Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.
Melihat Naraya menangis histeris, Abiyan merasa iba. Dia bangkit dari duduknya, lalu berlutut di hadapan Naraya. Dengan perlahan, dia menarik tangan Naraya, menurunkan kedua tangan yang menutupi wajahnya.
"Ra, jangan seperti ini," ucap Abiyan lembut, seakan ikut merasakan kesedihan Naraya. "Aku tahu ini berat, tapi kamu nggak sendirian. Aku ada di sini, bersamamu."
Naraya menatap Abiyan dengan mata sembab. Ia melihat ketulusan dan perhatian yang terpancar dari mata pemuda itu. Tanpa sadar, ia meraih tangan Abiyan dan menggenggamnya erat.
"Aku... aku nggak tahu harus bagaimana, Bi," ucap Naraya lirih, suaranya tercekat. "Aku merasa sangat kehilangan, sangat sakit."
Abiyan mengusap air mata yang membasahi pipi Naraya dengan lembut. "Aku mengerti, Ra. Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi, kamu harus kuat. Kamu nggak boleh menyerah pada keadaan."
Abiyan menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan ucapannya. "Mungkin... mungkin ibumu punya alasan tersendiri mengapa dia nggak mengenali kamu. Mungkin dia sedang mengalami sesuatu yang berat, atau mungkin dia punya masalah dengan ingatannya. Kita nggak tahu pasti apa yang terjadi padanya."
"Tapi, yang terpenting sekarang adalah kamu nggak boleh kehilangan harapan. Siapa tahu, suatu saat nanti ibumu akan mengingatmu kembali, dan kalian bisa berkumpul lagi seperti dulu," ucap Abiyan.
Dia berusaha memberi suntikan semangat agar Naraya tak kehilangan harapan.
Naraya menatap Abiyan dengan sorot matanya yang sulit diartikan. Ia merasa terharu dengan perhatian dan dukungan yang pemuda itu diberikan. Ia tidak menyangka bahwa Abiyan akan begitu peduli padanya.
"Terima kasih, Bi," ucap Naraya lirih. "Terima kasih karena kamu sudah mau mendengarkanku. Aku merasa sedikit lebih baik sekarang."
Abiyan tersenyum lembut. "Sama-sama, Ra. Aku akan selalu ada untukmu, kapanpun kamu membutuhkanku."
Dia kemudian memeluk Naraya dengan erat, memberikan kehangatan dan kenyamanan yang sangat dibutuhkan oleh wanita itu. "Ingat, Ra. Ada dedek bayi yang ada dalam perutmu yang nggak boleh kamu abaikan. Kamu harus menjadi ibu yang kuat untuknya, oke."
Naraya mengangguk, dalam pelukan Abiyan, hatinya sedikit tenang. Ia merasa ada seseorang yang benar-benar peduli padanya, seseorang yang bisa menjadi tempatnya bersandar. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi ia yakin bahwa dirinya tidak akan sendirian menghadapi semua ini.
.
.
.
Sementara itu, di kamarnya yang luas dan mewah, Ranti mondar-mandir dengan perasaan gelisah. Pertemuan singkat dengan gadis di kafe tadi pagi terus berputar di benaknya.
"Mungkinkah itu benar Naraya, putri kecilku yang aku tinggalkan dulu? Wajahnya memang mirip, tapi mengapa dia tidak menyapaku? Apa dia begitu marah padaku?" Ranti sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Ia memang masih belum yakin sepenuhnya. Untuk itu ia menyewa seorang detektif swasta untuk menyelidikinya.
Ranti melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun, suami dan putranya belum pulang dari kantor, membuat Ranti hanya berteman dengan kesunyian yang mencekam.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering, pertanda panggilan masuk. Dengan ragu, Ranti meraih ponselnya dan menerima panggilan tersebut. Jantungnya berdebar kencang, seolah siap menerima segala kemungkinan.
"Hallo, selamat malam. Bagaimana hasilnya? Apa yang Anda peroleh? Apa benar dia putriku?" cecar Ranti dengan tidak sabar.
