NovelToon NovelToon
Aku Terlahir Kembali Sebagai Bayi Jahat

Aku Terlahir Kembali Sebagai Bayi Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Rebirth For Love / Time Travel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : TAKDIR TERPILIH SENDIRI (END).

Langit di atas ibu kota kerajaan tampak tenang pagi itu, terlalu tenang untuk sebuah hari yang seharusnya menjadi penentuan nasib banyak orang.

Arvella berdiri di balik jendela tinggi sayap timur istana, memandangi halaman batu tempat para ksatria berjaga. Angin dingin menyibakkan tirai tipis di belakangnya. Usianya sudah jauh dari bayi yang dulu hanya bisa menangis di buaian. Rambut peraknya kini jatuh lurus melewati bahu, wajahnya matang oleh pengalaman yang tidak seharusnya dimiliki seseorang seusianya.

Di kepalanya, ingatan masa lalu tidak lagi datang seperti kilasan kacau. Semuanya sunyi. Teratur. Seolah menunggu satu keputusan terakhir.

“Putri.”

Suara itu membuat Arvella menoleh. Ksatria dengan rambut hitam pekat dan mata biru gelap berdiri beberapa langkah di belakangnya. Seragam penjaga kerajaan dikenakannya dengan rapi, namun bekas luka lama di tangannya tetap terlihat. Dialah sosok yang dulu hanya muncul sebagai bayangan, kemudian sebagai misteri, dan kini sebagai seseorang yang tak bisa lagi ia abaikan.

“Kael,” ucap Arvella pelan. “Kau datang lebih awal.”

“Situasi hari ini tidak memungkinkan siapa pun datang terlambat.” Kael melangkah mendekat. “Dewan Tinggi sudah berkumpul. Tuduhan itu akan dibacakan sebentar lagi.”

Arvella mengangguk. “Aku tahu.”

Tuduhan pengkhianatan terhadap Raja. Tuduhan yang, dalam ingatan hidup sebelumnya, berakhir dengan runtuhnya kepercayaan rakyat, kematian beberapa bangsawan, dan perang saudara kecil yang tidak tercatat dalam sejarah resmi.

Dan dalam kehidupan itu, Arvella tidak pernah sempat mencegahnya.

“Jika kau ingin mundur,” lanjut Kael, suaranya lebih rendah. “Aku bisa mengatur jalur keluar. Bahkan sekarang.”

Arvella menatapnya lama. “Kau tahu aku tidak akan melakukan itu.”

Kael tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Aku tahu. Aku hanya perlu memastikan.”

Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Lalu Arvella menarik napas panjang.

“Kael,” katanya. “Jika hari ini aku gagal… apa yang akan kau lakukan.”

Kael tidak langsung menjawab. Ia menatap halaman, lalu kembali menatap Arvella. “Aku akan tetap berdiri di sisimu. Bahkan jika seluruh istana memalingkan wajah.”

Jawaban itu sederhana. Tidak berlebihan. Tapi justru itulah yang membuat dada Arvella terasa hangat dan berat sekaligus.

“Baik,” ucapnya. “Kalau begitu, mari kita selesaikan.”

Aula Besar kerajaan dipenuhi suara langkah dan bisik-bisik ketika Arvella melangkah masuk. Para bangsawan, penasihat, dan perwakilan wilayah duduk di kursi melingkar. Di singgasana utama, ayahnya—Raja Aldric—duduk tegak, wajahnya tenang namun sorot matanya tajam.

Ketika Arvella berdiri di sisi kanan singgasana, beberapa bisikan semakin keras.

“Dia masih terlalu muda.”

“Putri kerajaan ikut campur urusan dewan?”

“Apa dia pikir ini permainan?”

Arvella mendengar semuanya. Dulu, komentar seperti itu membuatnya ragu. Sekarang, ia hanya mencatatnya.

Pemimpin Dewan Tinggi berdiri. “Hari ini, kita akan membahas tuduhan serius terhadap Raja Aldric mengenai penyalahgunaan wewenang dan kerja sama terselubung dengan faksi luar.”

Suara gaduh langsung memenuhi aula.

Raja Aldric mengangkat tangan. Aula kembali sunyi.

“Lanjutkan,” ucapnya singkat.

Satu per satu tuduhan dibacakan. Nama-nama wilayah. Anggaran. Keputusan militer. Semua terdengar masuk akal di telinga mereka yang tidak tahu detailnya.

Dalam hidup sebelumnya, di titik ini, Arvella hanya bisa menangis di kamar pribadinya. Kali ini, ia melangkah maju.

“Yang Mulia Dewan,” katanya, suaranya jelas dan tenang. “Aku memohon izin berbicara.”

Beberapa bangsawan tampak terkejut. Pemimpin dewan mengerutkan kening. “Putri Arvella. Ini urusan—”

“Yang dampaknya akan menentukan apakah kerajaan ini tetap berdiri atau runtuh,” potong Arvella, tanpa meninggikan suara. “Jika kalian yakin pada keadilan, maka dengarkan aku.”

