Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
“Di dunia ini tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan.”
Jawaban ketus itu langsung menghantam telinga Iren. Wanita itu terdiam sejenak, dadanya terasa sesak seolah sesuatu runtuh di dalam hatinya. Namun ia memaksa dirinya tetap berdiri tegak. Ia tidak boleh menyerah sekarang.
Bagaimanapun juga hidupnya benar-benar berada di ujung tanduk. Perusahaannya hampir gulung tikar, utang menumpuk dari berbagai pihak, dan para investor yang dulu begitu percaya padanya kini perlahan menarik diri. Jika ia masih bisa mempertahankan hubungan baik dengan Kevin, setidaknya nama besar pria itu masih bisa ia gunakan untuk bertahan di dunia bisnis yang kejam ini.
“Kevin, demi hubungan kita selama empat tahun ini, apa kamu tidak bisa mempertimbangkannya?” tanyanya dengan suara yang lebih lembut, berusaha menekan keputusasaan yang mulai terdengar.
Kevin menatapnya sekilas, tetapi tidak ada lagi kehangatan di mata pria itu. Tatapannya dingin dan datar, seolah wanita yang berdiri di depannya hanyalah orang asing.
“Aku benar-benar tidak punya waktu meladenimu,” ucap Kevin tajam. “Sekarang minggir.”
Kata-kata itu seperti tamparan keras bagi Iren.
Ia mengepalkan tangannya, menahan perasaan malu dan marah yang bercampur menjadi satu. Namun kakinya tetap tidak bergerak. Ia justru melangkah setengah langkah lebih dekat, seakan tidak mau memberi jalan.
“Jadi sekarang aku bahkan tidak pantas berdiri di depanmu?” katanya lirih, tetapi nada suaranya mulai bergetar. “Empat tahun bersama ternyata tidak berarti apa-apa buatmu?”
Kevin menghela napas kasar. Kesabarannya sudah benar-benar menipis.
“Iren, kita sudah selesai,” katanya tegas. “Perceraian kita juga sudah sah. Tidak ada lagi hubungan apa pun di antara kita.”
“Tapi, Kevin—”
Kevin mengangkat tangannya sebagai tanda agar Iren berhenti berbicara. “Iren, berhenti menggangguku. Atau kamu akan menerima akibatnya.”
Iren langsung terdiam. Ia tahu Kevin tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Wanita itu ingat bagaimana hakim bisa langsung mengabulkan gugatan perceraian Kevin, karena Kevin menjadikan malam itu sebagai bukti perselingkuhannya dengan Vano.
Tanpa banyak bicara lagi, ia membiarkan Kevin pergi meninggalkannya yang masih terpaku di tempat. Bukan, Iren bukan ingin menyerah. Ia hanya menunggu kesempatan yang lebih baik untuk bisa mendekati Kevin kembali. Ia pun menatap gedung perusahaan Kevin, lalu menarik sudut bibirnya.
***
Kevin sudah sampai di lokasi yang dikirim oleh Vano. Saat memasuki sebuah kafe, ia langsung melihat Lidya duduk bersama lelaki itu. Namun pemandangan yang ia lihat sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.
Alih-alih terlihat terancam, Lidya justru tampak begitu tenang dan mendominasi. Ia duduk bersandar dengan sikap percaya diri, sementara Vano yang biasanya angkuh kini terlihat jauh lebih kaku. Bahkan dari cara pria itu menundukkan kepala, Kevin dapat melihat sesuatu yang tidak biasa, seolah Vano justru berada dalam posisi tertekan di hadapan Lidya.
Kevin menghentikan langkahnya beberapa detik, memperhatikan situasi itu dari kejauhan.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumamnya pelan.
Di meja itu, Lidya terlihat mengatakan sesuatu dengan nada rendah tetapi tegas. Tangannya diletakkan di atas meja sambil mengetuk pelan permukaannya, seakan menegaskan setiap kata yang ia ucapkan. Sementara itu, Vano yang biasanya penuh percaya diri kini justru terlihat menghindari tatapannya.
Kevin mengerutkan dahi. Ia tidak pernah melihat Vano bersikap seperti itu sebelumnya.
Tanpa ragu lagi, Kevin berjalan mendekati mereka.
Suara langkah itu membuat Lidya dan Vano sama-sama menoleh. Namun reaksi keduanya sangat berbeda. Vano tampak terkejut, sementara Lidya hanya menatap Kevin sekilas dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Jadi kamu menggunakanku untuk memancing Kak Kevin?” tanya Lidya, yang baru saja menyadari rencana Vano.
Awalnya ia datang ke kafe ini hanya untuk melepaskan penat setelah mendapat tekanan dari Nurma. Namun siapa sangka, ia hampir saja diberi obat tidur oleh Vano. Beruntung salah satu karyawan kafe menyadari hal itu dan segera menyelamatkannya.
“Aku hanya ingin bernegosiasi dengannya,” jawab Vano santai.
Lidya langsung berdecak sebal mendengar ucapan itu. Namun ia juga tidak ingin berurusan lebih lama dengan lelaki tersebut, sehingga ia mengalihkan perhatiannya pada Kevin.
“Aku serahkan dia padamu,” ucapnya singkat.
Kevin yang mendengar itu masih belum sepenuhnya mengerti situasinya. Namun ia segera tersadar ketika Lidya bangkit dari kursinya lalu melangkah pergi dengan sikap dingin, bahkan tanpa menatapnya lagi.