"Benar, Bu. Gadis yang bekerja di kafe itu bernama Naraya Nathania, usia dua puluh lima tahun. Tinggal di sebuah kontrakan sederhana di daerah Kelapa Dua. Statusnya dia sudah menikah, tapi...."
"Tapi apa...? Tolong yang jelas kalau bicara," kata Ranti.
"Tapi saat ini dia tinggal sendirian, karena suaminya meninggalkannya, Nyonya. Dan sekarang dia sedang hamil."
"Hamil?" gumamnya lirih.
Ranti menahan napas, membayangkan putrinya hidup dalam kesusahan. Airmatanya mulai mengalir membasahi pipinya. "Ya Tuhan, apa yang terjadi padanya?"
Ia menggenggam ponselnya dengan erat, sambil terduduk lemas. Airmatanya semakin deras mengalir. Perasaan bersalah, sedih, dan khawatir bercampur aduk menjadi satu. Namun, ia tidak berdaya untuk melakukan sesuatu karena ada harga yang harus dibayar untuk semua ini.
"Maafkan Ibu, Nara," bisik Ranti lirih.
.
.
.
Beberapa hari berlalu, pagi ini jadwal Abiyan memimpin briefing. Dia melakukannya dengan tenang dan profesional, meskipun masih ada sedikit rasa gugup, tetapi dia berusaha menyembunyikan ketegangan yang dirasakannya.
"Selamat pagi semuanya," sapa Abiyan dengan senyum ramah. "Seperti biasa, sebelum kita mulai bekerja, saya ingin menyampaikan beberapa informasi penting."
"Pertama, hari ini kita akan kedatangan beberapa pelanggan VIP, jadi mohon berikan pelayanan yang terbaik. Kedua, stok pastry kita menipis, jadi tolong perhatikan dan segera laporkan jika ada yang perlu dipesan. Dan yang terakhir, jaga kebersihan dan kerapian area kerja kita masing-masing."
Abiyan berhenti sejenak, lalu menatap satu per satu rekan kerjanya. "Ada pertanyaan?"
Semua menggelengkan kepala, tanda mengerti.
"Baiklah, kalau begitu, mari kita mulai bekerja dengan penuh semangat. Semoga hari ini semuanya berjalan lancar sesuai rencana kita," ucap Abiyan mengakhiri briefing.
Dia menarik napas lega, merasa sedikit lebih percaya diri setelah berhasil memimpin briefing pagi ini dengan lancar. Dia berharap briefing-nya kali ini bisa memberikan kesan yang baik bagi Pak Joni, sang manajer.
Abiyan melanjutkan kerjanya kembali. Dengan penuh konsentrasi dia meracik komposisi kopi yang pas agar bisa menyajikan minuman yang nikmat dan lezat. Sesekali pandangannya tertuju pada bagian kue dan cake di mana Naraya sedang bekerja, memastikan wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.
Tak lama kemudian, Tyo menghampirinya—seperti biasa, pria itu selalu mencari kesempatan untuk menggoda atau merendahkan Abiyan.
"Janganlah terlalu berbangga diri hanya karena pagi ini loe berhasil memimpin sesi briefing dengan cukup baik," sindirnya sambil tersenyum mengejek.
Tyo menatap Abiyan, seolah memang sengaja ingin mematahkan semangatnya dan membuatnya merasa rendah diri. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Abiyan, lalu berbisik.
"Keberhasilan sesaat nggak akan menjamin loe layak berada di posisi sekarang."
"Gue tahu betul bagaimana sistem kerja di tempat ini, kalau loe salah langkah sekecil apa pun, posisi loe akan segera digantikan orang lain yang lebih layak," tandasnya.
Abiyan menghela napas perlahan, kemudian menoleh langsung ke arah Tyo. "Gue nggak punya waktu untuk berseteru atau membaca maksud tersembunyi di balik kata-kata loe," katanya dengan tegas dan tetap tenang.
"Kalau loe merasa gue nggak layak, silakan buktikan dengan prestasi loe sendiri, bukan dengan menghabiskan waktu hanya untuk menggangu gue." Abiyan kembali fokus pada pekerjaannya, mengabaikan keberadaan Tyo yang menatapnya dengan pandangan sengit.
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....