NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Gangster / Teen School/College / Persahabatan / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tendangan Terakhir

Akhirnya pelaksanaan kegiatan sosial akan dilangsungkan besok. Rommy tahu Axel akan mengacaukan acara kegiatan sosial itu, meski dia sudah ditunjuk sebagai seksi keamanannya. Namun caranya mengacau dia tidak tahu detail. Untuk mengantisipasi hal itu, dia mengundang rapat hanya terbatas pada panitia-panitia yang sangat dia percayai dalam rapat online hari ini lewat WhatsApp.

Hanya dirinya, Erick, Woro, dan tentu saja Mauren.

“Selamat sore teman-teman, rapat ini terbatas hanya kalian berempat, karena saya percaya kalian adalah orang-orang yang bebas dari kepentingan The Executioners,” Rommy membuka rapat hari itu. “Saya harap apa pun informasi dalam rapat ini bisa dijaga kerahasiaannya.”

“Sore,” jawab Woro.

“Sore Pak Ketua,” jawab Erick dan Mauren hampir berbarengan.

“Gua akan jaga rahasia, Rom,” ujar Erick lagi. “Trust me.”

“Baik, terima kasih semua. Saya langsung saja pada inti masalah,” kata Rommy. “Saya mengerti Axel yang sudah saya tunjuk jadi seksi keamanan dalam tim kepanitiaan ini tetap membenci saya, karena punya ambisi geng yang dia pimpin akan jadi lebih besar dari Kelelawar Hitam. Oh ya, saya bicara di sini bukan sebagai ketua geng Kelelawar Hitam, tapi sebagai ketua panitia.”

Erick di seberang telepon menjawab, “Meskipun gua sudah jadi anggota Kelelawar Hitam, tapi gua masih mempunyai beberapa teman di The Executioners, Rom. Saya dengar isu Axel menyuruh seorang preman untuk menjarah donasi itu saat akan dibawa ke Panti Wreda Surya Kencana.”

“Ah, itu terlalu ekstrem menurutku,” kata Woro. “Masak sampai segitunya? Dia juga bagian dari panitia lho, masak dia mau mencoreng kerja dia sendiri.”

“Ya itulah yang gua dengar, Wor,” jawab Erick. “Dan gua pernah dekat dengan Axel, tahu banyak tentang sifat dan ambisi Axel yang selalu menggunakan segala cara.”

“Menurut saya, sekecil apa pun isu, kita harus waspada dan antisipasi,” kata Mauren.

“Terima kasih, Rick. Setuju sama Mauren, sekecil apa pun isu kita harus antisipasi,” jawab Rommy. “Ada ide?”

Woro cuma mengangguk tanda dia setuju.

“Bagaimana kalau kita ubah jadwal pengiriman donasi ke Panti Wreda itu, tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali kita?” Mauren usul.

“Setuju!” jawab Erick dan Woro hampir berbarengan.

“Sip, kalau itu antisipasinya. Kalau semisal sore ini donasi kita angkut ke Panti Wreda, bagaimana?” tanya Rommy. “Bagaimana, Wor, bisa diatur?”

“Gua kira sih bisa, Rom. Tinggal izin dari sekolah dan panti saja, kita bisa atur sama perusahaan transportasi kalau soal itu,” jawab Woro.

“Itu urusan gua nanti, Wor,” jawab Rommy. “Yang penting pastikan dulu perusahaan transportasinya setuju atau tidak.”

Rapat terbatas itu pun selesai, dan tidak lama Woro mendapatkan konfirmasi dari perusahaan transportasi untuk mengangkut barang-barang donasi yang sudah ada di gudang sekolah untuk diangkut ke Panti Wreda Surya Kencana yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari SMA Tunas Bangsa.

Rommy pun sudah mendapatkan izin dari Pak Sajit dan pihak panti untuk memindahkan barang-barang donasi sore itu juga.

Dan sore itu Rommy, Mauren, Woro, dan Erick mengawasi beberapa karung dan kardus hasil donasi itu dipindahkan dari gudang sekolah ke panti dengan mobil boks yang sudah dipesan Woro.

Pagi harinya, sekolah yang seharusnya libur di hari Minggu itu mendadak ramai dengan celoteh anak-anak yang mau berkegiatan sosial pagi itu. Rommy tampak sibuk menenangkan mereka dan memimpin mereka berjalan menuju ke Panti Wreda Surya Kencana. Pak Sajit memutuskan ikut, mendampingi Bu Catarina yang mengawasi anak-anak.

Axel diam-diam membuka WhatsApp, dan ada pesan dari Mat Kojak:

“Boss, sudah jam segini kok nggak ada mobil yang ngangkut barang-barang donasi?”

Sebentar kemudian Axel menjawab:

“Gua juga nggak tahu nih. Sebentar gua cari tahu dulu.”

Erick lalu cari informasi dari Pak Bandrio. Kata Pak Bandrio, “Barang-barang donasi sudah diangkut ke panti wreda itu kemarin, Xel. Kata Rommy ada perubahan rencana.”

“Brengsek, Rommy bisa membaca rencana gua! Apa yang bisa gua lakukan sekarang untuk mengacaukan acara itu?” kata Axel dalam hati.

Axel kemudian diam-diam mengirim pesan WhatsApp ke Mat Kojak:

“Mereka rupanya membaca rencana kita untuk menjarah barang-barang donasi itu.”

