Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cooking Time
Enjoy gays....
Keluar dari kamarnya dengan wajah yang masih mengantuk, Aurora perlahan melangkah menuju dapur berniat untuk membuat minuman hangat guna sedikit menetralkan suhu tubuhnya yang terasa dingin karena udara pagi yang mendung.
"Good morning." Sapa Luca diiringi senyuman saat melihat Aurora yang belum menyadari kehadirannya.
'Luca?" Kaget Aurora seraya menghentikan langkah dan mengucek-ucek kedua matanya mencari kesadaran lebih.
"Masih ngantuk?"
"Hm."
Tak ada obrolan lebih jauh, Aurora melangkah mendekat lalu membuka lemari dapur bagian atas mengambil gelas dan coklat bubuk. Sedangkan Luca, melanjutkan masakannya yang sebentar lagi selesai.
"Lo masak?" Tanya Aurora yang seakan baru sadar dengan apa yang tengah Luca lakukan.
"Iya. Sekali-kali gak papa dong... Masak lo mulu yang nyiapin sarapan." Sahut Luca tersenyum melirik Aurora sekilas seraya mengaduk-aduk nasi gorengnya agar tidak gosong dan matang sempurna.
Hampir satu bulan keduanya menikah, ini memang kali pertama Luca memasak untuk mereka. Jadi, wajar saja kalau Aurora merasa terkejut sekarang.
"Emang lo gak kerja hari ini?"
"Weekend Ara.... Emang lo mau gue berangkat kerja?"
Lupa jika hari ini hari sabtu, Aurora membawa coklat hangat buatannya ke meja dapur dan duduk di sana seraya memperhatikan Luca memasak.
Sudah menjadi kesepakatan mereka memang jika di hari weekend Luca tidak boleh mengambil pekerjaan di kantor kecuali jika emergency. Selain untuk menemani Aurora yang terkadang ada kelas kuliah dadakan juga untuk menambah waktu kebersamaan mereka.
Sebelum mematikan kompornya, Luca tak lupa mencicipi masakannya terlebih dahulu. Setelah di rasa pas, barulah dia mematikan kompor. Mengambil 2 buah piring dari dalam lemari lalu membagi nasi goreng itu menjadi dua bagian. Finishing terakhir, Luca memberikan potongan timun dan telor dadar di atasnya juga sendok dan garpu.
"Makasih." Ucap Aurora tersenyum bahagia saat Luca menyodorkan sepiring nasi goreng di hadapannya lalu duduk di hadapannya.
"Sama-sama."
Tak langsung menyantapnya, Luca menunggu Aurora mencoba nasi goreng buatannya terlebih dahulu.
"Enak gak?" Tanya Luca karena Aurora tak memberi respon apapun di suapan pertamanya.
"Enak. Kayak abang-abang tukang nasi goreng pinggir jalan."
Tersenyum lega, Luca terlihat benar-benar senang karena Aurora begitu lahap menikmati makanannya.
"Berarti cocok dong kalo gue buka warung nasi goreng? Lumayan, bisa nambah penghasilan. Buat lo jajan." Ucap Luca melempar candaan seraya menyantap makanannya.
"Bisa. Tapi syaratnya setiap pagi gue di bikinin sarapan nasi goreng."
"Gak usah aja deh kalo gitu, syaratnya terlalu berat."
"Kok gitu?" Kaget Aurora bingung.
"Iya... Nanti gue gak pernah nyobain sarapan buatan lo lagi dong....."
Entah serius atau hanya sekedar gurauan belaka, tapi yang jelas hal itu berhasil membuat Aurora tertawa. Luca yang jarang melihat Aurora seperti itu pun membalasnya dengan senyum bahagia.
"Hari ini lo ada kelas gak?" Tanya Luca seolah tak ingin ada keheningan yang tercipta diantara mereka.
"Gak ada. Kenapa emangnya?"
"Mau ikut temenin gue gak?"
"Kemana?"
Tak menjawabnya, Luca hanya tersenyum penuh arti dan melanjutkan sarapannya. Aurora pun tak lagi bertanya karena dia pikir itu hak Luca.
***
Aurora kira Luca akan membawanya ke suatu tempat atau mengajaknya pergi kemana. Tapi ternyata, Luca membawanya ke tempat dia dan teman-temannya biasa kumpul bersama.
"Hay gays." Ucap Luca saat masuk ke sana menyapa teman-temannya.
