Dengan binar yang tak dapat ditutupi. Seolah dunia ada dalam genggaman tangannya. Seolah dunia bisa ia kendalikan sesukanya.

Dari kaca spion, Jeffrey melihat itu semua. Ada kilat geli yang terpancar. "Kenapa kamu kok seneng banget?"

Senyum Lily tak luntur. "Nggak papa." Jawabnya.

Perjalanan 30 menit yang terasa selamanya bagi Lily itu akhirnya menemui titik akhir. Motor berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Yang diatasnya tertulis dengan jelas SD Bhakti Jaya. Seorang guru telah berjaga disana. Menyambut dengan suka cita. Senyumnya begitu teduh dan indah. Terasa menenangkan. Satu demi satu anak mendekat padanya, meraih tangannya untuk disalami. Sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam.

Sebuah motor berhenti setelahnya. Tepat disebelah motor Jeffrey. Dengan posisi sedikit ke belakang. Bukan motor Andra, melainkan motor milik seorang gadis yang seragamnya sama dengan seragam yang dikenakan Jeffrey saat ini. Tampaknya dari sekolah yang sama.

Lily menegakkan tubuh, dengan tangan yang memegang pundak Jeffrey kuat, tapi tak menyakiti. Saat melihat ke bawah, ia merasa tubuhnya akan jatuh. Nyaris meluncur begitu saja. Nafasnya tertahan, keringat mulai bermunculan. Ia tidak pernah mengira naik motor akan se-mengerikan ini.

"Bisa turun nggak?" Tanya Jeffrey.

Lily menggeleng. Kemudian tersadar bahwa orang di depannya tak akan bisa melihat apa yang ia lakukan. Lantas menjawab. "Nggak bisa, susah."

Jeffrey melepas helmnya, kemudian memperbaiki tatanan rambutnya yang berantakan menggunakan tangan.

Sebuah jeritan tertahan terdengar. Dari orang disamping mereka. Jeffrey dan Lily saling bertatapan. Dengan wajah sama bingungnya.

Tubuh Lily mendekat, hampir menempel. Ia berkata lirih tepat disamping telinga. "Cewek itu kenapa mas?"

"Nggak tahu. Nggak usah dilihat. Sini, aku bantu turun."

Lily meraih tangan Jeffrey erat. Setengah mencengkram. Ia merubah posisi duduknya dengan susah payah. Menjadi menyamping. Dengan jantung seperti mau melompat keluar. Kemudian turun perlahan. Masih dipegangi.

Jeritan itu kembali terdengar. Dari orang yang sama. Lily tak bisa melewatkannya. Ia menatap intens orang itu. Tak berkedip. Meneliti dari atas sampai bawah. Ia hanya ingin tahu apa yang salah.

Gadis dengan rambut sebahu itu menjadi salah tingkah. Lantas bergegas mengalihkan pandangan. Menghadap ke depan. Sementara anak kecil dalam boncengannya berusaha untuk turun. Tubuhnya yang gemuk membuatnya kesusahan. Bahkan hampir tersungkur. Namun gadis itu tampak acuh. Tak berniat menolongnya. Entah ia sadar atau tidak.

"Lihat apa?" Tanya Jeffrey. Mengikuti arah pandang Lily.

"Lihat orang aneh." Balas gadis kecil itu sekenanya.

Lily mengedarkan pandangan untuk mencari sang kakak, tetapi ia tak melihatnya dimanapun. "Mas Andra langsung ke sekolah yah mas?"

"Nggak tahu. Sana masuk, udah siang." Kata Jeffrey.

Tak membantah, Lily meriah tangan Jeffrey lalu segera masuk setelah memberi salam. Langkah kakinya bersamaan dengan anak gemuk tadi.

***

Pelajaran hampir di mulai. Bel masuk telah berbunyi beberapa waktu lalu. Namun kursi diujung sana masih kosong tanpa pemiliknya. Lily meremas tangannya dengan cemas. Dalam hati terus menduga-duga tentang apa yang terjadi. Tapi tak satupun membuatnya tenang.

Tak lama guru datang. Dengan banyak buku di tangan. Buku tugas anak-anak yang kemarin sempat dikumpulkan, kini tertumpuk rapi diatas meja. Setelah mengucapkan dan menerima salam, guru itu memanggil setiap pemilik buku satu demi satu, sesuai urutan. kemudian siswa mengambilnya ke depan.

