"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11. Pelarian di Bawah Bayang-bayang
Udara di dalam kontainer besi itu terasa sangat lembap dan juga sangat menyesakkan dada. Aroma oli mesin yang basi menyatu dengan bau karat yang sangat menyengat indra penciuman. Hana Tanaka menyandarkan punggungnya pada dinding besi yang terasa sangat dingin dan keras.
Dia bisa mendengar suara deburan ombak yang menghantam dermaga di luar sana dengan sangat keras. Mereka sekarang berada di sebuah kawasan industri terbengkalai di pinggiran Prefektur Kanagawa. Tempat ini adalah sebuah labirin kontainer tua yang sudah tidak digunakan lagi selama bertahun-tahun.
Yuki Nakamura memilih tempat ini karena sinyal komunikasi di sini sangat sulit untuk dilacak oleh menara pemantau. Mereka adalah buronan nomor satu di seluruh penjuru Jepang setelah kejadian besar di persimpangan Shibuya kemarin pagi.
Hana melihat ke arah teman-temannya yang sedang duduk berkerumun di tengah ruangan yang gelap gulita. Cahaya hanya berasal dari layar laptop milik Yuki yang memancarkan sinar biru yang sangat redup dan kusam.
Yuki sedang memasang kabel-kabel tambahan pada sebuah generator listrik portabel yang sudah mulai tua. Ren Ishida duduk di dekat celah pintu kontainer sambil memegang sebatang besi yang sangat panjang. Matanya terus menatap ke arah luar melalui celah sempit itu dengan penuh rasa kewaspadaan yang tinggi.
Ren tidak berbicara sepatah kata pun sejak mereka sampai di tempat persembunyian baru ini tadi malam. Dia hanya fokus pada tugasnya untuk menjaga keamanan seluruh anggota tim dari ancaman unit kepolisian.
"Kondisi di luar sana benar-benar sudah sangat kacau sekarang," ujar Akane Sato dengan suara pelan.
Akane sedang menatap layar ponsel pintarnya yang menunjukkan berita utama di berbagai saluran televisi nasional. Pemerintah baru saja mengumumkan status darurat nasional untuk wilayah Tokyo dan juga prefektur sekitarnya.
Mereka secara resmi menuduh kelompok Hana sebagai organisasi teroris digital yang dibiayai oleh pihak luar negeri. Wajah Hana, Akane, Ren, Yuki, dan juga Kaito terpampang sangat jelas di setiap sudut layar publik. Ada imbalan uang yang sangat besar bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi mengenai keberadaan mereka.
Hana merasakan sebuah beban yang sangat berat kembali menekan pundaknya yang sudah sangat lelah sekali. Dia merasa dunianya seolah sedang runtuh dan tidak ada satu pun tempat yang benar-benar aman.
Kaito Fujiwara duduk di sudut kontainer yang paling gelap sambil memeluk kedua lututnya dengan sangat erat. Dia tidak lagi mengenakan jaket mahalnya yang kini sudah terlihat sangat kotor dan juga sudah sobek.
Wajah Kaito terlihat sangat kuyu dan matanya menunjukkan sebuah ketakutan yang sangat mendalam dan nyata. Dia baru saja melihat ayahnya melakukan konferensi pers di televisi pusat pemerintahan beberapa jam yang lalu. Haruo Fujiwara secara terang-terangan mengatakan bahwa dia sudah tidak lagi menganggap Kaito sebagai anak kandungnya.
Haruo meminta pihak kepolisian untuk tidak ragu menggunakan tindakan tegas jika mereka menemukan posisi Kaito. Kaito merasa seluruh hidupnya yang lama sudah musnah dan juga sudah hancur menjadi debu yang terbang.
Hana Tanaka mendekati Kaito dan mencoba memberikan sebuah dukungan moral melalui tatapan matanya yang lembut. Dia tahu bahwa rasa sakit yang dialami oleh Kaito saat ini jauh lebih besar daripada rasa sakit fisik.
Kaito harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya adalah monster yang sangat haus akan sebuah kekuasaan politik. Hana memberikan sebotol air mineral kepada Kaito dan mencoba untuk tersenyum meskipun hatinya sedang hancur.
Dia tidak ingin Kaito merasa sendirian di tengah badai besar yang sedang mereka hadapi bersama sekarang. Mereka adalah satu tim yang sudah berjanji untuk tetap bersama dalam situasi sesulit apa pun di dunia.
"Kita akan melewati semua ini bersama, Kaito. Jangan pernah menyerah sekarang," bisik Hana Tanaka dengan sangat yakin.
Kaito hanya mengangguk perlahan tanpa berani menatap langsung ke arah mata Hana yang sangat jernih itu. Dia merasa dirinya adalah beban bagi kelompok ini karena identitasnya sebagai anak dari musuh besar mereka.
Namun, Akane Sato segera menyela pemikiran negatif Kaito dengan gaya bicaranya yang sangat tegas dan lugas. Akane mengatakan bahwa informasi dari Kaito adalah satu-satunya cara untuk memenangkan pertempuran terakhir ini nanti. Tanpa data mengenai buku catatan hitam milik Haruo, mereka semua hanya akan menjadi sampah di penjara.
