NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH DELAPAN: PUNCAK

Pukul dua belas malam. Angka digital di atas nakas itu berkedip dengan ritme yang seolah-olah menghitung mundur sisa-sisa kebebasan Seraphina. Pesan singkat dari Orion masih terbayang jelas di benaknya, sebuah titah yang tidak mungkin ia bantah tanpa konsekuensi yang jauh lebih menyakitkan. "Ini malam terakhirmu sebagai gadis bebas. Aku akan memastikan kau tidak akan melupakan malam ini." Kalimat itu terasa seperti jerat sutra yang perlahan mencekik lehernya, membawa sensasi mual sekaligus getaran ketakutan yang menjalar hingga ke ujung jemari kakinya.

Seraphina bangkit dari ranjangnya yang luas namun terasa dingin. Setiap langkah yang ia ambil menuju pintu kamar Orion terasa sangat berat, seolah-olah bumi sedang berusaha menahan langkahnya dari kehancuran yang sudah menanti di depan mata. Ia bisa merasakan denyut halus di area pribadinya, sebuah sisa rasa perih yang telah menjadi bagian dari identitas barunya sejak ia masuk ke mansion Valentinus ini.

Setibanya di depan pintu kayu jati yang megah milik kamar Orion, Seraphina menarik napas panjang. Aroma maskulin yang tajam dan berkelas milik pria itu merembas melalui celah pintu, memenuhi indra penciumannya dan memicu reaksi naluriah yang memilukan di dalam tubuhnya. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengetuk perlahan.

"Masuk," suara Orion terdengar berat, serak, dan penuh dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Seraphina mendorong pintu tersebut. Kamar itu hanya diterangi oleh lampu temaram yang menciptakan bayangan panjang dan dramatis di dinding. Orion sudah berada di sana, duduk di tepi ranjang dengan hanya mengenakan celana kain panjang yang longgar, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang terpahat sempurna di bawah cahaya remang. Matanya yang hitam pekat menatap Seraphina dengan intensitas yang seolah-olah ingin menelan gadis itu hidup-hidup. Ada kilatan gelap di sana, sebuah perpaduan antara obsesi yang mendalam dan gairah yang sudah mencapai titik didih.

"Kau datang tepat waktu, milikku," Orion mendesis, bibirnya membentuk seringai tipis yang mengerikan. "Malam ini, aku tidak ingin ada rahasia di antara kita. Aku ingin kau merasakan sepenuhnya bagaimana rasanya menjadi bagian dari diriku sebelum fajar menyingsing dan kita berdiri di depan altar."

Seraphina hanya bisa berdiri mematung. Orion bangkit dari ranjangnya, melangkah mendekat dengan gerakan yang luwes seperti seekor macan tutul yang sedang mendekati mangsa yang sudah terpojok. Ia berdiri tepat di depan Seraphina, auranya yang sangat dominan membuat Seraphina merasa sangat kecil dan tidak berarti.

"Piyama ini terlalu indah untuk menutupi kulitmu," ucap Orion pelan. Tanpa peringatan, ia merenggut kain sutra tipis itu dari tubuh Seraphina. Bunyi kain yang terlepas terdengar nyaring di keheningan malam, meninggalkan Seraphina dalam keadaan yang paling rentan dan terekspos.

Seraphina tersentak, tangannya secara naluriah mencoba menutupi payudaranya yang montok, namun Orion dengan cepat menangkap kedua pergelangan tangannya. "Jangan ditutupi. Biarkan aku melihat setiap inci dari apa yang akan menjadi milikku secara sah esok hari."

Orion menunduk, bibirnya mengincar puting Seraphina yang sudah menegang karena kombinasi antara rasa takut dan udara malam yang dingin. Ia menghisapnya dengan sangat kuat, memberikan sensasi nyeri yang tajam namun juga mengirimkan sengatan listrik ke pusat saraf Seraphina. Suara penyatuan bibir Orion dengan kulitnya terdengar begitu nyata, memenuhi ruangan itu dengan atmosfir yang sangat pekat.

"A-ahh... Orion... mohon... jangan terlalu keras," rintih Seraphina, kepalanya terkulai ke belakang saat Orion mulai memainkan lidahnya di sana dengan sangat lincah.

"Aku akan memperlakukanmu sekeras yang kuinginkan," Orion bergumam di sela-sela kegiatannya. Ia beralih ke sisi yang lain, menghisap dan sesekali memberikan gigitan kecil yang meninggalkan tanda merah permanen di puncak payudara Seraphina.

