NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lumen workshop

Clara masuk ke taksi yang baru saja ia panggil dari depan Gedung Aksara Langit. Kontrak sudah ditandatangani, nama pena juga sudah dipilih, dan langkah baru sudah dimulai. Ia mengirim pesan pada Natan bahwa ia sedang dalam perjalanan.

Tak lama, taksi berhenti di depan sebuah bangunan ruko dua lantai yang masih terlihat baru. Catnya bersih, pintu rolling door setengah terbuka. Di depannya, Natan berdiri menatap papan nama yang baru saja dipasang.

Clara turun dari taksi dan menghampiri.

“Kak Natan,” sapa Clara.

Natan menoleh dan tersenyum hangat seperti biasa, senyum yang selalu membuat suasana terasa ringan.

Natan mengajak Clara masuk ke dalam. Ruangan itu dipenuhi meja kerja, solder, alat ukur listrik, rak berisi komponen, serta beberapa alat elektronik yang baru saja dibongkar oleh Natan. Bau logam dan plastik hangat bercampur dengan aroma kayu baru.

“Gimana tadi? Penandatanganannya lancar?” tanya Natan sambil menggeser kursi untuk Clara.

Clara duduk dan mengangguk. “Iya, Kak. Bu Raisa orangnya baik. Tadi sempat negosiasi soal promosi, untungnya beliau mengiyakan permintaanku.”

“Memangnya apa permintaanmu?” tanya Natan penasaran.

“Aku nggak mau tampil di publik untuk promosi.”

Natan mengangguk pelan, tak terkejut."Itu memang kamu,"

Clara tersenyum kecil.

“Jadi ini tempat apa sebenarnya, Kak?” tanyanya, kini berdiri dan berkeliling, memperhatikan setiap sudut.

“Ini tempat reparasi elektronik. Laptop, TV, mesin cuci, apapun yang masih bisa diselamatkan.” Natan menunjuk ke sebuah ruangan kaca di sisi kanan. “Dan yang itu untuk workshop gratis setiap hari Sabtu.”

Clara menoleh cepat. “Workshop gratis?”

“Iya. Untuk anak-anak muda, atau siapa pun yang mau belajar. Dasar-dasar perbaikan, instalasi, troubleshooting. Skill itu bisa jadi penyelamat.”

Clara menatap Natan dengan kagum yang tulus. “Kak… kamu benar-benar bikin ini dari obrolan kita kemarin?”

Natan tertawa kecil. “Kamu pikir aku cuma ngomong doang?”

“Kak Natan benar-benar hebat,” puji Clara dengan mengacungkan dua jempol.

Natan merasa malu dipuji oleh clara, meski ia berusaha tetap biasa saja.

“Terus, Kak Natan mau bicara apa sama aku?” tanya Clara lagi, menyipitkan mata pura-pura curiga. “Jangan bilang mau ngajak aku kerja di sini.”

“Kamu tau aja pemikiranku,” jawab Natan sambil tertawa. “Tapi tenang. Aku tahu kamu nggak bakal ninggalin toko bukunya Pak Ardi.”

Clara tersenyum lega.

“Aku cuma mau kamu bantu promosi workshop ini ke gang rumah kamu. Anton juga sudah aku hubungi. Aku mau anak-anak muda di sana punya pilihan selain jadi buruh.”

Clara mengangguk antusias. “Tentu, Kak. Aku bantu sebisaku.”

“Nanti kalau satu atau dua bulan ada yang lulus tes, akan aku pekerjakan. Kalau berjalan lancar, aku mau buka cabang dengan visi yang sama.”

Clara terdiam sejenak, menatap ruangan itu lagi. “Aku selalu punya niat untuk membantu banyak orang, tapi aku belum mampu berbuat banyak.”

Natan tersenyum lembut. “Pelan-pelan, kamu pasti bisa.”

Clara mengangguk kecil.

“Kamu mau makan siang?” tanya Natan.

“Iya, aku sudah lapar banget, Kak.”

“Mau makan apa?”

“Nasi Padang,” jawab Clara cepat.

Mobil Natan meluncur di tengah terik matahari Jakarta. Jalanan siang itu tidak terlalu padat. Tak lama mereka sampai di sebuah rumah makan Padang yang cukup ramai.

Mereka memesan rendang, ayam pop, gulai daun singkong, dan sambal hijau. Saat menunggu pesanan datang, Clara mulai bercerita tentang program CSR Forrer Pharmaceutical yang akan diadakan besok di kecamatan.

“Kamu yakin bisa pergi?” tanya Natan, nada suaranya lebih serius.

Clara tersenyum tipis. “Aku sudah nggak apa-apa, Kak. Semua sudah jadi masa lalu.”

Natan menatapnya beberapa detik, mencoba membaca wajah itu.

“Aku pergi juga karena ingin bantu warga. Kalau kuotanya terpenuhi, warga dapat alat kesehatan dan program rutin buat lansia serta anak-anak stunting,” lanjut Clara.

Natan mengangguk pelan. “Kalau ada apa-apa, kamu langsung hubungi aku.”

Clara tersenyum ringan. “Tenang aja, Kak. Aku nggak akan lari lagi dari masa lalu.”

Makanan datang, mengepul hangat di atas meja. Mereka mulai makan, disiang itu Clara hanya ingin menikmati makannya dan keyakinan bahwa hidupnya sedang bergerak ke arah yang benar.