Kaito harus tetap kuat agar semua pengorbanan yang mereka lakukan di Shibuya tidak berakhir dengan sia-sia. Perjuangan mereka sudah mencapai titik yang tidak mungkin lagi untuk ditarik mundur ke belakang.
Yuki Nakamura mendadak mengeluarkan suara erangan kecil karena rasa frustrasi yang sedang dia alami saat ini. Dia baru saja mendeteksi bahwa pemerintah telah mematikan sebagian besar akses internet di wilayah Kanagawa.
Mereka sedang mencoba melakukan isolasi digital agar Yuki tidak bisa mengunggah data-data baru ke internet. Yuki harus menggunakan satelit frekuensi rendah yang sangat lambat untuk tetap bisa terhubung dengan dunia luar. Hal ini membuat pekerjaannya dalam meretas sistem bank rahasia milik Haruo menjadi sangat sulit sekali.
Yuki berkali-kali harus memasukkan kode enkripsi baru agar sistem pertahanannya tidak dijebol oleh polisi siber. Keringat dingin mengalir di pelipisnya karena dia sedang beradu cepat dengan tim ahli teknologi pemerintah.
"Mereka menggunakan algoritma baru untuk melacak lokasi koordinat kita di sini," kata Yuki dengan suara gemetar.
Yuki menjelaskan bahwa setiap kali dia mengirimkan data, ada sebuah sinyal ping yang dikirimkan balik ke server. Polisi sedang mencoba mempersempit area pencarian mereka dengan cara memantau penggunaan data satelit di wilayah ini.
Mereka harus segera menyelesaikan proses pengunduhan data rekening bank dalam waktu kurang dari dua puluh menit saja. Jika mereka lebih lama dari itu, maka posisi kontainer ini akan segera terdeteksi oleh drone pengintai.
Ren Ishida langsung berdiri dan bersiap untuk melakukan prosedur evakuasi darurat bagi seluruh anggota tim. Dia mengambil tas punggungnya dan mulai memeriksa sisa amunisi yang mereka miliki untuk perlindungan diri.
Hana Tanaka merasa jantungnya kembali berdetak dengan sangat kencang dan juga sangat tidak beraturan sekarang. Dia bisa merasakan suasana di dalam kontainer menjadi sangat panas dan juga menjadi sangat penuh ketegangan.
Dia segera membantu Akane untuk membereskan barang-barang sisa makanan dan juga dokumen fisik yang penting. Mereka harus bergerak sangat cepat karena setiap detik adalah penentu antara sebuah kebebasan atau sebuah penjara.
Hana melihat ibunya yang sedang duduk diam di atas tumpukan karung goni di pojok kontainer itu. Ibunya terlihat sangat lemas namun beliau tidak mengeluh sedikit pun demi tidak mengganggu konsentrasi anaknya.
Tiba-tiba, perangkat komunikasi rahasia milik Akane Sato bergetar dengan sebuah pola yang sangat unik dan berbeda. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar namun menggunakan kode keamanan yang sangat kuno.
Akane membuka pesan tersebut dan matanya langsung terbelalak karena dia merasa sangat terkejut dengan isinya. Pesan itu berasal dari seorang pengacara senior bernama Mika Sato yang merupakan kerabat jauh keluarganya. Mika Sato adalah salah satu pengacara hak asasi manusia yang paling berani dan dihormati di Jepang.
Dia menawarkan bantuan hukum secara rahasia untuk membawa kasus ini ke level pengadilan internasional di luar negeri. Mika mengatakan bahwa dia memiliki tempat perlindungan yang jauh lebih aman daripada sekadar kontainer tua ini.
Akane segera mendiskusikan penawaran ini dengan Hana dan juga dengan anggota tim lainnya secara mendalam. Mereka memiliki keraguan yang sangat besar untuk mempercayai orang baru di tengah situasi pengejaran seperti ini.
Namun, mereka juga menyadari bahwa mereka tidak bisa terus berlari dan bersembunyi selamanya tanpa bantuan hukum. Mereka membutuhkan perlindungan dari lembaga internasional agar suara mereka tidak dibungkam oleh hukum domestik yang korup.
Kaito Fujiwara mengenali nama Mika Sato sebagai salah satu musuh politik yang paling ditakuti oleh ayahnya sendiri. Hal ini memberikan sedikit rasa percaya bagi Hana untuk mencoba menjalin komunikasi dengan pengacara tersebut.
"Kita tidak punya pilihan lain. Kita harus menemui Mika Sato malam ini juga," ujar Akane Sato penuh tekad.
Rencana baru segera disusun dengan sangat cepat untuk melakukan perjalanan menuju titik pertemuan yang ditentukan. Mereka akan bertemu di sebuah kuil tua yang berada di lereng Gunung Oyama yang sangat sepi dan terpencil.
Perjalanan menuju ke sana akan memakan waktu sekitar dua jam menggunakan mobil tua milik Ren Ishida tersebut. Mereka harus menghindari jalan tol utama dan melewati jalan-jalan desa yang sangat gelap dan juga sempit.
