NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#11

Perasaan ayunda semakin lama semakin tidak karuan. Syifa yang mengerti akan hal itu segera mengambil inisiatif.

“Bu, punte. Saya minta ijin ke belakang. Perut saya sakit karena sedang haid hari pertama,”ujarnya berbohong.

“Oh, iya. Perlu obat nggak? Biar nanti ke camp aja untuk diperiksa sekalian diobati.”

Syifa menggelengkan kepala. “Nggak, dok.”

“Yakin? Biasanya sakit karena haid itu sakit banget loh. Kadang ada yang suka sampai pingsan.”

“Itu mah temen daya, dok. Dia kalau sakit mens kadang pernah sampai pingsan. Untung dulu mag ada pacarnya yang gendong.”

Ucapan syifa membuat wajah Ayunda memanas. Dia semakin merasa tidak karuan karena sikap sahabatnya tersebut.

Bagi dokter-dokter itu mungkin ucapan Syifa terdengar romantis ampai merka kompak mengatakan ‘cieee’. Tapi tidak dengan Ayunda. Apalgi saat dia tidak sengaja bertalu tatap dengan Zayan yang sedang memperhatikan nya sejak tadi.

“Jadi, boleh nggak saya ijin, kasian soalnya temen saya.”

“Hah, gimana-gimana? Kamu yang sakit kenapa yang kasian malah temen nya?’ Tanya salah satu dokter wanita di depan.

Beberapa orang tertawa. Yang tahu kisah Ayunda dan zayan hanya bisa diam.

“Iya, gimana ya. Kok bisa gitu?”

Gelak tawa kembali membahana di ruang aula pertemuan.

‘’Ya sudah, suda. Kamu boleh pergi sama temen kamu. Silakan. Kalau semisal butuh buat jangan sungkan datang ke camp ya.”

“Iya, dok. Hatur nuhun.”

Syifa menarik tangan Ayunda untuk segera keluar dari ruangan tersebut.

“Yun, maaf ya.”

“Iya, gak apa-apa. Makasih ya udah bawa aku keluar. Kayaknya aku bakalan pingsan kalau terlalu lama di sana.”

Syifa tetap merasa bers;ah pada teman baiknya itu. Mereka berjalan perlahan menuju Pesawaran yang ada di pinggir jalan beraspal. Panas matahari terasa hangat karena beradu dengan hawa dingin yang menyelimuti desa tersebut.

Langkah merka terhenti untuk menepi karena sebuah klakson yang berbunyi dara arah belakang.

“Ini para gadis cantik mau ke mana?”

“Mas Elang?”

“Yun, aku beneran pamit ya. Kayaknya sakit perut beneran deh,”

‘’Hahaha. Kualat sih pake acara bohong segala. Ya udah sana.”

Syifa lari terbirit-birit. Rupanya dia memang sakit perut hendak buang hajat.

“Apa kabar kamu, Yunda? Lama tidak bertemu dan berkomunikasi sama mas. Ganti nomor?”

Ayunda mengangguk pelan.

“Zayan yang salah, kok mas ikut-ikutan kena juga. Nanas ini bagi nomor baru kamu.”

Dengan sedikit keraguan ayunda memberikan nomor barunya pada elang.

“Katany anak perempuan di sini lagi penyuluhan. Kamu gak ikut?”

“Ikut.”

“Kok ada di sini? Udah selsai. Tapi kok masih sepi.” Ujar elang sambil melihat sekeliling.

”aku dan syifa kabur. Ada kak zayan di sana dan aku gak nyaman.”

“Oh. Begitu rupanya.”

‘’Motornya pinggirin mas. Takut ada yang mau lewat juga.”

Elang dan ayunda duduk di pinggir jalan sambil menatap jauh ke depan. Memandang sawah yang baru saja ditanami padi.

“Kamu gak pernah naik pohon lagi?”

“Hahaha. Nggak, kak. Kayaknya aku udah lupa gimana caranya naik ke pohon, apalagi naik pohon kelapa.”

“Mau coba naik lagi gak? Ini ada pohon kelapa, pendek ini.

Kamu panjat aja. Siapa tau bisa membuat kamu mengenang masa lalu dulu sebagai tukang maling buah.”

“Hahahaha. Jelek banget ya ternyata citra aku di desa ini.”

“Nggak sih. Tapi penilaian kamu di mata irang-orang terutama orang tua tuh baik. Mungkin karena kamu suka menolong mereka.”

“Itu mah papa aku yang nyuruh.”

