"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Semudah Itu
“To—tolong ... aku!”
Tubuh Mika mulai lunglai. Penglihatannya semakin kabur.
“Si—siapa aja ... tolong aku ....” Suaranya semakin kecil. Napasnya tidak lagi teratur.
Bruk!
Tubuhnya jatuh ke tanah. Di sela-sela kesadarannya yang mulai menipis, Mika sempat melihat seorang pria berdiri di depannya. Namun, beberapa detik kemudian—semuanya gelap. Ia benar-benar kehilangan kesadaran.
“Bagaimana bisa dia kabur?! Apa yang kalian lakukan?! Masa jaga satu anak kecil aja nggak bisa!” Suara itu terdengar samar di telinga Mika.
Perlahan ia membuka mata. Seorang suster sedang memeriksa kondisinya.
“Tuan, Nona Mika sudah sadar!” ujar suster itu.
“Tuan?” batin Mika bingung. Ia mencoba menoleh pelan, menyapu ruangan dengan pandangan yang masih buram.
Di sudut ruangan, ia melihat seorang pria berdiri bersama dokter. Sosok tinggi dengan aura dingin.
“Apa itu ... Arlan?” batinnya ragu.
Dokter segera mendekat ke ranjang. “Mika, apa kamu udah merasa lebih baik sekarang?” tanyanya lembut.
Mika hanya mengangguk pelan. Tak lama kemudian, penglihatannya mulai kembali jelas. Langkah kaki terdengar mendekat. Seorang pria berhenti tepat di samping ranjangnya. Tiba-tiba, Arlan mengetuk kening Mika dengan jarinya.
Tok!
“Dasar anak keras kepala!” katanya dingin. “Berani-beraninya ngelabui orang pakai trik jadul begitu.” Ia menatap Mika tajam. “Untung kakimu nggak patah.”
Mika terdiam. Ia memang kabur lewat ventilasi toilet yang cukup tinggi. Jika jatuh dengan posisi salah, kakinya bisa saja patah. Namun, saat itu Mika tidak peduli. Yang ia pikirkan hanya satu—kabur dari Arlan.
“Sekali lagi kamu coba hal kayak tadi,” lanjut Arlan dengan suara rendah, “ucapkan selamat tinggal pada kakimu!”
Dokter yang berdiri di samping mereka tampak terkejut. Ia tidak menyangka seorang pria sebesar Arlan bisa terlihat begitu kesal hanya karena satu gadis SMA.
Arlan lalu menoleh ke arah dokter. “Gimana keadaannya sekarang?”
Dokter menghela napas pelan. “Nggak terlalu baik. Asmanya kambuh karena terlalu memaksakan diri.”
Ia menatap Mika sebentar sebelum melanjutkan.
“Untuk sementara dia harus menghindari aktivitas yang menguras tenaga.”
Arlan menghela napas berat. Tatapannya kembali jatuh pada Mika. Rahangnya mengeras. Beberapa detik kemudian, ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan. Melihat itu, Mika segera berbicara.
“Arlan ... eh, maksudku Tuan Arlan.”
Langkah pria itu berhenti di ambang pintu.
“Lebih baik kamu lepaskan aku sekarang. Aku nggak mau terus ngerepotin orang,” kata Mika pelan.
Arlan menjawab tanpa menoleh. “Dari awal kamu udah ngerepotin aku,” katanya ketus. “Jadi, jangan merasa baru kali ini kamu bikin masalah!” Ia akhirnya menoleh sedikit ke arah Mika. Tatapannya tetap tajam. Seperti Mika adalah daging empuk yang akan ia kunyah.
“Lebih baik kamu jangan bertingkah kayak anak kecil!” ujar Arlan tegas. “Semakin cepat kamu sembuh, semakin cepat juga urusanku selesai. Paham?” lanjutnya.
Mika mengerutkan kening. “Hm, tentu aja aku mau sembuh cepat,” batinnya. “Supaya bisa menjauh dari orang kayak dia.”
Hari demi hari berlalu. Seperti biasa, kegiatan Mika hanya di atas tempat tidur—makan buah dan membaca buku pelajarannya. Di sela-sela membaca itu, ia terpintas ingatan keluarganya yang sangat tega menjual dirinya.
“Hm, ayah benar-benar nggak jenguk aku sama sekali?” gumamnya pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.
Bagaimana bisa Mika berharap keluarganya akan datang berkunjung? Sedangkan mereka semua telah rela Mika dibawa oleh pria seperti Arlan.
Tuk! Tuk!
“Nona, saya masuk!” Suara suster terdengar dari balik pintu. Ia melangkah masuk sambil membawa beberapa obat yang harus diminum Mika.
“Sus, kenapa setiap kamu masuk harus selalu ngomong begitu? Kan kamu mau periksa pasien, bukan minta tanda tangan presiden,” ucap Mika dengan nada sedikit protes.
“Nona ‘kan—” Ucapan suster itu terhenti karena Mika langsung memotongnya.
“Aduh, Nona-nona ... yang benar aja! Cukup panggil Mika aja!”