Keheningan menggantung berat.

“Beri dia waktu,” kata Raja Aldric akhirnya.

Arvella mengangguk kecil. Ia melangkah ke tengah aula.

“Tuduhan yang kalian dengar,” katanya, “disusun rapi. Terlalu rapi. Dan itulah masalahnya.”

Seorang bangsawan berdiri. “Apa maksudmu, Putri?”

“Keputusan yang disebutkan,” lanjut Arvella, “dibuat pada waktu yang berbeda, oleh dewan yang berbeda, dengan tujuan berbeda. Namun disusun seolah-olah satu pola. Itu bukan kebetulan. Itu rekayasa.”

“Bukti?” tanya seseorang sinis.

Arvella menoleh ke Kael.

Kael maju selangkah, membawa gulungan dokumen. “Ini catatan asli gudang arsip lama. Disembunyikan di lorong bawah tanah yang tidak lagi tercatat di peta istana.”

Bisik-bisik meledak.

“Lorong itu seharusnya runtuh puluhan tahun lalu.”

“Tidak,” jawab Arvella. “Seseorang memastikan ia tetap ada.”

Ia melanjutkan, membuka satu demi satu bukti. Tanda tangan palsu. Cap yang dicetak ulang. Kesaksian pelayan lama yang dulu diabaikan.

Satu per satu, wajah para penuduh berubah.

Namun konflik belum selesai.

Seorang pria berjubah gelap berdiri dari kursinya. “Meskipun semua itu benar, Putri, tetap ada satu hal. Mengapa kau begitu yakin akan semua ini.”

Aula kembali sunyi.

Arvella menatap pria itu. Inilah titik yang paling ia takuti. Dalam kehidupan sebelumnya, ia memilih diam. Sekarang, ia memilih jujur.

“Karena aku pernah melihat apa yang terjadi jika kebohongan ini dibiarkan,” katanya. “Aku melihat istana terbakar. Aku melihat darah di aula ini. Aku melihat kerajaan terpecah.”

Beberapa orang tertawa kecil. “Ramalan?”

“Ingatan,” jawab Arvella pelan.

Raja Aldric menoleh tajam. “Arvella.”

“Ayah,” ucapnya, tidak mundur. “Aku tidak meminta kalian mempercayai semuanya. Aku hanya meminta kalian melihat bukti, bukan ketakutan.”

Keheningan kembali menyelimuti aula. Lama. Menyesakkan.

Akhirnya, pemimpin Dewan Tinggi menarik napas berat. “Dewan akan mempertimbangkan ulang tuduhan ini.”

Satu kalimat itu saja sudah mengubah segalanya.

Malam turun pelan. Istana tidak lagi riuh, namun tidak juga tenang.

Arvella duduk di balkon pribadi, memandang obor-obor yang menyala di sepanjang tembok luar. Kael berdiri di sampingnya, kali ini tanpa seragam resmi.

“Kau tahu,” kata Kael, memecah sunyi. “Hari ini, kau tidak mencegah takdir.”

Arvella menoleh. “Lalu apa yang kulakukan.”

“Kau menulis ulang.”

Ia tersenyum kecil. “Aku takut.”

“Aku juga,” jawab Kael jujur. “Tapi aku tidak menyesal.”

Arvella terdiam sejenak. “Dalam hidup sebelumnya… aku tidak pernah sampai sejauh ini.”

Kael menatapnya. “Dan sekarang?”

“Sekarang aku sadar,” ucap Arvella. “Takdir tidak pernah benar-benar mengikatku. Aku yang terus menaatinya.”

Kael mengangguk. “Dan hari ini, kau memilih.”

Arvella memandang langit. Bintang-bintang tampak lebih terang dari biasanya.

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini,” katanya. “Mungkin aku tidak akan selalu bisa melihat ke depan.”

Kael tersenyum tipis. “Maka kau akan berjalan seperti manusia biasa.”

Arvella menatapnya, lalu tertawa pelan. “Itu terdengar menakutkan.”

“Tidak jika kau tidak sendirian.”

Keheningan kembali hadir, tapi kali ini hangat.

Di dalam istana, lonceng kecil berdentang. Bukan tanda bahaya. Bukan tanda kemenangan. Hanya penanda pergantian jam.

Arvella berdiri. “Besok, semuanya akan berubah.”

Kael berdiri bersamanya. “Dan kau siap.”

Arvella mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak kelahirannya kembali, ia merasa ringan.

Bukan karena masa depan pasti indah.

Melainkan karena, akhirnya, masa depan itu miliknya sendiri.

1
Passolle
lanjut ka
LOL #555
Hebat banget ,baru lahir udah bisa buka mata ,mendengar, ngendaliin kekuatan magis , serba bisa , kayak budak koporat
LOL #555: gak sih kak , biasanya juga kalau reinkarnasi gini ,baru lahir udah bisa ngalahin naga 🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!