Pria itu kemudian mengangkat tubuh Seraphina dengan sangat mudah, memposisikan kaki gadis itu untuk melingkar di pinggangnya yang kekar. Seraphina bisa merasakan bagian paling keras dari hasrat Orion menekan perut bawahnya, sebuah ancaman yang nyata akan invasi yang akan segera terjadi. Orion membawanya menuju ranjang besar yang berseprai hitam, merebahkannya di sana dengan posisi yang sangat terbuka.

"Aku akan memberikan semua yang kau butuhkan malam ini, Seraphina. Hingga kau tidak bisa lagi membayangkan hidup tanpa sentuhanku," Orion mendesis tepat di depan wajah Seraphina.

Ia membelah paha Seraphina selebar mungkin, membiarkan area pribadinya yang sensitif dan mulai basah oleh reaksi tubuh yang dipaksakan terpapar sepenuhnya di bawah tatapannya. Orion tidak memberikan banyak waktu untuk persiapan. Ia memposisikan dirinya di antara kedua paha Seraphina dan mendorong miliknya masuk dengan satu hentakan yang sangat dalam dan tak terelakkan.

Jleb!

"AAAAAHHHH! SAKIT! ORION!" Jeritan Seraphina pecah, air matanya langsung membanjiri pipinya saat merasakan ukuran Orion yang luar biasa kembali merobek pertahanannya. Sensasi penuh yang menyesakkan itu seolah-olah ingin mencapai titik terdalam di dalam rahimnya.

Orion tidak berhenti untuk memberikan kenyamanan. Ia justru mencengkeram pinggul Seraphina dengan sangat kuat, mengunci posisi gadis itu agar tidak bisa menghindar. Ia mulai melakukan dorongan-dorongan yang sangat bertenaga, cepat, dan tanpa ampun. Clep! Plok! Clep! Suara hantaman fisik yang basah bergema di setiap sudut kamar, menciptakan melodi kehancuran bagi harga diri Seraphina.

"Lihat bagaimana kau menerimaku, Seraphina!" Orion menggeram dengan napas yang memburu. "Kau diciptakan khusus untuk menampung hasratku! Katakan padaku betapa kau menyukai rasa sakit dan nikmat ini!"

Seraphina tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata yang koheren. Ia hanya bisa merintih dan menjerit saat Orion terus menghujamnya tanpa henti. Setiap dorongan pria itu terasa seperti ingin menghancurkan jiwanya, namun di sisi lain, saraf-sarafnya yang telah terbiasa oleh perlakuan Orion mulai mengirimkan gelombang panas yang memabukkan. Ia merasa seolah-olah sedang terbakar dalam api yang ia benci namun juga ia dambakan di saat yang bersamaan.

Orion mempercepat gerakannya, pinggulnya bergerak dengan ritme yang sangat liar dan primitif. Ia menghisap kembali puting Seraphina yang sudah bengkak, menariknya dengan giginya sambil terus memberikan hantaman di bagian bawah. Seraphina merasa dunianya berputar gila. Ia mencengkeram pundak Orion, kuku-kukunya tanpa sadar menggores punggung pria itu saat ia merasakan puncaknya mulai mendekat dengan kecepatan yang mengerikan.

"AKU AKAN MEMBERIKAN SEGALANYA PADAMU MALAM INI!" Orion meraung keras saat ia merasakan kontraksi luar biasa dari dalam diri Seraphina. Dengan beberapa dorongan terakhir yang sangat brutal dan menghunjam, Orion melepaskan seluruh cairannya yang sangat banyak dan panas ke dalam rahim Seraphina.

Semburan itu terasa sangat kental dan membakar di dalam tubuh Seraphina, memicu orgasme yang sangat hebat hingga tubuh gadis itu mengejang berkali-kali di bawah beban tubuh Orion. Seraphina menjerit tinggi, sebuah lengkingan yang penuh dengan campuran antara rasa sakit, kehancuran, dan kenikmatan yang dipaksakan, sebelum akhirnya ia lemas total dengan napas yang tersengal-sengal.

Orion tetap berada di posisinya, membiarkan berat tubuhnya menekan Seraphina ke dalam kasur. Ia mencium leher Seraphina yang basah oleh keringat dengan sangat posesif. "Mulai besok, dunia akan tahu kau adalah milikku. Tapi malam ini, hanya aku yang tahu seberapa dalam aku telah mematahkanmu."

Seraphina hanya bisa memejamkan mata dalam isak tangis yang sunyi. Ia menyadari bahwa malam terakhirnya sebagai gadis lajang telah berakhir dalam penaklukan yang paling absolut. Di bawah langit malam yang semakin memudar menuju fajar, ia tahu bahwa mulai besok, setiap embusan napasnya adalah atas izin sang suami, Orion Valentinus.

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!