Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Sang Malaikat
Suasana di mansion megah keluarga Cavanough terasa mencekam bagi Xavier. Di luar kamarnya, para pelayan sibuk mondar-mandir mempersiapkan katering dan dekorasi bunga untuk pernikahan Agung antara klan Sterling-Valerius dan Cavanough.
Namun, di dalam kamarnya yang remang-remang, Xavier hanya duduk diam di balkon, menatap kosong ke arah taman.
Pikiran Xavier terbang ke masa lalu, ke rahasia-rahasia gelap yang ia simpan rapat tentang pamannya sendiri, Aldrian.
Xavier tahu siapa Aldrian sebenarnya. Di balik senyum hangat dan kata-kata puitis itu, Aldrian adalah legenda di High School elit mereka dulu. Dia adalah predator yang dibungkus dengan kain sutra. Xavier masih ingat betul bagaimana Aldrian dengan mudahnya membuang wanita setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, meninggalkan jejak hati yang hancur di sepanjang koridor sekolah.
Kabarnya, Aldrian sudah bertobat sejak memegang kendali di Cavanough Group. Tapi Xavier tidak sebodoh itu. Ia tahu karakter dasar manusia sulit berubah, apalagi jika menyangkut ego seorang penakluk.
"Apa dia benar-benar mencintai Andrea, atau Andrea hanyalah piala terbaru yang harus ia pajang karena nama besar Sterling-Valerius?" batin Xavier pedih.
Ia membayangkan Andrea, si wanita cerewet yang sombong itu, menjadi korban berikutnya. Andrea yang selama ini merasa paling cerdas di kelas, nyatanya begitu buta saat dihadapkan pada gombalan murahan. Andrea yang angkuh itu sebenarnya sangat naif dalam urusan cinta.
Xavier memejamkan mata. Ia membayangkan wajah Andrea saat tertawa manja di pelukan Aldrian. Rasa muak dan panas bercampur menjadi satu di dadanya.
"Tinggal seminggu lagi," bisik Xavier pada kegelapan malam.
Seminggu lagi, wanita yang selalu berdebat dengannya di kelas itu akan resmi menjadi bibinya. Nama Andrea akan terukir di pohon keluarga Cavanough, namun bukan di samping namanya.
Sialnya, semakin Xavier mencoba membenci keangkuhan Andrea, semakin ia menyadari bahwa ia justru merindukan setiap cekcok yang mereka lalui. Ia merindukan kilatan amarah di mata Andrea saat ia mengkritik teorinya.
Xavier menyadari satu hal yang paling menyakitkan, Ia lebih suka Andrea marah padanya daripada Andrea tersenyum pada pamannya.
Tiba-tiba, pintu kamar Xavier diketuk. Ia tidak menjawab, namun pintu itu terbuka perlahan. Aldrian masuk dengan wajah ceria, memegang dua gelas wiski.
"Keponakanku yang paling serius," sapa Aldrian santai, menyodorkan satu gelas pada Xavier. "Kenapa melamun? Kamu seharusnya merayakan ini. Seminggu lagi aku akan menikahi wanita paling luar biasa di kota ini."
Xavier menerima gelas itu tanpa ekspresi. "Apa kamu benar-benar sudah berhenti, Paman? Berhenti dengan permainan wanita mingguan mu itu?"
Aldrian tertawa kecil, suara tawa yang terdengar begitu tulus namun terasa palsu di telinga Xavier. "Andrea berbeda, Xavi. Dia punya tantangan tersendiri. Menaklukkan wanita seangkuh dia memberikan kepuasan yang belum pernah kurasakan."
Mata Xavier menyipit. "Menaklukkan? Jadi ini hanya soal penaklukan bagimu?"
Aldrian menepuk bahu Xavier dengan kuat. "Jangan terlalu tegang. Aku akan menjaganya dengan baik... setidaknya selama dia masih menarik untuk dijaga. Lagipula, aliansi bisnis dengan Sterling-Valerius terlalu manis untuk dilewatkan, bukan?"
Aldrian meneguk wiskinya dan keluar dari kamar sambil bersiul riang, meninggalkan Xavier yang kini tangannya gemetar menahan amarah. Gelas di tangan Xavier retak karena dicengkeram terlalu kuat.
Xavier tahu ia punya pilihan. Ia bisa diam dan membiarkan Andrea masuk ke dalam perangkap pamannya, atau ia harus bertindak. Namun, jika ia bertindak, ia akan menghancurkan nama baik keluarga Cavanough dan mungkin akan dibenci oleh Andrea seumur hidup karena dianggap merusak kebahagiaannya.
"Wanita sombong yang bodoh," gumam Xavier, meskipun matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam. "Kenapa kamu harus jatuh cinta pada pria seperti dia?"
Satu minggu. Waktu terus berdetak. Dan Xavier tahu, ia tidak akan bisa membiarkan pernikahan ini terjadi tanpa melakukan sesuatu, bahkan jika itu artinya ia harus menjadi penjahat di mata dunia.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading Dear😍