*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.
Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBUKAAN YANG TERAKHIR
Kaki kita terasa seperti berat besi saat kita berlari menuju bukit di mana gua itu berada. Udara di sekitar desa terasa sangat panas dan berat, dan angin membawa suara bisikan yang mengganggu – seperti ratusan orang yang sedang berteriak sekaligus. Dari kejauhan, kita bisa melihat bahwa cahaya hitam dari gua itu semakin besar dan terang, menyebar ke seluruh langit seperti awan kegelapan yang tidak bisa dihentikan.
Saat kita mendekati bukit, aku melihat bahwa banyak orang dari desa sudah berkumpul di bawahnya, termasuk ayahku dan Kapten Hasan. Mereka berdiri dengan wajah yang penuh ketakutan tapi juga tekad, menyanyi lagu penjaga yang sama dengan yang selalu kita kenal. Aku bisa melihat bahwa sebagian dari mereka sudah mulai terpengaruh oleh kekuatan hitam mata mereka mulai berubah warna menjadi merah pekat, dan tangan mereka mulai bergetar dengan sendirinya.
“Ayah!” teriakku dengan suara yang penuh cinta, berlari ke arahnya dengan cepat. Dia melihatku dengan mata yang sebagian sudah berubah warna, tapi masih ada sedikit kilatan kesadaran yang tersisa di dalamnya. “Kamu harus pergi dari sini sekarang itu sangat berbahaya!”
Aku mulai menggunakan kekuatan Pembawa Cahaya untuk membantu orang-orang yang terpengaruh. Cahaya emas dari kalungku menyentuh tubuh mereka satu per satu, dan aku bisa melihat bahwa warna mata mereka mulai kembali normal sedikit. Kapten Hasan mendekatiku dengan tubuh yang goyah tapi wajah yang tegas.
“Dia sudah mulai mengendalikan sebagian besar desa,” katanya dengan suara yang serak. “Kita mencoba melawannya tapi kekuatannya terlalu besar. Kita butuh bantuanmu, Sevira.”
Saat kita berbicara, aku melihat sebuah batu besar di dekat pintu gua dengan tulisan tua yang dibuat dari darah merah pekat. Tulisan itu berbunyi: “Untuk mengakhiri segalanya, kamu harus mengorbankan satu hal yang paling kamu cintai atau semua akan hancur selamanya.”
Rio mendekati aku dengan wajah yang penuh kekhawatiran. “Apa artinya itu?” tanyanya dengan suara yang gemetar. “Apa yang harus kita korbankan?”
Aku meraih tangannya dengan lembut. “Saya tidak tahu,” jawabku dengan suara yang lemah. Tapi di dalam hatiku, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Aku melihat ke arah ayahku yang sedang menatapku dengan mata penuh cinta dan pengertian. Dia tahu juga dia selalu tahu apa yang terbaik untukku.
“Sevira,” katanya dengan suara yang jelas dan kuat, mendekatiku dengan langkah yang lambat. “Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Dan aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu bangga padamu. Kamu telah menjadi orang yang kuat dan baik lebih dari yang pernah kuduga.”
Dia mengambil sebuah kotak kecil dari kantongnya dan memberikannya padaku. Aku membukanya dan menemukan sebuah kalung kecil dengan foto ibu ku dan aku saat kecil di atasnya. “Ini adalah satu-satunya hal yang kubawa dari rumah kita dulu,” katanya dengan mata yang penuh air mata. “Aku ingin kamu menyimpannya sebagai kenang-kenangan dariku.”
Saat aku menerima kotak itu, aku merasakan bahwa kekuatan hitam dari gua itu semakin kuat. Suara nyanyian yang mengerikan mulai terdengar dengan lebih jelas, dan aku bisa melihat bahwa pintu gua itu mulai terbuka perlahan-lahan. Dari dalamnya keluar bentuk besar yang semakin jelas Ratu Kegelapan sudah kembali, dan kali ini tubuhnya lebih besar dan kuat dari sebelumnya.
“Kamu tidak akan menghentikanku lagi, Sevira!” teriaknya dengan suara yang menggema ke seluruh desa. “Sekarang aku akan mengambil kekuatanmu dan menjadi yang paling kuat di seluruh alam semesta!”
Saat Ratu Kegelapan muncul sepenuhnya dari gua, aku melihat bahwa dia telah menyatu dengan bayangan semua orang yang pernah terserang kekuatan hitam termasuk wanita tua itu dan banyak orang lain yang sudah kita kenal. Tubuhnya sekarang seperti gunung yang besar dengan mata merah menyala dan tangan yang panjang yang bisa menjangkau ke segala arah.