“Jangan suka merendah. Sesekali harus bangga pada diri sendiri.”

Ayunda mengangguk kecil.

‘’Oke lah, aku coba asah kemampuan dulu.”

gadis itu mencoba menaiki pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi dengan hati-hati. Awalnya dia merasa takut dan lupa caranya memanjat. Namun, bakat terpendamnya itu memang sudah mendarah daging dengan nya.

Ayunda sampai ke atas tapi dia tidak mengambil sebutipun kelapa yang ada di atas sana. Tujuan dia memang hanya ingin mencoba mengetes kemampuannya yang dulu.

“Ayo turun, jangan lama-lama di atasnya.”

“Iya, Mas.”

Saat ayunda sedang berusaha untuk turun, tiba-tiba rombongan dokter itu datang. Para dokter wanita histeris melihat bahwa ada seorang perempuan muda yang sedang memanjat pohon kelapa.

Mereka terlihat heran juga kagum pada kemampuan Ayunda. Ayunda bukan lagi seorang anak kecil yang merasa bangga dan senang dipuji pintar memanjat. Kini dia sudah dewasa. Pujian nyang dulu membuatnya bangga itu kini berubah menjadi rasa malu.

Terlebih ada Zayan di sana.

Merasa diri tidak berharga, tidak mampu dan inferior membuat Ayunda hanya bisa diam. Pemandangan yang sangat timpang. Mereka dengan pakaian rapi dan bersih, sementara dirinya kini berada di atas pohon dengan lengan baju digulung sampai sikut, celana kulot yang juga dia gulung sampai lutut. Rambut diikat cepol tidak rapi.

Harga dirinya terjun bebas di hadapan Zayan dan teman-temannya.

“Yunda, ayo turun,” ujar Elang lembut seraya tersenyum. Seolah mengatakan it’s oke, semua baik-baik saja.

Perlahan ayunda menuruni pohon kelapa.

“Wah, kamu hebat banget bisa naik pohon kelapa.”

“Hahaha, iya bener. Gak nyangka gadis desa yang cantik kayak kamu ternyata bisa manjat. Aku mana bisa.”

Sungguh, pujian itu tidak membuat ayunda merasa senang.

“Seperti monyet kecil, benar kan?” Tanya Andreas sambil melirik Zayan.

Mendengar ucapan Andreas, kening ayunda mengernyit. Bagaimana dia bisa tahu jika ayunda adalah monyet kecilnya Zayan. Ayunda melirik Zayan sekilas.

“Kok gak sekalian ambil kelapanya? Kayaknya seger minum air kelapa yang baru metik,” ujar Andreas.

“Dia sudah pensiun. Sudah tidak seperi dulu lagi.” Semua orang menatap elang.

“Kalian mau pergi ke mana? Atau hanya sekedar jalan-jalan? Kebetulan kami harus pergi karena ada keperluan.”

“Iya, hanya jalan-jalan untuk menghirup udara segar.” Jawab dokter wanita.

“Baiklah. Kalau begitu kami permisi. Ayo, kita pergi.” Elang menggenggam jemari ayunda. Mengajaknya naik motor lalu pergi meninggal para dokter muda itu.

“Dia kan?” Andreas berbisik pada Zayan.

“Hmmm.”

Andreas mengangguk-angguk pelan. Merka menatap ayunda dan Elang hingga mereka menghilang dari pandangan.

“Sepertinya dia kembang desa di sini ya? Cantik loh dia.”

“Menurut kamu dia cantik, Din?” Tanya Andreas.

“Cantik lah. Kulit wajahnya itu loh, mulus dan bersih. Tapi bersihnya tuh alami gak kayak pake krim atau perawatan. Ngerti gak sih?”

Andreas tersenyum tipis.

“Umurnya kira-kira berapa ya? Sekolah apa—“

“Harusnya dia kuliah semester dua. Hanya saja ….”

Mereka semua menatap Zayan. Menunggu kelanjutan ucapan dari Zayan.

“Orang sini masih menganut prinsip bahwa perempuan itu gak perlu sekolah tinggi karena ujungnya pasti ke dapur dan sumur.” Andreas menjelaskan.

“Wah, sayang banget ya. Padahal kalau dia kuliah di kota, pasti bakalan jadi rebutan cowok-cowok, mukanya itu loh polos banget.” Dini terus memuji Ayunda sejak dia pertama kali melihatnya.

Dia tidak tahu jika Ayunda adalah wanita pujaan dari pria yang selama ini dia kejar, Zayan.

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!