NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: suandra

Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.

Sejak saat itu, dunia Arga berubah.

Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.

Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.

Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Jejak Sang Pengkhianat

Kekacauan di The Grand Astoria menyisakan aroma mesiu yang samar dan suasana mencekam yang masih menggantung di udara aula megah itu. Arga berdiri di tengah balkon lantai dua, menatap ke bawah ke arah tubuh pembunuh bayaran yang baru saja ia hempaskan melewati pagar balkon. Darah segar merembes ke karpet beludru merah hotel, menciptakan pemandangan yang mengerikan bagi para konglomerat yang biasanya hanya melihat darah lewat laporan berita televisi atau layar bioskop.

Arga tidak merasakan penyesalan. Di bawah permukaan kulitnya, energi dari Mustika Macan Kencana masih mendidih, memberikan rasa panas yang menenangkan sekaligus menakutkan. Ia merasa seolah-olah baru saja menyelesaikan sebuah perburuan yang membangkitkan insting predatornya.

"Arga! Turun sekarang!" Suara Clarissa memanggil dari bawah, tajam dan penuh otoritas meskipun wajahnya masih menyisakan sisa-sisa pucat akibat guncangan tersebut.

Arga melompat turun dari balkon lantai dua—sebuah lompatan setinggi lima meter yang seharusnya menghancurkan tulang kaki manusia biasa. Namun, ia mendarat dengan keheningan seekor kucing besar di atas hamparan salju. Tanpa suara, tanpa guncangan yang berarti. Para pengawal Keluarga Wijaya yang lain, termasuk mereka yang memiliki latar belakang militer elit, menatapnya dengan pandangan antara hormat dan ngeri. Mereka tahu mereka baru saja melihat sesuatu yang melampaui batas latihan fisik manusia paling terlatih sekalipun.

"Nona tidak apa-apa?" tanya Arga, matanya perlahan kembali ke warna cokelat normal, meski denyut panas di punggungnya masih terasa seolah ada api yang membara di sana.

"Aku baik-baik saja karena kau," jawab Clarissa singkat. Ia menatap mayat pelayan palsu itu dengan tatapan dingin, seolah-olah jasad manusia itu hanyalah sepotong sampah yang mengganggu pemandangan. "Bawa pria ini ke gudang bawah tanah kediaman Wijaya. Aku ingin tahu siapa yang mengirimnya sebelum polisi mencampuri urusan ini dan membuat segalanya menjadi rumit."

"Polisi tidak akan datang, Nona," sahut salah satu pengawal senior bernama Kapten Baskoro. Pria itu sudah memegang ponselnya, memberikan instruksi cepat kepada tim pembersih. "Tuan Besar sudah mengatur agar kejadian ini dianggap sebagai 'kecelakaan instalasi listrik' di mata publik. Media akan mendapatkan cerita tentang korsleting lampu gantung kristal."

Clarissa mengangguk kecil, sebuah gerakan yang menunjukkan betapa terbiasanya ia dengan manipulasi realita oleh keluarganya. Ia kemudian menatap Arga dengan intensitas yang berbeda. "Ikut aku. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan yang tidak bisa didengar oleh telinga-telinga di tempat ini."

Dua jam kemudian, di ruang interogasi bawah tanah kediaman Wijaya yang dingin, kedap suara, dan beraroma pembersih kimia yang menyengat, Arga berdiri di sudut ruangan yang gelap. Di tengah ruangan, di bawah lampu halogen yang menyilaukan, jasad si pembunuh diletakkan di atas meja besi. Hendra Wijaya masuk dengan langkah berat yang bergema di lantai beton, wajahnya tampak lebih tua dan lebih keras dalam semalam.

"Siapa dia sebenarnya?" tanya Hendra tanpa emosi sedikit pun, matanya menatap jasad itu seolah sedang memeriksa inventaris yang rusak.

"Namanya tidak terdaftar di agensi keamanan atau basis data kependudukan mana pun, Tuan Besar," lapor Baskoro sambil menunjukkan tablet digitalnya. "Tapi perhatikan tato di pergelangan tangan kirinya... itu adalah lambang 'Taring Hitam'. Organisasi pembunuh bayaran internasional yang biasanya hanya bergerak jika bayarannya mencapai angka jutaan dolar."

Hendra terdiam sejenak, memutar-mutar cincin batu giok di jarinya. Ia kemudian menoleh ke arah Arga yang tetap diam seperti patung di sudut. "Arga, kau tadi mengatakan melihat sesuatu sebelum ia sempat menarik pelatuk. Bagaimana kau bisa tahu dia akan menyerang dari jarak sejauh itu di tengah kerumunan?"

Arga tidak mungkin mengatakan bahwa ada roh macan yang berteriak di kepalanya dan memanipulasi waktu menjadi lambat di matanya. "Saya memperhatikan cara dia memegang nampan perak itu, Tuan," jawab Arga, suaranya tenang dan terkontrol. "Keseimbangan tubuhnya terlalu kaku untuk seorang pelayan profesional yang sudah terbiasa membawa beban. Dan matanya... matanya tidak pernah berpindah dari Nona Clarissa, bahkan saat tamu di sampingnya mencoba memanggilnya. Itu adalah tatapan seorang algojo, bukan pelayan."

Hendra mengangguk pelan, tampak puas dengan jawaban logis yang masuk akal bagi penguasa seperti dirinya. "Bagus. Kau memiliki mata seorang pemburu dan ketenangan seorang algojo. Clarissa, bawa dia ke ruang kerja pribadimu. Ada sesuatu yang harus kita periksa bersama."

