Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.
Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.
Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putus Asa : Aurelia kazehaya
Semua dimulai dari grafik.
Garis yang seharusnya stabil… mendadak menukik tajam.
📉
Dalam waktu kurang dari dua minggu, beberapa perusahaan utama milik keluarga Kazehaya mengalami penurunan drastis. Saham jatuh. Investor menarik dana. Mitra bisnis mulai menjaga jarak.
Awalnya hanya fluktuasi kecil.
Lalu rumor muncul.
Rumor berkembang.
Dan dalam hitungan hari, reputasi keluarga itu terkoyak seperti kain yang digunting dari banyak sisi.
Tuduhan manipulasi laporan.
Isu pencucian dana.
Konspirasi politik.
Tidak ada bukti nyata yang terkonfirmasi.
Namun di era informasi cepat, kebenaran bukan lagi penentu utama—narasi adalah segalanya.
Dan narasi telah berbalik melawan mereka.
Media digital, forum anonim, kanal berita independen—semuanya memuntahkan potongan informasi yang belum tentu valid, tapi cukup untuk memicu kepanikan pasar.
Seperti wabah yang menyebar.
Tidak terlihat sumbernya.
Tapi menyebar dengan sangat cepat.
Di mansion Kazehaya, ruang rapat tak pernah sepi. Hologram laporan finansial melayang di udara. Grafik merah mendominasi layar transparan.
Para eksekutif berbicara cepat.
Pengacara bekerja tanpa henti.
Namun di tengah kekacauan itu—
Aurelia Kazehaya merasa paling sendirian.
Tekanan
Ia duduk di kamar yang terlalu besar untuk satu orang.
Tirai tertutup. Cahaya sore hanya masuk melalui celah tipis, menciptakan garis keemasan di lantai.
Ponselnya bergetar tanpa henti.
Notifikasi.
Pesan.
Tag media sosial.
Ia tak perlu membukanya untuk tahu isinya.
Komentar sinis.
Spekulasi.
Sindiran.
“Putri konglomerat itu akhirnya jatuh.”
“Topeng keluarga terhormat akhirnya terlepas.”
Aurelia menutup telinganya.
Padahal tak ada suara.
Namun pikirannya terlalu bising.
Ia bukan bagian dari keputusan bisnis.
Ia bahkan tak pernah duduk di ruang rapat itu.
Tapi nama keluarganya melekat di namanya.
Dan reputasi keluarga… menjadi beban di pundaknya.
Beberapa hari terakhir ia izin tidak masuk sekolah.
Alasan resmi: tidak fit.
Alasan sebenarnya: tidak sanggup menghadapi tatapan orang-orang.
Ia merasa semua orang menilai.
Semua orang berbisik.
Semua orang tahu.
Padahal mungkin saja tidak.
Namun kecemasan tidak membutuhkan bukti.
Ia berdiri.
Langkahnya pelan.
Matanya mulai kosong.
Di mejanya tergeletak tablet dengan berita terbaru.
“Penurunan saham Kazehaya Group mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir.”
Lima tahun.
Semua runtuh hanya dalam hitungan hari.
Aurelia menelan ludah.
Dada terasa sesak.
Seperti ada tangan tak terlihat yang menekan jantungnya.
“Kalau aku mengakhiri hidup…” gumamnya pelan.
Pikirannya mulai membentuk jalan keluar yang salah.
Bukan karena ingin mati.
Tapi karena ingin berhenti merasa.
Jembatan
Langit malam berwarna ungu gelap ketika Douma keluar dari tempat les tambahan.
Udara kota masih ramai, kendaraan melaju deras di bawah cahaya lampu jalan.
Ia berdiri di halte, tas disampirkan ringan di bahu. Ekspresinya seperti biasa—tenang, tak terganggu.
Bus belum datang.
Ia mengangkat wajah sedikit.
Angin malam menyentuh rambut peraknya.
Lalu—
Siluet.
Di atas jembatan penyeberangan yang melintasi jalan raya, seseorang berdiri terlalu dekat dengan pagar pembatas.
Terlalu dekat.
Douma menyipitkan mata.
Angin meniup rok seragam sekolah itu.
Rambut panjangnya tergerai.
Posturnya… ia kenal.
Jantung Douma berdetak satu kali lebih berat.
Aurelia.