Mendengar kedatangan Luca, Leon dan Vino secara otomatis langsung mempause permainan game mereka. Sedangkan Leo yang ada di lantai 2 langsung menyumbulkan kepalanya memperlihatkan diri lalu turun melewati tangga dengan perlahan.
"Wahhh.... Istri tercinta gak lupa diajakin juga nih." Tutur Leon menggoda seraya menatap Aurora.
"Iya dong.... Biar dia tahu kalo gue di luar itu ngapain aja selain kerja." Sahut Luca penuh rasa bangga. Sedangkan Aurora yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum membalasnya.
"Hay Ara." Sapa Vino dengan ramah lalu duduk di sebelah Leon.
"Hay Vino." Balas Aurora tak kalah ramah.
Dari awal mereka sampai tadi, Aurora sebenarnya sudah di buat bingung dengan bangunan tempat mereka berkumpul sekarang. Tapi setelah masuk lebih dalam dan memperhatikan semua detailnya dengan seksama, Aurora langsung terkesima karena tempat itu tak sesuai dengan pemikirannya yang menggambarkan tempat tongkrongan anak muda biasanya yang cenderung berantakan dan tak karuan.
"Tongkrongan kalian keren juga ya. Unik." Ucap Aurora memuji seraya membawa kakinya melangkah menyusuri ruang di sekitarnya.
"Leon yang bikin, kita mah cuma request doang." Sahut Leo menjelaskan.
Bertema futuristik klasik dengan konsep ruang semi ganda, tempat itu memang tak terlalu luas, tapi cara penataannya yang pas dan sesuai dengan fungsinya membuatnya terlihat rapi dan menarik.
Di lantai satu, di isi dengan satu set sofa beserta TV LED besar di depannya, meja biliar, perpustakaan mini, taman semi outdoor + kolam ikan, serta pantry.
Selain bertujuan mengenalkan Aurora dengan dunianya, Luca juga tahu jika Aurora akan nyaman di tempat mereka. Ya, itu karena ada taman serta kolam ikan d tempat mereka.
Lihat saja, Aurora langsung terpaku di tempat itu seraya menikmati gemercik air yang terdengar dan ikan-ikan yang berenang kesana kemari.
"Temen-temen lo gak sekalian ajakin ke sini Ra?" Tanya Leon secara tidak langsung memberi tawaran.
"Emang boleh?" Sahut Aurora balik bertanya karena sedikit terkejut seraya menoleh menatap mereka.
Pasalnya, dia juga baru tahu kalau Luca dan teman-temannya punya tempat tongkrongan. Itu artinya dia menjadi orang pertama yang datang ke tempat itu diantara teman-temannya. Padahal, Rion dan Alice sudah cukup lama berpacaran dan Rion tak pernah sekalipun mengajak Alice untuk datang ke tongkrongan mereka.
"Kenapa enggak? Kita kan udah saling kenal. Kalian aja selalu welcome sama kita, masak iya kita enggak?"
"Karena selama ini aja Rion gak pernah ngajakin Alice buat datang ke tempat ini sama dia. Aneh aja rasanya tiba-tiba lo nyuruh gue buat ajakin mereka ke sini."
"Dari awal mereka pacaran, kita udah minta Rion buat ngajakin Alice ke sini, tapi dianya aja yang gak mau. Katanya nanti Alice gak bakalan nyaman atau sebagainya lah." Ucap Vino.
"Tapi iya juga sih... Kalo di pikir-pikir Rion emang ada benernya juga. Temen gue yang satu itu emang gampang bosenan kalo ada di tempat yang gak cocok sama style dia. Nanti bisa-bisa kalian malah gak mood nongkrong gara-gara Si Alice kreyok minta di perhatiin terus."
"Nah, itu lo tau."
"Oke deh, gue hubungin mereka buat datang ke sini kalo gitu." Mengambil handphonenya dari dalm tas, Aurora langsung membuka chat grup mereka dan mengetikkan pesan di sana.
Selesai dengan aktivitas singkat itu, Aurora menyimpan kembali handphonenya ke dalam tas dan pergi dari tempatnya.
"Oh ya, Si Rion mana? Dia gak ngikut kumpul sama kalian hari ini?" Tanya Aurora menatap mereka. Dia baru sadar kalau Rion tak ada diantara mereka.
"Ikut. Tapi dia masih ada urusan sebentar katanya. Nanti baru nyusul." Jawab Vino.
