Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Sengaja Melihat Hal yang Seharusnya
#18
Bu Saodah melotot ke arah menantunya, ia pikir Lilis pulang sendirian, tak tahunya pulang bersama suaminya yang ternyata kata-katanya sungguh pedas seperti cabai mematikan.
“Huh, miskin aja belagu, palingan kamu juga bakal minta makan ke Lilis,” ejek Bu Saodah
“Iya, nih, gayanya aja udah kayak pria kaya," timpal Arimbi, menambahkan ucapan Bu Saidah. "Aku nggak mau masak, nanti kuku tanganku rusak,” tolak Arimbi.
“Apa kaitannya miskin dengan orang-orang malas? Kalian juga tak menghasilkan apa-apa selain meminta, berarti ibu dan Arimbi bahkan lebih miskin dari benalu, dong?” ejekan Rayyan berhasil membuat wajah Bu Saodah dan Arimbi merah padam.
Lilis tak mau ada keributan, wanita itu pun bergegas melerai pertengkaran dengan cara menyeret Rayyan masuk ke kamar, “Sudah, jangan bertengkar, aku saja malas meladeni mereka.”
Rayyan berdecak sinis, “Jadi kamu mau, seumur hidup memberi makan benalu seperti mereka?”
“Tentu saja tidak, makanya aku ingin Mas membawaku pergi dari rumah dan desa ini,” elak Lilis dengan nada suara lembut, membuat emosi Rayyan melunak seketika. Andai saja Lilis tak menatap Rayyan dengan pandangan memelas, dan suara lembut yang menenangkan, mungkin pria itu akan terus melanjutkan pertengkaran.
“Oke, hari ini adalah terakhir kali kamu masak dan memberi mereka uang. Besok dan seterusnya tidak akan pernah ku izinkan!”
Lilis mengangguk, “Ya, sudah aku mandi dulu.”
Setelah pamit, Lilis pun keluar kamar hendak mandi dan bersih-bersih, tubuhnya lengket setelah seharian berjibaku di warung kecilnya.
Saat melintasi ruang tengah, Bu Saodah dan Arimbi masih duduk di sana. Melihat kejadian Lilis Bu Saodah justru kembali sengaja menyindir Lilis.
“Mmbi, nanti kalau sudah saatnya kamu menikah, cari suami kaya, yang mulutnya sopan. Jangan seperti laki-laki songong tadi, sudah miskin, mulutnya pun pedas.”
Lilis mengelus dada sambil berlalu meninggalkan mereka, memang tiada hari berlalu tanpa sindiran, terutama bila Bu Saodah dan Arimbi tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.
•••
Sementara itu nun jauh di Ibu Kota, Mitha baru saja menginjakkan kakinya di Airport. Wanita itu pulang ke tanah air, karena di luar negeri sedang berlangsung libur musim dingin.
“Gimana, Pa. Sudah dapat kabar soal Rayyan?” tanyanya segera setelah ponselnya kembali aktif.
“Kamu ini, baru juga pulang masa Rayyan yang ditanyakan? Beberapa kali dalam seminggu, nelpon, ya cuma Rayyan yang kamu tanyakan,” gerutu Tuan Sasmito, ayah Mitha.
“Ya, gimana dong, Pa. Rayyan bilang akan meresmikan hubungan kami saat aku pulang sekarang. Eh, tak tahunya dia menghilang. Jangan-jangan Rayyan punya selingkuhan!” Lagi-lagi merengek adalah senjata andalan Mitha.
Andai saja Rayyan hanya menghujaninya dengan cinta semata, tentu Mitha tak akan kelimpungan seperti saat ini. Tapi Rayyan juga memberinya materi melimpah selain cinta, tentu saja Mitha tak rela melepasnya begitu saja.
“Ini alamatnya, Pak. Ayo jalan cepat!” perintah Mitha pada sopir taksi yang ia naiki.
“Awas kamu Ray, jika sampai kamu punya wanita selain aku, hidup wanita itu tidak akan pernah tenang.”
Dua jam kemudian, Mitha langsung masuk ke area pabrik, tempat Rayyan menjalankan bisnisnya sendiri. Tak seperti biasanya, dua orang security segera menahan Mitha yang akan naik ke ruangan Rayyan.
“Kenapa aku tak boleh masuk?”
“Maaf, Nona, ini perintah Tuan Ray.”
“Aku ini calon istri Rayyan, apa kalian sudah lupa?!” hardik Mitha, tubuhnya lelah setelah menempuh perjalanan jauh, tapi sampai ditempat tujuan ia masih dihadang para petugas keamanan.
“Maaf, Nona. Kami hanya menerima instruksi dari Tuan Rayyan, dan selebihnya bukan urusan kami. Silahkan pergi, Nona, jika tidak, kami terpaksa melapor pada polisi.
“Apa?!” Sekali lagi, Mitha memekik geram, ia tak punya pilihan selain menurut.
“Awas saja kalau sampai kita bertemu lagi, Ray!” kata Mitha tatkala pergi dengan terpaksa dari tempat tersebut.
•••
Dengan cepat Rayyan menyelesaikan acara mandinya, pria itu masih setia mengenakan kain sarung milik almarhum bapak mertuanya. Karena ternyata sangat adem dan comfortable, cocok di segala suasana kecuali pergi ngantor.
Rayyan tak butuh waktu lama untuk mandi, simpel dan cepat saja, lagipula buat apa berlama-lama di kamar mandi. Karena setelah maghrib nanti ia masih harus berdiskusi dengan asistennya di pabrik.
Klek!
Merasa kamar Lilis kini adalah kamarnya juga, maka Rayyan langsung masuk tanpa mengetuk. Tapi—
“Aaa—bbb!” Jeritan Lilis langsung di bungkam telapak tangan Rayyan, karena pria itu tak ingin Bu Saodah dan Arimbi menghampiri kamar mereka.
Perlahan dengan salah satu kakinya, Rayyan mendorong pintu hingga kembali menutup sempurna. Sementara kedua mata Rayyan tak mampu berkedip manakala disuguhi pemandangan hamparan tubuh indah istrinya.
Lilis segera melepaskan tangan Rayyan dari mulutnya, “Berbalik!” pekik Lilis, ia malu sekali, karena saat ini dirinya hanya mengenakan bawahan rok, serta beha saja. Lilis terbiasa santai di kamarnya, bebas berganti baju tanpa takut ada yang mengintai.
Lilis pun mengira Rayyan butuh waktu beberapa saat lagi untuk menyelesaikan mandinya, tapi Rayyan selesai mandi lebih cepat, hingga berakhir melihat tubuh bagian atasnya yang tak tertutup pakaian luar.
“Maaf, aku tak sengaja,” ucap Rayyan, gugup juga ternyata, setelah tanpa sengaja melihat tubuh yang memang seharusnya sudah halal untuknya.
“T-tidak apa-apa, Mas. Aku juga salah karena tak segera berpakaian,” sahut Lilis. Wanita itu buru-buru berpakaian, sambil meringis merutuki kesalahannya sendiri.
###
Padahal sudah sama-sama halal, tapi begitulah, mereka memang terlalu menggemaskan. 🤭😌😅
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