NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:624
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Putih Abu-Abu dan Pesan yang Tertahan

19 Januari 2023

Senin pagi di Surabaya selalu identik dengan klakson kendaraan yang saling bersahutan dan debu yang beterbangan. Namun bagi Sarendra, Senin ini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, ia berdiri di depan cermin dengan seragam putih-abu-abu yang masih kaku. Ia merapikan rambut belah tengahnya dengan sangat teliti, memastikan tidak ada satu helai pun yang berantakan.

Meskipun seragamnya bukan merek mahal dan sepatunya adalah sepatu lama dari kelas 9 SMP, Rendra tetap terlihat rapi. Ibunya menyelipkan uang saku yang pas-pasan ke sakunya sambil tersenyum.

"Semangat sekolahnya, nak. Jadi anak pintar ya," doa ibunya.

Rendra mengangguk, mencium tangan ibunya, lalu berangkat dengan rasa berdebar yang aneh. Bukan karena pelajaran Akuntansi, tapi karena satu nama di kontak WhatsApp-nya: Vema (TKJ).

Sesampainya di sekolah, suasana sangat ramai. Rendra berjalan menyusuri koridor gedung Akuntansi yang terletak di lantai dua. Postur tubuhnya yang agak bungkuk membuatnya terlihat seperti sedang mencari sesuatu di lantai, padahal matanya sesekali melirik ke arah gedung TKJ yang berseberangan.

"Woi, Ren! Rapi amat, mau tebar pesona ya?" Bagas datang merangkul pundak Rendra, membuat postur Rendra makin merosot ke bawah.

"Enggak, Gas. Namanya juga hari pertama," jawab Sarendra canggung. Lalu Rendra bertanya "Kok Lo ada disini Gas?"

"Kan Gue dari awal milih Akutansi bro, Jadi gue dijurusan ini dan kebetulan juga nama gue ada satu kelas dengan nama Lo yang ada diselembar kertas di papan pemberitahuan" jawab Bagas.

"ohh" jawab singkat Sarendra sambil memikirkan tentang Vema yang membuatnya penasaran tentang beberapa hal.

Sepanjang jam pelajaran produktif, pikiran Rendra tidak sepenuhnya ada pada tabel debet dan kredit. Ia terus melirik ponselnya yang diletakkan di dalam laci. Sejak Sabtu malam, ia ingin mengirim pesan, tapi teringat larangan Vema: "Jangan hubungi pas malam hari." Dan sekarang sudah pagi, tapi ia bingung harus memulai dengan kata apa.

Pagi, Vem? (Terlalu kaku.)

Lagi apa, Vem? (Terlalu sok akrab.)

Semangat sekolahnya ya. (Nah, ini lumayan.)

Akhirnya, saat jam istirahat tiba, Rendra duduk di pojok kelas yang sepi. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia mengetik:

Sarendra: Pagi, Vema. Semangat ya hari pertama sekolahnya. Semoga lancar di lab TKJ.

Rendra menahan napas. Lima menit, sepuluh menit, tidak ada balasan. Centang dua abu-abu.

Lalu terdengar suara bel tanda untuk istirahat. Rendra memutuskan untuk turun ke kantin. Saat melewati lorong, ia melihat Vema dari kejauhan. Gadis itu sedang berjalan bersama dua teman barunya. Rambut pendeknya terlihat segar, tapi ada yang aneh. Vema terlihat sangat pucat. Di bawah matanya ada lingkaran hitam samar, seolah ia tidak tidur semalaman.

Vema tidak melihat Rendra. Ia tampak sedang mendengarkan temannya bicara sambil sesekali mengangguk, namun langkah kakinya terlihat lemas.

"Vem!" panggil Rendra pelan, tapi suaranya kalah oleh riuh siswa lain.

Rendra urung mendekat. Ia hanya memperhatikan dari jauh. Mengapa Vema terlihat begitu lelah di hari pertama sekolah? Bukankah seharusnya dia senang sudah resmi jadi anak SMA?

Tiba-tiba ponsel di saku Rendra bergetar. Satu pesan masuk.

Vema (TKJ): Morning, Sarendra. Sorry baru balas, tadi lagi bantu guru angkut kabel di lab. Semangat juga ya buat kamu.

Rendra tersenyum tipis membacanya. Namun, ada pesan tambahan di bawahnya yang membuat dahi Rendra berkerut.

Vema (TKJ): Dra, kalau nanti sore kamu lihat aku langsung pulang dan nggak nyapa, maaf ya. Aku harus cepat-cepat sampai rumah sebelum matahari terbenam.