"Tapi Ra,, lo nanti emang gak bosen juga? Secara kan tongkrongan cowok sama cewek beda jauh." Ucap Leon sedikit khawatir.
"Emang kalo cowok-cowok ngumpul, yang di bahas apa?"
"Ya urusan cowok. Tapi kebanyakan lebih ke sesuatu yang gak bermanfaat sih, hehehe..."
"Tapi ini nyatanya ada banyak buku yang bermanfaat?" Mengambil salah satu buku yang ada di rak itu, Aurora terlihat cukup tertarik dengan tulisan judul yang tertera di sana.
"Itu mah punya Leo. Buku-buku tentang Sains sama biografi gitu. Soalnya dia sering ngerjain tugas kampusnya di sini."
Membacanya sekilas, Aurora kembali meletakkan buku itu ke tempatnya.
"Ini pajangan doang apa bisa di pake?" Tanya Aurora membawa kakinya melangkah menyusuri pantry yang terlihat bersih dan rapi seperti tidak pernah di pakai.
"Bisa. Luca biasa masakin kita kalo lagi ngumpul bareng gini. Tapi kayaknya cuma ada mie instan, telor, sama sosis doang sekarang. Gue lupa ngisi stok kulkas." Sahut Leon menjelaskan. Dan saat Aurora mengeceknya, ternyata itu benar.
Beralih dari sana, Aurora kembali menuju rak buku dan mengambil salah satu buku dari sana lalu di bawanya ke lantai 2.
Sementara itu, Leon dan Leo yang tadi sempat menunda permainan mereka karena kedatangan Luca dan Aurora terlihat kembali melanjutkannya.
Adapun Vino dan Luca hanya duduk di sebelah mereka sembari menikmati cemilan yang ada di atas meja dan sesekali memperhatikan game sepakbola yang tengah dimainkan.
***
Saling mengerti dan memahami satu sama lain adalah cara Aurora dan Luca menjalani kehidupan rumah tangga mereka. Alih-alih memperdebatkan masalah tanggungjawab dan kewajiban yang akan menimbulkan pertengkaran, keduanya justru terlihat santai apapun yang mereka ingin lakukan.
Seperti sekarang, walaupun Luca yang mengajaknya untuk ikut kumpul bersama teman-temannya dan berujung dia yang tak bisa sepenuhnya berbaur karena berbeda kegemaran. Tapi bukan berarti Aurora dengan semena-mena dan sesuka hati meminta Luca hanya memperdulikannya.
Karena nyatanya, Aurora justru menyikapinya dengan tenang dan memilih menyibukkan dirinya dengan buku-buku yang menarik perhatian guna membunuh rasa bosan. Membiarkan Luca asyik menikmati waktunya bersama teman-temannya dan sama sekali tak berniat untuk menuntut Luca mengalihkan perhatiannya padanya.
Membuka lembar berikutnya, Aurora tanpa sadar hampir menghabiskan setengah dari buku itu.
Belum genap satu halaman terbaca, suara dering handphone terdengar. Mengambil benda persegi panjang itu dari atas meja, Aurora melihat siapa nama yang tertera di sana. Dari Alexa rupanya.
^^^"Kenapa Xa?"^^^
"Lo bener kan ngasih alamatnya?"
5 menit yang lalu, Alexa dan teman-temannya sebenarnya sudah sampai di depan alamat yang Aurora berikan. Namun, karena takut saat melihat bangunan itu, mereka jadi ragu untuk masuk lebih dalam. Jadilah mereka memutuskan untuk menghubungi Aurora terlebih dulu guna memastikan.
Meski sebenarnya, mereka juga sudah melihat mobil milik Luca dan motor teman-temannya yang terparkir di sana.
^^^"Iya. Kenapa? Lo nyasar?"^^^
"Bukan. Kita udah nyampe malah. Tapi, tempatnya emang kayak bangunan yang gak ke pake gitu ya?"
^^^"Iya, emang gitu bentukannya. Lo liat mobil Luca kan di depan?"^^^
"Iya gue liat."
^^^"Ya udah, masuk aja."^^^
Mendapat kejelasan, Alexa pun mematikan panggilannya lalu menyimpan handphonenya ke dalam saku celana.
"Gimana? Bener ini tempatnya?" Tanya Alice memastikan.
"Iya."
Tanpa berlama-lama, mereka pun turun dari mobil dan mengambil semua barang belanjaan mereka yang ada di dalam bagasi mobil.