Lily masih terus menunggu. Bukan menunggu namanya di panggil, melainkan menunggu Kenzy tiba. Di bawah meja, kakinya terus bergerak-gerak. Kadang mengetuk-ngetuk pelan.

"Liliana Khanza."

Tak ada pergerakan. Lily hanya menatap kosong keluar. Masih tenggelam dalam pikirannya.

"Liliana Khanza!!" Guru sekali lagi memanggil namanya. Lebih keras dari sebelumnya.

Lily tersentak saat seorang teman menyenggol lengannya. Ia menatap bingung. "Ada apa?"

"Di panggil Bu guru."

Bola mata Lily membulat sempurna. Ia segera berdiri. Kemudian maju ke depan. Langkahnya cepat tapi pasti. Dengan banyak pasang mata yang mengiringi.

"Pagi-pagi jangan ngelamun Lily!" Peringat guru dengan nama Wulandari itu.

Lily tersenyum malu. Tangannya gemetar menerima buku tugasnya. Setelah mengucapkan terima kasih, ia bergegas kembali ke tempatnya. Kini bisakah ia sembunyi saja di dalam tas?

"Kenzy Darian Abimana."

Saat nama itu disebut, nafas Lily terhela panjang. Walau bagaimanapun mereka dekat sejak kecil. Saat Kenzy tak masuk sekolah, tentu saja ia khawatir. Apalagi anak itu tak pernah absen sebelumnya.

"Kenzy Darian Abimana."

"Saya Bu."

Di depan pintu, Kenzy datang dengan lesu. Wajahnya pucat, matanya sayu. Senyum yang tersungging di bibirnya tak pernah berubah, meski terlihat sedikit berbeda. Tak seceria biasanya.

Kenzy mengambil bukunya setelah meminta maaf karena datang terlambat. Tak ada alasan, tak ada pula penjelasan. Bu Wulan tak bertanya lebih lanjut, ia hanya membiarkan Kenzy duduk. Tanpa omelan yang menyertai, juga tanpa hukuman.

Setelah semua anak mendapat bukunya, pelajaran dimulai. Bu Wulan berdiri di depan papan tulis, menjelaskan. Tubuhnya tak bisa diam. Terkadang ke kanan, tak jarang ke kiri. Sementara spidol terus dalam genggaman. Sesekali menulis, kemudian menghapusnya ketika papan tulis telah penuh.

Semua mata tertuju padanya. Semua telinga mendengarkannya. Sementara otak dipaksa untuk terus mencerna. Pandangan anak-anak mulai tak fokus. Begitu juga dengan Lily. Apalagi belajar bukan hal yang disukainya.

Karena tak kuat lagi, tubuhnya menelungkup diatas meja. Dengan tangan yang terlipat sebagai bantalan. Kepalanya terasa berat. Bukan karena sakit, tapi karena kapasitas otaknya tak mencukupi.

Di kejauhan, netranya menangkap siluet Kenzy yang tengah melakukan hal yang sama. Dengan kelopak mata yang sesekali tertutup. Hampir tertidur.

Keduanya tetap bertahan dengan posisi itu hingga bel istirahat berbunyi.

Setelah Bu Wulan keluar kelas, semua orang berhamburan. Begitu tak sabaran. Wajah-wajah penuh tekanan sebelumnya, hilang dalam sekejap mata. Seperti disulap. Atau bahkan seperti tak pernah ada.

Lily menatap Kenzy yang tak bergerak. Tak terganggu sedikitpun oleh kegaduhan di sekitarnya. Mata itu masih terpejam, tenggelam dalam mimpi.

Rasa ingin mendekat ada. Tetapi masih ada orang di dalam kelas, jadi ia tak bisa melakukan itu. Semakin tumbuh dan semakin besar, maka akan ada perubahan pola pikir yang menyertai. Apalagi di lingkungan sekolah. Banyak gosip mudah tersebar. Yang tidak benar, yang membuat pertemanan diantara keduanya menjadi tidak nyaman.

Diusia mereka, pertengkaran sudah jarang terjadi. Yang ada hanya saling meledek saja hingga kesal.

Jadi, menjaga jarak disekolah adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Tetapi di rumah, mereka tetap teman yang lengket seperti prangko.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!