Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIUMAN TAPI GELAP
Tito dan Iyan segera mengatakan maksud tujuan mereka sebelum semakin tidak tega.
"Mohon maaf sebelumnya ya bu. Kami kesini sebenarnya untuk mengatakan kondisi Riko saat ini" ucap Tito berusaha tenang meskipun hatinya tidak tega.
"Kecelakaan? Riko kecelakaan?" tanya ibu Riko memastikan.
"Iya benar. Kondisinya saat ini sedang perawatan dirumah sakit. Tapi jangan khawatir untuk semuanya sudah kami urus. Riko adalah teman terbaik dan terpintar dari kami jadi banyak yang peduli dengannya" jawab Tito.
Ibu Riko mengenggam tangannya erat.
"Kondisinya gapapa kan? Apa parah?" tanyanya.
"Saat ini sudah tahap pemulihan kok bu. Ibu tenang saja" sahut Iyan.
Air mata ibu Riko jatuh. Dengan kondisinya saat ini bersama keluarga, bagaimana bisa menjenguk atau mendatangi putranya di ibukota Jakarta?
"Maaf..maafkan saya, Nak. Kondisi saya seperti ini, kondisi suami saya, dan adik adik Riko tidak bisa datang kesana" ucapnya.
"Tapi bisakah, sekarang saya bisa terhubung dengan putra saya melalui telepon?" lanjutnya.
Tito dan Iyan saling tatap. Mereka bingung bagaimana menghubungkan Riko yang belum sadarkan diri dengan ibunya.
"Coba saya telepon teman saya yang bersama Riko apakah saat ini Riko diperbolehkan untuk menerima teleponnya bu. Karena dalam perawatan intensif" ujar Tito lalu berdiri dan keluar rumah untuk menghubungi Leon tanpa didengar ibu Riko.
Iyan pun bersama dengan ibu Riko berdua diruang tamu.
Iyan melihat sekuat apa ibu Riko menahan tangis hingga wajahnya memerah dan nafasnya tersenggal senggal.
"Hei Leon, gimana keadaan Riko? Udah siuman?" tanya Tito saat telepon terhubung.
"Belum. Kata dokter kayaknya efek operasinya masih kerasa. Kalau semisal 2 jam lagi belum sadar, akan dilakukan rontgen seluruh tubuh mungkin ada pendarahan lainnya" jawab Leon.
Tito terdengar menghela nafas berat.
"Ibunya pingin telepon sama Riko. Aku jawab apa?" ujarnya agak panik.
"Jawab saja udah tidur. Besok pagi saja" sahut Leon.
"Hmmm ya kita harus nginep dulu disini kalau gitu. Btw kamu gapapa kan jaga Riko dirumah sakit sendirian?" tanya Tito.
"Iya gapapa santai aja. Dikasih jatah makan juga sama perawatnya jadi aku gak perlu ke kantin atau gofood untuk makanku" jawab Leon.
"Yaudah. Kalau ada perkembangan Riko, kasih tau ya" sahut Tito.
"Oke" ujar Leon.
Panggilan pun tertutup.
Tito kembali masuk rumah dan duduk kembali.
"Maaf bu, kata teman saya, Leon, Riko udah tidur. Besok pagi bisa telepon" ujarnya.
Terisak lah ibu Riko.
"Oh anakku. Maafkan ibu ya Ko, ibu gak bisa nemenin kamu" lirihnya.
"Ibu tenang saja, Riko anak yang kuat kok. Dia akan baik baik saja" sahut Iyan.
Tito salah fokus dengan suara batuk2 ayah Riko dari dalam rumah.
"Bu mohon maaf sebelumnya, apakah kondisi ayah Riko baik baik saja? Apakah sudah di bawa ke dokter?" tanya Tito.
"Bagaimana bisa bawa ke dokter, Nak? Bayar listrik aja gak bisa" jawab ibu Riko.
Tito dan Iyan semakin kasihan.
"Yaudah, ayo kita bawa ke dokter atau klinik terdekat disini, Bu. Biar saya yang mengurus biayanya. Kondisi Riko saat ini memerlukan dukungan keluarga jadi kita usahakab dulu ayah Riko baik baik saja dan sehat kembali. Apalagi Riko sudah berencana membawa keluarganya datang ke ibukota untuk acara wisuda 2 minggu lagi" jelas Tito.