Sementara itu, meletakkan dua benda yang masih di tangannya di atas meja, Aurora bangkit dari duduknya dan menuruni tangga.
"Ra? Mau kemana?" Tanya Leon yang tak sengaja melihat Aurora melintas di depannya.
Dia baru saja keluar dari kamar mandi menyelesaikan urusan alamnya. Sedangkan Luca dan yang lainnya masih asyik bermain game dan sepertinya tak menyadari kepergian Aurora. Oh ya, Rion juga sudah datang dari setengah jam yang lalu dan sedang ikut bermain bersama mereka menggantikan Leon tadi.
"Temen-temen gue udah ada di depan." Jawab Aurora menghentikan langkahnya sejenak lalu kembali melanjutkannya.
Tepat saat Alexa dan ketiga temannya sampai di depan pintu dan hendak memencet bel, Aurora membuka pintu itu.
"Yuk masuk." Ajak Aurora mempersilahkan mereka untuk masuk lalu kembali menutup pintunya.
"Wih.... Keren juga nih tempat." Sahut Audrey memuji saat memperhatikan seluruh desain ruangan yang ada di sana.
"Sesuai sama style lo." Balas Aurora menanggapi.
"Kalian bawa apaan?" Tanya Leon penasaran saat tak sengaja melihat mereka membawa banyak kresek di tangan.
"Tadi Ara nyuruh kita buat sekalian belanja, buat stok isi kulkas katanya." Jawab Alice seraya meletakkan bawaannya di atas meja pantry lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Thanks ya gays."
"Sama-sama."
"Kalian beli apa aja?" Tanya Aurora yang juga ikut ke pantry bersama teman-temannya.
"Banyak. Lo liat aja." Balas Alexa sembari mengeluarkan barang yang dia bawa dan menatanya ke dalam kulkas.
Berbeda dengan Alexa yang langsung menata belanjaan mereka sesuai tempatnya, Audrey dan Aline justru langsung pergi setelah meletakkan kresek yang mereka bawa. Sedangkan Alice sendiri tak ada niatan untuk membantu dan malah mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.
Walaupun bukan orang-orang yang suka ada di dapur apalagi memasak, tapi Aurora benar-benar beruntung karena teman-temannya selalu bisa diandalkan untuk urusan berbelanja.
Buktinya, dari semua jenis makanan, bahan masakan dan minuman yang mereka beli, tak semuanya makanan olahan (instan).
"Ra? Mau masak apa? Laper nih gue." Tanya Alice mengalihkan pandangannya dari layar handphone menatap Aurora yang tengah serius melihat satu per satu barang yang dia keluarkan dari dalam plastik. Sebagian dia biarkan Alexa menatanya tapi sebagian lagi dia larang dan sisihkan ke sisi samping.
"Hmmm..... Thailand food aja gimana?" Tanya Aurora meminta saran setelah berpikir sejenak melihat semua bahan masakan yang tadi dia sisihkan.
Sejujurnya, dari tadi dia juga masih berpikir menu apa yang akan dia buat untuk makan malam mereka.
"Boleh. Tapi jangan yang aneh-aneh ya?"
Mengangguk sekali, Aurora kembali diam seraya menatap bahan masakan yang sudah dia siapkan. Dia kembali berpikir menu apa yang pas dan cocok untuk mereka. Kalau benar-benar asli Thailand food, sudah dipastikan Alice tak akan menyentuhnya. Karena sang teman memang tak begitu suka dengan makanan Thailand.
"Gue perlu bantuin apa?" Tanya Alice menawarkan diri.
"Duduk aja." Sahut Aurora setelah mendapatkan menu apa yang akan di buatnya.
"Oke."
Sebelum memulai pertempurannya dengan semua bahan makanan yang ada, Aurora terlebih dulu merapikan rambutnya dengan ikat rambu yang dia ambil dari saku celana dan menggulung pakaiannya hingga sebatas siku. Setelah itu, Aurora juga tak lupa memakai apron agar bajunya tak kotor serta mencuci tangannya terlebih dahulu.
Pertama-tama, Aurora menyalakan kompor untuk merebus air. Lalu menyiapkan bumbu yang akan dia gunakan untuk memasak seperti bawang merah, bawang putih, cabai, tomat, lengkuas dan beberapa bumbu tambahan lainnya.
