Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Aslan berdiri di depan tungku peleburan besar yang baru saja dimodifikasi oleh Si Tangan Besi. Cahaya merah dari kristal yang sedang diproses memantul di permukaan zirah hitamnya. Di sampingnya, Si Tangan Besi sedang mengatur katup tekanan pada tangki uap yang terhubung langsung ke purwarupa meriam artileri terbaru.
"Pangeran, kristal merah ini benar-benar gila. Daya dorongnya tiga kali lipat lebih stabil dibandingkan kristal biru, tapi risiko panas berlebihnya juga meningkat tajam," lapor Si Tangan Besi sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan mekanis.
"Sistem sudah mengkalkulasi ambang batasnya. Jangan biarkan tekanan uap melewati angka dua ratus empat puluh psi jika kau tidak ingin seluruh fasilitas ini meledak," jawab Aslan sambil memperhatikan angka digital yang berkedip di pupil matanya.
[Sistem: Analisis Integrasi Kristal Merah. Efisiensi Amunisi: 94%. Risiko Malfungsi Mekanis: 12%. Status: Siap untuk Mobilisasi.]
"Dua ratus empat puluh ya? Baiklah, saya akan memasang katup pelepas otomatis di angka dua ratus tiga puluh untuk keamanan," sahut Si Tangan Besi sambil kembali sibuk dengan kuncinya.
Aslan berbalik dan melihat Elara masuk ke dalam ruang bengkel. Wanita itu membawa peta baru yang sudah ditandai dengan tinta merah pada beberapa titik di sepanjang aliran sungai menuju ibu kota.
"Milisi rakyat sudah siap bergerak, Aslan. Lima ratus orang dari desa-desa sekitar tambang telah dipersenjatai dengan senapan uap ringan," ucap Elara.
"Bagaimana dengan moral mereka setelah mendengar kabar tentang penyanderaan keluarga bangsawan?" tanya Aslan.
"Mereka marah, tapi mereka juga takut. Mereka butuh jaminan bahwa kita punya rencana nyata untuk menyelamatkan para sandera itu sebelum serangan utama dimulai," jawab Elara dengan nada serius.
Aslan mendekati meja strategi di tengah ruangan. Ia menunjuk ke arah struktur drainase yang digambar berdasarkan informasi dari Jenderal Zarek.
"Bayangan Merah sudah berada di dalam sistem pembuangan limbah ibu kota. Dia memastikan bahwa pipa drainase dapur istana memang terendam air, tapi arusnya melemah setiap pukul tiga pagi saat gerbang utama pintu air ditutup untuk pembersihan," jelas Aslan.
"Tiga pagi? Itu artinya kita hanya punya waktu satu jam sebelum pintu air dibuka kembali dan menenggelamkan siapa pun yang ada di dalam pipa tersebut," komentar Elara sambil mengerutkan kening.
"Tepat sekali. Itulah sebabnya Unit Liberator akan masuk lebih dulu. Kita akan melumpuhkan mekanisme pintu air dari dalam agar kavaleri Serigala Perak bisa masuk melalui Gerbang Air tanpa hambatan," balas Aslan.
[Sistem: Peluang Keberhasilan Operasi Gerbang Air meningkat menjadi 74% dengan keterlibatan unit teknis.]
"Kau ikut masuk ke dalam pipa itu, Aslan?" tanya Elara dengan nada yang sedikit berubah, menunjukkan kekhawatiran.
"Aku harus memimpin tim infiltrasi. Sistem sarafku diperlukan untuk melakukan sinkronisasi dengan kunci mekanis pintu air yang sudah berusia ratusan tahun itu," jawab Aslan sambil menatap mata Elara.
Elara menghela napas panjang dan meletakkan tangannya di atas tangan Aslan yang berada di atas peta. "Aku benci rencana yang mengharuskanmu berada di tempat paling berbahaya tanpa pengawalan kavaleri."