Setelah selesai makan, Natan sudah merogoh saku celananya, berniat membayar seperti biasa. Namun kali ini Clara lebih cepat. Ia sudah berdiri lebih dulu, dompetnya terbuka di tangan.

“Kali ini aku yang traktir,” ucap Clara ringan.

Natan mengangkat alisnya, terkejut sekaligus geli. “Wah, ditraktir seorang penulis nih,” candanya sedikit keras.

“Ih, Kak Natan jangan keras-keras,” Clara langsung celingukan ke sekeliling, wajahnya memerah. “Malu tau.”

Natan tertawa pelan melihat reaksi itu. Ada sesuatu yang menggelitik ditubuhnya setiap kali Clara bertingkah seperti itu lugu, jujur, dan tidak dibuat-buat. Ingin rasanya ia mencubit pipi merah Clara, tapi ia menahan diri.

“Baik, Bu Arunika,” godanya lagi pelan.

Clara memutar bola mata. “Kak Natan…”

Setelah membayar, mereka kembali ke mobil. Jalanan siang itu mulai sedikit padat, tapi suasana di dalam mobil terasa tenang. Clara menatap keluar jendela. Tapi kali ini, ia tak lagi memikirkan banyak hal.

Mobil berhenti di depan toko buku Pak Ardi.

“Makasih Clara, sudah ditraktir,” ucap Natan sambil mematikan mesin.

Clara mengangguk kecil. “Nanti aku traktir lagi.”

Natan menoleh, tersenyum tipis. “Sekarang kamu sudah resmi jadi penulis Aksara Langit. Jangan sombong ya.”

Clara terkekeh. “Mana ada aku sombong sama orang yang selalu baik sama aku,"

Clara keluar dari mobil yang pintunya sudah lebih dulu dibuka oleh Natan.

“Kak…” Clara memanggil pelan.

“Iya?”

“Terima kasih.”

Natan menatapnya. “Untuk apa?”

“Untuk percaya sama aku… bahkan waktu aku sendiri belum percaya.”

Natan tidak langsung menjawab. Tatapannya lembut, tapi dalam.

“Aku cuma ngingetin siapa diri kamu sebenarnya.”

Clara tersenyum. Clara sangat bersyukur mengenal Natan yang sudah membuatnya bisa berada di titik ini.

Sebelum menutup pintu, ia menunduk sedikit. “Hati-hati di jalan ya, Kak.”

“Kamu juga.”

Clara berjalan masuk ke toko buku dengan langkah ringan. Natan yang masih berdiri menatap punggung Clara, tak sengaja melihat pantulan bayangan seseorang dari pantulan kaca toko, bayangan itu berdiri jauh dibelakang Natan.

Natan mengernyit dan menoleh ke arah belakang tapi tak mendapati siapapun

Ia menghela napas pelan dan memijit pelipis nya.

"Kayaknya aku kebanyakan kerja."

Natan masuk kemobil dan melaju kembali ke perusahaannya.

Dua jam sebelumnya, di sebuah ruangan minimalis beraksen abu-abu dengan jendela tinggi yang menghadap ke kota, Noel duduk di kursi kerjanya. Cahaya siang menyentuh sisi wajahnya yang dingin. Di tangannya, laporan marketing terbaru yang baru saja diserahkan oleh sekretaris sekaligus sahabatnya, Regan.

Regan berdiri di depan meja, jasnya masih rapi meski dasinya sudah sedikit longgar. Laki-laki kelahiran Swiss itu adalah satu-satunya orang yang bisa berbicara setengah santai pada Noel, meski sering kali hanya mendapat respons singkat.

“Besok jadwal kampanye di kecamatan xxx,” ujar Regan mengingatkan.

Noel hanya mengangguk sekilas tanpa mengangkat kepala.

Regan berjalan ke sofa tamu dan menyandarkan tubuh di ujungnya. Ia menghela napas pelan, memperhatikan atasannya yang makin hari makin terlihat seperti kutub es, dingin, terkontrol, dan sulit ditebak.

Noel membalik halaman terakhir laporan itu sebelum melirik sekilas ke arah Regan.

“Apa sudah ada hasilnya?” tanyanya datar.

Regan tertawa sinis kecil. “Dengan kekuatan kita saat ini? Belum. Mereka terlalu rapi. Jejaknya bersih."

Tatapan Noel menajam, tapi ekspresinya tetap datar.

Ia menutup laporan itu dengan pelan dan meletakkannya di atas meja.

“Pasang iklan besar-besaran di setiap papan reklame kosong,” perintahnya singkat.

Regan mendengus pelan. “Brand awareness sudah naik signifikan. Kita nggak perlu seagresif itu.”

Noel berdiri, merapikan jasnya. “Aku ingin hasil yang lebih.”

Regan memperhatikannya berjalan ke arah pintu. “Kau mau pergi lagi?”

Tak ada jawaban.

Noel sudah membuka pintu, melangkah keluar dengan langkah mantap.

“Shit,” gumam Regan sambil menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa. “Punya atasan susah diajak ngobrol.” omelnya.

Ruangan kembali hening, menyisakan aroma kopi dan tumpukan laporan yang belum disentuh.

Di luar, Noel berjalan menyusuri lorong gedung perusahaan dengan pikiran yang tak pernah benar-benar tenang.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!