Selesai dengan pekerjaan itu, Aurora mengeluarkan udang, daging sapi serta salmon yang masih ada di dalam bungkus lalu meletakkannya ke dalam wadah masing-masing dan mencucinya hingga bersih.
Saat air rebusan itu sudah mendidih, Aurora langsung memasukkan bihun yang sudah dia keluarkan dari bungkusnya.
Sembari menunggu bihun itu matang, Aurora kembali menyalakan kompor lain untuk merebus air juga wajan berisi minyak untuk di panaskan. Setelahnya, Aurora meracik semua bumbu yang tadi sudah dia siapkan dan membaginya dalam beberapa bagian.
Beralih dari sana, Aurora mengambil stainless ball dari lemari bawah untuk membuat adonan dari tepung beras yang akan dia padukan dengan ikan salmon nanti.
Sementara Aurora begitu sibuk dan cekatan menyiapkan makan malam untuk mereka, Alexa yang sudah selesai mengisi kulkas dengan berbagai macam minuman serta lemari dapur dengan banyaknya makanan, terlihat duduk di sebelah Alice seraya memperhatikan Aurora memasak di hadapan mereka sembari menikmati kopi botolan yang dia ambil dari dalam kulkas.
Ah, jika kalian bertanya dimana Audrey dan Aline? Tenang saja, mereka tak pergi kemana-mana. Audrey ikut gabung bersama Luca dan teman-temannya bermain biliar sedangkan Aline memilih menyendiri di tempat yang sama dengan Aurora membaca buku tadi. Hanya bedanya, dia terbaring di atas sofa dengan mata terpejam dan kedua telinga yang tertutup earphones.
Meninggalkan kesibukan Aurora di pantry, Luca dan teman-temannya terlihat begitu menikmati permainan mereka. Terbagi menjadi dua kelompok, mereka terbilang bersaing cukup sengit untuk menjadi pemenangnya meski masih tetap dalam suasana santai dan diselingi candaan serta obrolan ringan.
Skor sementara 3-2 untuk keunggulan tim Luca. Audrey yang di tunjuk sebagai pemain terakhir spontan menghela nafas panjang saat melihat bola putih yang baru saja Vino sodok berhenti tak sesuai harapan.
"Aits. Sorry Rey." Ucap Vino merasa bersalah saat melihat ekspresi kecewa Audrey di depan mata. Meskipun hasil akhirnya bola 8 yang dia incar masuk dengan sempurna.
"Gue yakin gak bakalan masuk sih. Sudutnya terlalu susah." Ucap Leon sedikit meremehkan.
"Mending nyerah aja Rey, kasih bolanya ke kita." Sahut Leo ikut mematahkan semangat Audrey.
"Lo lupa kalo sepanjang permainan tadi Audrey yang selalu jadi penentu kemenangan kita?" Balas Luca seakan tak ingin Audrey menyerah begitu saja karena omongan mereka. Walaupun dia tahu sulit untuk mereka memenangkan permainkan.
"Dia cuma beruntung doang karena bolanya gak susah. Kalo ini mah gue jamin gak bakalan bisa. Kalaupun berhasil, bolanya pasti gak akan masuk." Ucap Rion meremehkan.
"Kita buktiin aja, siapa yang bakalan menang disini. Tim lo apa tim kita?"
"Oke. Kita lihat aja. Sesuai perjanjian di awal tadi, siapapun yang kalah harus traktir belanja sepuasnya hari ini."
"Gue pastiin kalian bertiga yang bakalan bangkrut hari ini." Sahut Vino terlihat percaya diri walau sebenarnya dia juga sedikit ragu Audrey akan berhasil menyelesaikannya.
Setelah berpikir cukup keras dan lumayan lama, Audrey akhirnya menemukan cara dan tempat yang tepat untuk melakukan bidikan.
Bergaya seolah pemain biliar profesional, Audrey dengan percaya menyodok bola putih itu hingga mengenai bola nomer 9. Dan..... See, bola berwarna hitam itu dengan mulus meluncur masuk ke salah satu lubang.
Teriakan kemenangan pun langsung Luca dan Vino berikan untuk Audrey, ketiganya juga tak lupa saling tos sebagai bentuk keberhasilan lalu menatap ketiga temannya itu dengan tawa yang cenderung meledek penuh kepuasan.
"Keren abis lo Rey, asli." Ucap Vino tak henti-henti memuji.
