NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:49.1k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 29

"Ibu, apa salah minum obat?" ucap Raka sambil tangan kanan memegang setir, tangan kiri memegang ponsel.

"Apa maksud kamu?" terdengar suara Rani begitu ketus.

"Kenapa Ibu tiba-tiba ingin Miranda kembali, apa Ibu tidak rela aku bercerai dengan Miranda?"

"Najis," ucap Rani terdengar kesal. "Pembantu yang kamu cari tidak ada yang benar, selera makanku tidak nyaman, dan pekerjaan mereka asal-asalan. Aku ingin Miranda kembali dan menjadi pembantu," ucap Rani.

"Bukankah Ibu selalu mengatakan kalau Miranda tak berguna, lantas kenapa sekarang semua tidak ada yang cocok kecuali Miranda?" keluh Raka.

"Sudahlah, sekarang kamu cari saja dia, tawarkan dia gaji 300.000 sebulan dia pasti mau. Selain kita tidak ada yang bisa mempekerjakan dia. Dia pasti diperlakukan buruk oleh keluarga angkatnya. Bilang sama dia, dia boleh makan dan minum sepuasnya," ucap Rani.

Raka hanya bisa menghela napas berat. "Baiklah, Bu," ucapnya, lalu sambungan telepon terputus.

Pikiran Raka mendadak kosong, seolah seluruh isi kepalanya tersapu angin.

Setiap hari ia merasa kesepian, tidak ada lagi yang memperlakukannya istimewa seperti dulu.

Lina? Dari segi karier dan pendidikan, dia memang sepadan. Hanya saja akhir-akhir ini Lina justru membuatnya jengkel dengan sikapnya yang berubah-ubah.

Tanpa sadar, mobil yang dikendarainya telah berhenti di depan rumah Santoso, orang tua angkat Miranda.

"Kenapa aku bisa sampai ke sini?" ucap Raka lirih sambil mematikan mesin kendaraan.

Ia keluar dari mobil, langkahnya terasa ragu saat berjalan mendekati rumah itu.

Di balik jendela, tampak Santoso sedang menutup tirai karena hari mulai gelap dan langit berubah jingga keabu-abuan.

"Assalamualaikum," ucap Raka.

Santoso mengintip dari balik jendela, memastikan siapa yang datang. Setelah mengenali sosok di luar, ia membuka pintu perlahan.

"Silakan duduk," ucap Santoso dengan suara datar namun sopan.

Raka duduk berhadapan dengannya. Suasana ruang tamu terasa sunyi, hanya suara jam dinding yang berdetak pelan.

"Ada apa, Nak Raka, datang ke sini?" tanya Santoso.

Raka menatap wajah pria tua itu, berusaha menahan kegelisahan di dadanya.

"Aku mau bawa Miranda pulang," ucap Raka mengutarakan maksudnya.

Belum sempat Santoso menjawab, Yuni muncul dari dalam rumah sambil mengelap tangan dengan kain dapur.

"Tumben ke sini..." ucap Yuni. "Padahal Lebaran masih 2 bulan lagi."

Raka menghela napas. Ia sadar ucapan itu bukan sekadar basa-basi, melainkan sindiran halus. Memang selama ini ia hanya datang saat Lebaran, itu pun sekadar formalitas agar tidak jadi bahan omongan orang.

"Saya mau bawa Miranda, Bu," ucap Raka, malas menanggapi komentar itu.

"Bu, lebih baik ambilkan saja minum untuk Nak Raka," ucap Santoso menengahi.

Walau wajahnya tampak kesal, Yuni tetap masuk ke dapur. Suara gelas beradu terdengar samar dari dalam.

Santoso mengambil sebatang rokok, menyalakannya, lalu menghembuskan asap perlahan seolah beban pikirannya ikut keluar bersama kepulan abu tipis itu.

"Miranda sudah banyak menderita, Nak Raka. Bapak kira selama 10 tahun Miranda hidup bahagia dengan Nak Raka."