"Kau punya tugas yang tidak kalah penting, Elara. Kau akan memimpin serangan pengalih perhatian di Gerbang Barat. Kael harus percaya bahwa serangan utama kita berasal dari jalur darat agar dia menarik pasukannya menjauh dari area sungai," ucap Aslan.
"Aku mengerti. Aku akan membuat keributan yang cukup besar hingga Kael tidak akan sempat memikirkan apa yang terjadi di dapur istananya sendiri," sahut Elara dengan senyum tipis yang penuh tekad.
Aslan mengangguk. Ia kemudian memanggil Jax melalui perangkat komunikasi uap jarak pendek yang terpasang di meja.
"Jax, bagaimana posisi tim pengintai?" tanya Aslan.
"Lapor, Pangeran. Kami sudah menempatkan posisi di tebing utara yang menghadap langsung ke arah ibu kota. Pergerakan Harimau Putih sangat tidak teratur. Kael sepertinya sedang mengganti para komandannya setiap hari karena paranoid," jawab Jax melalui suara statis yang keluar dari corong logam.
"Bagus. Tetap pantau menara tempat sandera berada. Jangan lepaskan satu tembakan pun sampai aku memberikan perintah," perintah Aslan.
Aslan mematikan komunikator dan kembali menatap Elara. "Ini akan menjadi malam yang sangat panjang."
"Aslan, jika sesuatu terjadi di dalam pipa itu..." Elara tidak melanjutkan kalimatnya.
"Tidak akan ada yang terjadi. Aku sudah menghitung semua kemungkinan. Tapi, jika kau merasa ragu, ingatlah bahwa aku melakukan ini agar kita bisa berhenti berperang," potong Aslan sambil menarik Elara ke dalam pelukan singkat.
Elara membalas pelukan itu dengan erat. "Berjanjilah untuk kembali sebelum matahari terbit."
"Aku janji," bisik Aslan.
[Sistem: Sinkronisasi Emosional Berhasil. Fokus Tempur Pengguna meningkat. Persiapan Operasi Gerbang Air dimulai dalam 12 jam.]
Mobilisasi milisi dimulai saat senja tiba. Deretan kereta uap yang membawa meriam artileri kristal merah mulai bergerak keluar dari Tambang Barat menuju titik kumpul di selatan. Aslan berdiri di pintu keluar tambang, memperhatikan setiap prajurit yang lewat dengan tatapan yang tajam.
"Kiko, pastikan upah untuk keluarga milisi sudah didistribusikan sebelum serangan dimulai. Mereka harus tahu bahwa kita menjamin masa depan mereka," perintah Aslan kepada manajer logistiknya.
"Semua sudah diatur, Tuan Aslan. Dukungan logistik di wilayah Barat tetap stabil berkat bantuan dari Baron Krow yang terpaksa itu," lapor Kiko.
Aslan kemudian naik ke atas kuda hitamnya. Ia mengenakan pelindung wajah yang sudah dimodifikasi dengan filter pernapasan untuk infiltrasi air. Di belakangnya, Si Tangan Besi dan tim kecil Unit Liberator sudah siap dengan peralatan mereka.
Perjalanan menuju ibu kota dilakukan dalam kegelapan total untuk menghindari pengintai kavaleri udara Kael. Saat mereka mencapai tepi sungai yang mengalir deras menuju Gerbang Air, Aslan turun dan memeriksa arus air menggunakan sensor sistemnya.
[Sistem: Kecepatan Arus Sungai: 14 knot. Suhu Air: 8 derajat Celcius. Status Pintu Air: Tertutup. Waktu Tersisa: 45 Menit sebelum pembersihan dimulai.]
"Siapkan alat penyelam uap. Kita masuk sekarang," perintah Aslan.
Mereka mulai merangkak masuk ke dalam lubang drainase yang sempit dan licin. Air setinggi pinggang yang berbau logam dan karat menyambut mereka. Setiap langkah terasa sangat berat karena tekanan air yang mencoba mendorong mereka keluar.