"Gue gak nyangka tau kalo itu bisa masuk tadi." Sahut Luca yang masih belum percaya jika bola 9 itu akan masuk dengan sempurna tadi. Dia pikir, mereka akan kembali melanjutkan permainan dan berujung kalah.
"Lo kok bisa sejago itu sih? Katanya gak pernah main biliar?" Protes Leon tak terima.
"Emang..... Tapi gue biasa nemenin Lay main biliar sama teman-temannya sebelum kita LDR. Lagian, konsepnya kan sama kayak bola basket. Intinya fokus, akurat dan bolanya harus masuk. Sesimpel itu." Jawab Audrey dengan santainya.
"Kayaknya hari ini bakalan ada yang meronta-ronta nih karena kartu kreditnya di gesek terus...." Ucap Vino menaik turunkan alisnya dengan senyum menjengkelkan menggoda ketiga temannya itu.
"Hahahaha....." Tawa Luca dan Audrey puas melihat ekspresi kesal ketiganya.
"Jadi, siapa yang mau traktir siapa?" Tanya Vino.
"Gue traktir Luca." Ucap Rion.
"Gue traktir Vino." Balas Leo.
"Berarti lo sama gue Rey. Minta apa lo?" Tanya Leon tanpa basa-basi. Semakin cepat Audrey menyebutkan permintaannya, semakin cepat selesai pula tanggungannya.
"Apa aja kan?"
"Iya.... Apa aja."
"Ada bates minimalnya gak nih?"
"Gak ada. Sepuasnya."
"Oke."
Mengambil handphonenya dari dalam saku celana, Audrey terlihat sibuk mencari sesuatu di sana.
"Beliin gue ini." Pinta Audrey menunjukkan sesuatu di layar handphonenya.
"Huh?? Lo gila minta itu ke gue?" Kaget Leon tak percaya sedikit marah.
"Katanya apapun dan gak ada bates minimalnya? Ya gue minta lo beliin itu buat gue."
Penasaran dengan apa yang sebenarnya Audrey minta sampai membuat Leon begitu terkejut dengan wajah tak suka, Leo langsung merebut handphone itu dari tangan Leon dan melihatnya.
Sama terkejutnya dengan Leon saat melihatnya, Leo juga langsung menatap Audrey dengan ekspresi tak suka. Yang benar saja, Audrey minta Leon untuk membelikannya mobil sport keluaran terbaru yang belum ada di pasaran.
"Ya iya emang....tapi yang bener aja dong.....mahal banget itu Rey. Gak ada barang lain apa yang lo pengen beli selain itu?" Menghembuskan nafasnya kesal, Leon mencoba memberikan tawaran.
"Gak ada. Gue lagi pengen itu sekarang."
"Parah lo. Itu mah namanya lo morotin Leon." Sarkas Leo tak suka sekaligus tak terima.
"Kalo lo gak ikhlas ya gak usah, gak papa."
"Emang Audrey minta apa?" Tanya Luca penasaran.
Tak menjawabnya, Leo memberikan handphone yang di pegangnya pada Luca agar Luca bisa melihatnya sendiri tanpa perlu di jelaskan.
"Setau gue itu mobil belum ada di Indo dan harus mesen dulu buat belinya." Ucap Luca setelah melihatnya dan mengembalikan handphone itu pada pemiliknya.
Berbeda sikap dengan Leon dan Leo yang langsung menunjukkan ketidaksukaannya, Luca Justru menyikapinya dengan santai. Dia menganggap itu sudah menjadi resiko mereka jika kalah dalam taruhan. Dan janji harus di tepati.
"Tau gue. Itu keluaran terbaru. Mana limited edition lagi. Cepet-cepetan dapetinnya." Sahut Leon masih terlihat sangat kelas.
"Kalo lo emang gak bisa gak papa. Nanti gue pikirin lagi gue mau apa." Ucap Audrey mengalah. Jika di pikir-pikir lagi, dia memang cukup keterlaluan dan seharusnya tak meminta itu pada Leon.
"Gak. Gue bisa kok. Gue pesenin sekarang." Tanpa basa-basi, Leon langsung mengambil handphonenya yang ada di atas meja lalu menghubungi seseorang yang mereka tak tahu itu siapa.
"Huh?"
"Gantian lo yang kaget kan? Leon mah awalnya emang gitu, tapi dia gak bakalan ngingkarin ucapannya gitu aja kalo dia emang bisa." Ucap Luca tersenyum.