Yuki segera menghapus semua jejak digital di dalam kontainer ini agar tidak ada data yang tertinggal sedikit pun. Dia juga memasang sebuah perangkat jebakan digital yang akan menghancurkan data jika laptopnya dibuka paksa.
Malam semakin larut dan kabut tebal mulai turun menyelimuti seluruh area pelabuhan industri yang sangat sunyi. Ren Ishida perlahan mengeluarkan mobil tua miliknya dari balik tumpukan kontainer besi yang sangat tinggi itu.
Lampu mobil dimatikan total dan Ren hanya mengandalkan kacamata pengintai malam untuk melihat jalanan yang gelap. Hana duduk di kursi depan dan terus memantau radar kecil yang menunjukkan posisi drone polisi di langit.
Dia melihat beberapa titik merah bergerak di layar radar tapi jaraknya masih cukup jauh dari posisi mereka. Mereka bergerak dengan sangat pelan agar suara mesin mobil tidak terdengar oleh petugas patroli di sekitar.
Mereka berhasil keluar dari area pelabuhan dan mulai masuk ke jalanan perbukitan yang sangat curam dan berliku. Suara angin yang bersiul di antara celah pepohonan membuat suasana perjalanan menjadi semakin terasa sangat mencekam.
Hana Tanaka menggenggam kalung pemberian ibunya dengan sangat kuat untuk menenangkan hatinya yang sangat gelisah. Dia menatap ke arah luar jendela dan melihat hutan yang terlihat seperti raksasa hitam yang sedang diam.
Kaito Fujiwara yang duduk di belakang tampak lebih tenang setelah mengetahui ada orang luar yang ingin membantu. Dia mulai menceritakan lokasi penyimpanan buku catatan hitam ayahnya yang ada di dalam rumah pribadi.
Kaito menjelaskan bahwa buku itu disimpan di dalam sebuah brankas yang ditanam di bawah lantai perpustakaan ayahnya. Brankas itu hanya bisa dibuka dengan menggunakan kode suara yang hanya diketahui oleh Haruo dan juga Kaito.
Ini adalah informasi yang sangat krusial yang bisa menjadi senjata pamungkas untuk menghancurkan karir ayahnya. Hana merasa bahwa mereka akhirnya memiliki sebuah kartu truf yang sangat kuat untuk melakukan serangan balik.
Namun, mereka harus bisa mencapai kuil Gunung Oyama dengan selamat tanpa tertangkap oleh pihak berwajib. Jalanan di depan mereka masih sangat panjang dan juga masih sangat penuh dengan risiko yang mematikan.
Tiba-tiba, sebuah suara berdengung yang sangat keras terdengar tepat berada di atas atap mobil mereka sekarang. Hana melihat ke atas dan dia melihat sebuah drone pengintai milik polisi sedang terbang dengan sangat rendah.
Cahaya lampu sorot dari drone tersebut mulai menyapu jalanan dan hampir mengenai bagian belakang mobil mereka. Ren Ishida segera memacu kendaraannya dengan sangat cepat untuk menghindari kejaran drone yang sangat lincah itu.
Dia melakukan manuver zig-zag di antara tikungan tajam yang sangat berbahaya bagi keselamatan nyawa mereka. Hana berteriak karena merasa sangat takut saat mobil mereka hampir terperosok ke dalam jurang yang dalam.
"Tahan napas kalian semua. Aku akan mencoba masuk ke dalam terowongan hutan di depan," teriak Ren Ishida.
Ren mengarahkan mobilnya masuk ke dalam sebuah terowongan tua yang tertutup oleh semak-semak yang sangat tebal sekali. Drone tersebut kehilangan jejak visualnya karena terowongan itu tidak bisa ditembus oleh sensor panas militer yang biasa.
Mereka tetap berada di dalam terowongan yang sangat gelap itu selama beberapa menit untuk memastikan drone pergi. Yuki segera menyalakan alat pengacau sinyal portabel untuk memutus komunikasi drone tersebut dengan pusat kendali.
Suara dengungan drone perlahan-lahan mulai menjauh dan akhirnya hilang ditelan oleh keheningan hutan yang pekat. Hana merasa kakinya menjadi sangat lemas karena ketegangan yang baru saja mereka alami bersama di jalan.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan jauh lebih hati-hati lagi setelah kejadian pengejaran oleh drone polisi tersebut. Hana menyadari bahwa musuh mereka tidak akan pernah berhenti mengejar hingga mereka benar-benar tertangkap tangan.
Namun, dia juga menyadari bahwa persahabatan mereka telah menjadi semakin kuat melalui setiap cobaan yang ada. Gacha kehidupan telah memberikan mereka awal yang sangat buruk namun mereka memiliki satu sama lain sekarang.
Perjuangan melawan sistem gacha kehidupan yang sangat curang ini akan terus berlanjut hingga titik darah penghabisan. Mereka bukan lagi sekadar remaja biasa namun mereka adalah pejuang keadilan yang sudah sangat berani.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