"Pangeran, di depan ada jeruji besi yang sangat tebal. Gergaji uap saya butuh waktu dua menit untuk memotongnya," bisik salah satu anggota tim.
"Jangan gunakan gergaji, suaranya akan bergema di sepanjang pipa. Biarkan aku yang menangani kuncinya," jawab Aslan.
Aslan mendekati jeruji tersebut dan meletakkan tangannya di atas engsel yang sudah berkarat. Pupil matanya bersinar biru pekat saat ia mulai memanipulasi struktur atom logam tersebut melalui sistem sarafnya.
[Sistem: Dekripsi Molekuler Aktif. Melemahkan struktur karbon besi dalam tiga... dua... satu...]
Suara retakan pelan terdengar, dan jeruji itu patah dengan sekali dorongan lembut. Mereka terus merangkak lebih dalam ke jantung pertahanan Kael.
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah permukaan. Getarannya terasa hingga ke dalam pipa drainase.
"Itu pasti Elara. Serangan pengalih perhatian sudah dimulai lebih awal," gumam Aslan sambil mempercepat langkahnya.
[Peringatan: Deteksi pergerakan di depan. Dua penjaga elit berada di ruang mesin pintu air yang terhubung dengan pipa ini.]
Aslan menarik pisau belatinya. Ia tahu bahwa satu kesalahan kecil di sini akan memicu alarm dan membuat seluruh misi ini gagal total sebelum mereka sempat mencapai dapur istana.
"Tetap di belakangku. Jangan biarkan darah mereka mencemari aliran air ini agar tidak terdeteksi oleh sensor alkimia penjaga," instruksi Aslan dengan nada yang sangat dingin.
Aslan melompat keluar dari air saat mereka mencapai ruang kontrol bawah tanah. Dua penjaga yang sedang duduk di depan panel kendali uap bahkan tidak sempat berdiri sebelum belati Aslan menembus saraf leher mereka secara bersamaan.
[Sistem: Area Diamankan. Akses Panel Pintu Air didapatkan. Memulai Sabotase Sistem Pengunci.]
Aslan segera menghubungkan kabel saraf dari sarung tangannya ke dalam soket energi panel tersebut. Ia bisa merasakan seluruh sistem pertahanan Gerbang Air mengalir di dalam otaknya.
"Si Tangan Besi, pasang peledak kristal merah di poros utama pintu air ini. Kita tidak hanya akan membukanya, kita akan menghancurkannya agar Kael tidak bisa menutupnya lagi," perintah Aslan.
Namun, di tengah proses sabotase, sebuah suara langkah kaki yang sangat teratur terdengar dari lorong atas. Suara itu bukan langkah kaki penjaga biasa, melainkan langkah kaki seseorang dengan zirah berat yang sangat dikenal oleh Aslan.
"Pangeran Aslan, aku sudah menunggumu di sini sejak Zarek menghilang dari posnya," suara berat itu menggema di ruangan lembap tersebut.
Aslan menoleh dan melihat sesosok pria raksasa dengan zirah emas lengkap berdiri di ambang pintu. Itu adalah Panglima Kavaleri Harimau Putih, tangan kanan Kael yang paling setia.
"Admiral Vane? Aku pikir kau masih sibuk mengurus pelabuhan yang hancur itu," balas Aslan sambil tetap mempertahankan koneksi sarafnya pada panel kontrol.
"Kael sudah memindahkan aku ke sini untuk menjaga satu-satunya celah yang tersisa. Dan sepertinya instingnya benar," sahut Vane sambil menarik pedang besarnya yang mulai mengeluarkan percikan listrik.
[Sistem: Peringatan Bahaya! Target: Admiral Vane. Status: Overdrive Alkimia Aktif. Peluang Kemenangan dalam Kondisi Terikat Panel: 38%.]
Aslan harus membuat keputusan cepat. Jika ia melepaskan panel kontrol sekarang, pintu air tidak akan terbuka. Namun jika ia tetap terikat, Admiral Vane akan membelah tubuhnya menjadi dua dalam hitungan detik.