Kurang dari 5 menit, Leon kembali bergabung bersama mereka.
"Udah nih. Tungguin satu minggu lagi tu mobil udah nyampe depan rumah lo." Ucap Leon seraya memperlihatkan bukti pembelian mobil itu yang ada di handphonenya pada Audrey.
"Yakin lo?" Kaget Audrey masih tak percaya.
"Yakin lah. Emang pernah gue boong?"
"Kok cepet banget?"
"Cepet dong.... Siapa dulu, Leonardo Estrada. Apa sih yang gak gue bisa kabuli?"
"Sombong lo...." Sahut mereka serempak.
"Thank you Leon." Ucap Audrey tersenyum senang.
"ama-sama."
"Tapi Lo ikhlas kan?"
"Ikhlas..."
"Bau apaan nih? Enak banget." Ucap Vino saat hidungnya tak sengaja mencium sesuatu yang menggugah selera. Karena kebetulan, rasa lapar juga sudah menyapa perut yang mulai keroncongan.
Terlalu asyik bermain dengan sedikit perdebatan membuat mereka lupa jika ada kegiatan lain di sekitar mereka.
Mengalihkan pandangan langsung ke arah pantry, mereka semua kecuali Audrey langsung di buat terkesima dan terpesona saat melihat Aurora yang tengah memasak di sana.
Bak seorang bidadari yang baru turun dari surga, tak ada satupun dari mereka yang tak memuji kecantikan alami Aurora. Hanya saja, mereka tak ingin berlebihan karena Aurora sudah menjadi istri orang dan itu adalah teman mereka.
"Wihh.... Si Aurora masak?" Ucap Vino spontan memuji karena kecantikan Aurora yang semakin bertambah berkali-kali lipat di mata Vino.
"Di jaga pandangannya mas, istri orang tuh." Tegur Luca dengan nada bercanda seraya menepuk bahu Vino.
Jika di bilang cemburu, Luca jelas merasakannya. Hanya saja, dia juga berpikir logis dan rasional. Karena baginya, wajar seorang laki-laki mengagumi seorang wanita. Apalagi, dia pun merasakan hal yang sama. Dia selalu saja jatuh cinta saat melihat Aurora yang tengah memasak seperti sekarang. Menurutnya, Aurora jauh lebih cantik, mempesona dan sangat natural jika dia tengah memasak.
"Ra? Bikin apa?" Tegur Luca mengagetkan Aurora yang baru saja menata makanan yang telah matang di atas piring.
"Thailand food."
Mengambil sendok dari tempatnya, Aurora menyendok masakannya yang hampir matang. Meniupnya sekilas lalu meminta Luca untuk mencicipinya walau hanya dengan isyarat mata.
"Enak gak?" Tanya Aurora meminta pendapat.
"Enak."
"Yang ini boleh di cicipin gak?" Tunjuk Luca pada sepiring nugget yang tadi baru saja Aurora pindah dari tirisan minyak ke sana.
"Boleh. Tapi ati-ati, itu masih panas."
Di rasa masakannya sudah matang dan rasanya juga sudah sesuai, Aurora pun mematikan kompornya. Kini tinggal satu menu lagi yang belum selesai Aurora masak.
Sementara Luca yang tadi sudah diberi izin, terlihat meniup-niup nugget yang dia ambil lalu memberikan setengahnya pada Aurora.
Bagi keduanya mungkin hal itu sudah biasa, tapi bagi Alexa dan Alice yang melihatnya di depan mata tak menganggapnya sama. Menurut mereka, hal itu adalah sesuatu yang romantis bagi keduanya. Sederhana, tapi bermakna.
"Kalian ngobrolin apa? Kok rame banget?" Tanya Alexa penasaran. Sembari memperhatikan Aurora memasak, Alexa juga sesekali memperhatikan mereka tadi.
"Gak ngobrolin apa-apa..... Kita cuma taruhan siapa yang kalah dia harus traktir belanja sepuasnya hari ini."
"Seru tuh. Siapa yang kalah?"
"Timnya Leon, Leo sama Rion."
"Udah gue tebak mah... Kalo Audrey main biliar dia pasti menang. Tuh anak emang jago."
"Tapi dia bilang dia gak pernah main sebelumnya."
"Emang... Tapi kalo soal jenis olahraga apapun, dia mah selalu bisa walau cuma lihat doang. Tuh anak emang punya bakat sendiri kalo masalah olahraga."