Raka tertegun. Dadanya terasa tertusuk kalimat itu. Berarti Miranda sering menjelekkan aku di belakangku, pikirnya cepat.

Santoso menghisap rokok dalam-dalam, wajahnya tampak berat. "Miranda wanita kuat, Raka. Aku tahu dia sering dihina di keluarga kamu, dan kamu tidak membelanya. Dan asal kamu tahu, Miranda tidak pernah menjelekkan kamu dan keluarga kamu. Dia selalu berkata padaku kalau dia baik-baik saja, tapi aku tahu dia menderita. Beberapa kali aku bertemu dia dan meminta rokok, tapi dia bilang selalu bawa lupa uang. Aku juga sempat bertanya nomor ponselnya dan selalu bilang lupa dan ponsel lagi diservis."

"Aku tahu Miranda berbohong selama 10 tahun alasannya selalu lupa bawa uang dan ponsel selalu di servis..dia melakukan itu hanya untuk menutupi perlakukan buruk dari keluarga kamu dan menjaga harga diri suaminya"

Santoso mengatakan itu dengan nada berat. Ada kabut embun di matanya yang membuat sorotnya tampak bergetar, antara marah, sedih, dan iba.

Raka tertegun, ternyata Miranda banyak berbohong demi menjaga kehormatan suaminya. Perasaan bersalah perlahan merambat di dadanya seperti racun yang menyebar pelan.

Santoso menghisap rokok lalu menghembuskannya panjang.

"Dan sekarang kamu malah menceraikan Miranda, aku tahu sampai saat ini kamupun masih belum punya alasan kuat menceraikan Miranda kan?"

Ada raut menyesal di wajah Raka. Rahangnya mengeras, matanya menunduk.

"Pak, itu kesalahanku. Sekarang aku mau bawa Miranda pulang," ucap Raka.

Santoso hendak menjawab, tetapi langkah kaki terdengar mendekat. Yuni sudah kembali membawa nampan berisi minuman dan camilan.

"Siapa yang kamu bawa pulang?" tanya Yuni.

"Miranda, Bu," jawab Raka.

Yuni duduk di samping Raka. Sorot matanya tajam meneliti wajah menantunya itu seolah sedang menguliti isi pikirannya.

"Miranda memang ke sini tapi kami usir ..."

Raka terperanjat. Jantungnya seakan berhenti sesaat. Ternyata setelah diceraikan, Miranda langsung diusir oleh keluarga angkatnya. Seketika rasa bersalah menekan dadanya begitu kuat hingga napasnya terasa berat.

"Kenapa kalian usir?" tanya Raka sedikit kesal.

"Lalu kenapa kamu ceraikan Miranda?" tanya Santoso balik.

Raka terdiam. Sampai saat ini saja dia tidak menemukan alasan yang benar-benar pantas kenapa dia menceraikan Miranda.

Selama 10 tahun memperlakukan Raka bagaikan raja, selalu melayani sepenuh hati tanpa keluhan.

Saat ayahnya sakit, yang repot Miranda mengurusnya sehingga Raka bisa fokus mencari uang.

Hanya karena Miranda tak berpendidikan, bukankah dia sebagai suami tugasnya memberi pendidikan yang baik untuk istri.

Miranda tidak pernah selingkuh, jangankan selingkuh, bergaul dengan tetangga lelaki saja tidak pernah.

"Alasan kamu menceraikan Miranda itu hanya kamu tak enak sama ibu kamu, bukan?" ucap Santoso membuyarkan lamunan Raka.

Raka tak mampu menyangkal. Memang itulah alasannya. Rina, Lela, dan Lusi tidak pernah suka sama Miranda karena bagi mereka Miranda adalah aib, membuat malu keluarga.

Dan Raka sendiri, sejak awal menikah, memang tidak pernah memiliki rasa cinta. Atas desakan keluarga, akhirnya ia menceraikan Miranda.