Tak berapa lama Mat Kojak menjawab pesan WhatsApp Axel:

“Terus langkah kita selanjutnya bagaimana, Boss?”

Axel menjawab:

“Kita laksanakan plan B. Kamu masuk ke panti wreda itu dan kacaukan acaranya dengan menyetel musik keras-keras biar para lansia itu nggak nyaman dalam acara tersebut. Kalau perlu, buat keributan.”

Dalam semenit datang jawaban dari Mat Kojak:

“Siap, Boss.”

Panti Wreda Surya Kencana tidak bisa dikatakan mewah, tapi juga tidak bisa dikatakan jelek. Panti wreda itu terdiri dari kamar-kamar, dan ada sebuah hall besar. Anak-anak yang akan melakukan kegiatan sosial tadi berkumpul di hall tersebut. Pak Sajit dan Bu Catarina, termasuk Mauren yang akan membawakan acara, sudah duduk rapi di hall tersebut sambil melakukan interaksi dan bercanda dengan para lansia.

Rommy sibuk mengatur para panitia yang berhubungan langsung pada acara kegiatan tersebut. Dengan HT, dia memeriksa kesiapan teman-temannya.

“Mauren, kamu panitia yang paling penting dalam acara siang ini. Kami semua percaya pada kamu.”

“Jangan khawatir,” jawab Mauren lewat HT juga.

“Wawan, sudah siap dengan foto-foto dan video acara hari ini?” tanya Rommy kepada Wawan yang seksi dokumentasi, juga lewat HT.

“Beres, Rom,” kata Wawan. “Barusan gua cek semua kamera sudah di-charge dengan baik.”

“Wor, support Mauren ya, kamu kan seksi logistik,” kata Rommy.

“Siap, Rom,” jawab Woro sambil mengarahkan HT ke depan mulutnya.

“Terakhir, Axel, lu jaga di luar ya sama anak-anak buahmu,” kata Rommy. “Laporkan jika ada orang yang mencurigakan mengacau acara ini.”

“Siap, Rom,” jawab Axel.

Padahal Rommy sudah mengatur Axel yang seksi keamanan bersama anak buahnya yang semua dia rekrut dari The Executioners itu menunggu di luar yang panas terik.

Acara langsung dimulai, dari pidato ramah tamah Pak Sajit dan disusul Rommy selaku ketua panitia. Lalu acara diserahkan kepada Mauren selaku pembawa acara.

Acara pertama, Mauren mengajak opa dan oma itu bernyanyi dan menari bersama, dan dia memimpin para lansia itu melantunkan lagu “Poco-Poco” sambil bergoyang. Beberapa lansia yang sudah berkursi roda hanya bernyanyi sambil duduk di kursi rodanya, tapi tangan mereka bergoyang mengikuti irama rancak lagu yang dinyanyikan itu.

Pak Sajit dan Bu Catarina juga ikut bercengkerama, bernyanyi, dan menari dengan para lansia tersebut, sedang Rommy sibuk mondar-mandir dan mengawasi para panitia dengan HT-nya.

Tibalah saatnya bagi-bagi donasi. Mauren, dengan dibantu Woro, membagikan donasi yang telah terkumpul kepada oma opa itu satu per satu.

Tiba-tiba Axel memberitahu Rommy lewat HT ada seseorang mencurigakan masuk ke panti. Rommy segera waspada, dan langsung memberi tahu kepada semua panitia, termasuk Pak Sajit dan Bu Catarina.

Pria berbadan besar, penuh tato, beranting, dan botak tersebut langsung berteriak-teriak, “Omaku mana? Aku mau menemui omaku!”

Sontak acara yang penuh kegembiraan itu diam, dan semua dicekam ketakutan.

Mauren mencoba menenangkan pria itu, “Pak, harap tenang, di sini sedang ada acara.”

“Huh, siapa kamu? Aku sedang mencari omaku. Kau tidak usah ikut campur, anak kecil,” kata Mat Kojak dan meneruskan berteriak-teriak, “Oma, oma, ada di mana?”

Pak Sajit juga mencoba menenangkan Mat Kojak, namun dia didorong hingga hampir jatuh dan menabrak kursi-kursi. Rommy segera membantu Pak Sajit berdiri.

“Bapak tidak apa-apa kan?”

“Tidak, tidak apa-apa,” kata Pak Sajit. “Cepat panggil polisi, orang ini mau mengacau sepertinya.”

“Axel, lu cepat hubungi polisi,” perintah Rommy kepada Axel lewat HT-nya. “Peringatan lu benar, orang yang lu informasikan itu ternyata memang mau mengacau.”

“Siap, Rom,” kata Axel di HT-nya. Dia menyeringai mendapat instruksi Rommy itu, dan tidak segera menghubungi polisi seperti yang diminta Rommy.

“Bapak bisa tenang, tidak?” kata Mauren memperingatkan Mat Kojak. “Jangan sampai saya bertindak.”

“Anak kecil. Kau berani mengancamku?” kata Mat Kojak sambil menggebrak meja dan menumpahkan makanan dan minuman dalam mangkuk dan gelas yang sudah tertata di meja itu. Para lansia nampak pucat ketakutan dan gemetar. Ada beberapa yang saling berpelukan.

Tanpa omong lagi, Mauren langsung menunjukkan keahliannya dalam bela diri karate, melakukan tendangan Mae Geri (tendangan ke depan) ke arah dada Mat Kojak.

“Ciat!”

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!