Ia berdiri tepat di tepi jembatan itu.
Posisi yang sangat pas untuk melompat.
Beberapa kendaraan melaju kencang di bawahnya.
Tak ada yang menyadari.
Tak ada yang melihat dan peduli.
Douma tidak berpikir panjang.
Bus yang mulai mendekat ia abaikan.
Ia berlari.
Langkahnya cepat, terukur, tapi ada urgensi yang jarang muncul darinya.
Tangga jembatan ia naiki dua anak tangga sekaligus.
Semakin dekat, ia melihat bahu Aurelia bergetar halus.
Angin semakin kencang.
Aurelia menutup mata.
Satu langkah lagi.
Dan—
“Jangan!!”
Suara Douma terdengar tepat sebelum ia bergerak.
Namun Aurelia sudah memiringkan tubuhnya ke depan.
Refleks.
Douma meraih pergelangan tangannya dengan kuat.
Tarikan itu membuat keseimbangan keduanya goyah.
Mereka terjatuh.
Tubuh mereka berguling ke lantai jembatan.
Douma memeluknya erat agar tidak terbentur pagar besi. Lengan douma terbentur dengan keras. Meninggalkan luka goresan.
Posisi mereka berhenti dengan Douma di bawah.
Aurelia di atasnya.
Wajah mereka hanya terpisah beberapa sentimeter.
Napas mereka bercampur.
Mata Aurelia membesar.
Air mata menggenang.
Untuk beberapa detik—
mereka hampir saja berciuman.
Hanya jarak tipis yang memisahkan bibir mereka.
Namun Douma tidak bergerak.
Tangannya masih melingkar di punggungnya.
Menahan.
Mengamankan.
“Apa yang baru saja kau lakukan?” suaranya rendah.
Bukan marah.
Tapi tegas.
Aurelia gemetar.
“Aku… hanya ingin semua ini berhenti…”
Kata-katanya pecah.
Tangis yang ia tahan berhari-hari akhirnya runtuh.
“Aku sudah tidak kuat… semua orang membicarakan keluargaku… aku tidak tahu harus bagaimana lagi huuhh huuu…” Tangisnya pecah seketika.
Douma menatapnya.
Tidak ada ejekan.
Tidak ada kelembutan berlebihan.
Hanya ketenangan yang solid.
“Kalau kau melompat dari sana,” katanya pelan, “rumor itu tidak akan berhenti.”
Aurelia terdiam.
“Yang ada, mereka akan punya cerita baru untuk dibicarakan.”
Kata-kata itu tajam.
Namun nyata.
Air mata Aurelia jatuh ke pipi Douma.
“Lalu aku harus bagaimana…”
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar kecil.
Douma perlahan bangkit, tetap memegang bahunya agar ia stabil.
Kendaraan masih melaju di bawah.
Hidup terus berjalan.
Tanpa peduli siapa yang jatuh.
“Kau berdiri,” katanya.
“Dan bertahan.”
Aurelia menatapnya.
“Sesederhana itu?”
“Ya.”
Nada suaranya tidak berubah.
“Jika kau runtuh sekarang, berarti mereka menang.”
Hening.
Angin malam berdesir.
Di mata Aurelia, untuk pertama kalinya sejak hari-hari gelap itu—
ada sesuatu yang bukan rasa takut.
Kepercayaan kecil.
Rapuh.
Tapi ada.
Douma melepaskan pelukannya perlahan.
Namun tangannya tetap siap jika ia goyah.
“Pulanglah tenangkan dirimu, jangan terlalu memikirkannya.Aku yakin semuanya akan berakhir dengan baik. Percayalah” katanya singkat.
Aurelia menunduk.
Lalu mengangguk pelan.
Bayangan
Di sudut lain kota, di ruang yang tak terlihat manusia—
sepasang mata merah menyala.
Lucifer mengamati.
Energi yang tadi hampir terputus… kembali stabil.
“Menarik,” gumamnya.
Variabel itu kembali ikut campur.
Di belakangnya, simbol dimensi bergetar.
Dan jauh dari sana—
Inosuke merasakan sesuatu.
Sinyal.
Halus.
Seperti panggilan.
Ia menoleh ke arah jendela kelasnya yang gelap.
Naluri iblisnya berbisik.
Permainan ini…
baru saja naik tingkat.
*Aurelia Kazehaya