Rasa penasaran di kepala Rendra makin menumpuk. Kenapa harus sebelum matahari terbenam? Rendra menyimpan ponselnya kembali, menatap langit Surabaya yang mulai terik. Baginya, Vema bukan lagi sekadar gadis yang jago bahasa Inggris, tapi sebuah teka-teki yang sepertinya punya aturan hidup yang sangat rumit.

Pukul 15.30 WIB. Bel pulang SMK Pamasta berbunyi nyaring. Rendra segera merapikan buku akuntansinya ke dalam tas. Berbeda dengan teman-temannya yang berencana nongkrong di depan sekolah, Rendra justru terburu-buru keluar kelas. Ia teringat pesan Vema tadi: harus sampai rumah sebelum matahari terbenam.

Saat menuruni tangga, Rendra berpapasan dengan Nadin, salah satu siswi TKJ yang dikenal vokal dan sedikit judes. Nadin tampak sedang mengomel sambil membawa tumpukan kabel LAN.

"Duh, si Vema mana sih? Tadi katanya mau bantuin aku crimping kabel ini, eh malah lari duluan pas bel bunyi. Padahal kan dia yang paham" gerutu Nadin saat berpapasan dengan Rendra.

Rendra menghentikan langkahnya. "Vema... sudah pulang, Din?"

Nadin menoleh, menatap Rendra dari ujung rambut sampai sepatu lamanya. "Eh, anak Akuntansi ya? Iya tuh, si Vema aneh banget. Kayak dikejar setan tahu nggak? Tasnya aja sampai hampir ketinggalan tadi. Kenapa sih dia? Padahal aku butuh bantuan dia buat tugas besok."

Rendra tidak menjawab, ia hanya mengangguk sopan dan langsung mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah. Di sana, ia melihat Vema sedang berdiri di pinggir jalan, wajahnya tampak sangat gelisah. Tangannya terus-menerus meremas tali tasnya sendiri.

"Vema!" panggil Rendra.

Vema menoleh. Di bawah sinar matahari sore yang mulai menguning, wajahnya terlihat semakin pucat. "Dra... aku duluan ya. Ojeknya sudah sampai."

"Iya, hati-hati, Vem. Kamu beneran nggak apa-apa?"

Vema hanya mengangguk sekilas, lalu naik ke atas motor ojek. Sebelum motor itu melaju, Vema sempat menatap Rendra dengan tatapan yang sangat sedih—seolah ia sangat ingin tinggal lebih lama di sekolah yang "normal" daripada harus pulang ke rumahnya.

Rendra menghela napas, lalu mulai berjalan kaki menuju perhentian angkot. Di tengah jalan, ponselnya bergetar. Sebuah telepon dari ayahnya.

"Halo, Dra? Kamu sudah pulang?" suara Pak Danu, ayah Rendra, terdengar agak serak.

"Sudah, Pak. Ini lagi nunggu angkot. Bapak sudah di rumah?"

"Bapak masih di bengkel, Le. Mungkin pulang malam, ada lemburan ganti ban truk. Kamu makan duluan aja ya sama Ibu, jangan nunggu Bapak. Oh iya, uang buat beli buku praktikummu sudah Bapak taruh di bawah taplak meja ya."

Rendra terdiam sejenak. Ia tahu ayahnya pasti sangat lelah bekerja lembur hanya demi uang buku itu. "Iya, Pak. Makasih ya. Bapak hati-hati kerjanya."

Sesampainya di rumahnya yang sederhana, Rendra melihat ibunya sedang menjahit baju tetangga yang robek. Suasana rumahnya hangat, penuh suara radio kecil yang memutar lagu lawas. Sangat kontras dengan bayangan rumah Vema yang perna Vema katakan: gelap, bau kemenyan, dan didalamnya tidak seperti keluarga yang normal

Sambil makan nasi dengan lauk seadanya, pikiran Rendra kembali ke Vema. Ia teringat kata-kata Nadin tadi, bahwa Vema "seperti dikejar setan". Rendra membuka aplikasi WhatsApp, melihat profil Vema yang tidak memasang foto apa pun.

Ada sebuah rasa ingin tahu yang besar, namun juga rasa takut. Kenapa keluarga Vema yang terlihat "biasa saja" dari luar bisa membuat gadis sekuat Vema jadi begitu rapuh saat jam pulang sekolah tiba? Dan siapa sebenarnya "tamu" yang disebut Vema tempo hari?

Malam itu, untuk pertama kalinya, Rendra merasakan bahwa dunia putih-abu-abu ini ternyata punya sisi gelap yang tidak diajarkan di buku pelajaran mana pun.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!