"Terus Si Audrey minta di belanjain apa?"
"Mobil."
"Huh?" Kaget ketiganya tak percaya.
"Emang dasar Si Audrey. Sembarangan banget tuh anak."
"Gak papa, Leon juga kok yang bayarin dia. Bukan Rio atau Leo. Dia mah kaya raya." Kekeh Luca yang tanpa sadar menghabiskan hampir setengah nugget yang ada.
"Udah semua Ra?" Tanya Alice saat Aurora melepas apron yang dia pakai dan meletakkannya ke tempat semula tadi dia mengambilnya.
"Udah. Tolong ya?"
Tanpa Aurora berkata lebih panjang lagi, Alice dan Alexa langsung bangkit dari duduknya dan menata semua makanan yang telah selesai Aurora masak ke atas meja di sebelah sofa.
Sedangkan Luca ikut bergabung bersama teman-temannya yang berkumpul di sofa dan Aurora yang melangkah menuju lantai 2.
"Rey? Ngadi-ngadi lo kalo minta barang." Ucap Alexa kesal seraya menatap Audrey yang tengah asyik bermain handphone.
"Kenapa lo yang sewot? Leon nya aja biasa aja. Lagian, udah kesepakatannya mau minta apapun." Sahut Audrey ikutan kesal dan tak mau di salahkan.
"Tapi mikir-mikir dong Rey.... Masak iya mobil? Kayak gak ada yang laen aja."
"Saat ini gue lagi pemgennya itu. Lo mau apa?"
"Terserah lo." Duduk di sebelah Vino, Alexa terlihat benar-benar cemberut dan kesal.
Audrey yang tak merasa bersalah pun hanya mengedikkan bahu acuh dan kembali melanjutkan kegiatannya bermain handphone.
Semua sudah siap dan tertata rapi di atas meja, tapi mereka belum mau memulai makan malam karena Aurora dan Aline yang belum bergabung bersama mereka.
"Ngapain lo di atas? Tidur?" Tanya Alexa menatap Aline kesal yang baru saja duduk di sebelahnya.
Dengan wajah yang masih mengantuk, Aline menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Gak di rumah, gak di kampus, di manapun tempat pasti tidur mulu kerjaannya." Gerutu Alexa.
"Pms lo?" Tanya Aline ketus dan dingin. Dan itu berhasil membuat Alexa terdiam seketika.
Tanpa aba-aba, mereka langsung menikmati makanan yang tersedia. Sebagian dari mereka duduk di atas sofa sementara sebagian lagi duduk mengelilingi meja.
"Kalo kita sering ngumpul bareng kayak gini, lo kayaknya harus beli perlengkapan makan lagi deh On." Ucap Leo seraya mengambil makanan di atas meja dan memindahkannya ke tempat makan miliknya.
"Harus tuh. Kasihan Aurora dari tadi bingung nyari tempat buat naro makanan yang udah mateng." Sahut Alexa setuju dengan mulut yang masih penuh makanan.
"Makanya tadi gue minta kalian buat beli rice box, karena tempat makannya gak cukup buat kita semua." Ucap Aurora seraya menerima makanan yang baru saja Luca ambilkan untuknya.
"Masakan Aurora boleh juga nih. Pasangan yang serasi ya kalian, sama-sama jago masak." Puji Rion yang sejak tadi begitu lahap menikmati makanannya.
"Enaknya setiap hari bisa gantian di masakin sama pasangan. Gue kapan ya?" Sahut Alexa memelas.
"Makanya nikah biar bisa." Balas Vino.
"Boro-boro nikah, pacar aja gue belum punya."
"Kasian banget sih lo." Ledek Leo.
"Pelan-pelan Ara.... Kebiasaan deh, belepotan kemana-mana." Ucap Luca membersihkan bibir Aurora dengan ibu jarinya dari noda makanan yang menempel di sana.
"Ekhm-ekhm.... Bisa kali romantis-romantisnya nanti lagi.... Ada orang nih..." Tegur Alexa sinis.
"Sensi bener sih mbaknya...." Kekeh Aurora mencubit kedua pipi Alexa gemas.
"Beneran lagi pms nih kayaknya si Alexa. Dari tadi marah-marah mulu." Balas Audrey membuat Alexa berubah cemberut seketika.
Melihat perubahan sikap Alexa yang seperti rollercoaster membuat mereka tertawa gemas bersama karena menganggap hal itu lucu.