"Sama, kami juga mengusir Miranda demi menjaga perasaan anak kandung kami. Lisa akan sakit hati kalau kami terus menerima Miranda," ucap Santoso dengan nada berat.

"Jadi Miranda tidak ada di sini?" tanya Raka.

"Tidak ada," jawab Yuni dengan nada datar.

"Tega sekali kalian," ucap Raka kesal.

"Kita sama-sama orang tega, Raka, karena kita punya hati yang harus kita jaga," ucap Santoso pelan, tetapi tajam.

Raka terdiam. Tubuhnya terasa lelah, pikirannya kusut, dan hatinya dipenuhi rasa bersalah yang tak bisa ia tepis.

"Baiklah, kalau begitu saya pergi," ucap Raka sambil bangkit, lalu menyalami Santoso dan Yuni dengan gerakan kaku.

Santoso mengantar Raka sampai ke mobil. Angin malam berembus pelan, membawa hawa dingin yang membuat suasana terasa makin sunyi.

"Jika kamu bertemu Miranda apa yang akan kamu lakukan?" tanya Santoso saat Raka hendak masuk ke mobil.

Raka menoleh. Tatapannya kosong.

"Aku tidak tahu," ucap Raka setelah berpikir sebentar.

"Kalau begitu jangan mencari Miranda lagi, biarkan dia bebas. Dia sudah lama menderita," ucap Santoso dengan nada berat.

Raka terdiam memegang gagang pintu mobil. Kata-kata itu terus bergema di kepalanya. Namun tepat saat ia hendak membuka pintu, ponselnya tiba-tiba bergetar di tangannya.

Nama di layar membuat jantungnya langsung berdegup kencang.

1
nunik rahyuni
bagus..org sok sok an tu di ambung ambung j terus biar melayang...lama klamaan akhirnya jatuh 🤣🤣🤣🤣
Sunaryati
Lina sifat sombong dan kebencian kamu pada Miranda,jadi berkah dan keuntungan baginya.
Sunaryati
Pandai juga kalian mengelabuhi Lina
Sunaryati
Nah jadi orang itu jangan julid dengan orang lain rugi sendiri ,kan
nunik rahyuni
nah kua ini ni hadil didikan mu..manja teruuuus
nunik rahyuni
kapok..mudahan hbis modalnya jg buat niruti anaknya yg pekok tu alamat kere
Sunaryati
maksudku makian
Sunaryati
Dengan makin banyaknya makin dan hujatan Miranda makin kuat dan tangguh
nunik rahyuni
lanjuuut double triple up
nunik rahyuni
knp pula ketemu mak lampir dan keturunanya..😡😡😡bikin esmosi terus..rasa rasa mira ni kok susah baner mau hidup tenang..dan org2 tu kok pikiranya picik..apa g punya agama ya..tuhan sudah mengatur rejeki stiap orang..jgn iri melihat orang punya bnyk rejeki
nunik rahyuni
lanjuuut ...lanjuuut...
nunik rahyuni
tangkap sj mir sebagai gebrakan baru..tp kmu g usah muncul dlu biar di cover fstimah ..kmu ckup brada di blkg layar sebagai pamantau.....klo sdh tetkenal dan sukses mereka akan tau diapa di balik usaha sukses itu 👏👏👏dan boooom mreka akan kaget..shock dan pingsan melihat kesuksesanmu
Sunaryati
Terima saja,dan tawarkan tenda hajatan . Miranda janga muncul.Jika muncul pakai masker, sebaiknya tidak muncul sama sekali. tetapi bekerja di balik layar
Sunaryati
Suka
Sunaryati
Jalan menuju kesuksesan kalian sepertinya terbuka lebar
Sunaryati
Makin banyak anggota keluargamu Miranda ,semoga segera sukses
"C"
bagus novelnya
nunik rahyuni
tim marketing nya yg serba bisa 🤣🤣🤣
nunik rahyuni
waaah waaah ...aq jg jualan mie ayam jg lho..ayo mbak mir kita bagi resep🤣🤣🤣
Riss Taa
bagus...semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!