"Apa gak merepotkan Nak Tito?" tanya Ibu Riko ragu ragu.
"Tidak sama sekali. Jadi ibu siapkan ayah Riko untuk pergi ke dokter ya, saya siapkan mobilnya dulu" jawab Tito lalu keluar rumah bersama Iyan.
Ibu Riko pun masuk ke dalam rumah setelah menghapus tangisnya agar suaminya tidak curiga.
Sekitar 30 menit kemudian, ayah Riko dibawa ke klinik terdekat oleh Tito dan Iyan.
Suara batuk Pak Suprapto sangat mengkhawatirkan. Wajahnya sudah pucat dan terlihat sudah sangat lelah.
Sesampainya di klinik desa alias puskesmas, ternyata langsung dirujuk ke rumah sakit besar di kota yang cukup jauh.
Dokter Puskesmas yang memeriksa sudah melihat tanda tanda infeksi paru2 dari pasien ini. Apalagi baru saja Pak Suprapto batuk darah.
Tito pun langsung sigap mengantar ke rumah sakit kota meskipun menempuh perjalanan sejaman.
Sampai dirumah sakit, Suprapto langsung ditindak dengan biaya umum oleh Tito karena jika menggunakan asuransi kesehatan negara banyak syarat dan ketentuannya.
Akhirnya ayah Riko pun dirawat dan diperiksa oleh dokter.
"Paru paru pasien sudah terkena kanker. Mungkin akibat merokok dalam waktu panjang dan melebihi batas. Dan kami perlu melakukan screening menyeluruh untuk melihat penyebaran kanker dalam tubuh pasien" jelas dokter.
Tangis Yuliana, ibu Riko langsung pecah. Selama ini memang suaminya sering batuk batuk dan meskipun dilarang merokok tetap saja merokok.
Tito dan Iyan menenangkan.
Hanya Ibu Riko saja yang mengantar Suprapto untuk berobat dan ketiga anaknya yang lain dirumah.
Sebelum tadi berangkat, Tito membayar listrik dan menelepon petugasnya yang siap 24 jam untuk pelayanan agar langsung memasang ulang aliran listriknya.
Rumah Riko berada di tengah kebun dan tidak bertetangga jarak dekat.
Setelah pemeriksaan menyeluruh, hasilnya akan keluar besok pagi. Suprapto harus menjalani rawat inap.
.
Hari sudah malam di ibukota, jam menunjukkan pukul 9 malam.
Baru saja jari Maya bergerak menandakan dirinya telah mulai sadar.
Namun ada yang aneh dari wanita itu. Saat matanya terbuka, tidak ada cahaya yang terlihat. Maya tidak bisa melihat.
"Kok gelap?" lirihnya.
Ayu sebagai ibu yang standbye didekat putrinya pun panik dan langsung memanggil dokter melalui bel kamar.
Ada Erlan juga yang menemani sang istri untuk berjaga didekat sang putri.
"Sayang..kamu udah siuman" sapanya.
"Dad, kok gelap? Ini dimana?" tanyanya.
"Kamu dirumah sakit sayang.. sebentar momi udah panggilkan dokter. Kamu akan baik baik saja" sahut Ayu.
Tak lama kemudian dokter datang bersama beberapa perawatnya. Maya diperiksa dan ditanya serta matanya di berikan rangsangan cahaya.
"Mohon maaf, bapak dan ibu, sepertinya akibat benturan keras yang dialami pasien menyebabkan kehilangan penglihatan meskipun sudan kami operasi tadi malam untuk mencegah pendarahan otak lebih meluas. Kita akan lakukan rontgen mata dan kami akan segera bekerja sama dengan dokter spesialis mata" jelas Dokter Marsal.
"Baik dok. Lakukan apapun untuk putri kami agar pulih kembali" ujar Erlan.
Ayu hanya bisa menangan tangis dan memeluk suaminya.
Saat mendengar penjelasan dokter, Maya tidak merespon atau menangis. Dia diam dan memikirkan hal lain.
"Apakah ini balasanku kepada Riko? Apakah dia baik baik saja?" batinnya.