Aku berdiri dengan tegak di depan semua orang, kalungku bersinar dengan cahaya emas yang paling terang yang pernah kudapatkan. Rio berdiri di sisiku, bersama dengan ayahku dan Kapten Hasan. Semua orang dari desa mulai menyanyi dengan suara yang semakin kuat, dan aku bisa merasakan bahwa kekuatan cinta dari semua orang itu mulai mengalir ke dalam diriku.
“Kamu salah besar!” seruku dengan suara yang menggema ke seluruh desa. “Cinta selalu lebih kuat dari kekuatan kegelapan dan aku akan membuktikannya padamu!”
Aku mulai mengucapkan kata-kata ritual yang baru kudapatkan dari surat nenekku yang kedua. Setiap kata yang keluar dari mulutku membuat cahaya emasku semakin besar dan terang, dan Ratu Kegelapan mulai menjerit kesakitan dan mundur ke belakang. Tapi kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak terduga dia menyerang ayahku dengan sangat cepat, menangkapnya dengan tangannya yang besar sebelum aku bisa berbuat apa-apa.
“Aku akan membunuhnya jika kamu tidak menyerah sekarang!” teriaknya dengan suara yang mengerikan, mengangkat ayahku ke udara seperti mainan kecil. “Serahkan kekuatanmu padaku atau dia akan mati di hadapanmu!”
Aku melihat ke arah ayahku yang sedang menatapku dengan mata penuh cinta dan kebijaksanaan. Dia tidak berkata apa-apa, tapi dia mengangguk perlahan memberi izin padaku untuk melakukan apa yang harus kulakukan. Aku merasakan bahwa hatiku seperti akan pecah menjadi seribu bagian, tapi aku tahu apa yang harus kulakukan.
“Saya menyerah!” seruku dengan suara yang penuh kesedihan tapi juga tekad yang kuat, mulai melepaskan kekuatan Pembawa Cahaya dari dalam diriku. Cahaya emas mulai mengalir dari tubuhku ke arah Ratu Kegelapan, dan aku bisa melihat bahwa tubuhnya mulai menyusut sedikit demi sedikit.
Tetapi saat kekuatan itu mengalir, aku merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda kekuatan cinta dari semua orang di desa mulai menyatu dengan kekuatanku, membuatnya tidak hanya menjadi kekuatan cahaya tapi juga kekuatan cinta yang luar biasa. Ratu Kegelapan melihat ini dengan wajah yang penuh ketakutan, dan aku bisa melihat bahwa dia mulai tidak bisa mengendalikan kekuatan yang masuk ke dalam tubuhnya.
“Apa yang kamu lakukan?” teriaknya dengan suara yang semakin lemah. “Ini bukan kekuatan yang aku inginkan!”
Aku tersenyum padanya dengan lembut. “Ini adalah kekuatan cinta yang kamu takuti selama ini,” jawabku dengan suara yang jelas dan kuat. “Dan sekarang ia akan mengalahkanmu selamanya!”
Saat aku mengucapkan kata-kata itu, kekuatan cinta yang luar biasa meledak dari dalam tubuh Ratu Kegelapan, membuat cahaya yang sangat terang sehingga semua orang harus menutup mata mereka. Ketika cahaya mulai mereda, aku melihat bahwa Ratu Kegelapan sudah hilang, dan ayahku sedang jatuh dari udara ke arahku dengan cepat.
Aku segera berlari untuk menangkapnya, dan dia jatuh dengan lembut ke dalam pelukanku. Dia melihatku dengan mata yang penuh cinta dan senyum di wajahnya. “Kamu telah melakukan hal yang benar, cintaku,” katanya dengan suara yang lemah. “Sekarang kamu harus menyelesaikan apa yang kamu mulai.”
Sebelum aku bisa menjawab, aku merasakan bahwa tanah di bawah kita mulai bergetar dengan sangat kuat. Dari dalam gua itu terdengar suara yang sangat besar dan mengerikan seperti pintu yang terbuka ke alam lain yang jauh lebih besar dan berbahaya. Aku melihat ke arah pintu gua dan menemukan bahwa ada cahaya putih yang sangat terang mulai keluar dari dalamnya, menyebar ke seluruh langit seperti matahari yang baru saja lahir.
“Apa itu?” bisik Rio dengan suara yang penuh kekaguman dan ketakutan.
Aku melihat ke arah cahaya putih itu dengan wajah yang penuh tekad. “Saya tidak tahu,” jawabku dengan suara yang jelas dan kuat. “Tapi saya tahu bahwa perjuangan kita belum selesai dan bahwa apa yang akan datang selanjutnya akan mengubah segalanya yang kita kenal selamanya.”