Di ruang kerja Clarissa yang dipenuhi aroma kayu cendana dan dikelilingi oleh layar-layar monitor yang menampilkan data pasar saham dunia, Clarissa membuka sebuah laptop dengan pengamanan enkripsi berlapis. Ia menunjukkan sebuah data transaksi keuangan yang baru saja diretas oleh tim teknis intelijennya dari server luar negeri.

"Arga, perhatikan aliran dana ini," ujar Clarissa dengan nada benci yang tertahan.

Di layar, terlihat aliran dana dari sebuah perusahaan cangkang di Singapura menuju rekening yang digunakan oleh perantara organisasi Taring Hitam. Namun, yang membuat napas Arga tertahan adalah asal dana tersebut; jejak digitalnya berasal dari akun internal Wijaya Holdings sendiri.

"Ada pengkhianat di dalam keluarga kita," desis Clarissa. "Seseorang di jajaran direksi ayahku ingin aku mati agar mereka bisa menguasai proyek reklamasi teluk yang baru. Mereka pikir dengan melenyapkanku, Ayah akan hancur secara mental dan melepaskan kendali perusahaan."

Arga mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Siapa saja yang memiliki akses ke dana tersebut tanpa memicu alarm internal?"

"Hanya tiga orang yang memiliki wewenang sebesar itu," Clarissa menunjuk tiga profil di layar. "Paman tiriku yang haus jabatan, Direktur Keuangan yang sudah bekerja tiga puluh tahun, dan... Rio Hardianto. Meskipun Rio dari keluarga pesaing, dia memiliki saham kecil di salah satu anak perusahaan kami sebagai bentuk aliansi politik lama yang dipaksakan."

Clarissa menatap Arga dengan serius, tangannya menyentuh lengan jas Arga. "Aku ingin kau menyelidiki mereka satu per satu. Tapi kau tidak bisa melakukannya sebagai pengawalku. Kau terlalu mencolok sekarang. Kau harus masuk ke dunia mereka sebagai 'orang luar' yang memiliki kepentingan."

“Gunakan hidungmu, Inang. Pengkhianat selalu meninggalkan bau busuk keserakahan yang tidak bisa ditutupi parfum semahal apa pun. Dan ingat, dalam perburuan ini, jangan pernah mempercayai siapa pun, bahkan wanita yang menyuruhmu ini,” Macan Kencana menimpali dengan tawa parau yang bergaung di batin Arga.

Arga merasakan sakit kepala yang hebat menyerang kembali. Bayangan Sari muncul lagi di benaknya—kali ini ia ingat Sari sedang menumis kangkung di dapur sempit mereka yang bocor saat hujan, namun wajah Sari tampak makin kabur, seolah-olah tertutup kabut tebal yang tak tertembus. Ia mencoba mengingat bentuk hidung Sari atau warna tahi lalat di leher gadis itu, tapi memori itu ditarik paksa oleh Mustika.

"Arga? Kau mendengarku?" Clarissa menyadarkannya dari lamunan yang menyakitkan.

Arga tersentak, tatapannya kembali fokus pada Clarissa. "Ya, Nona. Saya mengerti. Apa rencana selanjutnya?"

"Malam ini ada pesta pribadi di atas kapal pesiar milik Rio Hardianto. Dia mengundang para sosialita dan pengusaha muda untuk merayakan 'kesepakatan baru'. Aku ingin kau menyusup ke sana. Bukan sebagai pengawalku, tapi sebagai Arga Satria, seorang investor muda misterius dari Kalimantan yang baru saja menjual lahan batu baranya seharga triliunan rupiah."

Arga menatap setelan jas lain yang sudah disiapkan di atas sofa kulit—kali ini berwarna abu-abu metalik dengan kemeja hitam tanpa dasi yang tampak sangat provokatif dan mahal. "Investasi? Saya tidak tahu apa-apa tentang angka atau cara bicara orang kaya, Nona."

"Kau tidak perlu tahu banyak tentang angka," Clarissa mendekat, tangannya memperbaiki kerah kemeja Arga. Jarak mereka sangat dekat hingga Arga bisa mencium aroma parfum jasmine yang mahal dan intimidatif dari tubuh wanita itu. "Cukup bersikap dingin, sombong, dan tunjukkan bahwa kau memiliki kekuatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Rio adalah pria yang sombong; dia akan tertarik padamu seperti lalat pada madu jika dia menganggapmu sebagai ancaman atau peluang bisnis baru."

"Dan jika aku menemukan bukti yang mengarah pada salah satu dari mereka?" tanya Arga, matanya sekali lagi berkilat keemasan di balik cahaya lampu ruangan yang redup.

Clarissa menatap mata emas itu tanpa rasa takut, seolah ia sedang menatap senjata paling mematikan yang ia miliki. "Jangan bunuh mereka di atas kapal. Itu akan menimbulkan masalah diplomatik yang tidak kita butuhkan. Bawa namanya padaku. Tapi... jika mereka mencoba menyerangmu atau jika posisimu terdesak, aku memberikanmu izin untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk bertahan hidup. Termasuk menghancurkan kapal itu jika perlu."

Malam itu, Arga berdiri di dermaga pribadi Marina, menatap kapal pesiar mewah bernama The Predator yang berpendar cahaya lampu pesta di tengah gelapnya laut Jakarta. Ia meraba Mustika di dadanya yang kini berdetak seirama dengan deburan ombak yang menghantam dermaga.

Ia melangkah naik ke atas kapal, meninggalkan daratan, meninggalkan sisa-sisa kenangan tentang Sari yang kian memudar ditelan kegelapan, dan masuk ke dalam sarang pengkhianatan yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!