“Tapi—”
“Ssstt, jangan tapi-tapi. Aku ini masih SMA, bukan nona besar dari keluarga terpandang,” kata Mika.
Suster itu menunduk sopan. “Tapi, Nona ... Nona pasien yang dipercayakan oleh Tuan Arlan.”
Mika menghela napas kesal. Ia memegang dagunya, seolah sedang memikirkan sesuatu. “Kalau begitu, kalau dia nggak ada di sini, kalian cukup panggil aku Mika,” jelasnya.
Suster itu mengangguk ragu. Mika dapat melihat jelas keraguan di wajahnya. Tanpa perlu bertanya lebih jauh, Mika sebenarnya sudah memahami semuanya.
Arlan memang sosok yang sangat berkuasa. Dari ucapannya, tegap tubuhnya, tatapan matanya, bahkan perilakunya—semuanya memancarkan tekanan yang membuat orang lain merasa sesak dan takut.
Buk!
Tanpa sadar, Mika memukul bantal di sampingnya sekuat tenaga, seolah-olah bantal itu adalah Arlan.
“Mika, kamu kenapa?” tanya suster kaget.
“Ng—nggak kenapa-napa, Sus. Cuma bosan di dalam terus,” jawab Mika berbohong.
Suster itu tersenyum tipis.
“Bersabarlah. Sebentar lagi kamu pasti bisa keluar dari sini.” Ucapan itu sedikit membuat Mika lega.
Tak lama setelah selesai memeriksa Mika, suster tersebut keluar dari ruangan. Namun, beberapa detik kemudian, pintu kembali terbuka. Kali ini Arlan masuk.
Di tangannya ada beberapa camilan.
“Ini buat kamu. Makan.”
Mika hanya diam. Ia bahkan sedikit membuang muka.Kebenciannya pada pria itu semakin memuncak. Ia bukan siapa-siapa bagi Arlan.
Namun, pria itu memperlakukannya seolah ia adalah boneka atau tikus percobaan. Arlan seolah tidak peduli dengan sikap Mika.
“Kata dokter, kamu besok boleh pulang,” ucapnya santai. “Aku akan jemput kamu. Setelah itu kamu tinggal di apartemenku.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Untuk baju sekolahmu, beli aja yang baru.”
Mika langsung menoleh tajam. “Tentu aku pulang ke rumahmu. Kamu ‘kan udah bayar aku tiga ratus juta!” sahutnya sinis.
Arlan mengangkat alisnya sedikit. “Ya, itu kamu tahu,” katanya tenang. “Karena kamu udah tahu, sekarang aku kasih kamu ini.”
Ia menyerahkan sebuah kertas. Itu adalah rincian pembayaran rumah sakit. Mika mengambilnya dengan ragu.
Matanya langsung melebar ketika melihat angka yang tertera. Total biaya rawat dan pengobatan itu sangat fantastis. Empat ratus juta rupiah.
Jumlah yang terasa mustahil bagi seseorang seperti Mika.
“Yang benar aja ... empat ratus juta?” Mata Mika melotot. “Ka—kamu minta aku bayar uang rumah sakit sebanyak ini?!”
Arlan menatapnya datar. “Apa surat itu kurang jelas?” katanya dingin. Ia lalu melanjutkan dengan santai, seolah angka itu tidak berarti apa-apa.
“Sebenarnya nggak segitu. Tapi karena saudaramu minta bayaran ke aku sekitar tiga ratus juta—”
Arlan menyilangkan tangan. “Kurasa empat ratus juta itu layak aku anggap sebagai utangmu.”
Mika menggeleng tidak percaya. Tangannya meremas kertas itu kuat-kuat. Lalu—
Srek!
Ia melemparkan kertas tersebut tepat ke wajah Arlan.
“Kamu ini manusia berhati apa, sih?!” bentak Mika geram. “Tega banget kamu nyiksa aku begini!”
Dadanya naik turun menahan emosi. “Untungmu apa, sih? Aku ini anak SMA yang belum lulus, bahkan belum kerja!”
Ia menunjuk kertas di lantai. “Kamu minta uang sebanyak itu! Kamu pakai otakmu nggak?!”
Ruangan itu mendadak sunyi. Arlan tidak marah. Ia hanya menatap Mika dengan ekspresi datar. Arlan tidak berkedip saat kertas itu mengenai wajahnya. Ia hanya menatap Mika dengan pandangan predator yang baru saja menemukan mainan yang menarik."
Beberapa detik kemudian, ia mengeluarkan satu lembar kertas lagi. Lalu, melemparkannya ke atas tempat tidur Mika.
“Kalau begitu—” Suara Arlan terdengar pelan, tetapi dingin. “Tanda tangani ini!”
Mika menatap kertas itu dengan curiga. Di bagian atas tertulis jelas ‘SURAT KONTRAK’. Perlahan Mika membuka lembaran itu. Ia mulai membaca setiap barisnya. Namun, semakin lama membaca, mata Mika semakin melebar tak percaya.
"Apa satu tahun?!"