“Akan kubereskan kamu nanti,” ucap Kevin pada Vano sebelum segera mengejar Lidya.
Kevin mempercepat langkahnya untuk menyusul wanita itu. Ia bahkan harus setengah berlari agar bisa menyamai langkah Lidya yang berjalan cepat menuju keluar kafe.
Ia sendiri tidak mengerti kenapa sampai bersikap seperti ini. Jika dipikir-pikir, bukankah lebih baik jika Lidya bersikap dingin padanya? Dengan begitu ia memiliki alasan untuk tidak melanjutkan rencana pernikahan mereka.
Namun entah mengapa, ada sesuatu yang terasa hilang saat melihat Lidya bersikap sejauh ini darinya.
“Kamu masih marah?” tanya Kevin ketika akhirnya berhasil menyamai langkahnya.
Lidya berhenti berjalan lalu menoleh padanya dengan tatapan datar.
“Menurut Kakak?” jawabnya singkat.
Kevin terdiam sejenak, jelas tidak memiliki jawaban yang tepat.
Lidya menatapnya beberapa detik sebelum kembali berkata dengan nada dingin, “Kalau Kak Kevin sudah selesai mengurus urusannya dengan orang itu, aku akan pulang dulu.”
Ia kembali melangkah, tetapi kali ini Kevin refleks meraih pergelangan tangannya.
“Tunggu dulu,” ucapnya.
Lidya menunduk melihat tangan Kevin yang menahannya, lalu perlahan mengangkat wajahnya.
“Lepaskan.”
Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat Kevin sadar bahwa wanita itu benar-benar sedang menjaga jarak darinya.
"Kalau kamu bersikap seperti ini terus. Percaya atau tidak aku bisa membawamu ke KUA sekarang juga."
Lidya terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan Kevin. Ia menatap pria itu seolah sedang memastikan apakah ancaman barusan benar-benar serius atau hanya emosi sesaat. Namun dari cara Kevin menatapnya, jelas sekali bahwa lelaki itu tidak sedang bercanda. Perlahan Lidya menarik tangannya dari genggaman Kevin.
“Kak Kevin,” ucapnya dengan suara tenang namun tegas, “jangan menjadikan pernikahan sebagai ancaman.”
Kevin mengerutkan kening karena tidak menyukai cara Lidya menanggapi ucapannya. Ia sebenarnya tidak berniat mengancam, tetapi sikap dingin Lidya sejak tadi membuatnya kesal tanpa ia sadari.
“Aku tidak mengancam,” jawabnya.
Lidya menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kehangatan. “Kalau begitu jangan mengatakan hal seperti itu. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan hanya karena Kakak tidak suka aku menjauh.”
Ucapan itu membuat Kevin terdiam sejenak. Ia baru menyadari bahwa sikapnya barusan terdengar seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu, dan itu adalah hal yang tidak pernah ingin ia akui.
“Kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini?” tanya Kevin akhirnya.
Lidya menarik napas pelan sebelum menjawab. “Aku tidak berubah. Aku hanya mulai memahami posisiku sendiri.”
Kevin menatapnya dengan dahi berkerut. “Apa maksudmu?”
“Selama ini aku selalu berusaha menyesuaikan diri dengan Kak Kevin,” jelas Lidya dengan nada yang tetap tenang. “Aku berusaha menjadi calon istri yang tidak merepotkan, tidak banyak bertanya, dan tidak menuntut apa pun. Tapi sepertinya semua itu tidak benar-benar berarti bagi Kakak, bahkan—" Lidya tidak mampu melanjutkan kalimatnya saat teringat kata-kata Kevin tentang tanggung jawab dan kecelakaan.
“Jadi mulai sekarang aku hanya melakukan hal yang sama seperti Kak Kevin,” lanjut Lidya dengan sikap tegar.
“Hal yang sama bagaimana?”
Lidya menatapnya lurus sebelum menjawab dengan suara datar, “Tidak terlalu peduli.”
Kata-kata itu membuat Kevin terdiam lebih lama dari sebelumnya. Ia tidak pernah menyangka Lidya akan mengatakan hal seperti itu secara langsung.
Beberapa detik kemudian Lidya kembali melangkah meninggalkan Kevin. Kali ini langkahnya tidak ragu sedikit pun, seolah ia benar-benar sudah memutuskan untuk menjaga jarak.
Kevin berdiri di tempatnya beberapa saat sebelum akhirnya kembali mengejar wanita itu.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya ketika berhasil menyamai langkah Lidya.
“Aku mau pulang,” jawab Lidya singkat.
“Sendiri?”
Lidya meliriknya sebentar. “Memangnya kenapa kalau sendiri?”
Kevin tidak langsung menjawab, tetapi ekspresinya jelas menunjukkan bahwa ia tidak menyukai jawaban itu. “Aku antar kamu pulang.”
“Tidak perlu.”
“Kamu calon istriku,” balas Kevin dengan nada tegas.
Lidya berhenti berjalan lalu menatapnya. “Hanya calon istri.”
Kevin menghela napas panjang karena merasa percakapan ini mulai berputar tanpa arah. Ia sebenarnya tidak ingin berdebat di tempat umum seperti ini, apalagi beberapa orang mulai melirik ke arah mereka.
“Ayo masuk mobil,” katanya akhirnya.
Lidya terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. Ia juga tidak ingin memperpanjang perdebatan di tempat seperti ini.
Sementara Kevin tersenyum kecil sambil berkata, "Dia memang lucu."