Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9: Inspeksi Mendadak Ibu Suri
DOK! DOK! DOK!
Suara gedoran di pintu kayu yang lapuk itu terdengar seperti gempa bumi bagi kepala Rio yang masih pening.
Rio mengerang, menggeliat di sofa ruang tamu yang sempit. Kain sarung yang dia pakai melilit kaki, dan ada bekas ileran di bantal sofa. Di sekelilingnya berserakan bungkus mie instan, botol air mineral kosong, dan... yah, sepasang kaos kaki yang belum dicuci seminggu.
"Rio! Buka pintunya! Ini Ibu!"
Mata Rio langsung terbuka lebar. Ibu?
Jantungnya mencelos. Ibunya, Bu Ratna, adalah tipe wanita yang menganggap debu di atas meja sebagai dosa besar. Dan sekarang dia datang ke "kandang babi" ini?
Rio buru-buru bangun, menendang bungkus mie instan ke kolong sofa, lalu berlari membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, sosok wanita paruh baya dengan daster batik necis, tas jinjing (KW super), dan lipstik merah menyala berdiri di sana. Matanya yang tajam setajam silet langsung memindai penampilan Rio.
"Ya Allah, Gusti! Anak ganteng Ibu kok kurus begini?!"
Bu Ratna langsung nyelonong masuk tanpa permisi, menubruk Rio dengan pelukan menyesakkan yang bau minyak angin.
Tapi sedetik kemudian, hidung Bu Ratna kembang kempis.
"Aduh... bau apa ini, Yo? Kok bau kayak... sampah basah?" Bu Ratna melepaskan pelukan, lalu matanya melotot melihat keadaan ruang tamu.
Dia melihat tumpukan majalah yang berantakan, debu di meja TV, dan... astaga, ada piring bekas makan yang dikerubungi semut di pojok meja.
"Astagfirullahaladzim!" jerit Bu Ratna histeris. Dia berkacak pinggang, wajahnya merah padam. "Mana istri kamu? Mana si Kara?! Jam segini masih molor dia? Suami mau berangkat kerja rumah masih kayak kapal pecah!"
Bu Ratna melangkah lebar menuju kamar tidur, siap menyiram menantunya dengan air.
"Kara! Bangun kamu! Mentang-mentang saya jarang ke sini kamu jadi males-malesan ya—"
Bu Ratna membuka pintu kamar. Kosong.
Hanya ada kasur yang seprainya berantakan dan lemari yang terbuka menganga.
Bu Ratna berbalik menatap Rio dengan bingung. "Mana dia? Ke pasar? Apa keluyuran?"
Rio menunduk. Ini saatnya. Dia harus memainkan perannya sebagai korban. Dia harus membuat narasi sebelum Kara sempat membela diri (kalau mereka bertemu).
Rio memasang wajah paling menyedihkan. Bahunya turun, matanya dibuat sayu.
"Dia pergi, Bu," suara Rio bergetar, dibuat sedramatis mungkin.
"Pergi? Pergi ke mana?"
"Kabur," jawab Rio lirih, lalu duduk lemas di sofa (di atas tumpukan baju kotor). "Udah tiga hari, Bu. Dia ninggalin Rio. Dia... dia minta cerai."
"APA?!"
Teriakan Bu Ratna mungkin terdengar sampai ke rumah Bu Tejo di sebelah. Tas jinjingnya jatuh ke lantai.
"Cerai?! Si gembel itu minta cerai sama kamu?! Sama manajer perusahaan?!" Bu Ratna geleng-geleng kepala, seolah dunia sudah terbalik. "Sakit jiwa dia? Kurang apa kamu, Yo? Kamu kasih dia makan, kamu kasih tempat tinggal, kamu pungut dia dari jalanan!"
Rio memijat pelipisnya. "Kayaknya... dia punya cowok lain, Bu."
Fitnah itu meluncur mulus dari bibir Rio.
"Rio curiga dari kemarin-kemarin dia sering main HP diem-diem. Terus tiba-tiba dia dandan menor, pergi nggak pamit. Pas Rio tanya, dia malah marah-marah. Terus kemarin... ada pengacara dateng ke kantor Rio."
"Pengacara?"
"Iya. Pengacara mahal, Bu. Rio yakin itu dibayarin sama selingkuhannya. Nggak mungkin Kara punya duit segitu. Dia kan cuma jualan online recehan."
Wajah Bu Ratna berubah dari kaget menjadi murka. Urat lehernya menonjol.
"Dasar perempuan ular! Tidak tahu diuntung!" maki Bu Ratna, tangannya mengepal di udara. "Sudah untung dinikahi orang terpandang kayak kamu, eh malah ngelunjak! Pasti dia kegatelan sama om-om berduit!"
Bu Ratna berjalan mondar-mandir di ruang tamu sempit itu, menendang botol plastik yang menghalangi jalannya.
"Berani-beraninya dia gugat cerai anak Ibu. Harusnya kita yang buang dia! Dia pikir dia siapa? Cinderella?"
Bu Ratna mengambil surat gugatan cerai yang tergeletak di meja (surat yang dilempar Rio tempo hari). Dia membacanya sekilas, lalu meremasnya geram.
"Nuntut harta gono-gini nggak dia?!" tanya Bu Ratna waspada. "Awas aja kalau dia minta bagian dari gaji kamu atau motor kamu! Dia masuk ke sini cuma bawa baju di badan, keluar juga harus telanjang kalau perlu!"
Rio menggeleng. "Di suratnya sih nggak minta harta, Bu. Cuma minta cerai aja."
"Baguslah! Dia sadar diri!" dengus Bu Ratna. "Tapi Ibu nggak terima, Yo. Nggak terima kamu diperlakukan kayak gini. Ditinggalin pas rumah lagi kotor-kotornya, baju nggak dicuciin... Dasar istri durhaka. Neraka jahanam tempatnya!"
Bu Ratna menatap Rio dengan tatapan sayang yang berlebihan. Dia mengelus pipi Rio yang agak tirus.
"Sabar ya, Le (Tole/Anak laki-laki). Kamu tenang aja. Ibu ada di sini sekarang. Biar Ibu yang urus rumah. Nanti Ibu cariin pembantu harian buat beresin kekacauan si Kara ini."
"Terus... Ibu juga bakal cari tau di mana dia tinggal sekarang," mata Bu Ratna menyipit licik. "Ibu mau kasih pelajaran. Ibu mau labrak dia di depan selingkuhannya itu. Biar laki-laki barunya tau kalau dia itu bekas istri yang nggak becus ngurus rumah!"
Rio tersenyum tipis dalam hati.
Yes.
Dia aman. Ibunya ada di pihaknya. Egonya terselamatkan.
"Makasih ya, Bu. Rio cuma punya Ibu sekarang," kata Rio dengan nada manja.
"Iya. Udah, kamu mandi sana. Bau kambing kamu. Biar Ibu yang masak. Ibu bawa rendang kesukaan kamu."
Rio beranjak ke kamar mandi. Dia merasa sedikit lebih ringan.
Dia tidak sadar, bahwa mengajak Ibunya "berperang" melawan Kara (yang sekarang adalah miliarder) sama saja dengan mengajak semut melawan gajah.
Keinginan Bu Ratna untuk "melabrak" Kara justru akan menjadi jalan pembuka bagi kehancuran mereka berdua yang lebih memalukan.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